
“Tapi aku nggak mau kita putus, Bang.”
“Iya, kita nggak akan putus sayang. Nah kembalilah ke kelas mu, belajar yang benar.”
“Baik, Bang,” jawab Mutia seraya meninggalkan Yoga.
Walau Mutia pergi, tapi hatinya masih ingin bersama Yoga saat itu, dia begitu takut sekali akan perpisahannya, tak ingin melanjutkan langkahnya, Mutia pun kembali berlari memeluk tubuh Yoga yang masih berdiri menahan tangisnya.
“Bang, huhuhu!”
Seraya menangis, Mutia memeluk tubuh Yoga dengan erat sekali, rasa sedihnya tak dapat lagi untuk disembunyikan. Tak tahan melihat Mutia menangis histeris di pelukannya, Yoga pun ikut menangis bersama kekasihnya itu.
“Aku nggak mau kita putus Bang?” rengek Mutia didalam pelukan Yoga.
“Iya, sayang,” bisik Yoga ditelinga Mutia.
Hati Yoga benar-benar sakit sekali saat itu. Entah kemana harus di curahkan beban seberat itu, mesti bersamanya ada Siska yang siap berjuang demi cinta mereka. Namun baginya Mutia adalah cinta yang telah diperjuangkannya selama tiga tahun ini.
Akan tetapi, semuanya kandas ditengah jalan, tak ada lagi yang tersisa, bagai buih yang berserakan dan kembali ketengah lautan.
Dengan langkah pelan, Yoga mengiringi Mutia dari belakang.
“Hapus air matanya sayang, jangan ada yang melihat kalau Tia habis menangis.”
“Baik Bang.”
“Ayo kita kembali kesekolah, sebentar lagi bel berbunyi,” kata Yoga seraya merangkul pundak Mutia.
Pagi itu, Mutia tak semangat dalam belajar, dia terlihat lesu dan tak mau bicara. Kerjaannya hanya memutar-mutar pena di jarinya, jika pena itu jatuh, Mutia kembali mengambilnya dan memutar lagi.
Mira yang menyaksikan hal itu menjadi sedikit heran, ingin sekali dia bertanya tapi takut kalau Mutia marah padanya.
Hari ini kayaknya langit mendung ya, teman-teman!”
“Ah, nggak kok,” jawab Jihan.
“Tapi kenapa di kelas kita kelihatan sedikit gelap ya?”
Mutia yang menyadari kalau Mira sedang menyindir dirinya, hanya menatap dengan pandangan penuh kesedihan. Bahkan dia tak melayani Mira sama sekali.
Sekilas Mira melihat ada butiran bening jatuh di kedua pipinya yang putih. Mira heran, dia melihat ulang apa yang telah dilihat sebelumnya.
“Tia? kamu nangis?” tanya Mira heran.
“Aku sedih Mir.”
“Sedih? sedih kenapa sayang?”
“Papa dan Mama aku, ingin putri sulungnya ini melanjutkan fakultas ke Jerman.”
“Oh, tuhan? apa aku nggak salah dengar Tia?”
“Nggak Mir, aku bicara jujur, Mereka sengaja mengirim Aku sekolah jauh keluar negri, agar aku nggak bisa berhubungan lagi dengan Bang Yoga.”
“Ah, nggak mungkin? Papa dan Mama mu, kelihatan suka dengan Pak Yoga.”
__ADS_1
“Begitulah mereka Mir, berlagak suka padahal mereka nggak menginginkan Bang Yoga menjadi menantu dirumah itu.”
“Itu kan hanya prasangka mu aja, Tia,
kenyataannya kan belum tentu begitu?”
“Aku yakin Mir, Papa dan Mama nggak sayang aku lagi sekarang.”
“Tia, belum tentu apa yang mereka perbuat itu, mencerminkan kejahatannya. Bisa jadi kan, mereka melakukan itu semua demi kebaikan mu dan masa depan putri kesayangannya.”
“Malam itu, Bang Yoga mencoba untuk mengungkapkan perasaannya, pada Papa dan Mama kalau dia ingin segera menikahi ku. Awalnya aku merasa senang karena Papa dan Mama menyetujui permintaan Bang Yoga.”
“Terus.”
“Tapi itu hanya basa basi Papa dan Mama, agar Bang Yoga nggak tersinggung malam itu.”
“Apa karena itu mereka mengirim mu ke Jerman.”
“Aku yakin pasti itu sebabnya, dia mengirim ku keluar Negeri, agar Bang Yoga nggak bisa ketemu aku lagi.”
“Apa Tia udah tanya sama Papa dan Mama, apa alasan mereka menyuruh Tia kuliah keluar Negeri?”
“Belum sih, lagian aku nggak mau membahasnya sekarang Mir.”
“Kenapa? kan lebih cepat Tia Taunya, kan itu lebih baik.”
“Sebenarnya memang begitu, tapi ujung-ujungnya, pasti kami saling marahan dan diam.”
“O, gitu,” jawab Mira singkat.
Di saat Mutia di landa rasa sedih yang mendalam, Yoga malah terlihat santai dan biasa-biasa saja, walau hatinya terasa sedih karena cintanya kandas bersama Mutia, tapi amarah itu hanya bisa dia tujukan pada kedua orang tua Mutia.
Yoga tak menyangka sama sekali, kalau Pak Ramon begitu tega mempermainkan dirinya, jika saja Pak Ramon tidak menyetujui permintaan Yoga saat itu, tentu hati Yoga tidak begitu sakit.
Dari balik jendela ruang majelis guru, Yoga menatap iba pada Mutia, kesedihan yang sama mereka rasakan tak dapat dihilangkan begitu saja.
Dengan menunduk sedih, Yoga kembali ke ruangan kelas guna melanjutkan karirnya sebagai guru olah raga.
Karena tak semangat dalam mengajar, Yoga hanya menyuruh Muridnya mencatat pelajaran yang sudah di jadwalkan.
Sementara itu, Yuda telah mempersiapkan segala sesuatunya, untuk pernikahan Yoga dengan Siska.
“Kenapa lama sekali datangnya, Bang?” tanya Nayla di saat Yuda terlambat datang kerumah sakit.
“Tadi Abang mengurus persiapan Yoga untuk pernikahannya.”
“Kenapa Abang begitu sibuk mengurus pernikahan Bang Yoga?”
“Nay, Yoga itu adalah saudara Abang satu-satunya, dan apa pun yang berurusan dengannya, itu juga urusan Abang."
“tapi Abang kan nggak mesti mengabaikan Nay, demi mengurus pernikahan Bang Yoga?”
“Nayla sayang, Abang nggak pernah mengabaikan Nay, lagian ini hanya kebetulan saja kok. Sekalian lewat, Abang mampir ke toko bunga dan memesan karangan bunga untuk Yoga, dan sekaligus untuk acara resepsinya.”
Hati Nayla sebenarnya begitu sakit sekali, karena suaminya begitu berambisi untuk menjodohkan Yoga dengan Siska. Karena jika Yoga menikah dengan Siska, pasti mereka tak punya kesempatan lagi untuk dapat bertemu dan bercinta.
__ADS_1
Waktu itu, Yoga datang kerumah dinas Yuda, karena Yuda meminta Yoga untuk menentukan hari pernikahan mereka.
Dengan berat hati, Yoga datang menemui Yuda, dirumah dinasnya, yang kebetulan saat itu Nayla sudah kembali kerumahnya.
Seraya memegang perutnya yang semakin membesar, Nayla mencoba duduk disamping suaminya.
Yuda melihat wajah Nayla tampak begitu pucat sekali dan gerakan tubuhnya terkesan sangat lamban.
“Kenapa Nay, perut mu terasa sakit lagi?”
“Nggak Bang, hanya sedikit keram saja,” jawab Nayla seraya mengernyitkan alis matanya yang indah.
Yoga yang saat itu sedang duduk di hadapan Yuda, hanya bisa memandang dengan perasaan sedih.
“Udah berapa bulan kandungannya Nay?” tanya Yoga dengan suara lembut.
“Udah jalan Sembilan Bang.”
“Berarti Nay sebentar lagi melahirkan dong.”
“Iya Bang.”
“Gimana? jadi operasinya.”
“Insya Allah Yog, akhir bulan ini kami langsung melaksanakan operasi,” potong Yuda.
“lalu gimana dengan ketiga Dokter yang berniat untuk mengoperasi Nayla itu Yud?”
“Aku udah melaporkan hal itu ke kantor polisi.”
“Lalu apa tanggapan mereka Yud?”
“Hingga saat ini, belum ada kabar tentang hal itu kok Yog.”
“Tapi aku yakin, pasti mereka itu orang suruhan Mama Rangga.”
“Ya, aku juga mengira begitu,” jawab Yuda tenang.
Di saat mereka sedang berbicara, Nayla hanya mendengarkan saja apa yang sedang mereka bahas tapi saat tema ceritanya masuk ke pernikahan Yoga dengan Siska, Nayla mulai merasa resah dan sesak.
“Kenapa keburu-buru sih Yud?” tanya Yoga seraya melirik kearah Nayla.
“Tunggu apa lagi sih Yud? lebih cepat kalian menikah itu lebih baik untuk masa depanmu.”
“Tapi Yud.”
“Nggak ada tapi-tapian, kau nggak usah sibuk, semuanya sudah ku urus, kau hanya tinggal mempersiapkan dirimu.”
“Tapi Yud, apa Mama dan Ningsih udah di beri kabar?”
“Semuanya udah beres, ingat seminggu lagi pernikahan kalian akan dilaksanakan.”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1