Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 47 Kehilangan Nayla


__ADS_3

“Dia pulang kerumah, malam ini Abang yang akan menjaga mu.”


“Benarkah?” tanya Nayla tak percaya.


“Kalau Nay, nggak percaya periksalah diluar.”


Nayla diam saja, saat Yoga menyuruhnya memeriksa keluar, karena menurutnya, mustahil dalam kondisi seperti itu, harus berjalan keluar.


“Gimana? Nay nggak berani memeriksanya keluar?”


“Nay percaya kok.”


“Ya, udah sekarang sebaiknya Nay istirahatlah dulu, karena dua hari lagi Nay akan menjalani operasi.”


“Kenapa ya, semua orang terlihat begitu sibuk dengan penyakit Nay ini?”


“Termasuk Abang, atau Nay sengaja menyindir Abang!”


“Pikirkan sajalah, mana yang menurut Abang pantas untuk pertanyaan Nay ini.”


Mendengar Nayla mulai berbicara dengan suara yang tajam, Yoga langsung menghampiri dirinya, dan menggenggam jemari Nayla dengan lembutnya.


Akan tetapi, perempuan itu, menarik tangannya dari genggaman tangan Yoga, seperti berusaha untuk menghindar.


“Kenapa? Nay udah nggak ingin abang sentuh lagi?”


Nayla diam saja, hanya matanya yang tampak berkaca-kaca, dan perlahan butiran-butiran itu mulai mengalir membasahi kedua pipinya yang memerah.


Melihat butiran itu mulai mengalir, Yoga pun menghapusnya dengan lembut, tak sepatah katapun yang dapat terucap dari bibirnya, semua terasa kelu.dan tak berasa.


“Sebenarnya Nay udah nggak kuat, Bang! beban cinta ini terasa begitu berat Nay rasakan.”


“Kita mesti gimana Nay, bukan hanya Nay yang merasakannya hal itu, tapi kita berdua merasakannya.”


“Tapi Abang punya Mutia disana, yang selalu mengisi kekosongan dan kesepian hati,Sementara Nay, hanya bisa menangis memendam perasaan ini sendirian.”


“Nay salah, Nay tak pantas bicara seperti itu, sepertinya Nay mencoba meniadakan orang yang selama ini bertanggung jawab dunia akhirat untuk kalian semua.”


“Tapi Nay hanya ingin, cinta dari mu, Bang.”

__ADS_1


“Cukup Nay, cukup ! jangan bahas masaalah cinta lagi disaat sekarang ini.”


“Nay mau saja berhenti membahas masaalah itu, asalkan Abang mau berterus terang tentang perasaan Abang pada Nay selama ini.”


“Sepertinya malam ini, kita akan begadang sampai pagi,Nay.”


“Kenapa harus begadang, bukankah Abang hanya mengucapkan satu kata saja, dan semuanya selesai.”


“Itu menurut mu sayang, tapi berat beban yang akan ku pikul nantinya,” kata Yoga seraya menyentuh pipi Nayla.


“Alasan!” jawab Nayla dengan suara ketus.


“Untuk apa membuat alasan, kalau bidadari nya sendiri sudah bertekuk lutut didepan mata.”


“Kau munafik, Bang.”


“Kenapa kita harus membahas itu ke itu saja, apa menurut Nay nggak ada lagi yang harus kita bahas dimalam yang sangat singkat ini?”


“Pergilah keluar, Nay mau istirahat,” jawab Nayla sembari membalikan tubuhnya.


Mendengar perintah Nayla, Yoga hanya diam saja, dengan santainya dia pun berpindah kearah yang lainnya, dimana disana ada kelembutan wajah yang membuatnya tak pernah jenuh untuk memandangnya.


“Mata ini, hidung ini, dan bibir ini, semuanya tak sanggup untuk Abang lupakan. Walau pun pertemuan kita adalah pertemuan terlarang, tapi Abang tak kuasa untuk menghindarinya. Jika saja ada pilihan lain untuk satu jawaban, pasti Abang akan memilih untuk menjauh, tapi, ah!”


“Ada apa, Abang sakit ya?” tanya Nayla menunjukkan sedikit perhatiannya kepada Yoga.


“Sakitnya di sini! di dalam, dan nggak ada yang bisa melihatnya,” jawab Yoga seraya menyentuh dada kirinya.


“Bicara saja nggak akan cukup, Bang! saat ini Nay hanya butuh kepastian.”


“Kepastian apa, kepastian tentang masa depan yang penuh dosa ini, Nay? Kepastian yang membuat langit dan bumi selalu mengutuk kita.


Mendengar jawaban dari Yoga, hati Nayla bagai dicabik-cabik, rasa sakit yang selama ini dirasakannya, ternyata belum seberapa bila dibandingkan dengan rasa sakit pada malam yang tak di duga itu.


Air mata Nayla pun bersimbah kembali, membasahi semua yang menyentuh kedua pipinya yang halus.


“Menangis lah, ungkapkan semua penyesalan dirimu, dengan air mata. Walau pedas dan menyakitkan, tapi itu kata yang paling benar, untuk seorang istri dari lelaki yang setia,” kata Yoga sembari menghindar dari Nayla.


Merasa Yoga telah pergi menjauh dari dirinya, Nayla tak bisa lagi membendung air matanya, dia pun menangis histeris.

__ADS_1


Dari balik jendela ruangan itu Yoga terus saja memandanginya, hatinya terasa begitu sakit saat melihat Nayla menangis.


“Abang terpaksa harus melakukannya Nay, agar kau jangan terlalu berharap pada pria yang memiliki separoh hati seperti diri ku ini,” kata Yoga dengan uraian air mata.


Sungguh Yoga tak kuasa menahan perasaan yang membelenggu jiwanya, hatinya yang tampak begitu kuat ternyata lebih rapuh dari niatnya yang keras.


Dimalam itu, baik Yoga maupun Nayla mereka berdua sama-sama menahan perasaan yang sangat menyakitkan. Ingin sekali rasanya mereka menyatukan perasaan itu, jika saja tak ada dosa yang menghalanginya.


Diruang tunggu, tampak Yoga duduk sendiri, menatap kosong di keramaian, memandangi Lorong yang tak ada ujungnya, percintaan yang mereka lakukan selama ini, ternyata membawa dampak buruk pada Nayla.


“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan, haruskah aku menerima cinta Nayla, agar dia tetap hidup, atau aku harus mengabaikannya biar masa lalu tak lagi menghantui diri ku. Oh, aku sungguh tak kuasa untuk masaalah ini,” jerit Yoga didalam hatinya.


Kini malam semakin dingin, Yoga mencoba menoleh kedalam, dilihatnya Nayla telah tertidur dengan pulas, dengan langkah pelan, Yoga mencoba masuk kedalam ruangan itu, dan tidur di kursi tunggu, tepatnya dihadapan Nayla yang sedang tertidur.


Ditengah malam Nayla terbangun, dilihatnya ada Yoga yang sedang tertidur disisi ranjangnya.


“Bang Yoga, kenapa kau begitu keras dengan pendirian mu, kenapa kau tak mau memberi sedikit harapan pada cinta kita. Apakah di matamu, Nay ini bukan perempuan baik-baik,” kata Nayla seraya mengusap kepala Yoga dengan tangannya yang halus.


Setelah itu, dia pun mencoba untuk berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu dan meninggalkan Yoga yang tengah tertidur disampingnya.


Dinginnya angin malam, menusuk ke seluruh pori-pori tubuh, membuat kekuatan Nayla sedikit melemah karena menahan rasa dingin.


Tangannya tampak gemetar saat mencoba menyentuh pintu ruangan itu.


Bertepatan disaat itu, Yoga pun terbangun dari tidurnya, dan dilihatnya Nayla sudah tak berada ditempat.


“Nay! Nayla! Kemana kamu sayang?” tanya Yoga sembari mencari keberadaan Nayla di seluruh ruangan itu.


Karena tak menemukan keberadaan Nayla didalam ruangan itu, Yoga pun mencarinya diluar, di seluruh sudut rumah sakit.


Setelah berkeliling hingga beberapa kali putaran, Yoga masih belum menemukan keberadaan Nayla.


“Ya Allah, kamu dimana Nay? jangan bikin Abang susah sayang,” ujar Yoga yang terus mencari keberadaan Nayla.


Saat dilihat, jam sudah menunjukan pukul tiga dini hari, Yoga mulai putus asa, karena hingga selarut itu, Nayla belum juga ditemukan. Lalu Yoga masuk kedalam ruangan tempat penyimpanan CCTV.


Didalam ruangan itu, Yoga mengutak atik semua komputer yang menayangkan sisi tv seluruh rumah sakit itu, namun dia tak melihat wajah Nayla sama sekali.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2