Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 101 Hati yang resah


__ADS_3

“Gimana, jadi kita pulangnya besok?”


“Tentu Yud, kalau nggak Mama pasti sangat kecewa sekali pada kita berdua.”


“Baiklah, kita akan pulang besok,” jawab Yuda, memastikan ucapan Yoga.


Menunggu hari esok datang menyapa mereka berdua, malam itu tidak terasa mereka semua tertidur dengan nyenyak sekali. Disaat semuanya sedang tertidur dengan pulas, Yoga terbangun dan mengambil gitar yang ada disampingnya.


Satu persatu tali gitar itu dipetiknya, suara melodi yang mengalun sangat mendayu, mengusik ketenangan hati yang mendengarnya, alunannya menggambarkan hati yang sedang terluka.


“Kau belum tidur Bang?” sapa Nayla dari balik gorden pintu.


“Belum Nay,” jawab Yoga seraya terus memainkan senar gitarnya.


“Kau tampak begitu dingin sekali, kenapa Bang?”


Yoga tidak menjawab pertanyaan dari Nayla, hatinya masih terasa kesal dengan kelakuan Nayla yang mecoba memanasinya saat berhubungan intim dengan Yuda. Akan tetapi sebelum Yoga menjawab pertanyaan Nayla, perempuan itu telah lebih dahulu menjawabnya.


“Kau pasti merasa panas bukan? saat mendengar Nay bermesraan dengan Bang Yuda.”


Yoga begitu marah, saat Nayla mencoba menjelaskan apa yang ada di dalam hatinya, Yoga menatap Nayla dengan pandangan yang sangat tajam. Melihat tatapan mata Yoga yang begitu mendalam, Nayla merasa sangat kuatir, perlahan dia mencoba untuk mundur dan menjauhkan diri.


“Kenapa kau pergi Nay?”


Nayla tidak menjawab, dia terus mundur dan berbalik, dari kejauhan Yoga melihat Nayla memasuki kamarnya dan Yoga pun tertawa geli.


“Nay, Nay! baru begitu saja, kau udah ketakutan!” kata Yoga sembari kembali mengambil gitarnya dan memulai kembali memetik tali senar itu dengan lembut dan tenang, agar melodi yang dialunkan terasa menyentuh hati.


Nayla yang mendengar dari dalam kamar, menangis sedih dibuatnya. Dengan gelisah Nayla terus membolak balikan tubuh seksinya.


“Ada apa sayang? kamu belum tidur?”


“Belum Bang, Nay nggak bisa tidur.”


“Kenapa?”


“Suara alunan gitar Yoga mengingatkan Nay pada Mama dan Papa,” jawab Nayla berbohong.


“Yoga sangat pandai bermain melodi, alunan iramanya selalu menyentuh hati orang yang mendengarkan.”


“Benarkah begitu?”


“Kalau Nay nggak suka biar Abang larang dia untuk memainkan gitarnya.”


“Nggak usah Bang, Nay justru terhibur mendengarkan alunan iramanya.”


“Benar Nay terhibur?”


“Iya Bang, terkadang musik dapat menenangkan hati yang terguncang, musik juga dapat mengingatkan kita kemasa lalu yang menyenangkan.”


“Nay suka bermain musik?”


“Iya, Nay pernah ikut les piano selama tiga tahun.”


“Jadi, Nay pandai bermain piano?”


“Iya Bang, Nay juga pernah ikut perlombaan dan Nay berhasil jadi pemenang pertama.”


“Waah! kenapa Nay diam saja, kalau selama ini Nay punya bakat yang luar biasa.”


“Ah, Abang terlalu berlebihan.”

__ADS_1


“Gimana kalau besok Abang belikan Nay piano, biar Nay bisa mengisi waktu dengan bermusik, dan nggak bosan tinggal dirumah sendirian!”


“Wah, benarkah itu Bang?” ujar Nayla tak percaya.


“Benar sayang.”


“Tapi! apakah Abang punya uang untuk membeli sebuah piano?”


“Tentu, untuk istri secantik kamu, apapun pasti akan Abang belikan sayang.”


“Oh sayang!” ucap Nayla seraya memeluk tubuh Yuda dengan lembut.


“Baiklah, karena malam semakin larut, gimana kalau kita tidur dulu.”


“Baiklah,” jawab Nayla singkat.


Keesokan harinya, di saat fajar mulai menyingsing, Yuda dan Nayla terbangun dan mereka melaksanakan sholat subuh berjama’ah, menyusul Yoga yang datang sedikit terlambat.


Selesai mengerjakan sholat subuh, mereka langsung berkemas-kemas untuk berangkat menuju kota Payakumbuh.


“kamu nggak gabung bersama kami Yog?”


“Nggak Yud, aku naik sepeda motor aja.”


“Kenapa nggak ikut kami aja paman?”


“Nggak sayang, kalau paman ikut Andika, lalu gimana dengan sepeda motor paman?”


“Di tinggal aja, masukkan kedalam rumah!”


“Ohoi! anak pintar, bisa ngajari paman ternyata ya?”


“Ntar kalau paman naroknya diluar, pasti banyak yang ingin mengambilnya."


“Kalau paman nggak percaya, coba paman tanya sama Mama?”


“Jadi, Mama mu tau jawabannya?”


Andika tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang di anggukkan, pertanda ucapan pamannya itu benar.


“Baiklah, nanti kalau kita udah nyampe dirumah nenek, baru paman tanyakan sama Mama jawabannya.”


“Ok paman,” jawab Andika begitu yakin.


Karena yakin dengan ucapannya, Andika langsung berlari menuju mobil yang akan segera berangkat, setelah duduk dengan tenang, mobilpun bergerak keluar dari rumah dinas milik Yuda.


Dari kaca spion, Nayla terus memandangi Yoga yang berada dibelakang mobilnya, hati Nayla merasa tenang disaat Yoga terus mendampinginya selama diperjalanan.


Dalam hati Nayla saat itu, ingin sekali di berada duduk dibelakang Yoga dan memeluk tubuh yang kekar itu dengan lembutnya.


“Oh Bang Yoga, jika saja mobil yang Nay naikin ini rusak, pasti kita bisa bersama diatas sepeda motor milik mu, akan Nay peluk tubuh mu yang wangi itu dengan lembut sekali,” lirih Nayla membatin.


Tampa berkedip sedikitpun, Nayla terus saja memantau keberadaan Yoga yang berada dibelakangnya saat itu.


Lalu tiba-tiba saja sepeda motor yang dikendarai Yoga menghilang dari pandangan Nayla. Hati Nayla langsung berdebar seketika, dia terlihat resah dan gelisah, Yuda yang selalu memperhatikan istrinya merasa heran dengan sikap Nayla itu.


“Ada apa sayang? kenapa kamu begitu resah?”


Nayla yang telah membuat Yuda curiga langsung mengalihkan perhatiannya dan berupaya mencari cara agar mobil yang sedang berjalan saat itu berhenti.


“Nay kepingin membeli sesuatu Bang?” alasan Nayla pada Yuda.

__ADS_1


“Membeli apa?”


“Oleh-oleh untuk Mama dirumah, nanti dipertigaan jalan yang ada di depan sana kita berhenti ya Bang.”


“Ooo, baiklah,” jawab Yuda yang begitu percaya pada ucapan Nayla.


Tidak begitu jauh, Yuda langsung memutar stir mobilnya kearah parkiran super market yang terletak di pertigaan jalan.


Dengan begitu tenang, Nayla langsung keluar menuju super market tersebut, seraya melirik kebelakang, hati Nayla selalu bertanya-tanya tentang keberadaan Yoga yang belum juga menampakkan batang hidungnya.


“Oh, kamu kemana Bang? kenapa begitu lama sekali?” lirih Nayla dengan suara yang ditekan pelan.


Sembari melangkah terus kedalam, Nayla selalu menyempatkan diri menoleh kearah belakang, lalu tiba-tiba saja, Yoga pun muncul diantara mobil-mobil besar yang sedang berderet rapi.


“Syukurlah, kamu udah datang Bang, Nay


sangat kuatir sekali,” gumam Nayla pelan.


Karena Yoga telah menampakkan dirinya, semangat Nayla pun langsung muncul seketika dan dia bergegas membeli sesuatu agar Yuda tidak curiga.


Di saat Nayla keluar dari super market, dia langsung menghampiri Yoga yang saat itu posisinya berada dibelakang mobil Yuda.


“Kenapa kau menghilang tadi, Bang?”


“Menghilang?” Yoga merasa bingung dengan pertanyaan yang diajukan Nayla padanya.


" Kenapa bengong?"


“Abang nggak menghilang, mobil Yuda yang melaju dengan kencang.”


“Nay kuatir sekali.”


Mendengar kejujuran dari Nayla, Yoga hanya tersenyum manis padanya, karena Yoga tau Nayla selalu mengawasinya selama diperjalanan.


“Nggak usah tersenyum, nggak lucu tau!” ucap Nayla kesal.


Lalu Nayla kembali kemobil seraya memberikan sebotol minuman pada Yuda, karena merasa panas selama berada diatas mobil, Yuda langsung saja meneguk minuman itu.


“Yoga nggak minum Nay?”


“Nggak tau.”


“Coba Nay tanya, siapa tau dia kehausan?”


“Baiklah,” jawab Nayla kembali turun dari mobil.


“Ada apa? kenapa Nay turun?”


“Nay mau ngasih minuman ini, siapa tau nanti Abang haus selama diperjalanan.”


“Terimakasih sayang,” bisik Yoga pelan.


Di saat Yoga mengambil botol minuman itu dari tangan Nayla, kesempatan yang sangat berharga itu langsung dimanfaatkan Nayla untuk meremas tangan Yoga dengan lembut.


Yoga diam saja, dia hanya memperhatikan apa yang dilakukan Nayla pada dirinya. Sembari meneguk minuman yang diberikan Nayla, Yoga merasa tubuhnya begitu hangat saat itu.


“Jika nggak ada Bang Yuda di mobil, Nay ingin sekali memeluk tubuh Bang Yoga,” ucap Nayla dengan suara sedikit serak.


“Abang tau itu sayang, sekarang kembalilah kemobil mu, nanti Yuda bisa curiga pada kita.”


“Baik Bang,” jawab Nayla mengikuti perintah Yoga pada dirinya.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2