Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 95 Sadar dari kritis.


__ADS_3

Sementara itu, setibanya didalam Siska langsung mandi, dia tak ingin kotoran yang dibawanya dari tempat pembakaran, berimbas buruk pada adik-adiknya yang tak berdosa.


Untung saja disaat dia pulang kerumah, kedua adiknya belum bangun dari tidurnya, setelah selesai mandi, Siska langsung membuka sebuah buka yang menjelaskan tentang permasalahan sek.


Siska membolak balik buku, yang menceritakan tentang tanda-tanda seorang gadis yang telah melakukan hubungan badan dengan pria. Setelah dibacanya secara detail, Siska langsung kembali kekamar mandi, untuk memeriksa pakaian dalamnya.


“Oh, Alhamdulillah! ternyata Siska masih gadis," ucap Siska dengan senangnya.


"Yoga benar-benar pria yang jujur, dia bahkan tak melakukannya pada Siska. Walau dia memiliki banyak kesempatan dimalam itu." pikir Siska pagi itu.


Sementara itu Yoga yang merasa bersalah dengan apa yang telah diperbuatnya pada Siska.Dia sering kali melamun, memikirkan kejadian pada malam itu. Yoga berusaha untuk terus menyusuri apa saja yang telah dia lakukan sehingga kejadian itu bisa terjadi.


Lama dia berfikir, namun Yoga tak juga mendapat jawaban atas apa yang telah dia perbuat. Disaat itu seorang perawat keluar dari ruang kamar Nayla.


“Pak Yuda nya ada Pak?” tanya perawat itu pada Yoga.


“Ada, dia sedang di ruangannya,” jawab Yoga.


Kemudian perawat itu berlalu meninggalkan Yoga yang sedang kebingungan. Sementara itu Yoga secara tak sengaja menoleh kedalam ruangan Nayla dan Yoga melihat Nayla bergerak.


“Kau udah sadar Nay?” tanya Yoga pada Nayla.


Nayla pun tersenyum, hatinya begitu senang karena Yoga berhasil menyelamatkan dirinya dari jurang yang dalam itu.


“Terimakasih, Abang telah menyelamatkan diri Nay.”


“Sama-sama, hal itu pasti dilakukan oleh semua orang jika dia melihat ada orang lain yang membutuhkan pertolongan dari dirinya.”


“Iya Bang,” jawab Nayla pelan.


“Apakah Nay tau siapa pelakunya sayang?”


“Nggak Bang, mereka nggak ada menyebutkan nama pelakunya saat itu.”


“Kenapa Nay bisa keluar dari mobil, padahal Abang udah menyarankan agar tetap berada didalam mobil?”


“Mereka masuk kedalam dengan memecahkan kaca mobil itu, Bang.”


“Lalu apa yang sudah mereka lakukan pada Nay?”


“Iiih ! Nay malu untuk menceritakannya pada mu Bang.”


Disaat mereka berdua sedang bercerita, Yuda pun datang menghampirinya dan tersenyum manis pada Nayla yang menatapnya tampa berkedip.


“Kamu udah sadar sayang?” tanya Yuda pada istrinya.


“Udah Bang.”


“Gimana keadaan mu, apa ada yang terasa sakit saat ini?”

__ADS_1


“Perut Nay, masih terasa sedikit nyeri.”


“itu karena Nay baru saja keguguran sayang.”


Melihat Yuda dan Nayla saling berkomunikasi, Yoga pun keluar dengan sendirinya, dia merasa tersakiti saat Nayla bicara dengan suaminya.


Yoga pun duduk diruang tunggu, memikirkan masalah hidupnya yang begitu rumit, perasaannya bimbang harus berdiri dimana, hal itu membuatnya semakin kacau.


Tak berapa lama kemudian Yuda pun keluar dari ruangan Nayla dan datang menghampiri Yoga.


“Hei Yud, pagi ini aku harus kesekolah, karena ada tugas penting yang akan aku selesaikan.”


“O baiklah, hati-hati dijalan.”


“Jangan lupa kabari aku, jika ada sesuatu yang terjadi pada keluarga mu.”


“Pasti,” jawab Yuda seraya tersenyum melepas kepergian Yoga.


Seraya mengendarai sepeda motornya yang begitu bising, Yoga tampak tenang dan santai di atasnya, dua jam perjalanan telah dilaluinya tak terasa maka tibalah dia di gerbang sekolah.


Dari kejauhan Mutia melihat kedatangan Yoga dan dia langsung menghampiri kekasihnya itu.


“Hai!” sapa Mutia.


“Hai sayang, belum masuk?”


“Belum Bang.”


“Ayo.”


Mutia pun mengikuti Yoga dari belakang sembari tersenyum manis, Rehan dan Lesti yang melihat mereka beriringan hatinya tampak begitu sakit sekali. Namun disaat mereka berdua berjalan menuju kantin, Rehan mencoba mengikutinya dari jarak jauh dan duduk di kursi paling ujung.


Di kantin Yoga memesan makanan kesukaan Mutia, mereka berdua menyantap hidangan itu tampa bicara sepatah kata pun. Karena sama-sama diam, Mutia mencoba untuk angkat bicara terlebih dahulu.


“Dari mana saja Bang, kok udah dua hari ini nggak masuk untuk mengajar?”


“Nayla diculik oleh seseorang dan Abang membantu Yuda untuk menemukannya.”


“Udah ketemu?”


“Udah, tapi dia mengalami keguguran.”


“Keguguran? emangnya dia sedang mengandung anak siapa?” ujar Mutia datar.


Mendengar Mutia bicara seperti itu, hati Yoga terasa begitu sakit sekali, ingin rasanya dia menampar mulut Mutia didepan semua orang.


“Nayla itu bukan perempuan murahan seperti yang ada didalam pikiranmu yang kotor itu,” jawab Yoga sembari bergumam kesal.


“Aku hanya bertanya kan?”

__ADS_1


“Hentikan itu Tia!”


“Baiklah aku nggak akan bicara lagi.”


Walau Mutia tak bicara lagi namun Yoga merasa tersinggung dengan ucapan Mutia itu, tampa menghabiskan sarapannya terlebih dahulu. Yoga pergi meninggalkan Mutia seraya membanting sendoknya keatas meja.


Mutia terkejut ketika sendok itu tiba-tiba saja udah mengenai tangannya, kekesalan Yoga membuatnya ditinggal begitu saja didalam kantin.


Disaat itu Rehan pun datang menghampiri Mutia dan dia langsung memegangi kedua tangan Mutia sesaat setelah Yoga meninggalkan dirinya.


“Huuuh! apa-apaan ini Re, kenapa kau memegangi tangan ku?”


“Ssst! jangan bersuara nanti kedengaran sama pak Yoga.”


“Emangnya ada apa sih?” tanya Mutia penasaran.


“Kalau pak Yoga udah marah, berarti dia itu udah membencimu, lalu kenapa kau terus saja mengejarnya, kan ada aku yang berada disini!”


“Kau ini ya! selalu saja ikut campur urusan orang lain!” ujar Mutia sembari berlari meninggalkan Rehan sendirian.


“Haaah sial! dia selalu saja menolak jika aku dekati!” gerutu Rehan kesal.


Disaat itu Bu Lesti pun datang menghampiri Rehan yang sedang kacau dan marah.


“Idiih! gagal ya?”


“Apa kau Lesti, selalu saja ikut campur urusan orang lain!” kata Rehan mengulangi perkataan yang diucapkan Mutia pada dirinya.


“Eeh! kok jadi kamu yang marah, emangnya kamu itu siapa?”


“Aku ya aku! lalu kamu siapa?”


Merasa aneh dengan pertanyaan Rehan, Lesti langsung menghampiri Rehan dan menyenggol tubuh Rehan dengan bahunya yang besar.


“Aku ini guru mu, kalau bicara tolong jaga sikapmu yang nggak bermoral itu.”


Rehan tak menjawab dia hanya pergi begitu saja meninggalkan Bu Lesti yang mencoba untuk memancing emosinya.


Sementara itu Yoga yang dilanda banyak beban fikiran tak lagi berkosentrasi dalam pekerjaannya, bayangan Siska dan kejadian dimalam itu selalu saja mengusik hidupnya.


“Aku harus bagai mana? apakah aku harus menikahi Siska yang telah kunodai dan meninggalkan Mutia yang sangat aku cintai, atau aku akan mengabaikan mereka berdua dan berlagak seperti orang yang tak bersalah?”


Yoga benar-benar kacau sekali saat itu, tak satupun masalah yang dapat diselesaikannya dengan mudah semuanya begitu sulit dan terlalu berbelit.


“Ada apa Yog?” tanya pak Andi yang kebetulan lewat disampingnya.


Yoga yang selalu menyimpan rahasianya rapat-rapat, dia juga tak ingin berbagi cerita saat itu dengan Andi rekan seprofesinya.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2