Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 106 Akhir yang mengharukan


__ADS_3

“Aku yakin pasti ini jalan menuju Desa Ciledug itu,” kata Yoga pada dirinya sendiri.


Lalu sepeda motor yang dikendarainya, diputar kearah jalan setapak yang ada dihadapannya. Jalan setapak yang licin dan penuh bebatuan, jauh sekali dari keramaian dan sangat terisolir.


Dengan tekat yang kuat, Yoga terus merangsak masuk, tampa memperdulikan bahaya yang ada disekitarnya. Kadang Yoga merasa takut kalau-kalau dia kesasar, pasti tak akan ada orang yang mencarinya.


Namun demi kekasih yang dicintainya, Yoga bersedia menerima resiko apapun. Setelah dia melewati jalan yang banyak bebatuan licin dan terjal, akhirnya sampailah Yoga di Desa tempat Yuda bertugas.


Tidak begitu sulit bagi Yoga menemui Yuda di tendanya, karena tenda Yuda terpisah agak sedikit jauh dari pasiennya.


“Asalamu’alaikum, Yud!” kata Yoga ketika kepalanya melongok memasuki tenda Yuda.


“Wa’alaikum salam, kenapa kau kesini Yog?” tanya Yuda heran.


“Nayla!”


“Nayla? ada apa dengan Nayla, Yog?”


“Dia sedang koma dirumah sakit, sudah beberapa hari ini dia selalu memanggil-manggil namamu.”


“Koma, maksud mu apa Yog?”


“Istri mu tergeletak pingsan di dalam rumah, untung ada warga yang membantu dan Nayla kami larikan kerumah sakit Yos."


Mendengar cerita Yoga, air mata Yuda mengalir tak terasa.


“Udah berapa hari dia dirumah sakit Yog?” tanya Yuda dengan berurai air mata.


“Udah seminggu lebih Yud.”


“Ya Allah, kenapa nggak ada firasat sedikitpun di hatiku tentang dirinya Yog?”


Mendengar kata-kata itu, tersentak langsung hati Yoga. Ingatannya langsung tertuju pada perselingkuhan yang selama ini dia lakukan bersama Nayla.


“apa karena Nayla banyak bergelimang dosa, sehingga batin Yuda tak merespon sama sekali?” tanya Yoga dalam hati.


Lalu Yoga berusaha untuk menenangkan hati Yuda yang sedih, dengan berbagai macam nasehat di diucapkannya saat itu.


”Aku yakin perasaan itu pasti ada Yud, tapi kau mengabaikannya karena tugas mu.”


“Ya, mungkin saja! tapi apa yang harus kulakukan Yog, aku nggak mungkin meninggalkan mereka semua!”

__ADS_1


“Pulang dan lihatlah istrimu dulu, setelah itu kau bisa kembali lagi kesini.”


“Apa maksudmu Yog, gimana aku bisa meninggalkan mereka semua?”


“Tapi istrimu sedang kritis Yud! kemas barang-barang mu dan kita kerumah sakit sekarang!” ajak Yoga.


“Kau ini benar-benar nggak berperasaan Yog, beginikah cara Ayah mendidik kita dulu? mengabaikan orang banyak demi urusan pribadi kita, aku nggak mau Yog!”


“Nggak, maksudmu apa? Nayla itu istri mu lho Yud!”


“Pulanglah kau duluan Yog, ku titipkan Nayla padamu, aku nggak bisa meninggalkan mereka Yog, aku nggak bisa meninggalkan puluhan nyawa demi satu orang, walau pun dia itu istri ku sendiri.”


“Astagfirullah Yud! dia itu istrimu dan ibu dari anak-anakmu, kenapa begitu teganya kau padanya?”


“Jangan berkata seperti itu padaku Yog, kau nggak tau masaalah yang sebenarnya, kenapa aku bertahan seperti ini. Lihatlah Yog, nggak ada siapa-siapa disini yang akan mengurus mereka semua.


“Hanya sebentar Yud, habis itu kau bisa lagi kesini.”


“Jika aku pergi dan meninggalkan mereka semua, lalu siapa yang merawat mereka dan memberi mereka obat, kalau penyakit yang dideritanya kambuh lagi. Sedangkan Nayla dia disana berada ditempat yang semestinya, banyak dokter dan perawat yang akan mengurus.”


“Baiklah, sepertinya keputusanmu udah bulat, aku nggak bisa memaksamu. Aku kagum pada mu Yud, kau pantas menyandang gelar seorang dokter karena kau memiliki hati yang sangat mulia. Aku bangga padamu saudara ku .” kata Yoga dengan mata yang berkaca-kaca.


“Baik, akan ku laksanakan keinginan mu, jaga dirimu baik-baik disini.”


“Iya Yog terimakasih.”


Karena tak berhasil membawa Yuda pulang, Yoga langsung kembali kerumah sakit. Saat Yoga kembali, seseorang ternyata mendengarkan perdebatan antara Yuda dengan Yoga di tenda.


Dan orang itupun memberitahukan berita itu kesemua warga. Tiba-tiba puluhan warga datang menemui dr. Yuda dan bermohon agar Yuda kembali dulu pulang untuk merawat istrinya.


“Dengar Bapak-bapak sekalian, saya kesini bukan karena paksaan dan bukan pula karena saya merasa keberatan. Memang benar saat ini istri saya sedang kritis dirumah sakit. Akan tetapi, saya akan kembali jika kalian semua sudah dinyatakan sembuh.”


“Tapi dok, istrimu saat ini sedang membutuhkan pertolongan darimu?”


“Bukan Pak, ada atau tidaknya saya disana, istri saya pasti akan ditolong oleh semua dokter yang saat ini sedang bertugas disana.”


“Bagai mana nanti jika sesuatu terjadi pada istri mu? pasti kami merasa bersalah.”


“Istriku sudah aman disana, banyak Dokter ahli yang akan merawatnya. Sementara disini, siapa yang akan merawat kalian?” jelas dr. Yuda.


“Tapi dok! kami masih bisa cari dokter yang lain, asalkan dokter dapat bertemu dengan istri dokter yang sedang sakit.”

__ADS_1


“Hmm! dokter lain maksud Bapak? ketika saya datang ketempat ini, kami semua sudah rapat dan tak seorangpun diantara mereka yang bersedia ditugaskan disini. Walau kalian semua menjual tanah dan sawah kalian untuk membayar mereka.”


“Kenapa begitu dok?”


“Pak! selain tempat ini jauh, tempat ini juga terisolir, untuk sampai kesini saja, saya harus berjibaku dan melewati banyak kesulitan. Apa selama ini sudah pernah dokter atau perawat yang datang ketempat ini?” tanya Yuda pada mereka semua.


“Belum pernah dok,” jawab salah seorang diantara mereka.


“Nah ! itu saja udah membuktikan pada kita, kalau mereka tak akan pernah datang ketempat ini.”


“Lalau bagai mana dengan dokter sendiri?”


“ketahuilah, demi kemanusiaan nyawa pun akan saya korbankan demi tugas yang mulia ini. Jadi setelah semuanya dipastikan sembuh, barulah saya akan pergi dari tempat ini,” tegas dr.Yuda.


“Semoga Allah memberkati hidupmu dok.”


“Terimakasih semuanya, nah sekarang kembalilah kalian ketempat masing-masing. Karena kalian semua butuh istirahat yang banyak untuk masa pemulihan kalian.”


“Baik dok,” jawab para penduduk serentak.


Atas perintah dr. Yuda, semua wargapun kembali kerumah mereka masing-masing. Bagi dr.Yuda, seberat apapun dan sesulit apapun pekerjaan yang akan dilakukanya, dia akan menganggap semua itu sebagai pekerjaan yang paling mulia.


Setelah beberapa hari bertugas ditempat yang jauh dari jangkauan transportasi, dr. Yuda pun mengakhiri tugasnya. Karena di desa itu, semua pasien yang dirawatnya dinyatakan benar-benar sembuh.


Pagi itu dia mengemasi barang-barangnya. Tampak semua penduduk telah hadir didepan tenda dr. Yuda, guna mengucapkan kata selamat jalan.


Hal itu membuat dr. Yuda menangis karena haru, perasaan bahagia yang tak dapat dicari dan tak dapat dijemput bagi seorang dokter.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh!"


“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh.”


“Warga Desa Ciledug, hari ini tugas saya telah berakhir disini, serasa baru beberapa hari saya ada bersama kalian, tapi tak terasa sudah hampir dua minggu saya berada disini, tentunya kalian semua sudah merasa sehat bukan?”


“Sudaaaah!”


“Nah untuk itu, tiba pula saatnya kita berpisah, semoga saja di Desa ini tak ada lagi penyakit yang berbahaya yang datang menyerang para warga. Agar saya tak perlu lagi jauh-jauh datang kesini. Kalau pun nanti saya datang ke Desa ini tentu hanya untuk bersilaturahmi saja dengan kalian, bukan sebagai dokter yang mengobati pasiennya.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2