Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 28 Mencari Ahli bedah profesional


__ADS_3

“Jadi gimana Sis? apa kami udah bisa melanjutkan perjalanan?”


“Iya, silahkan Yud, minggu depan tunggu aja informasi dari Siska.”


“Ooo, baiklah. Kalau gitu kami permisi dulu.”


“Iya Yud, silahkan,” jawab Siska seraya membantu Nayla turun dari ranjang rumah sakit.


Sungguh Yuda tak percaya, karena selama ini Nayla tak pernah mengeluh kesakitan padanya.


Lalu, tak percaya pada satu kali pemeriksaan, Yuda pun membawa Nayla kerumah sakit tempat dia bertugas.


Setelah beberapa jam melakukan pemeriksaan, Nayla pun keluar dari ruangan itu.


“Gimana Gus, benar Nayla mengalami sakit Kangker?” tanya Yuda ingin tau.


“Benar Yud, tapikan masih stadium dua, masih ada harapan untuk masa penyembuhannya. Untung cepat kau membawanya kesini, kalau tidak semuanya pasti udah terlambat," jawab Agus dengan suara lembut.


“Dimana penyakit itu bersarangnya Gus?”


“ Di rahim istrimu.”


“Astagfirullah, kenapa aku nggak mengetahuinya sama sekali?”


“Udahlah Yud, yang terpenting sekarang kau udah mengetahuinya, jadi segeralah bawa dia berobat. Operasi adalah jalan terbaik untuk mengangkat penyakit istrimu, sebelum menyebar terlalu jauh.”


“Apa Rahim istriku harus diangkat Gus?”


“Untuk sementara ini nggak perlu, karena masih banyak tahap-tahap yang harus dia jalankan.”


“Baiklah Gus, aku menyerah aja, mana jalan yang terbaik menurutmu.”


“Iya, Yud. Semoga dengan jalan operasi istrimu dapat tertolong.”


“Iya, terimakasih Gus.”


“Sama-sama Yud.”


“O iya, Gus. Kau kenal dengan dr. Siska?”


“Dr. Siska yang cantik itu? siapa yang nggak kenal dia Yud ! dia itu wanita yang sangat menggairahkan.”


“Ssst! hati-hati kalau bicara, nanti kedengaran istrimu baru tau rasa.”


“Ooo, sory! Cuma iseng, Yud,” jawab Agus datar.


“Begini Gus, dr. Siska punya teman yang sangat professional dalam bidang ilmu pembedahan, jadi dia akan membantu Nayla nantinya.”


“Bagus itu Yud, kalau begitu kita bisa kerja sama dengannya, dan kita juga bisa belajar banyak darinya.”


“Iya benar itu Gus.”


“Jadi kapan dia akan Ke Indonesia, Yud?”


“Kata Siska dalam minggu ini.”

__ADS_1


“Ooo, baiklah. Kami siap jadi partnernya," jawab Agus bersemangat.


Berbagai perasaan terasa berkecamuk didalam hati Yuda, tak disangka istri yang sangat dia cintai, ternyata mengidap penyakit yang berbahaya.


Diatas mobil, ketika hendak pulang kerumahnya, tak sepatah katapun yang terucap dari bibir Yuda, begitu pula dengan Nayla. Suasana tampak terasa begitu mencekam.


Anehnya Nayla sepertinya tak merespon sama sekali tentang penyakit yang sedang dia derita.


Walaupun diawalnya, dia tampak begitu shock dan tak sadarkan diri namun, untuk yang kesekian kalinya Nayla terlihat biasa- biasa saja.


“Aneh kenapa Nayla diam saja? bahkan dia nggak merespon sama sekali tentang penyakit yang dideritanya,” kata Yuda dalam hati.


Hingga tibalah mereka dihalaman rumah dinas Yuda, mobilpun berhenti di garasi, Yuda lalu menarik rem tangan.


“Apa kita udah nyampe Bang?” tanya Nayla pelan.


“Udah Nay, ayo kita masuk, biar andika Abang yang gendong.”


“Baiklah,” jawab Nayla pelan.


Setelah mereka masuk, Yuda melihat wajah Nayla sedikit meringis menahan sakit. Tapi dia diam saja dan berlalu seolah tak terjadi apa-apa.


“Kenapa Nay? apa kau merasa kesakitan?" tanya Yuda ingin tau.


“Nggak Bang, Nay nggak apa-apa kok, hanya sedikit nyeri.”


“Nyeri?”


”Iya, Bang.”


“Entahlah Bang, Nay nggak tau rasa nyeri itu kapan datangnya. Tapi rasa nyeri itu sering muncul tiba-tiba, dan hilang pula secepatnya,” jawab Nayla dengan suara lembut.


“Apa Nay tau penyakit yang sedang Nay derita waktu itu?”


“Nggak Bang, tapi sekarang Nay baru tau, kalau Nay ternyata mengidap penyakit kangker rahim stadium dua.”


“ Tapi Nay nggak usah kuatir, penyakitnya bisa disembuhkan kok.”


“Apa sakit kangker itu bisa disembuhkan ya, Bang?”


“Iya Nay.”


“Apa Nay masih bisa sembuh, Bang?”


“Insya Allah, Nay. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk keluarga kita sayang,” kata Yuda memberi semangat pada istrinya.


“Kalau penyakitnya bisa sembuh kenapa Abang begitu khawatir.”


“Astagfirullah, Nay! gimana Abang nggak khawatir, Nay taukan kalau penyakit kangker itu adalah penyakit yang sangat berbahaya, jika udah menyerang organ manusia.”


“Bang, semua penyakit itukan datangnya dari Allah, ya..! kita kembalikan saja pada Allah. Kalau dia udah berkehendak pasti terjadi, jadi tak ada yang perlu disesali lagi.”


“Astagfirullah, Nay? nggak kasihan kah kau pada kami? lihat Andika masih kecil dia sangat membutuhkan Ibunya.”


“Satu kesalahan besar kalau Nay nggak kasihan pada Abang dan anak kita, tapi bagi Nay hal ini akan Nay anggap sebagai ujian untuk keluarga kita, yang terpenting kita berdoa, semoga Allah menyembuhkan penyakit yang bersarang ditubuh Nay ini.”

__ADS_1


“Iya, Nay benar! setiap yang datangnya dari Allah maka jalan satu-satunya kembalikanlah kepadanya.”


“Kita boleh khawatir, tapi jangan terlalu berlebihan, karena hal itu membuat kita kehilangan konsentrasi.”


“Betul itu Nay, semoga saja Allah mengangkat penyakit itu dari tubuhmu.”


“Aamiin!” jawab Nayla menyambut do’a suaminya.


Beranjak kita sejenak, pada pria yang begitu diharapkan oleh Yuda dan istrinya Nayla, yang saat ini pria itu masih berada diluar negri, tepatnya dia berada di Negara Ukraina.


Jauh harapan tertuju padanya, sejauh dia mengemban tugas kemanusiaan disana, dr. Rangga Abimanyu, memang seorang dokter spesialis yang sudah terkenal sepak terjangnya.


Dia selalu menjadi benteng kemanusiaan disana, menyelamatkan banyak nyawa yang tak berdosa, yang menjadi korban bencana peperangan.


Ribuan rintihan dan tangisan para korban perang, membuat dadanya terasa sesak dan merintih perih.dengan rasa cinta dan kasih sayang dr. Rangga bekerja siang dan malam di daerah konflik.


Disaat sedang bertugas, telfon genggamnya berdering, walau terasa begitu mengganggu, namun Rangga mengabaikannya.


Merasa diabaikan, si penelepon terus menerus menghubunginya. Lalu dr. Rangga, mencoba untuk mengangkat telfon itu.


Sebelum Rangga berkomunikasi dengan orang yang menghubunginya, Rangga melihat nama Siska yang tertera disana.


“Ow. Siska, gadis pujaan ku!” kata Rangga seraya tersenyum-senyum simpul.dan menjauhi para pasiennya.


“Hello, sayang!”


“Iiisss, Gombal!”


“Tumben nelpon, sedang mimpi ya?”


“Nggak Rangga, Cuma Siska ada pekerjaan untukmu.”


“Pekerjaan, pekerjaan apa itu?”


“Begini, kamu masih ingat dengan dr. Prayuda, nggak?” tanya Siska mengingatkan Yuda padanya.


“Dr. Prayuda, pria yang selalu jadi incaran banyak perempuan itu?”


“Aaah kamu, kalau ngomong selalu nggak pakai aturan.”


“Terus, terus! kenapa dengan dr. Prayuda ?"


“Istri dr.Prayuda itu bernama Nayla, dia mengidap penyakit kangker Rahim, stadium Dua. Jadi Siska udah janji padanya, untuk menghubungimu, dan membantu operasi istrinya agar berjalan dengan lancar.”


“Aduh, sayang! aku belum bisa pulang ke Indonesia saat ini, kamu tau sendiri kan, betapa sibuknya aku selama berada disini.”


“Jadi, gimana dengan janji Siska pada dr. Yuda?”


“Kan kamu tinggal bilang, kalau aku nggak bisa ke Indonesia secepatnya.”


“Lalu, gimana dengan operasi istrinya?”


“Kalau dr. Yuda nggak merasa keberatan, suruh dia mencari ahli bedah yang profesional di Indonesia.”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2