
“Saya tau itu, pak. Dan saya menolong putri Bapak dengan ikhlas, saya nggak mau menerima imbalan apapun untuk jasa yang telah saya berikan.”
“Apa Bapak tersinggung dengan saya? karena saya menghargai jasa Bapak dengan uang?”
“Ooo, nggak! sama sekali nggak, saya mohon Bapak jangan salah paham dengan penolakan saya ini.”
“Ya udah, tapi setidaknya, izinkan sopir saya mengantarkan Bapak pulang ke Mesjid,” kata Pak Ramon seraya menawarkan hal yang lain kepada marbot itu.
“Baiklah, saya terima tawaran Bapak itu, terimakasih.”
“Sama-sama Pak.”
Setelah marbot itu pergi, Pak Ramon langsung menarik nafas lega, terasa begitu lancar aliran darahnya pagi itu, apa lagi setelah dia melihat wajah putrinya yang cantik. Maka tenanglah perasaannya.
Sementara itu, Mutia terus saja menangis di kamarnya, air matanya terasa ikut menemani kekesalan hatinya saat itu. Bantal guling pun menjadi sasaran empuk tempat meneteskan air mata.
“Mutia!” panggil Pak Ramon dari lantai bawah.
Mendengar Pak Ramon memanggil Namanya, Mutia langsung menghapus air matanya, karena Mutia tak ingin keluarganya tau kalau Yoga telah meninggalkan dirinya di restauran.
“Mutia! panggil Pak Ramon sekali lagi.
“I..iik, iya Pa! ada apa?” tanya Mutia seraya menghampiri pengaman kamarnya.
“Turunlah sayang, ada yang ingin Papa tanyakan padamu.”
“Baik Pa,” jawab Mutia seraya berlarian turun.
Entah mengapa, saat Papanya menyuruhnya turun, Mutia langsung berlarian kebawah. Hingga nasib malang menimpa gadis cantik itu, dan diapun tergelincir, serta kepalanya membentur tangga dan berguling sampai kelantai bawah.
Melihat putrinya tergelincir, Pak Ramon langsung berlarian menghampiri Mutia dan berteriak.
“Astagfirullah, Mutia!” seru Pak Ramon sembari berlari menghampiri putrinya.
Mendengar teriakan Pak Ramon, seisi rumah pun jadi terkejut dan berhamburan keluar kamarnya masing-masing.
Mereka semua pun menatap tajam kearah Mutia yang berlumuran darah.
“Darah, ada darah! Kak Mutia berdarah!” teriak Rika seraya berlarian menghampiri Mutia.
Menyusul pula Sukesih, karena kaget melihat putrinya berlumuran darah, diapun merasa tak kuat hingga Sukesih terkapar tak sadarkan diri.
“Mamaaa!” teriak Yuni yang saat itu baru keluar dari kamarnya.
Mereka semua menangis karena panik, lalu dengan pelan Pak Ramon mengangkat tubuh Mutia dan membaringkannya di sofa.
Dan mengangkat tubuh istrinya kekamar untuk istirahat. Setelah itu, Pak Ramon pun keluar untuk menyelamatkan Mutia kerumah sakit.
“Ara sayang, Papa mau membawa Kak Mutia kerumah sakit, Ara tolong jaga Mama dirumah ya?” kata Pak Ramon pada putri bungsunya, seraya mengelus rambut putrinya yang berwarna ke hitam.
“Iya, Pa. Tapi Mama nggak apa-apakan Pa?”
__ADS_1
“Iya, sayang, Mama hanya kecapean aja, ntar lagi dia pasti bangun kok.”
“Iya, Pa.”
“Bi Ijah! tolong jaga Nyonya dan Ara, saya mau membawa Mutia kerumah sakit dulu.
“Baik tuan,” jawab Khodijah sembari terus menangis.
Lalu Pak Ramon membawa Mutia kerumah sakit, karena sopirnya sedang tak berada dirumah, maka untuk itu Pak Ramon terpaksa harus menyetir mobilnya sendiri.
Bersama ketiga orang anaknya yang lain, Pak Ramon menyetir mobil itu dengan tenang dan begitu hati-hati. Sementara itu, Rika melihat begitu banyak darah mengalir dari kepala Mutia.
“Aduuuh, Pa! kenapa pelan sekali nyetir mobilnya? lihat ini, kepala kakak semakin banyak mengeluarkan darah,” kata Rika tak sabaran.
“Iya Rika, iya! Papa nggak berani nyetir terlalu cepat, kan Papa udah lama nggak bawa mobil! nanti kalau kita tabrakan gimana? kan tambah repot jadinya."
Disaat Rika tak sabaran, Yuni terus saja menangis tiada henti. Hal itu membuat Pak Ramon semakin panik.
“Kalian jangan nangis kenapa sayang, papa jadi nggak konsen nyetirnya nih!”
“Cepat dong Pa, darah dari kepala kak Mutia semakin banyak mengalirnya!” kata Yuni, semakin tegang dan ketakutan.
“Iya sayang, nih kita udah mau nyampe,” jawab Pak Ramon sambil membanting stir mobil kearah parkiran.
Setelah pintu dibuka, Pak Ramon langsung berteriak-teriak memanggil perawat.
Beberapa saat kemudian perawat pun datang, dan Mutia segera mereka tolong.
Disaat mereka berempat sedang menunggu keputusan Dokter. Dilain tempat dirumah sakit Ibnu sina, Yuda, Tika dan Andika juga sedang menunggu Nayla, semalaman Yuda tak bisa memejamkan matanya, karena Nayla selalu saja mengerang.
“Lalu gimana Yud? apa Nayla segera di operasi?” tanya Tika ingin tau
“Sebenarnya udah lama rencana ini kami buat, tapi sayang dokter spesialis bedah yang profesional itu, saat ini sedang berada di Ukraina, dia sedang menjadi relawan disana. Namanya dr. Rangga.”
“Jadi kapan dia bisa pulang ke Indonesia?”
“Itu masalahnya kak! dia hingga saat ini masih menjadi relawan disana.”
“Kenapa kamu nggak cari saja Dokter bedah yang lainnya, kan masih banyak yang lebih hebat.”
“Pendapat ku juga begitu kak, tapi Nayla melarang, dia hanya ingin dioperasi oleh dr. Rangga.”
“Aduh, kalau begitu bisa terlambat Yud ! kakak sarankan ini ya, lebih cepat pasti lebih baik,” kata Tika memberi solusi yang tepat untuk Yuda.
Mendengar pendapat dari teman Nayla itu, Yuda jadi berfikir seribu kali lipat.Tapi perasaannya selalu bimbang, tatkala Nayla menolak untuk dioperasi oleh Dokter lain.
Sambil duduk termenung, Yuda terus saja berfikir. Sementara itu, Andika tampak tidur nyenyak dipangkuan Tika. Sesaat kemudian, Yuda pun menghubungi dr. Siska.
“Hallo, Sis!”
“Hei kamu Yud, ada apa?” tanya Siska ingin tau.
__ADS_1
“Nayla Sis.”
“Ada apa dengan Nayla, Yud?” tanya Siska penasaran.
“Penyakitnya kambuh lagi, dari semalam dia nggak sadarkan diri.”
“Lalu kamu dimana sekarang Yud?”
“Kami sedang berada di Pasaman.”
“Pasaman? di daerah mana itu?” tanya Siska ingin tau.”
“Kalau dari kota padang, kita butuh waktu lima jam sampai kesini.”
“Waduh! jauh juga, jadi gimana Yud?”
“Entahlah Sis, aku jadi bingung.”
“O Begini aja, gimana kalau Nayla kau bawa saja kembali kesini, dan besok kita akan melaksanakan operasi untuknya.”
“Tapi Nayla nya nggak mau dioperasi oleh Dokter lain, Sis ! dia hanya mau dioperasi oleh dr. Rangga.
“Aduuh, bisa kacau, kalau begini urusannya.”
“Jadi gimana?”
“Kalau begitu, semuanya Siska serahkan saja padamu, Yud! kau kan kepala keluarga, keputusan yang kau buat, pasti yang paling terbaik untuk keluargamu.”
“Ya, pendapatmu sangat bagus, kalau begitu malam ini, Nayla akan kubawa pulang.”
“Ya, lebih cepat pasti lebih baik,” jawab Siska memberi sokongan penuh pada sahabatnya itu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.,” jawab Siska seraya tersenyum-senyum simpul.
“Dengan siapa tadi, kau bicara Yud?” tanya Tika ingin tau.
“Dengan seorang dokter,” jawab Yuda dengan tenang.
“Lalu apa katanya?”
“Aku disuruh membawa Nayla pulang, agar operasi segera dilakukan.”
“Bagus itu Yud, kakak sangat mendukung kesepakatan kalian semua, dari sini kakak hanya bisa berdo’a agar penyakit Nayla segera diangkat.”
“Iya kak, insya Allah,” jawab Yuda.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1