Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 75 Perasaan Dinda


__ADS_3

“Abang mau keruangan Abang dulu, ntar lagi, Abang balik kesini.”


“Ooo, baiklah.”


Lalu Yuda langsung pergi meninggalkan Nayla, yang saat itu terus memandanginya dari belakang.


Didalam ruangannya, Yuda menangis sedih, hatinya benar-benar terasa sakit, karena melihat istrinya, yang tak pernah bangkit dari sakit yang dideritanya. Sudah tiga kali menjalani operasi, namun hasilnya tetap saja harus menjalani operasi kembali.


Disaat itu, Dr. Tedy masuk kedalam, dan menghampiri, Yuda yang saat itu sedang bersedih, Dr Tedy pun menepuk pundaknya dari samping.


“Kau sedih ya, Yud.”


Yuda tak menjawab pertanyaan yang diajukan Tedy padanya, mesti demikian Tedy bisa memahami perasaan Yuda saat itu.


“Selama ini, aku begitu percaya pada Dr. Rangga, yang katanya dia seorang Dokter ahli bedah profesional, tapi nyatanya, istriku harus menjalani operasi berulang-ulang kali.”


“Yud, semua itu adalah kehendak Allah, kamu ingat dengan Asih bukan ? pada hal suaminya seorang Dokter ahli penyakit kangker yang terkenal, tapi dia juga nggak sanggup menyembuhkan istrinya bukan ?”


“Iya, Ted. Tapi apa menurut mu istri ku bisa sembuh nggak.”


“Insya Allah, Yud ! teruslah berdo’a, karena khasiat Do’a sangat mustajab sekali, untuk penyakit yang sedang dialami orang yang kita sayangi.”


Mendengar arahan dari Tedy, siang dan malam Yuda selalu berdo’a untuk kesembuhan Nayla, selain itu keajaiban bersedekah pun terus dilakukannya, tampa memperdulikan berapa pun uangnya terkuras.


Benar saja atas kegigihannya, ternyata Allah mendengarkan do’a Yuda, dua bulan setelah Nayla selesai dioperasi, tampak Nayla segar dan bugar kembali. Nayla sudah bisa tersenyum dan bercakap-cakap dengan tamu yang datang membesuknya.


Yuda turut merasakan kebahagiaan itu, dengan rasa sukur yang tiada terhingga kehadirat Allah Swt atas kesembuhan yang diberikan kepada Nayla.


Sebulan setelah kesembuhan Nayla diapun diizinkan pulang, melalui rawat jalan, Nayla pun melaksanakan kemoterafi. Untuk memastikan kalau kangker yang dideritanya tak menjalar ke organ tubuh yang lainnya.


Dirumah dinasnya, Yuda mengadakan sukuran kecil-kecilan, dia mengundang para tetangga terdekat, begitu juga dengan anak yatim yang ada disekitar tempat itu. Semuanya tampak begitu gembira dan bahagia.


Disaat kebahagiaan mewarnai rumah tangga Yuda dan Nayla, disaat itu pula, Dinda didera penderitaan. Pasalnya, diusianya yang sudah lanjut, Dinda belum juga mendapat pasangan hidup.


Bu Saidah sangat sedih sekali, karena Dinda selalu menolak untuk dijodohkan dengan pria lain, apa lagi ketika Ibu nya bertanya tentang pria kesukaannya, Dinda tak pernah menjawabnya selain hanya air mata yang terus mengalir.


Melihat putrinya seperti itu, Saidah mendatangi rumah Kartini, yang selama ini selalu bertetangga begitu baik dengannya.


“Ada apa, Dah ! kenapa kamu kelihatan begitu gusar sekali pagi ini ?” Tanya Kartini heran.


“Tini, kamu kan tau sendiri, bagai mana keakraban putra-putri kita selama ini, mereka bukan saja hanya sekedar berteman tapi bahkan mereka sudah bagaikan kakak dan adik, Yuda dan Yoga menjaga dan melindungi Dinda dengan penuh kasih sayang.”

__ADS_1


“Aku tau itu, Dah ! dan tampa kau katakan pun aku udah tau sejak mereka masih kanak-kanak.”


“Saat ini Yuda telah berkeluarga, dan hidup senang dengan istrinya, hanya satu harapan ku saat ini Tini, aku hanya mengharapkan satu anakmu lagi, untuk dinikahkan dengan Dinda, anak ku.”


“Oh, Saidah ! aku senang sekali kau berkata seperti itu pada ku, dan aku juga tau tentang perasaan Dinda pada Yoga selama ini,”


“Kau udah tau, Tini ?”


“Ya, Dinda sendiri yang bilang pada ku, kalau dia sangat mencintai Yoga.”


“Apa Yoga mengetahui hal itu Tini ?”


“Yoga nggak mengetahui sama sekali, kalau Dinda menyukainya, tapi aku pernah memberikan gambaran padanya, tentang kebaikan dan ketulusan Dinda pada ku selama ini.”


“Lalu apa tanggapan Yoga, Tini ?”


“Dia nggak bilang apa-apa, selain tersenyum.”


“Putramu itu, selalu saja begitu, kalau dia merasa ucapannya itu dapat menyinggung perasaan orang lain, dia pasti hanya tersenyum saja.


“Entahlah Saidah, sebenarnya kalau boleh jujur, aku sangat menyukai Dinda yang menjadi menantu dirumah ini, tapi semua keputusan itu ada pada Yoga sendiri.


“Aku sangat berharap kalau Yoga bersedia menikah dengan putriku Dinda, karena sampai saat sekarang, Dinda belum mau dijodohkan dengan pria mana pun.”


“Benar Tini, apa lagi aku punya seorang putri, aku sangat berharap sekali kalau yang menikahinya itu, adalah pria yang sangat aku kenal.”


“Kalau begitu, biar kucoba bicara dengan Yoga, siapa tau, dia bisa berubah pikiran.”


“Iya, Tini, aku akan menunggu keputusan dari Yoga, agar Dinda nggak terus-terusan berharap pada putramu itu.


Setelah percakapan mereka berdua selesai, Saidah langsung pulang kerumahnya, Dinda yang melihat kedatangan Ibunya, langsung bertanya tentang berita yang dia dapat dari Kartini.


“Kartini nggak bisa memberi keputusan apa pun Din, karena semua jawaban itu, hanya ada pada Yoga.”


“Kenapa, Bang Yoga nggak pernah memberi kabar apa pun pada Dinda ya, Bu ?”


“Barang kali Yoga itu udah memiliki kekasih di kota Din, itu sebabnya dia nggak ingat kamu lagi.”


“Keterlaluan sekali dia.”


“Setau Ibu, selama ini kalian kan nggak pacaran, lalu kenapa kamu begitu berharap Yoga mau menikah dengan mu, Din ?”

__ADS_1


“Kami memang nggak pacaran Bu, tapi hati kami udah terikat satu sama lainnya.”


“Yang Ibu takutkan, selama ini, Yoga hanya menganggap mu sebatas teman, hal itu pasti membuatmu terluka Din.”


" Entahlah, Bu." jawab Dinda pelan.


“terima sajalah nak, perjodohan yang udah Ibu rencanakan untuk mu, biarkan pria itu datang dulu kesini, nanti kalau kamu nggak suka kau kan bisa menolaknya.”


“Jangan Bu, aku hanya ingin menikah dengan Bang Yoga.”


Ke terus terangan Dinda pada Ibunya, membuat Saidah bertambah sedih, dan hal itu membuatnya terus mendesak Kartini untuk menghubungi Yoga.


Malam itu Kartini mencoba menghubungi putranya Yoga, dan Yoga langsung mengangkat telfon dari Mamanya.


“Assalamu’alaikum, Ma !”


“Wa’alaikum salam Yog.”


“Gimana kabar Mama saat ini,aku kangen sekali dengan Mama.”


“Oh putra kecil Mama yang lucu, saat ini Mama sehat Nak.”


O syukurlah, semoga Allah selalu melimpahkan rahmatnya untuk Mama tersayang.”


“Amin ! Gimana pekerjaanmu saat ini nak ?”


“Kalau pekerjaan Insya Allah, semuanya berjalan lancar, Ma ! tapi dalam beberapa bulan ini, aku terlalu sibuk sekali.”


“Sibuk ! kesibukan apa, nak ?”


“Mungkin Mama udah tau kalau Nayla istri Yuda dioperasi lagi.”


“Ooo, kalau soal itu, Mama udah datang kesana bersama Dinda, tapi saat itu kau nggak ada, jadi Mama dan Dinda memutuskan untuk pulang.”


“Iya, Ma ! saat itu aku ada urusan di sekolah, tapi Yuda udah mengabari aku kok, kalau Mama bersama Dinda datang kesana. Tapi setelah operasi kedua itu, Nayla menjalani operasi lagi.”


“Jadi nayla menjalani tiga kali operasi, ya ?”


“Iya, Ma ! tapi sepertinya, itu semua karena kelalaian Yuda, karena terlalu sibuk bekerja sehingga dia nggak sempat membantu Nayla dalam menyelesaikan pekerjaan rumahnya.”


“Kasihan Yuda, dia begitu banyak kehabisan uang untuk pengobatan istrinya, semoga saja, hal itu menjadi ladang pahala untuknya.”

__ADS_1


“Ya semoga saja begitu, Ma.”


Bersambung.....


__ADS_2