
Yoga tak dapat berbuat apa-apa, karena Yuda telah mempersiapkan semuanya, Siska juga sudah diberi tau, seluruh saudara dan familinya juga sudah berdatangan memenuhi kediaman Siska.
Di rumah sakit Siska juga sudah mengambil cuti untuk beberapa minggu kedepan. Suasana tampak ramai di kediaman Siska, walau sudah tidak memiliki kedua orang tua, tapi Siska tergolong mampu untuk menjalani hidup.
Sementara itu, dikediaman Yuda, semua keluarga juga sudah hadir, begitu juga dengan para tetangga terdekat.Mereka semua bekerja bahu membahu membantu Yuda dalam mengerjakan pekerjaannya.
Seraya memetik gitar, Yoga mencoba mengisi waktu sepinya, walau dia menyukai Siska untuk menjadi pendamping hidup. Akan tetapi, dia lebih menginginkan Mutia yang akan dinikahinya.
“Kenapa kau kelihatan sedih Bang?” tanya Nayla pelan.
“Abang nggak menginginkan pernikahan ini Nay.”
“Kenapa?”
“Abang hanya mencintai Mutia.”
Mendengar jawaban dari Yoga, Nayla tampak begitu marah sekali, dia langsung mengambil bantal dan memukul Yoga.
“Kau memang laki-laki biadab Bang!” ucap Nayla kesal.
“Apa maksud Mu Nay?”
“Kau bilang, kau nggak punya hubungan dengan Mutia, tapi kenapa kau bilang cinta pada Mutia?”
“Abang sengaja melakukan semua itu, agar Nay nggak merasa tersakiti.”
“Tapi saat ini Nay lebih tersakiti dari yang abang bayangkan.”
“Lalu Abang mesti gimana Nay.”
“Kau jahat bang, kau jahat!” teriak Nayla seraya memegang perutnya yang terasa semakin sakit.
“Tenang Nay, tenang sayang,” kata Yoga mencoba untuk menenangkan hati Nayla.
Seraya memegang perutnya, Nayla pun berlari menuju kamarnya. Di dalam kamar itu, Nayla menangis histeris, dia tak lagi perduli dengan sakit yang sedang dihadapinya. Tapi rasa sakit di saat itu telah melebihi segala-galanya.
“Sebenarnya Abang juga nggak ingin menikahi Siska, Nay! tapi Yuda tetap menginginkan kami menikah!”
“Bohong! kau hanya bisa berbohong terus Bang, yang kau ucapkan hanya kebohongan semata.”
“Abang nggak bohong, Nay! semua ini juga idenya Yuda.”
“Cukup! Abang nggak usah bawa-bawa nama Bang Yuda disini, Nay udah tau semuanya. Nay mohon jangan berbohong lagi!”
Yoga semakin bingung dengan ucapan Nayla, karena menurut Yoga, Nayla belum tau kenapa dia menikahi Siska.
Akan tetapi Yoga benar-benar terkejut saat Nayla memintanya untuk berkata jujur dan tidak berbohong.
“Bicara apa Yuda pada mu Nay, kenapa kau bicara seperti itu pada Abang?”
__ADS_1
Nayla tak menjawab, dia hanya menangis tiada henti, walau berkali-kali Yoga memanggilnya dari balik gorden, Nayla tetap diam.
Lalu Yoga pun memberanikan diri masuk kedalam kamar Nayla dan menyentuh pundak Nayla dengan pelan.
“Jangan pernah menyentuh Nay lagi Bang!” teriak Nayla kuat.
Yoga yang saat itu sedang berada didalam kamar Nayla segera berlari keluar dan berlalu menuju dapur.
Yoga mencoba bersikap tenang dan santai agar tak ada yang curiga padanya. Karena merasa aman Yoga langsung masuk kedalam kamarnya.
Tak berapa lama kemudian Yuda pun pulang kerumah.
“Yog, Yoga!”
“Iya Yud, ada apa?”
“Kau udah siap kan? ingat kau jangan kemana-mana lagi, besok kalian akan menikah.”
“Baik Yud.”
Betapa senang hati Yuda saat itu, karena saudara kembarnya akan melangsungkan pernikahan, walau sesibuk apapun dia, namun Yuda tetap membantu para tetangga yang sedang bekerja.
Saat sore, Kartini dan Ningsih datang bersama dengan beberapa orang tetangga yang ingin melihat pernikahan Yoga.
“Yoga, mana Yoga, Yud?” tanya Kartini ketika dia baru saja menginjakkan kakinya di teras rumah Yuda.
“Ada Ma, dia lagi dikamar,” jawab Yuda seraya mengantarkan Kartini menemui Yoga yang sedang duduk dikamar sendirian.
“Mama, aku mau menikah, Ma!”
“Bagus dong! berarti kau udah mapan untuk membina sebuah keluarga. Jangan lihat keatas, tetap pandang kebawah, agar kau mampu menjaga keluargamu dengan baik,” pesan Kartini pada putra bungsunya.
Iya, Ma. Insya Allah.”
“Udah jangan sedih, berarti saat ini kamu udah menjadi dewasa.”
“Apa Mama bawa Dinda kesini?”
“Nggak Yog, Mama juga nggak ngasih kabar ini ke Dinda.”
“Kenapa?”
“Mama takut kalau Dinda akan sedih dan nekad mengakhiri hidupnya.
“Gimana kalau dia tau sendiri nanti Ma?”
“Udahlah Yog, nggak usah terlalu difikirkan, karena jodoh mu bukan kau atau Mama yang mengaturnya.”
“Iya, Mama benar, semua ini pasti telah menjadi takdir hidup yang akan kujalani.”
__ADS_1
“Iya, itu sebabnya, fokuslah pada pernikahan mu, soal yang lainnya serahkan pada Allah Swt.”
“Baik Ma,” jawab Yoga singkat.
Di saat Yoga dan Mamanya berbincang-bincang dikamar, tiba-tiba saja Nayla datang menghampiri Kartini, seraya memegang perutnya. Nayla pun bersimpuh dihadapan Kartini seraya mencium tangan Ibu mertuanya.
“Sayang Mama, gimana dengan kandungan mu nak?”
“Alhamdulillah, sehat Ma,” jawab Nayla dengan suara lembut.
“Mana Cucu Mama, Nay?”
“Ada Ma, Andika lagi tidur di kamarnya.”
“O, begitu!” jawab Kartini seraya tersenyum
Tak berapa lama kemudian, menyusul pula beberapa orang Ibu-Ibu datang melihat kamar Yoga yang sudah dihiasi dengan indah dan rapi.
“Mana mempelai prianya?” tanya seorang Ibu pada Kartini.
“Ini, lagi duduk,” jawab Kartini datar.
“Lagi menghafal ijab Qabulnya kali!” jawab Ningsih seraya tersenyum manis.
Mendengar suara Ningsih, Yoga langsung berdiri dan memeluk tubuh adik angkatnya itu dengan lembut.
“Selamat ya, Kak! sebentar lagi Kakak bakalan menikah Lho!”
Melihat Yoga memeluk Ningsih dengan erat, hati Nayla terasa begitu sakit, seraya melirik tajam ke arah Yoga, Nayla mencoba bersikap tenang.
Sementara itu, Yoga menyuruh Ningsih duduk disampingnya, mesti Nayla ada bersamanya saat itu.
Sebenarnya Yoga tau kalau Nayla sangat cemburu, namun dia terpaksa harus melakukannya agar Nayla semakin membenci dirinya.
Setelah beberapa saat berbincang-bincang, Kartini dan yang lainnya keluar untuk makan malam, menyusul Yoga yang ikut hadir bersama mereka saat itu.
Sewaktu makan malam, Nayla tampak diam saja, karena dia sengaja menyembunyikan perasaannya pada saat itu.
Namun diantara mereka yang asik menikmati makan malam, hanya Yoga yang selalu memperhatikan Nayla.
Yoga sadar betul betapa sakitnya hati Nayla, karena pria yang dia cintai menikah dengan wanita lain. Namun dia sendiri tak bisa berbuat banyak, karena Nayla sendiri masih berstatus istri sah dari saudara kembarnya.
Tak terasa, malam pun berlalu dengan begitu cepat menuju pagi, menyongsong masa depan yang telah menanti. Sinar sang surya yang begitu cerah, membuat semangat menjadi semakin kuat.
Pagi itu pula, Yoga berpakaian rapi, sebagai seorang mempelai pria, dia pun dirias seindah mungkin, agar semua mata yang memandang menjadi kagum.
Dihalaman rumah, telah terparkir beberapa buah mobil yang siap berangkat untuk mengantarkan mempelai prianya.
Pagi itu, Nayla sudah merasa begitu sesak, seperti ada beban berat yang sedang dia pikul sendirian, urat syarafnya menjadi tegang.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*