
Dinda tak menjawab pertanyaan dari Yoga, walau pun dia mendengarkannya, dengan deraian air mata, Dinda terus saja menggenggam tangan Yoga dengan begitu erat.
“Kenapa kau lakukan ini semua Din! Kenapa?”
Dinda masih saja diam, hanya air matanya yang terus mengalir membasahi kedua pipinya yang tampak begitu pucat.
“Aku minta maaf sayang, tak ku sangka semuanya akan berakhir seperti ini.”
“Aku nggak ingin menikah dengan siapa pun Yog, selain dengan diri mu.”
“Ya Allah din, kenapa kau lakukan itu semua, kenapa harus memaksakan kehendak yang telah ditetapkan Allah untuk kita.”
" Aku nggak memaksa kan kehendak ku, Yog."
“Percayalah sayang, kalau memang kita ini berjodoh, pasti aku akan melamar mu.”
“Lalu kenapa nggak kau lakukan Yog! Kenapa?”
“Maafkan aku, Din! aku nggak bisa melanjutkannya.”
“Karena kau punya gadis lain disana, kan?"
Yoga tak menjawab, dia tak sanggup mengatakannya pada Dinda, demi menjaga perasaan Dinda yang telah tersakiti olehnya.
“Hancurlah aku, Yog. Hancurlah aku ini, huhuhuhuk!”
Dihadapan Yoga, Dinda menangis tersedu-sedu, rasa sakit yang selama ini dipendamnya, saat itu tak lagi sanggup untuk dibendungnya. Semuanya tercurah dan tertumpah, bak air sungai yang sedang mengalir, mengikuti alurnya.
Bersama Dinda dan Yoga, Bu Saidah juga turut merasakan kepiluan hati putrinya, air mata perempuan tua itu, juga ikut mengalir bersama hancurnya serpihan hati putri tercintanya.
“Lalu aku bagai mana Yog, terus terang ku katakan pada mu, aku bersumpah demi Ibuku !aku tak akan menikah dengan siapapun selain dari putra Kartini!”
Disaat kata-kata itu terucap dari bibir Dinda, langit pun bergemuruh, angin langsung datang berhembus, menepis dan menyapu bersih semua yang menghalanginya. Yoga pun tersentak dari duduknya, dia bangkit dengan sekeping hati yang telah terkoyak.
Yoga berjalan dengan langkah gontai, perasaannya begitu bimbang saat itu. Hatinya yang selama ini tenang, berubah menjadi kacau.
Di dalam Mesjid, Yoga mencoba untuk merenungi dirinya. Dia duduk sendiri menatap kosong pada tiang-tiang masjid yang berdiri kokoh dihadapannya.
Lalu seorang pria tua datang menghampirinya, dia datang untuk memberikan setetes air pada hati Yoga yang sedang dahaga.
“Sholat lah, Nak!” lakukan sholat istikharah, mintalah petunjuk pada yang maha kuasa, agar kau dapat menempuh jalan yang sedang kau lalui.”
Setelah selesai berbicara, pria itu langsung pergi, tapi Yoga menahan tangan Pria itu.
“Sebenarnya Bapak siapa?” tanya Yoga ingin tau.
“Bapak hanya kebetulan melihatmu dalam satu kebimbangan.”
“Apa boleh aku bertanya sesuatu, yang selama ini, tak pernah kutanyakan pada orang lain?”
“Apa itu?” tanya pria tua itu ingin tau.
__ADS_1
“Sebenarnya aku punya jalan hidup yang sangat rumit sekali.”
“Jalan hidup yang seperti apa itu?”
“Aku seorang pria lepas, aku sangat menyayangi Ibuku, tapi aku punya seorang sahabat kecil yang menuntut ingin menikah denganku, selain itu, disana, aku juga sedang punya kekasih yang sangat aku cintai.”
“Lalu?”
“Dan aku juga memiliki saudara kembar yang begitu mempercayai diriku, tapi aku telah berselingkuh dengan istrinya.
" Apa! berselingkuh?"
Dan satu hal lagi, aku juga menabrak seorang wanita tua hingga meninggal dunia. Dengan rasa kasih sayang aku juga merawat putri perempuan itu, padahal dia seorang non muslim. Lalu jalan mana yang akan ku tempuh untuk semua jawaban dari pertanyaan ku ini ?”
“Hanya ada satu jawaban untuk semua itu nak, "Tobat” Segeralah bertobat agar hidupmu tidak bergelimang dosa."
Lama Yoga merenungi ucapan sang Bapak tua itu, dia begitu yakin kalau tobat adalah jalan satu-satunya untuk menebus dosa. Karena dengan bertaubat kita bisa membuang racun dosa yang bersarang dalam hati kecil kita.
Seraya menghela nafas Panjang, Yoga menatap tajam kearah pria tua itu, disaat Yoga menatapnya, pria itu ternyata juga sedang menatap kearahnya.
“Kenapa bapak menatapku seperti itu?” tanya Yoga heran.
“Bapak udah bisa membaca kata hati mu,” jawab Pria itu.
“Maksud Bapak apa?” tanya Yoga ingin tau.
“Kau begitu yakin kalau bertaubat adalah jalan keluar yang baik, untuk menebus dosa yang sedang membelenggu jiwa mu yang kotor, tapi kau merasa enggan untuk melakukannya.”
“Kenapa?”
“Ada satu hal yang selalu mengganggu jalan hidupku selama ini, Pak!”
“Apa itu, coba kau katakan?”
“Istri saudara kembar ku yang bernama Nayla, dia begitu cantik dan menggoda hasrat ku, aku sudah berusaha mati-matian untuk menghindar darinya. Akan tetapi suaminya selalu saja mempercayai istrinya pada ku, hingga aku tak kuasa menghindar darinya.”
“Iblis itu selalu begitu Nak, dia datang dalam bentuk berupa siapa yang kita kehendaki. Kalau kau menghendaki Nayla yang selalu menggoda hasrat mu, maka dia akan datang menjelmakan dirinya seperti Nayla yang kau inginkan.”
“Jadi Bapak mengatakan Nayla itu syetan?”
“Bukan dia yang syetan itu nak, tapi jiwanya yang sudah dirasuki syetan, sehingga dia berbuat seperti syetan, selalu menggoda.”
Mendengar penjelasan dari pria tua itu, Yoga benar-benar menyakini apa yang dia katakan pria itu, benar adanya. Karena selama ini Nayla selalu saja menggoda dan merayu dirinya, walaupun dia sudah berusaha menghindar.
“Bagai mana menurut mu, ucapan Bapak benar kan?”
“Iya, dari awal sampai akhir ucapan Bapak benar semua, ku akui, saat ini aku benar-benar udah tergoda rayuan syetan.”
“Kau memang udah lama tergoda, nak! hanya saja kau sanggup apa tidak melepaskan belenggu yang menjerat tubuh mu itu.”
“Oh, rasanya begitu sulit, Pak.”
__ADS_1
“Berarti Bapak udah punya jawaban dari renungan mu hari ini,” kata pria tua itu seraya meninggalkan Yoga sendirian.
" Pak, tunggu! masih ada satu pertanyaan lagi yang ingin ku tanya kan pada Bapak!" seru Yoga.
Akan tetapi pria itu tetap saja berlalu meninggalkan Yoga sendirian.
Setelah pria itu pergi,Yoga serasa semakin bertambah kalut sekali, hatinya bimbang untuk menentukan sikap yang selama ini dirasakan nya. Dalam kebimbangannya itu, tiba-tiba saja, Bu Saidah datang menghampiri dirinya, yang masih duduk sendiri didalam masjid.
“Kenapa, Nak?” tanya Bu Saidah ingin tau.
“Aku berada di posisi yang sangat sulit, Bu.”
Mendengar penuturan Yoga, Bu Saidah hanya bisa terhenyak seraya menarik nafas panjang.
“Apa yang mesti aku lakukan, Bu?” tanya Yoga pada perempuan paruh baya itu.
“Ibu nggak punya jawaban untuk itu nak.
“Jika aku menikahi Dinda, sesuai dengan permintaannya, lalu bagai mana pula dengan perasaan kekasih yang sangat aku cintai, Bu.”
Mendengar kejujuran Yoga, Bu Saidah langsung saja pergi seraya menangis, pagi itu ternyata dia telah mendapat jawaban dari pria yang begitu diharapkan putrinya selama ini.
“Bu Saidah, Bu. Tunggu!”
Karena ada panggilan dari Yoga, Saidah langsung menghentikan langkah kakinya, dan berbalik menghadap ke Yoga.
“Ada apa, nak?”
“Ibu mau kemana?”
Menemui Dinda, untuk menyampaikan padanya, agar dia jangan terlalu berharap pada pria yang telah jadi milik orang lain.”
“Jangan lakukan itu pada ku, Bu!”
“Kenapa? kau takut hubunganmu dengan wanita lain diketahui Dinda.”
“Bukan itu masalahnya, Bu.”
“Lalu apa masalahnya, Yog?”
“Jika ibu memberi tahukan hal ini pada Dinda, maka dia akan semakin menderita, dan niatnya untuk bunuh diri, bisa saja dia lakukan kapan saja kan.”
“Kau benar, tapi haruskah Ibu diam saja, melihat kau mempermainkan putri ku.”
“Aku nggak pernah mempermainkan Dinda, Bu.”
“Kalau bukan mempermainkan, lalu apa Namanya?”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1