Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 34 Di tinggal pergi


__ADS_3

“Iya, kak. Nayla sebenarnya mengidap penyakit Kangker Rahim stadium dua.”


“Apa, kangker rahim?”


“Iya, kak.”


“Astagfirullah! Semenjak kapan dia mengidap penyakit itu Yud?” tanya Tika penasaran.


“Sebenarnya penyakitnya itu udah lama bersarang ditubuhnya, tapi selama ini Nayla tak pernah meresponnya.”


“Oh, kuatnya kamu Nay,” kata Tika dengan suara pelan.


Sementara itu, dalam pelukan Tika, Andika terus saja menangis karena cemas. Hatinya tak tenang, takut kalau-kalau Mamanya akan meninggalkannya.


“Sayang ! Mama adek nggak apa-apa kok, nanti juga siuman, sekarang Mama adek sedang diperiksa Dokter didalam, jadi adek tenang ya?”


“Tapi, Tante! kalau Mama nggak keluar-keluar, siapa yang akan membuatkan aku susu.”


Mendengar perkataan Andika, Tika hanya tersenyum dan dia memeluk tubuh Andika, dengan lembut.


“Adek nggak usah takut! sebentar lagi Mama adek pasti bangun.”


“Iya Tante.”


Lalu mereka bertiga menunggu dengan sabar diluar. Tak begitu lama kemudian, seorang dokter muncul dari balik pintu. Yuda dan yang lainnya, segera bergegas menyongsong dokter itu.


“Gimana keadaan istri saya dok?” tanya Yuda ingin tau.


“Istri Bapak masih pingsan, tapi dari hasil Ronsen, kami menemukan sesuatu diperut istri Bapak.”


“Iya Dok, istri saya mengidap penyakit kangker Rahim.”


“Ooo, jadi Bapak udah tau?”


“Iya dok, dan kami akan melaksanakan operasinya secepat mungkin.”


“Ya, ya! lebih cepat itu lebih baik, dari pada penyakitnya menyebar semakin luas lagi.”


“Iya, Dok,” jawab Yuda.


Bersamaan dengan itu, Yoga yang dengan kesal telah meninggalkan Mutia direstoran, sadar kalau perbuatannya itu sangat berbahaya sekali.


Tampa berfikir Panjang lagi, Yoga pun kembali ke restoran untuk menjemput Mutia, akan tetapi sesampainya dia disana Yoga tak melihat Mutia ditempat duduk yang telah di pesannya tadi.


Yoga panik, dan mencari Mutia disekitar restoran. Namun tak terlihat sama sekali.


“permisi? apa Abang ada melihat seorang wanita cantik keluar restoran, barusan?” tanya Yoga ingin tau.


“Hah, kalau perempuan cantik, saya setiap kali melihat keluar masuk restoran, perempuan yang mana yang adek maksudkan?”


“Aduh, kalau Abang melihat perempuan cantik sering keluar masuk restoran, lalu gimana aku mesti menjelaskannya ya?”

__ADS_1


“Benar itu, Abang nggak bohong.”


“Ya udah, kalau begitu, biar aku cari saja dulu.”


“Ya silahkan.”


Lalu, Yoga mencoba mencarinya lagi, bahkan kali ini Yoga mencarinya sampai menyusuri gang-gang sempit dan tempat-tempat kumuh.


Sementara itu malam semakin gelap dan mencekam, Yoga mulai berputus asa, dalam hati kecilnya, dia begitu menyesali semua yang telah dia lakukan, gara-gara kecerobohannya, Mutia hilang dan belum ditemukan.


“Ya Allah. Kemana aku mesti mencari keberadaan Mutia? sementara aku sendiri nggak kenal dengan daerah ini. Pertemukan kembali kami ya Allah,” kata Yoga bermohon pertolongan pada sang maha kuasa.


Dengan langkah gontai, Yoga pun kembali berjalan kaki menyusuri setiap Lorong dan gang sempit di kota itu.


Sedangkan Mutia yang dicari Yoga hingga larut malam, tetap saja menangis sedih didepan Mesjid. Karena mendengar suara tangisan, marbot masjid itupun bangun, dan keluar untuk memastikan dari mana suara tangisan itu berasal.


Setelah dia melihat ada seorang yang sedang menangis, lalu marbot itupun menghampiri Mutia lebih dekat lagi.


“Hei! kamu siapa?” tanya Marbot itu ingin tau.


“Maafkan aku, pak. Aku hanya ingin numpang istirahat aja disini,” jawab Mutia ketakutan.


“Bukan, maksud Bapak, kenapa kamu berada disini, mana keluargamu?” tanya marbot itu memastikan.


“Seseorang meninggalkan aku tadi di restoran, aku nggak tau jalan pulang, aku juga lupa bawa uang, kata Papa, kalau kesasar pergilah ke Mesjid, karena di sanalah tempat yang paling aman untuk bersembunyi dari kejahatan.”


“Iya, Papamu itu memang benar, dan kau tak salah. Ayo kau masuklah kedalam, dan tidurlah dikamar Bapak, biar Bapak tidur didalam masjid aja.”


“Iya, benar! masuklah kedalam, disini tak aman untukmu.”


“Terimakasih, Pak. Terimakasih,” jawab Mutia seraya mengikuti marbot itu dari belakang.


“Untuk sementara, kau akan aman disini.”


“Baik, Pak! terimakasih.”


“Sama-sama,” jawab marbot itu seraya meninggalkan Mutia dalam kamar masjid itu.


Disaat posisi Mutia sudah aman, sebaliknya hal itu tidaklah aman untuk orang tua Mutia, mereka berdua tak bisa tidur malam itu, karena Mutia belum juga kembali.


Mereka berdua sangat bingung, karena tak ada nomor yang dapat dihubungi. Sementara itu, handphone milik Mutia tertinggal didalam kamarnya. Sedangkan mereka juga tidak mengetahui nomor milik Yoga.


“Aduh gimana ini, Pa?" tanya Sukesih kebingungan.


“Papa juga bingung nih, kita mesti gimana, Ma?” jawab Pak Ramon seraya mengernyitkan kedua alisnya yang tebal.


“Nggak biasanya mereka pergi selarut ini, mana handphone nggak dibawa lagi. Aduuuh! Mutia, Mutia, kamu dimana sayang?” kata Sukesih dengan linangan air matanya.


“Coba saja, dari awal mereka pacaran, kita langsung minta nomor handphone Yoga, pasti ceritanya nggak serumit ini.”


“Jadi sekarang ini gimana lagi Pa?”

__ADS_1


“Aduh, Ma! tolong deh, jangan bertanya terus. Papa jadi pusing nih!”


Sementara itu, disaat mereka berdua sedang sibuk memikirkan masalah Mutia, Rika dan adiknya yang lain semua pada menangis karena sedih. Hal itu membuat Pak Ramon semakin panik.


Lalu pak ramon segera menelpon polisi, untuk melaporkan kehilangan putrinya, telepon pun langsung diangkat.


“Hallo! dengan siapa ini?” tanya seseorang.


“Saya Pak Ramon, ingin melaporkan kalau hari ini putri sulung saya belum kembali, pak!”


“Apa Bapak tau, kemana mereka pergi?”


“Nggak pak!”


“Apa Bapak punya nomor handphone putri Bapak itu?”


“Handphonenya tertinggal dirumah, Pak.”


“Teman atau saudara yang dikenalnya?”


“Kami juga nggak punya, Pak.”


“Kalau begitu, Bapak harus bersabar dulu, menunggu selama dua kali dua puluh empat jam, baru kita akan turun kelapangan untuk mencarinya.


“Kalau harus menunggu selama itu, berarti anak saya benar-benar sudah hilang. Dong !”


“Memang seperti itu prosedurnya, Pak!”


“Prosedur, apanya!” jawab Pak Ramon kesal.


“Udah Pa, udah! nggak usah dilayani, nanti darah tinggi Papa bisa kumat nanti,” Kata Sukesih menasehati suaminya.


“Ya Allah! lindungi putri kami Ya Allah!” kata Pak Ramon, seraya menengadahkan kedua tangannya kehadirat Allah Swt.


Dalam kesedihan itu, siapa sangka, Rika teringat dengan handphone kakaknya yang tertinggal, didalam handphone itu, pasti ada nama Yoga disana, lalu dia langsung berlari menuju kamar.


Ketika dicek, memang benar, didalam handphone itu, ada nama Yoga disana, lalu Rika mencoba untuk menghubunginya.


Ketika Rika sedang menghubungi,tak seorangpun yang mengangkat, padahal nomor yang dituju sedang aktif.


“Aduuh, angkat dong Bang! kenapa diam saja!” kata Rika seraya menghubunginya secara berulang-ulang.


Disaat handphone itu terus berdering, seseorang kebetulan lewat didepan Mesjid, dan melihat ada cahaya yang berkedap kedip di teras masjid.


Pria itu langsung masuk ke teras masjid dan mengambil handphone yang tergeletak itu.


" Hm, ponsel siapa ini?” tanya pria itu seraya membawa ponsel itu pergi.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2