Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 98 Pertemuan yang tak di rencanakan


__ADS_3

“Kalau capek istirahatlah dulu, nanti baru main lagi,” potong Nayla.


“Iya Ma,” jawab Andika sembari berbaring disamping Yoga.


“Gimana, udah selesai mainnya? kalau udah selesai kita pulang!”ajak Yoga pada Andika.


“Tunggulah paman, kan aku masih ingin bermain disana!” jawab Andika seraya kembali berlari meninggalkan Yoga dan Nayla.


“Ingat sayang, jangan jauh-jauh!” seru Yoga dengan suara yang lantang.


“Baik paman.”


Disaat Andika semakin jauh, Yoga bersama Nayla kembali saling bertatap pandang, senyum Nayla yang manis membuat hati Yoga terasa bergetar. Ingin sekali rasanya dia mencumbui Nayla ditengah keramaian pantai itu.


“Kenapa sih Bang, kau menatap Nay seperti itu?”


“Nggak boleh rupanya?”


Nayla tidak menjawab, dia hanya tertunduk menahan rasa malu, kedua pipinya yang putih tampak semakin merona kemerahan. Disaat itu Yoga hanya bisa memeluk tubuh yang seksi itu dengan lembut.


“Kapan Abang kembali kesekolah?”


“Belum tau.”


“Kenapa jawabnya belum tau? kan Abang udah menjadi guru teladan saat ini.”


“Siapa bilang kalau Abang udah jadi guru teladan?”


“Bang Yuda.”


“Sebenarnya Abang hanya menghabiskan sisa cuti Abang dalam dua tahun ini.”


“Ooo, begitu.”


Sedang asik bercerita, tidak terasa hari semakin siang, matahari sudah sedikit condong kearah barat, yang menandakan mereka harus segera kembali pulang.


Setelah Nayla selesai mengurus Andika, mereka pun kembali pulang kerumah. Sesekali tangan Nayla yang nakal tampak bermain-main di dada bidangnya Yoga, yang membuat Yoga tak lagi berkonsentrasi mengendarai sepeda motor miliknya.


“Hati-hati Paman!” teriak Andika ketika sepeda motornya hampir menabrak pejalan kaki.


“Terimakasih sayang, untung Andika ngingetin paman, coba kalau nggak, pasti kita udah tidur malam di kantor polisi.”


“Apa paman nggak lihat jalan?”


“Paman lihat sayang, tapi kepalamu menutupi pandangan paman.”


“Maaf, habis Andika udah gedek, mestinya kan Andika duduknya dibelakang tadi.”


“Kalau Andika dibelakang, lalu Mama gimana? ditinggal dong!”

__ADS_1


“Iya juga sih,” jawab Andika pelan.


Setelah Yoga sedikit tenang, barulah dia melanjutkan perjalanannya. Setibanya didepan rumah, pintu rumah masih terkunci rapat yang menandakan Yuda belum kembali pulang kerumah. Mereka bertiga langsung masuk kedalam.


Karena merasa lelah, setibanya dirumah Andika langsung tertidur di kamarnya. Sementara Yoga sudah masuk ke kamarnya untuk beristirahat, disaat itu Nayla datang menghampirinya, dan ******* dengan lembut bibir Yoga yang tipis.


Yoga hanya diam saja, walau berkali-kali Nayla melakukannya, dia tampak begitu menikmati permainan yang dilakukan Nayla kepada dirinya. Bukan hanya sekedar mencumbu Yoga, Nayla bahkan mulai bermain-main diatas dada yang bidang itu.


Terasa sesak nafas Yoga saat itu, gairah didalam mulai terpapar keluar secara perlahan, dengan lembut Yoga memeluk tubuh Nayla dan menidurkan disisinya.


Bagai dikejar oleh waktu, mereka berdua terus saling bercumbu mesra, selembar demi selembar pakaian mereka mulai terlepas. Kehangatan ciuman Yoga membuat Nayla semakin terangsang gairahnya, namun seperti biasa Yoga langsung menghentikannya.


“Kenapa berhenti Bang?” tanya Nayla penasaran.


“Abang nggak mau melanjutkannya Nay.”


“Kenapa? apa kau masih takut kalau Bang Yuda memergoki kita berdua?”


“Bukan itu masalahnya Nay.”


“Lalu apa? bicara dong!”


“Kenakan pakaian mu Nay!”


“Nay nggak mau!” jawab Nayla dengan suara lirih.


“Hatimu sakit ya?”


Karena jawaban Nayla udah mulai meninggi, Yoga tak mau melanjutkan ucapannya. Dia hanya mengambil pakaian Nayla yang berserakan dilantai dan memakaikannya ketubuh yang seksi dan indah itu.


“Selalu saja begitu, Abang nggak pernah membuat Nay puas.”


Yoga bukannya marah saat Nayla merasa jengkel dengan perbuatannya, dia malah tersenyum manis dihadapan nayla, seolah-olah hal itu sengaja dia lakukan. Sambil mengancingi baju Nayla satu persatu, kejahilan tangan Yoga kembali terlihat, tampa takut sedikit pun yoga menyentuh tubuh Nayla yang kembali berakhir diatas ranjang.


Disaat mereka sedang asik bercumbu, tiba-tiba didepan rumah mereka mendengar suara deru mobil Yuda berhenti diparkiran. Disaat itu Nayla pun mengemasi seluruh pakaiannya dan berlari menuju kamar mandi.


Melihat Nayla keburu lari, Yoga pun membenahi pakaiannya dan dia berpura-pura tidur agar tidak dicurigai oleh Yuda. Walau dalam hatinya dia merasa takut namun Yoga selalu saja berbuat culas dengan istri saudaranya sendiri.


Lalu dari luar terdengar suara pintu diketuk, Yoga yang mendengar berpura-pura tetap tidur. Sementara itu Nayla yang berada dikamar mandi bergegas keluar untuk membukakan pintu.


“Maaf Bang, tadi Nay lagi mandi.”


“Nggak apa-apa,” jawab Yuda sembari mencium kening Nayla.


“Kenapa lama pulangnya Bang?”


“Tadi banyak pasien di rumah sakit.”


“Ooo, gitu,” jawab Nayla seraya menggandeng tangan Yuda masuk kedalam.

__ADS_1


“Andika mana sayang?”


“Dia lagi tidur Bang, barang kali dia kecapekan, habis berlari-lari di pantai.”


“Asik ya main di pantai?”


“Biasa aja kok, kalau Andika baru senang.”


“Nanti kalau Abang punya waktu, Abang akan bawa kalian pergi tamasya seperti waktu itu.”


“Benarkah itu Bang?”


“Iya sayang,” jawab Yuda seraya mencubit dagu istrinya.


Merasa disanjung suaminya, Nayla tampak begitu manja sekali, dengan lembut Nayla mencoba menggiring suaminya menuju kamar. Pakaian tipis yang dikenakannya, membuat Yuda melihat lekuk indah tubuh Nayla dan merasa sudah tidak sabar Yuda mencoba menggendong istrinya.


“Kita mau ngapain bang?”


“Abang hanya ingin memandangi lekukan tubuh mu yang indah ini sayang.”


“Aaaah, mulai deh,” jawab Nayla manja.


Gairah Yuda pun muncul seketika, ketika istrinya mulai bermanja-manja padanya, Nayla yang merasa terangsang terlebih dahulu oleh Yoga, akhirnya terpuaskan dalam dekapan suaminya.


“Kau mengabaikan aku Nay, kau bercinta dengan suamimu disaat aku masih berada di sisimu,” gumam Yoga pelan.


Saat itu betapa sakitnya hati Yoga, karena Nayla sedang bercinta dengan suaminya dikamar. Suara Nayla yang sedang memamerkan andehoinya bersama suami terdengar jelas dikamar Yoga dan membuat Yoga menutup kepalanya dengan menggunakan bantal.


Dalam kesendiriannya, Yoga teringat waktu pertama sekali di menyentuh tubuh Siska, walau pun dia tak merasa melakukan hal keji itu, akan tetapi mereka berdua sama-sama tidak menyadarinya.


Disaat Nayla sedang asik bercumbu dengan Yuda, Yoga merasa tidak tahan dengan apa yang baru didengarnya, Yoga pun pergi mencari tempat untuk menghilangkan rasa sesak itu.


Diperjalanan menuju taman, Yoga berjumpa dengan Siska, pertemuan yang tiada direncanakan itu ternyata membuat keduanya merasa senang. Keanehan pun terlihat disaat itu, Siska yang merasa telah ternodai oleh Yoga tampak biasa-biasa saja.


“Hei! Kau disini?” tanya Yoga heran.


“Ya, Siska tadi dari rumah sakit, rencana mau beli susu untuk adik dirumah.”


“Maaf, boleh aku bertanya sesuatu?”


“Silahkan, mau tanya apa?”


“Malam itu kita tanpa sengaja telah melakukan kebodohan itu, dan kau tampak begitu sedih sekali dan bahkan kau menangis histeris dipundak ku. Akan tetapi, hari ini aku melihat keanehan pada dirimu, kau terlihat biasa-biasa saja, disaat aku sedang pusing memikirkan jalan keluar untuk itu.”


“Jalan keluar?”


“Ya jalan keluar untuk masalah kita berdua.”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2