
“Hps, jangan kau bicara seperti itu, Dah! Dinda, Yuda dan Yoga itu anak-anak terbaik dalam hidupku, dan jangan kau membuat cerita yang seakan-akan kau meniadakan kasih sayang ku selama ini padanya.”
“Maaf, aku bicara apa adanya, kan Tini.”
“Berhentilah bicara Dah, kalau ucapan mu itu akan memicu konflik diantara keluarga kita."
“Baiklah, mulai hari ini aku akan berhenti mengada-ngada, tapi tujuan kedatanganku kesini, untuk menagih janji Yoga yang katanya akan menikahi Dinda putri ku satu-satunya.”
“Benar Yoga bilang begitu?”
“Maksud mu apa, Tini?”
“Aku hanya bertanya, Dah! benar begitu janji Yoga pada kalian.”
“Kalau bukan begitu, lalu apa lagi maksudnya Tini.”
“Saidah, sewaktu Yoga kembali pulang dari rumah sakit, dia bilang pada ku, kalau dia minta waktu untuk berfikir, bukankah begitu, Dah.”
“Iya juga, sih! tapi itu kan janji, Tini?”
“Itu memang janji Dah, tapi bukan berarti Yoga berjanji untuk menikahi Dinda, dia hanya minta diberi sedikit waktu untuk berfikir, gitu aja kok.”
“Aduh, masalahnya kok, bisa serumit ini ya?”
Setelah mendapat jawaban dari Kartini, Saidah langsung pulang kerumahnya, hatinya terasa begitu sakit sekali. Karena menurutnya, Kartini memberi alasan berbelit-belit tentang persoalan Dinda dengan Yoga.
Sembari duduk diruang tamu, tampak Saidah sedikit uring-uringan, dirinya begitu takut sekali. Karena terlalu berharap pada Yoga, akhirnya Dinda menjadi seorang perawan tua yang tak laku.
Lama dia merenung, mencari jalan keluar dari persoalan yang membelit keluarganya, terutama sekali Dinda putrinya, yang sudah memasuki usia lebih untuk berumah tangga.
Sementara itu, Yoga yang mereka harapkan masih sibuk dengan urusan dunia yang tak pernah ada habis-habisnya.
Selain polisi yang menyelidiki kasus penculikan Nayla, Yoga bersama beberapa orang rekannya, juga mencoba mencari dalang dibalik penculikan itu.
Pagi itu, Yoga pergi kerumah Siska, untuk menanyakan perihal penculikan yang dilakukan seseorang padanya, sebelum terjadi pada Nayla.
Bel rumah dipencet, dan seseorang membuka pintunya, dan dia langsung menanyakan nomor pin rumah itu, Pada Yoga.
“Nomor pin? nomor pin apa?” tanya yoga heran.
“Kalau begitu, kakak bukan orang baik-baik,” jawab Rena dengan polos.
“Kakak orang baik-baik dek, kakak kesini untuk mencari kakak mu, Siska.
Tampa harus bertanya lagi Rena langsung saja menutup pintu rumah dengan kuat dan menguncinya dari dalam.
“Hei, tunggu! hei, buka pintunya! huuh sial! teriak Yoga sambil menggerutu kesal.
Mendengar suara ribut-ribut diluar, Siska yang masih tidur, langsung terbangun dan keluar dari kamarnya.
“Siapa sih, sayang? pagi-pagi begini udah bikin onar.”
“Kayaknya diluar ada maling berwajah ganteng, kak.”
“Maling berwajah ganteng? maksudmu apa sih, dek?”
“Kakak lihat sendiri dah diluar, kayaknya dia belum pergi,” jawab Rena menunjuk kearah pintu yang terkunci
__ADS_1
Karena penasaran dengan apa yang baru dikatakan Rena padanya, Siska pun memutuskan untuk melihat sendiri keluar rumah.
Ketika pintu dibukanya, Siska melihat ada seorang pria sedang duduk di teras rumah sendirian. Siska langsung mencoba menghampirinya, akan tetapi betapa terpesonanya Siska, ketika melihat wajah tampan yang dimiliki saudara kembar Yuda itu.
Siska pun terpana tak berkedip, walau sebelumnya Siska juga pernah melihatnya, tapi pagi itu kedatangan Yoga dirumahnya membuat jantung wanita cantik ini berdebar tak menentu.
“Hei!” sapa Yoga.
Tapi ketika melihat Siska terpana, Yoga sendiri jadi heran dibuatnya, dicobanya untuk terus menyapa namun Siska tetap diam, lalu sikap usil Yoga pun muncul, dengan polosnya dia mencium kening Siska yang lagi bengong.
“Plak!”
Sebuah tamparan tiba-tiba saja bersarang di pipi Yoga, tamparan itu dirasakannya bagai hembusan angin yang sedang membelai wajahnya.
“Kurang ajar, nakal sekali kamu ini!” bentak Siska.
“Kamu sih, dari tadi bengong aja, aku udah capek tau, memanggil-manggil namamu.”
“Tapi kenapa kau menciumi Siska!”
“Kalau bukan begitu caranya, pasti kamu terus saja terpana melihat ketampanan ku.”
“Idih! perasaan!”
“Tapi boleh aku masuk kan?”
“Ya, silahkan,” jawab Siska yang terus memegangi pipinya yang di cium Yoga, walau sedikit marah akan tetapi Siska merasa senang.
“Tadi itu adikmu minta nomor pin dari ku, emangnya rumahmu menggunakan kode ya?”
“Ooo, begitu!” jawab Yoga manggut-manggut.
Setelah Yoga masuk, Siska langsung menyuguhkan segelas minuman dan sepiring roti kering.
Akan tetapi disaat Siska menaruh minuman itu, Yoga menatap wajah Siska dengan pandangan penuh harapan, sementara itu Siska merasa pandangan Yoga penuh dengan isyarat.
“Ada apa? kenapa memandangi Siska seperti itu?”
“Kamu belum berkeluarga ya?”
“Belum, Siska terlalu fokus mengurus adik-adik, sehingga Siska lalai menentukan masa depan Siska.”
“Emangnya kedua orang tua mu kemana?”
“Mereka telah lama meninggal dunia.”
“Ooo, begitu ya,” kata Yoga seraya menikmati roti kering yang ada dihadapannya.
“Sebenarnya tujuan mu kesini mau apa sih?”
“Aku mau kau menemaniku, mencari bukti tentang penculikan yang dilakukan perempuan waktu itu pada mu.”
“Untuk apa?”
“Aku ingin pelaku penculikan Nayla mendapat ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya.”
“Segitunya kau perhatian pada Nayla.”
__ADS_1
“Kenapa? nggak boleh, aku menaruh perhatian pada istri saudaraku sendiri?”
“O, bukan itu maksud Siska.”
“Lalu apa?”
“Nggak, Siska Cuma nanya aja kok.”
“Yeah, kalau begitu siap-siaplah, kita akan pergi ke desa tempat kau diculik malam itu.”
“Ngapain kesana?” tanya Siska heran.
“Ingin mencari barang bukti yang bisa kita jadikan bahan penyelidikan kita.”
“Tapi Siska nggak berani, Siska banyak urusan, Siska mau kerumah sakit sekarang,” alasan Siska pada Yoga saat itu.
Mendengar alasan yang dibuat Siska, Yoga merasa sedikit tersinggung, dia menatap wajah Siska penuh dengan sejuta rasa kecewa.
Dari tatapan mata Yoga, Siska melihat kalau Nayla sangat berharga sekali dalam hidupnya, sehingga dia mati-matian ingin mencari dalang yang melakukan penculikan itu.
“Baiklah, Siska akan bersiap-siap dulu,” jawab Siska sembari berjalan menuju kamarnya.
Lalu beberapa saat kemudian Siska keluar dengan dandanannya yang sederhana tapi terlihat sangat elegan.
“Ayo kita berangkat,” ajak Siska pada Yoga.
Setelah tiba diluar, Siska langsung menyalakan Mobilnya, akan tetapi Yoga hanya berdiri saja memandangi Siska.
“Lho..lho..lho..! kenapa kamu nggak naik, Yog?”
“Aku enggan naik mobil orang lain, apa lagi milik perempuan secantik kamu.”
“Maksud mu apa?”
“Kita naik sepeda motor milik ku aja.”
“Aih! kenapa begitu? lagian Siska nggak biasa naik sepeda motor.
“Baiklah, kalau begitu rencana kita hari ini kita batalkan aja,” jawab Yoga seraya menyalakan sepeda motor miliknya.
“Hei tunggu, jadi kapan kita pergi ke desa itu?”
“Sampai kamu bersedia naik sepeda motor bersama ku.”
“Baiklah, Siska ngalah deh,” jawab Siska seraya menaiki sepeda motor milik Yoga.
Belum lagi Siska menaiki sepeda motor milik Yoga, dia udah kepeleset duluan, dan terjatuh kebawah.
“Aduh! kan Siska jadi jatuh deh!”
“Sory, sory! habis Siska naiknya tergesa-gesa, coba saja tenang, pasti nggak akan jatuh,” ujar Yoga seraya memijat kaki Siska yang terkilir.
“Aww! Sakitnya, rintih Siska seraya menangis menahan rasa sakit.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1