Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 46 Nayla butuh kepastian


__ADS_3

“Kenapa harus mendengarkan dari orang sih, Nay! kenapa nggak bertanya langsung?”


“Bertanya pada siapa? pada tiang?”


“Kenapa Nay, bicara seperti itu?”


“Nay, capek Bang. Nay capek, Nay butuh jawaban cinta dari Abang.”


“Cinta itu benar-benar buta ya, Nay! dalam kondisi seperti ini saja, Nay masih menginginkan jawaban cinta dari Abang.”


“Kenapa? apa menurut Abang, Nay salah?”


“Nggak, Nay nggak salah sama sekali, yang salah itu Abang, karena Abang menjanjikan sejuta khayalan untuk Nay.”


“Maksud Abang apa? hanya karena gadis itu, Nay abang campakkan begitu saja.”


“Nggak Nay, itu nggak benar! Abang nggak setega itu pada perempuan secantik kamu.”


“Jika saja, Abang mau menerima cinta suci ini, mungkin Nay akan sembuh, dan Nay akan berusaha untuk tetap hidup demi cinta kita.”


“Astagfirullah! sadar Nay, kau sedang bicara apa?”


“Kenapa, apa menurut Abang, cinta Nay itu tak boleh di perjuangkan, cinta hanya bertepuk sebelah tangan. Apa Nay, hanya seperti pungguk yang sedang merindukan bulan.”


Mendengar perkataan Nayla, Yoga hanya bisa meneteskan air mata. Begitu besar cinta Nayla kepadanya, cinta yang sudah dia abaikan selama ini. Bahkan Nayla rela hidup hanya untuk cintanya itu.


“Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? sementara dia adalah perempuan terlarang dalam hidupku,” rintih Yoga seraya mencium tangan Nayla.


Saat itu, Nayla merasakan ada tetesan air mengalir membasahi tangan yang sedang dicium Yoga.


“Kau sedang menangis, Bang?”


Yoga tak menjawab, hanya matanya yang bening, yang menatap kearah Nayla. Melihat air mata itu mengalir, Nayla mencoba untuk menghapusnya. Akan tetapi Yoga melarang Nayla untuk menghapusnya.


“Kenapa, Bang?"


“Biar air mata itu terus mengalir sayang, biarkan duka itu larut dan hanyut bersama penderitaan ini.”


“Bang, Nay sangat mencintai mu, Nay hanya ingin hidup bersama cinta kita,” ujar Nayla seraya terus menangis dihadapan Yoga.


“Oh! Nay, Nay. Jika saja yang dihadapan Abang saat ini, adalah orang lain, mungkin tak seberat ini penderitaan kita sayang.”


Melihat Nayla terus saja menangis, Yoga jadi semakin tak tahan, dikecupnya kening, perempuan yang sangat disayanginya itu dengan lembut.


“Besok, operasi Nay akan dilakukan, jangan pikirkan hal yang lain dulu, konsentrasilah dengan kesembuhan mu.”


“Nggak Bang, Nay nggak akan pernah sembuh, kalau Abang nggak mau berterus terang pada Nay, tentang cinta kita.”


“Sayang!” merasa terpukul dengan pernyataan yang diajukan Nayla padanya, Yuda pun keluar dari ruangan itu seraya menangis.


Diluar Yoga berlari menuju toilet rumah sakit. Diruangan yang sempit itu, dicurahkan semua beban perasaan yang sedang menghimpitnya, di derasnya air kran yang sedang mengalir, Yoga pun menangis sekuat-kuatnya.

__ADS_1


“Ya Allah, apakah Engkau sedang menghukum hamba mu saat ini? atau sedang memberi pelajaran, dari semua kecurangan yang telah hamba lakukan? Oooh, huhuhu! betapa hancurnya hati ku ini ya Allah! aku tak kuasa untuk membendungnya lagi, huhuuuk.”


Hingga beberapa jam lamanya, Yoga tak keluar dari toilet rumah sakit itu, hingga Yuda mengira, Yoga sudah kembali kerumah dinasnya.


Setelah benar-benar, stabil kondisi tubuhnya, barulah Yoga keluar dari toilet. Dan diapun kembali menghampiri Yuda.


“Hei! ku kira kau sudah kembali kerumah dinas mu.”


“Belum, Yud! aku baru saja dari kedai yang ada didepan sana,” ujarnya berbohong.


“Ooo!”


“Jadi kapan Nayla akan melakukan operasi, Yud?”


“Sebentar lagi, Rangga akan memeriksa kondisi kesehatannya.”


“Gitu ya? di mana Dokter Rangga itu sekarang?”


“Dia sedang keluar, menjemput tas nya.”


Setelah Yoga mendengarkan keterangan dari Yuda, Yoga tak lagi ingin bertanya apa-apa. Keterangan dari Yuda telah cukup untuk membuat hatinya menjadi tenang. Sesaat kemudian, Rangga pun kembali keruang rawat Nayla, dan dengan senyumannya yang manis, dia pun menghampiri Yuda.


“Ayo, Yud!” ajak Rangga seraya menepuk pundak Yuda.


“Ayo,” jawab Yuda mengiringi Rangga dari belakang.


Didalam ruangan itu, tampak Nayla sedang terbaring lemah, Rangga begitu terkejut saat melihat wajah Nayla. Jantung yang tadinya begitu kuat langsung rapuh seketika. Bukan hanya itu saja, seluruh persendian Rangga terasa hendak lepas dari ruangnya.


“Ada apa Rangga?” tanya Yuda heran.


“Dia kah, Istrimu itu?”


“Benar, dia Nayla. Perempuan yang sangat aku sayangi.”


Mendengar penjelasan dari Yuda, Rangga mencoba menahan diri, dia tak ingin sahabatnya itu menaruh rasa curiga kepada dirinya.


“Mari kita periksa tubuhnya,” kata Rangga pelan.


Lalu Yuda membantu Rangga mempermudah dalam pemeriksaan, kondisi istrinya. Diluar Rangga melihat Yoga berdiri dibalik jendela kaca. Dia memperhatikan setiap gerak gerik yang dilakukan Rangga dan Yuda. Pada Nayla.


“Siapa orang yang berada diluar itu, Yud?”


“Dia saudara kembar ku.”


“Pantasan, Dia begitu mirip dengan mu.”


Kata Rangga untuk menutupi perubahan perasaannya.


Lalu dengan lembut, Rangga menyentuh tubuh Nayla, tubuh yang begitu lama dia impikan untuk bisa bersanding dengannya.


Disaat itu, tak terasa air mata Rangga menetes dan mengalir ditangan Nayla, hal itu membuatnya Nayla menatap tajam kearah dr. Rangga.

__ADS_1


Seketika, Nayla pun terkejut, hal yang tidak diduganya sama sekali, hari itupun terjadi pada dirinya.


“Oh!”


Akan tetapi, sebelum Nayla, menyebutkan nama Rangga, pria itu terlebih dulu menutup bibir Nayla dengan jemarinya. Untung saja kejadian itu tidak diketahui Yuda.


“Kalau kamu capek, istirahatlah dulu Yud, biar aku sendiri yang memeriksa kondisi fisiknya,” ujar Rangga, untuk mencari kesempatan bicara dengan Nayla.


“Nggak usah, aku baik-baik saja kok.”


“Benar kamu baik-baik saja.”


“Iya, kalau untuk hal semacam ini, tapi kita udah biasa melakukannya kan.”


“Benar juga, apa katamu itu, Yud.”


“Di Ukraina, malah lebih parah dari ini, jangan kan untuk duduk sebentar, untuk makan aja, terkadang aku nggak sempat.”


“Kenapa?”


“Karena begitu banyaknya pasien yang datang silih berganti.”


“O begitu ya.”


“Yang paling menyedihkan sekali, saat kami terjebak di sebuah Banker milik warga, aduuuh! rasanya nggak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Aaah, udahlah! nggak usah di ingat lagi, semua kejadian itu begitu terasa mengerikan sekali.”


“Apa menurut mu, menjadi seorang relawan itu, merupakan kisah yang menyedihkan, Rangga?”


“Kalau kita menjadi relawan di negeri sendiri, memang situasi kita sangat aman, tapi kalau kita menjadi relawan di negeri orang, apa lagi di daerah konflik, seperti di Ukraina, nyawa kita yang akan jadi taruhannya.”


Mendengar cerita Rangga, dr. Yuda hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya, karena dia sendiri belum pernah menjadi relawan di negri yang sedang dilanda konflik.


“Gimana Rangga, apa sudah bisa Nayla menjalani operasi dalam minggu ini?”


“Ya, kalau melihat dari kesehatannya, istrimu tak mengalami penyakit lain, sehingga dalam dua hari ini kita lakukan operasi.”


Setelah Rangga pergi, Yuda ingin pulang sebentar untuk melihat Andika yang sedang sakit dirumah.


"Pulanglah Yud, biar Nayla malam ini Aku yang jaga."


"Baiklah Yog, kalau begitu aku akan pulang dulu,besok pagi aku akan kesini lagi."


Setelah di pastikan Yuda pergi, Yoga langsung menghampiri Nayla.


Mendengar suara Yoga, Nayla pun memalingkan wajahnya kearah Yoga, matanya yang begitu jeli langsung memantau sesuatu yang ada disekitarnya.


“Mana Bang Yuda, Bang?”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2