
Sementara itu, dalam situasi yang sangat menegangkan, Nayla akan menjalani operasi, disaat itu Yuda melihat wajah Nayla tampak begitu pucat sekali.
“kamu kenapa sayang?” tanya Yuda heran.
“Nay nggak apa-apa kok, Bang.”
“Nay udah siap menjalani operasinya?”
“Iya, Bang,” jawab Nayla sembari tersenyum manis pada suaminya.
“Abang akan selalu berdo’a untuk kesembuhan mu sayang.”
“Iya, Bang, Nay tau itu.”
Setelah berserah diri, Yuda merasa sedikit tenang. Kerisauan hatinya tak lagi membelenggu jiwanya. Dengan jantung berdebar-debar, tibalah saatnya untuk Nayla menjalani dioperasi.
Sepanjang waktu, tiada hentinya Yuda berdo’a kepada Allah azzawajala, agar diberi kesembuhan pada istri tercintanya.
Sementara itu Yoga yang selalu setia menemani Yuda, mereka menunggui Nayla dirumah sakit. Baik Yuda maupun Yoga selalu memberikan semangat untuk kesembuhan Nayla, namun Nayla terlihat biasa-biasa saja.
Dimalam ketika dia hendak melakukan percobaan bunuh diri itu, Nayla benar-benar menyadari akan kesalahan yang telah dia lakukan, akan tetapi cinta telah membutakan segalanya, dan dia tak kuasa untuk menghindarinya.
Namun mesti demikian, dimalam itu, Nayla menyadari kebodohan yang telah dia lakukan, bukankah Yoga berkata benar, bahwa untuk seorang lelaki yang setia dan bertanggung jawab, Nayla tak pantas berbuat seperti itu.
Itulah sebabnya Nayla tampak begitu dingin. Sepertinya dia benar-benar mengalami frustasi berat akibat perselingkuhannya.
Rasa takut akan dosa membuatnya semakin tak tenang, malam itu Nayla menangis secara diam-diam, batinnya terasa begitu tertekan sekali.
Sedangkan di luar, Sambil menunggu berjalannya operasi, Yuda dan Yoga duduk diam diruang tunggu, tak sepatah katapun yang terucap dari bibir keduanya, suasana tampak hening dan beku.
Puluhan do’a dan bahkan ratusan, keluar dari mulut keduanya, mereka berdua sama-sama berharap, agar Nayla dapat sembuh dari sakit yang dideritanya.
“Yog! kenapa kau begitu gelisah?” tanya Yuda heran.
“Gimana aku nggak gelisah Yud, coba kau bayangkan, selama kau tak ada aku yang merawat mereka berdua, apa kau kira aku ini nggak berperasaan apa?”
“Maafkan Aku Yog, aku begitu kacau sekali saat ini.”
“Yang terpenting disaat seperti ini adalah do’a Yud, Nayla butuh do’a dari kita, untuk kesembuhannya.”
__ADS_1
“Iya, kau benar Yog, Nayla sangat membutuhkan do’a dari kita berdua.”
“Benar, mari kita berdoa untuk kesembuhannya, agar operasi dapat berjalan dengan lancar dan selamat.”
“Baik Yog,” mari kita cari Mesjid untuk melaksanakan sholat.
Maka disaat bersamaan, Yuda dan Yoga pergi ke Mesjid terdekat untuk mengerjakan sholat.
Mereka berdua berdo’a dengan khusuk, demi keselamatan Nayla yang saat itu sedang bertaruh nyawa antara hidup dan mati, dimeja operasi.
Sementara itu didalam dr. Rangga bekerja dengan begitu hati-hati, karena bagi Rangga, walau Nayla telah menjadi istri Yuda, namun dia masih saja berharap untuk dapat bisa bersama wanita yang selama ini sangat di cintanya.
Setelah beberapa jam kemudian akhirnya operasi yang dijalani Nayla berhasil. dr. Rangga yang menanganinya keluar dari ruang operasi dengan wajah cerah.
“Alhamdulillah, Yud! operasi berjalan dengan lancar, kangker yang berada ditubuh istrimu telah berhasil kami angkat.”
“Alhamdulillah. Gimana keadaan istri saya sekarang Rangga?”
“Istrimu belum sadarkan diri Yud, tapi insya Allah besok pagi dia sudah siuman. Saat ini dia masih dalam pengaruh obat bius.”
“Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas pertolongan yang kau berikan pada istriku,” kata Yuda seraya menengadahkan kedua tangannya. "Terimakasih Rangga,” kata Yuda seraya menyalami sahabatnya itu.
“Ya sama-sama Yud, kalau kau ingin melihatnya saat ini, lihatlah dari luar jendela.”
Dari luar ruang operasi, Yuda melihat istrinya terbaring tak berdaya.Tampa dirasa ternyata air matanya menetes membasahi kedua pipinya.
Hatinya terasa begitu hancur ketika menyaksikan sang istri yang disayanginya terbaring tak sadarkan diri.
”Selamatkan lah istriku ya Allah. Sesungguhnya engkaulah yang maha penyembuh dari berbagai macam penyakit,” kata Yuda didalam hatinya.
Sementara Yoga, rasa bersalah karena perbuatannya selama ini, seakan-akan selalu datang menghampirinya, bayangan kemesraannya dengan Nayla seperti duri yang menusuk-nusuk di dalam sanubarinya.
Dosanya terlalu besar, sehingga terasa begitu berat untuk dipikulnya sendirian. Dosa perselingkuhan itu, seperti hendak membelenggu jiwanya. Ingin rasanya Yoga menjerit sekuat-kuatnya, namun dia tak berdaya.
Lidahnya seperti kelu, air mata pun telah kering untuk bisa menangis, sesal tak lagi berguna, nasi telah menjadi bubur. Hingga akhirnya Yoga pun terhenyak duduk dilantai sendirian.
“Ada apa Yog, Ada apa?” tanya Yuda heran saat melihat Yoga bersedih dan meneteskan air matanya.
“Aku nggak apa-apa Yud, hanya saja aku nggak tega melihat istrimu seperti itu, dia istri yang baik Yud, tak semestinya dia menderita seperti itu.
__ADS_1
"Iya Yog, aku tau itu."
"Saat kau perintahkan aku untuk mengurusnya, sekalipun dia tak pernah mengeluhkan tentang kepergian mu dalam tugas. Walau saat itu dia sedang bersusah payah berjuang untuk melahirkan bayinya. Dia begitu tabah dan kuat.”
“Iya Yog, aku tau itu, dia istri yang setia dan baik, aku begitu mempercayainya.”
Saat mendengar Yuda mengatakan istrinya itu sangat setia, jantung Yoga terasa berhenti berdegup, air mukanya pun langsung berubah pucat, untung saja saat itu Yuda tak begitu memperhatikannya.
“O iya Yud, gimana kalau aku beristirahat dulu.”
“Ya, kalau kau mau istirahat, silahkan aja.”
“Baiklah,” kata Yoga tampa memperpanjang pembicaraan mereka berdua.
Sebenarnya Yoga tidaklah hendak beristirahat, tetapi dia hanya ingin menjauh dari Yuda untuk sementara waktu, karena takut kalau-kalau gelagatnya menimbulkan kecurigaan dihati Yuda.
Ditempat sepi di gang sempit rumah sakit itu, Yoga pun menangis histeris, dia begitu menyesali semua perbuatan yang telah dia lakukan bersama Nayla.
Yoga begitu Yakin kalau sakit yang diderita Nayla adalah karma yang diberikan Allah kepada mereka, akibat dari perselingkuhannya itu.
Sedangkan Yuda benar-benar merasa, kalau Nayla itu adalah istri yang paling setia selama ini. Yang padahal dibelakangnya, Yoga telah berulang kali menyentuh tubuh istrinya itu.
Akan tetapi, walaupun yoga berulang kali menyadarinya, namun hal itu tetap saja dia lakukan, dia selalu saja mengabaikan dosa besar yang menutupi kesucian hatinya.
Kemudian dengan bersikap apa adanya, Yoga kembali duduk disamping Yuda, sesekali dia menoleh kedalam ruang kamar Nayla.
Di saat itu, tiba-tiba ponsel Yoga berdering, akan tetapi Yoga mengabaikan panggilan itu. Melihat Yoga mengabaikan panggilan dari ponselnya, Yuda pun memberitahu Yoga untuk segera mengangkatnya.
“Kenapa nggak kau jawab panggilan itu Yog? siapa tau ada hal penting yang akan disampaikan seseorang padamu.”
“Biarlah, paling-paling, itu Mutia.”
“Lalu, kalau Mutia yang menghubungi, kenapa kamu nggak angkat?”
“Aku janji pada Papanya, untuk makan malam dirumahnya.”
“Kalau sudah janji, kenapa nggak ditepati Yog ? nggak baik mungkir pada janji yang sudah dibuat, karena buruk akibat dibelakangnya nanti.”
“Tapi aku nggak tega meninggalkan mu sendiri disini, Yud.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*