Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 84 Kehamilan yang berbahaya


__ADS_3

"Aku kenal Dinda sedari kecil Bu, dan aku nggak pernah tau kalau selama ini dia menaruh perasaannya pada ku. Aku pergi bekerja di kota, dia juga nggak pernah bicara tentang perasaannya pada ku. Jadi apa menurut Ibu aku ini salah karena memiliki kekasih, dan apa menurut Ibu aku telah mempermainkan hatinya?”


“Entahlah nak.”


“Nggak Bu, aku nggak pernah mempermainkan hati Dinda, dimata ku, Dinda gadis baik dan polos.


“Yoga, perempuan yang baik itu dia bagai secarik kertas yang putih dan bersih, dia tak ingin setetes noda pun mengotori kesuciannya. Begitu juga dengan putri Ibu Nak, dia gadis desa yang polos dan lugu dan dia tak akan mengungkapkan perasaanya terlebih dahulu kepada pria manapun termasuk dirimu, sebelum kalian yang memulainya.


“Maafkan aku Bu, aku juga nggak tau hal seperti itu, ku mohon pada Ibu, tolong beri aku waktu untuk berfikir.”


“Baiklah Nak, Ibu nggak akan tersinggung dengan perkataan dan kelakuanmu itu, Ibu juga beri kau kesempatan untuk berfikir.”


“Terima kasih, Bu.”


“Ya, tapi jangan berlama-lama kau memberikan jawabannya pada Dinda.”


“Baik, Bu.”


Setelah selesai bicara, Bu Saidah langsung pergi meninggalkan Yoga, namun kepergian Bu Saidah bukan berarti masalah Yoga selesai hanya sampai disitu, tapi beban berat itu justru semakin membuatnya terbungkuk.


Dengan perasaan penuh kebimbangan, Yoga langsung meninggalkan Bu Saidah dan Dinda dirumah sakit, Yoga tak berani menatap wajah Dinda, karena tak ada penjelasan yang dapat dia katakan saat itu.


Setiba didepan rumah, Yoga langsung menemui Mamanya yang saat itu sedang melaksanakan sholat ‘ashar.


Yoga langsung duduk disamping Mamanya dengan wajah yang tertunduk, dia benar-benar tak dapat memberi jawaban dari semua pertanyaan yang sedang ditujukan padanya.


“Ada apa sayang? kamu banyak pikiran saat ini?” tanya Bu Kartini seraya mengusap rambut putra kesayangannya.


Yoga tak menjawab, dia hanya diam saja, walau pun dia mendengar semua pertanyaan yang diajukan Mamanya.


“Kenapa kamu diam, nak?”


“Mama!” ucap Yoga sembari bersimpuh dipangkuan Mamanya.


“Ada apa nak, bicaralah.”


“Untuk saat ini, tak ada yang dapat ku jelaskan, Ma.”


“Kenapa ? apa kamu nggak mau berbagi derita dengan Mama mu ini, Nak?”


“Ma, aku nggak bisa menikahi Dinda, karena disana aku juga sudah punya pilihanku sendiri, tapi jika aku nggak menikahinya, dia nggak akan menikah dengan pria manapun.”


“Lalu keputusan apa yang kau berikan pada Bu Saidah, nak?”


“Aku minta diberi waktu untuk berfikir.”


“Apa Bu Saidah menyetujuinya?"

__ADS_1


“Iya, Ma.”


“Lalu apa lagi yang kau pikirkan, nak? apa lagi yang membuatmu galau dengan keputusan yang kau buat itu.”


“Aku pulang kerumah ini, tampa memberitahu mereka, Ma.”


“Kenapa kau lakukan itu, sayang?”


“Aku malu melihat wajah Dinda, Ma.”


Mendengar kejujuran dari putranya, Bu Kartini hanya bisa menarik nafas. Rasa sedih yang dirasakan Yoga, dia pun turut menderita dibuatnya. Air mata perempuan tua itu menetes membasahi kedua pipinya.


“Lalu gimana ini, Ma?” tanya Yoga resah.


“Sebenarnya keputusan yang kau buat itu sudah benar nak, hanya saja Bu Saidah dan Dinda tentu mereka nggak akan bisa menerimanya begitu saja.


“Ingin rasanya aku menolaknya secara langsung, Ma ! tapi aku takut mereka menjadi sedih dengan keputusanku ini.”


“Putra Mama yang baik, dalam bersedih dan galaupun kau masih memikirkan perasaan orang lain.”


“Lalu aku harus bagai mana Ma? apakah aku pergi saja bekerja, agar mereka nggak menuntut ku, terus?”


“Itu terserah mu sayang, semua keputusan ada di tanganmu, Mama mendukung apa yang telah kau tetapkan.”


Disaat mereka sedang bertukar pendapat, Ningsih pun keluar seraya membawakan sepiring roti basah. Melihat Ningsih keluar dari dalam, hati Yoga langsung berubah tenang. Rasa galaunya sedikit berkurang, wajah cantik Ningsih telah mendinginkan suasana hati Yoga.


“Iya, kak,” jawab Ningsih seraya duduk disamping Yoga.


“Mulai hari ini, kau bukan lagi menjadi orang asing dirumah ini, karena mulai hari ini kau akan menjadi ratu dirumah ini, dan Kakak sangat senang sekali punya adik secantik dan sebaik kamu.”


Ningsih tak menjawab semua perkataan Yoga, dia hanya tersenyum saat Yoga membelai rambutnya yang panjang.


“Apa kakak, mau pergi lagi?”


“Nggak sayang, kakak masih ada dua hari lagi disini, selama itu, kakak akan mengajak mu bermain-main disekitar daerah ini, kamu mau?”


Ningsih tak menjawab, hanya kepalanya saja yang di anggukkan, bertanda dia sangat menyetujui perkataan Yoga.


Benar saja apa yang di katakana Yoga, keesokan harinya, Yoga bersama Ningsih pergi bertamasya di pantai. Hati Ningsih sangat senang sekali, karena saat itu dia sudah punya saudara angkat yang sangat baik dan penyayang.


Setelah hari itu, Yoga pun kembali bekerja ke kota sebagai seorang guru.


Seiring berjalannya waktu, tak terasa sudah setahun berlalu.


Disaat itu pula Yoga tak pernah lagi muncul, dia sengaja tak datang lagi kerumah Yuda agar Nayla fokus pada suami dan anaknya.


Pagi itu saat Nayla hendak sarapan, tiba-tiba saja perutnya terasa mual, dan diapun memuntahkan semua makanan yang baru saja ditelannya.

__ADS_1


“Kenapa Nay? kamu sakit sayang?” tanya Yuda cemas.


“Entahlah Bang, tapi rasanya udah dua minggu ini, kok rasanya perut Nay nggak enak ya?"


“Apa Nay hamil?”


“Entahlah, Nay juga nggak tau?”


“Kalau benar Nay sedang hamil, berarti Nay dalam bahaya.”


“Maksud Abang apa?”


“Apa Nay nggak ingat, pesan dr. Tedy hari itu, kalau Nay tak diizinkan hamil dulu, sampai masa penyembuhan selesai.”


“Iya, Nay tau itu Bang! tapi inikan udah satu tahunnya, lagian perut Nay kan nggak pernah sakit lagi.”


“Semoga aja begitu sayang! sehingga nggak ada lagi yang perlu Abang kuatirkan.”


“Iya Bang, semoga saja penyakit Nay, benar-benar sembuh.”


“Amin!” kata Yuda dengan menengadahkan kedua tangannya.


Keesokan harinya, Yuda membawa Nayla control ke spesialis kandungan, benar saja dugaan Nayla kalau dia sedang hamil dua minggu.


Pada saat itu, Yuda menceritakan semua penyakit yang menimpa Nayla waktu itu ke dokter kandungan tersebut. Betapa terkejutnya mereka berdua, saat itu karena jawaban dari dokter kandungan sama dengan dr. Tedy.


“Tapi saya operasinya kan sudah satu tahun yang lalu dok? apa masih berbahaya, jika saya hamil sekarang?”


“Masaalah kehamilan yang ada pada diri Ibu, itu nggak bermasalah sama sekali, tapi yang bermasalahnya pada Rahim Ibu, karena begitu berat resiko yang akan Ibu alami nantinya.”


“Lalau bagai mana ini dok?”


“Saat ini kandungan Ibu kan masih berusia dua minggu, saya kira masih bisa kita lepas.”


“Tapi saya nggak mau melakukan itu dok? saya nggak mau membunuh darah daging saya sendiri,” jawab Nayla dengan tegas.


“Tapi ini semua demi keselamatan Ibu juga.”


“Tapi saya nggak mau melakukan itu dok!” tegas Nayla sekali lagi.


“Baiklah, begini saja, izinkan kami untuk mempertimbangkannya terlebih dahulu, nanti kalau kami sudah sepakat, maka kita lakukan yang terbaik,” potong dr. Yuda.


“Baiklah, semua kami serahkan pada Bu Nayla yang akan mengambil keputusannya.”


“Baik Bu, terimakasih,” jawab Nayla seraya keluar dari ruangan itu.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2