Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 54 Perhatian Kepsek


__ADS_3

“Lalu gimana dengan pekerjaan mu, Yog?”


“Aku akan mencoba mengajukan cuti.”


“Bukankah kau baru saja mengajukan cuti?”


“Nggak apa, aku yakin mereka pasti menerima kalau aku sendiri yang bicara dengan kepala sekolah.”


“Kalau itu menurut mu, semuanya kuserahkan pada mu, mana jalan yang terbaik.”


“Percayalah pada keputusan ku, Yud. Aku akan memberikan yang terbaik untuk kalian berdua,” jawab Yoga dengan suara datar.


“Jadi kapan kau akan mengajukan cuti, Yog.”


“Sekarang, aku akan kesekolah menemui kepsek.”


“Baiklah, Yog. Semoga kau berhasil.”


“Insya Allah, Yud,” jawab yoga seraya mengambil tas sandang miliknya.


Dengan langkah penuh semangat, Yoga keluar dari rumah sakit, selain niatnya untuk menjaga Nayla, Yoga juga bisa bersama dengan perempuan cantik itu, dalam waktu yang cukup lama.


Dengan mengendarai sepeda motornya, Yoga pun melaju dijalan raya, suasana yang sangat ramai di siang itu, membuat sepeda motornya tak bisa melaju dengan kencang.


Akan tetapi Yoga tak mengeluh sama sekali,seraya bersenandung kecil, diapun menikmati perjalanan itu dengan santai.


Dilayangkan pandangan matanya kearah mata hari yang sedang bersinar.


“Hmm, baru pukul sebelas!” gumamnya pelan.


Kemudian sepeda motor itupun kembali melaju dengan kecepatan tinggi, suara derunya meraung, bagai seekor singa ditengah kelompoknya.


Dua jam perjalanan telah dilewatinya tak terasa, tibalah Yoga dirumah dinas Kepsek. Diluar tampak pria paro baya itu sedang bersenandung di hadapan burung peliharaannya.


“Assalamu’alaikum,” sapa Yoga seraya memberi selamat pada sang kepala sekolah.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Kepsek sembari membuka kaca mata yang menempel dikedua pipinya.


“Nak Yoga.”


“Iya, Pak.”


“Ada apa? kenapa udah seminggu nggak masuk-masuk.”


“Saya izin cuti, Pak.”


“Ooo! kalau begitu silahkan duduk,” kata Kepsek seraya mengambil kursi untuk Yoga.


“Terimakasih.”


“Ada apa?”


“Rencananya, saya mau mengajukan cuti lagi Pak.”


“Lho, lho! tapi bukankah kamu baru mengambil cuti?”


“Iya, waktu itu saya mengajukan cuti untuk merawat Mutia dirumah sakit.”


“Jadi Mutianya sudah sembuh?”


“Sudah, Pak.”


“Lalu sekarang kau mau cuti untuk siapa lagi.”

__ADS_1


“Merawat Adik yang sedang menjalani operasi dirumah sakit, Pak.”


“Adikmu sakit apa?”


“ Dia menderita sakit kangker, tapi saat ini, dia telah berhasil menjalani operasinya.”


“Oh! saya turut berduka, atas musibah ini, semoga adikmu segera diberi kesembuhan oleh Allah. Dan diapun dapat beraktifitas kembali seperti semula.”


“Insya Allah, Insya Allah!”


“Amin! jadi kamu mau mengambil cuti berapa hari lagi?”


“Satu minggu lagi pak.”


“O baiklah, saya akan izinkan kamu cuti satu minggu lagi.”


“Terimakasih, Pak,” jawab Yoga seraya berdiri memberi salam kepada Kepsek.


“Hati-hati dijalan.”


“Iya, Pak,” jawab Yoga sembari berlalu meninggalkan Kepsek.


Setelah mendapat izin cuti, Yoga langsung meninggalkan Kepsek sendirian. Belum beberapa langkah kemudian, Kepsek pun angkat bicara.


“Merawat seseorang dirumah sakit, pasti butuh biaya yang banyak, Nak Yoga!” seru Kepsek.


Mendengar kata pimpinannya, Yoga langsung berhenti melangkah dan diapun memutar balik arahnya.


“Marni!” seru Kepsek memanggil nama seseorang.


Tidak beberapa lama, seorang perempuan keluar dari arah kebun rumah dinas itu, seraya membungkuk, perempuan itu pun menghampiri tuannya.


“Tolong kamu ambilkan amplop putih dimeja kerja saya,” perintah Kepsek pada perempuan itu.


Tidak berapa lama, perempuan itupun keluar sembari menyodorkan amplop berwarna putih pada majikannya.


“Ini ada sedikit uang untuk mu, Nak!” kata Kepsek seraya menyerahkan amplop berwarna putih itu ketangan Yoga.


“Apa ini pak?” tanya Yoga tak mengerti.”


“Dirumah sakit, kamu pasti butuh biaya untuk makan, Bapak nggak punya uang banyak untuk itu. Akan tetapi, Bapak punya sedikit uang untuk membelikan sarapan pagi untukmu.”


“Tapi saya masih punya uang kok, Pak.”


“Bapak tau itu, kau pasti punya uang untuk biaya mu selama dirumah sakit. Itu sebabnya Bapak hanya memberi mu uang untuk membeli sarapan pagi saja.”


Dengan tersenyum manis Yoga pun menerima amplop berwarna putih itu.


“Terimakasih, Bapak begitu baik pada ku.”


“Karena kamu anak yang baik, Yoga. Kau selalu saja memperhatikan orang-orang yang dekat dengan dirimu. Bapak yakin kau pasti melakukannya dengan ikhlas.”


“Oh, Bapak terlalu berlebihan memuji saya.”


“Nggak! Bapak nggak pernah salah dalam memuji seseorang selama ini.”


“Terimakasih, Pak.”


“Ya sama-sama. Semoga kau selalu menjaga kesehatanmu, Nak.”


“Insya Allah, Pak! Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam.”

__ADS_1


Setelah berpamitan untuk kedua kalinya, Yoga langsung pergi meninggalkan kediaman Kepsek dengan tenang.


Kemudian diapun memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, agar segera tiba dirumah sakit tempat saudaranya berada.


Setelah sekian lama menempuh perjalanan, tak terasa tibalah Yoga dirumah sakit tempat dr.Rangga bertugas.


Ketika hendak memasuki Lorong rumah sakit itu, Yoga berpapasan dengan dr Rangga, yang baru keluar dari ruang kamar Nayla.


Batin Yoga serasa sakit setiap melihat dr. Rangga, entah apa penyebabnya, tapi hatinya selalu berkata lain setiap bertemu dengan pria itu.


Sementara itu, dr. Rangga yang selama ini, ingin selalu dekat dengan Nayla, kesempatan itu tak pernah disia-siakannya. Setiap pagi ketika hendak memeriksa Nayla Rangga selalu masuk sendiri, tanpa harus didampingi perawat lainnya.


“Gimana, Nay! apa ada perubahan sejak di operasi?”


“Kau bisa lihat sendirikan Rangga, apa menurutmu, Nay ada mengalami perubahan?”


“Jangan bicara seperti itu, sayang! aku akan berusaha untuk menyembuhkan penyakit mu ini.”


“Apa menurutmu penyakit yang ku derita ini akan sembuh, Rangga?”


“Insya Allah, Nay. Insya Allah! kamu akan sembuh nantinya.”


“Bohong! kau pasti berbohong. Nay tau kok, kalau penyakit kangker yang Nay derita ini nggak akan pernah sembuh kan?”


“Kata siapa sayang?” tanya Rangga seraya merapikan rambut Nayla.


“jangan sentuh aku dengan tanganmu itu, Rangga!”


“Kenapa? apa menurutmu aku nggak pantas untuk menyentuh mu?”


“Ya, kesempatan itu sudah habis, kau telah menyia-nyiakannya Rangga.”


“Aku nggak menyia-nyiakan nya Nay, tapi kau sendiri yang menjauh dari ku.”


“Nay nggak pernah menjauh dari mu Rangga, hampir setiap hari Nay datang kerumah mu, tapi keluargamu selalu saja mengusir Nay.”


“Maksud mu apa Nay?” tanya Rangga tak mengerti.


“Nggak usah berpura-pura nggak tau, padahal itu semua ide gila mu kan?”


“Sumpah, demi orang tuaku, aku benar-benar nggak tau sayang.”


“Siapa yang melakukan semua itu pada mu sayang?”


“Keluargamu, Papa, Mama dan kedua adik mu, mereka bukan saja mengusir Nay, Rangga. Mereka juga mengatakan kalau Nay ini gembel yang nggak punya orang tua, hati Nay sakit Rangga ! sakit sekali.”


“Aku benar-benar nggak tau Nay, aku minta maaf pada mu, sayang.”


“Sekarang semuanya sudah berlalu Rangga, Nay sudah menikah dengan seorang dokter yang baik. Dan Nay berniat untuk nggak pernah menduakan cintanya dengan pria manapun.”


“Lalu bagai mana dengan perasaan ku ini, Nay?”


“Kau jangan bertanya pada Nay, Rangga! karena Nay ini bukan orang yang pantas tempat mu, bertanya.”


“Kau terlalu egois Nay!”


“Maafkan Nay, Rangga,” jawab Nayla seraya membelakangi Rangga.


Dr. Rangga tak marah saat Nayla membelakangi dirinya, karena semua itu bukanlah kesalahan Nayla semata. Akan tetapi, itu semua karena kesalahan kedua orang tuanya, yang dari semula tak menginginkan diri Nayla menjadi menantu dirumahnya.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2