
“Ya Allah, Mutia! syetan apa yang telah merasuki pikiran mu itu?”
“Nggak ada syetan yang merasuki pikiranku saat ini,” jawab Mutia ketus.
“Kau selalu saja menuduh Abang berbuat hal keji, apa menurut mu Abang terlihat seperti mafia di matamu, ingat! setiap manusia itu pasti punya masa lalunya sendiri, sayang.”
Mutia tidak menjawab, hatinya begitu sedih, dengan semua tuduhan yang telah dia lontarkan kepada kekasihnya itu, dia tak tega melihat Yoga bersedih.
Dengan pelan, didekatinya Yoga, dipeluknya tubuh Yoga yang saat itu sedang bersedih, tampak air mata Mutia mengalir membasahi kedua pipinya.
“Maafin aku, Bang, bukan maksud ku untuk menuduh mu, melakukan hal sekeji itu, tapi aku begitu jengkel dengan sikap Abang selama ini, yang kurang memperhatikan aku.”
“Abang juga minta maaf Tia, Abang telah membuat mu menderita selama ini. Mulai hari ini, Abang janji akan selalu ada untuk mu sayang.”
Mendengar ke terus terangan Yoga, hati Mutia terasa begitu senang sekali, diapun tampak tersenyum manis didalam pelukan Yoga.
Diluar ternyata, Rehan menatapnya sedari tadi, hatinya begitu terluka oleh sifat Mutia, yang tak pernah membela dirinya dibelakang Yoga.
“Kurang ajar, awas kau Tia! kau telah melecehkan aku!” gerutu Rehan pada dirinya sendiri.
Setelah menyaksikan adegan yang begitu menyakitkan hatinya, Rehan langsung kembali ke lokalnya, diambilnya secarik kertas kosong, lalu dia menulis kata-kata perselingkuhan Yoga dengan Nayla. Dan menempelkannya di papan Mading.
Pagi itu saat bel sekolah berdering, Yoga dan Mutia keluar dari ruang kelas secara bersamaan, karena acara perpisahan akan segera dimulai.
Setelah tiba didepan kantor, Yoga dan Mutia begitu terkejut melihat begitu banyak murid-murid yang berkumpul disana.
“Ada apa Mir?” tanya Mutia heran.
“Jadi benar dugaan kita selama ini kan Tia, kalau Pak Yoga itu berselingkuh dengan istri saudara kembarnya.”
“Maksud mu apa?” tanya Mutia semakin tak mengerti.
“Kau lihat sendiri dah!” jawab Mira seraya menarik pergelangan tangan Mutia kearah papan Mading.
Sedangkan Yoga yang saat itu melihat kertas yang bertuliskan berita tentang dirinya, langsung saja merobek kertas itu sebelum dibaca oleh Mutia dan para guru lainnya.
“Yang mana sih, Mir?” tanya Mutia penasaran setelah kertas yang ada dipapan Mading itu sudah tak ada disana.
“Tadi ada disana kok Tia!” jawab Mira meyakinkan Mutia.
“tapi kayaknya udah nggak ada, kok Mir.”
“Benar udah, nggak ada?”
“Iya, Mir! udah nggak ada.”
Bertepatan disaat itu, Yoga pun keluar dari dalam kerumunan, seraya memerintahkan seluruh anak-anak itu untuk bubar. Mutia yang melihatnya langsung terkejut sekali.
__ADS_1
“Seseorang menulis tentang perselingkuhan Abang dengan Nayla,” bisik Yoga ditelinga Mutia.
“Ya Allah, semua itu pasti ulahnya Rehan, kurang ajar sekali dia,” gerutu Mutia kesal.
“Gimana, apa kertasnya masih berada disitu Tia?” tanya Mira penasaran.
“Udah nggak ada, Mir! Pak Yoga udah merobeknya.”
“Kau tau siapa yang menempelkan pengumuman itu Tia?”
“Iya, Mir! aku tau siapa orangnya.”
“Siapa?”
“Rehan!”
“Kau yakin kalau itu ulahnya Rehan?”
“Ya, dia tadi sempat menguping pertengkaran ku dengan Pak Yoga, aku yakin pasti dia yang melakukan semua itu.”
“Tapi apa maksudnya sih, Tia? aku jadi nggak ngerti?”
“Rehan ingin cinta ku pada Pak Yoga dibagi dua dengannya.”
“Gila tuh, bocil! lalu kamu mau melakukannya Tia?”
“Maksud mu, apa Tia?”
“Rehan bilang, kalau aku ini masih muda, kenapa harus mencari yang lebih tua, kenapa nggak memilih dia aja yang keren dan tajir lagi.”
“Sssst! Kamu ya, kalau bicara seenak perutmu aja, mbok ya dipikir dulu!”
“Sabar Mir, sabar! nggak jadi kok, karena hubungan kami udah kembali membaik.”
“Ya syukurlah, karena kamu harus tau satu hal Tia.”
“Apa itu, Mir?”
“Pak Yoga selain dia ganteng, dia seorang guru olah raga, body nya aja, aduhai, seenak mata memandang, belum lagi kelembutan yang dia miliki membuat kaum hawa klepek, klepek, dibuatnya,” kata Mira seraya memperagakan dengan gerakan tangannya.
“Ah, kamu! kalau ngomong, bikin kesal tau nggak!”
“Canda aja, kok!” ledek Mira, seraya tersenyum geli.
“Terserah kaulah, Mir! mau bilang apa.”
“Itu makanya, burung yang udah ditangan jangan coba untuk melepasnya, nanti dia di tangkap orang, baru gigit jari.”
__ADS_1
“Entahlah Mir, aku galau sekali, aku nggak tau apakah Pak Yoga itu setia atau bermuka dua.”
“Emangnya, kau menilai Pak Yoga itu gimana?” Tanya Mira ingin tau lebih detail tentang kekasih Mutia itu.
“Kalau aku menilainya, dia sangat baik, tutur katanya sangat lembut, orangnya romantis, tampan dan suka membantu orang yang membutuhkan pertolongan darinya.”
“Itu tipe pria idaman semua kaum hawa, saat ini pria yang digandrungi oleh semua wanita itu sudah berada didalam genggaman mu, lalu kau mencari yang seperti apa?”
“Tapi aku sangat meragukan kepribadiannya, Mir.”
“Karena kau tau, dia berselingkuh.”
“Bukan hanya sekedar tau aja Mir. Akan tetapi, aku pernah memergoki mereka sedang bermesraan.”
“Astagfirullah! Jadi kau pernah memergoki mereka bermesraan, Tia?”
“Ssst! Jangan keras-keras ngomongnya, nanti kedengaran orang banyak.”
“Iya, iya! aku lupa.”
“Eh, Mir! ayo kita berkumpul, itu Kepala sekolah udah naik keatas pentas, soal ceritanya nanti aja kita lanjutin.”
“Baik tia, ayo kita kesana,” jawab Mira, mengikuti Mutia dari belakang.
Acara perpisahan saat itu berjalan dengan lancar, semua siswa tampak menikmati acara itu dengan penuh semangat. Sekolah sengaja mengundang artis ibu kota, untuk menambah kemeriahannya.
Di acara jeda, semua siswa meminta sumbangan lagu dari keluarga besar sekolah, Bu Lesti yang pernah mendengarkan Yoga bernyanyi, dia pun langsung menunjuk Yoga untuk menyumbang sebuah tembang kesayangannya.
Saat ditunjuk, sebenarnya Yoga menolaknya, tapi Dion tetap saja memaksa Yoga untuk menyumbangkan sebuah lagu, dan akhirnya Yoga pun naik keatas panggung.
“Baiklah! untuk tembang ini, saya akan mempersembahkannya pada seseorang yang sangat luar biasa dalam hidup saya, tanpa kehadiran dirinya, saya benar-benar tak berdaya.
Mendengar kata-kata itu, Lesti telah mengambil kesimpulan kalau lagu itu dikhususkan untuk dirinya. Sementara itu, Mutia juga merasakan hal yang sama dengan Bu Lesti, kalau lagu itu sengaja dipersembahkan Yoga untuk dirinya.
Melodi pun mulai dimainkan, dengan tenang, satu persatu lirik lagu itu dinyanyikan oleh Yoga. Akan tetapi, disaat Yoga meminta orang yang dicintainya itu, naik keatas panggung, tampa berfikir Panjang lagi Lesti langsung berdiri.
Mutia yang melihat Lesti berdiri, jantungnya langsung berdegup kencang, begitu juga dengan yang lainnya, karena mereka semua tau kalau selama ini yang menjadi kekasih Yoga adalah Mutia.
Melihat Lesti naik keatas pentas, Bu Sinta langsung memperingatkannya, kalau yang dimaksud pak Yoga itu adalah Mutia bukan dirinya. Akan tetapi Bu Lesti tak mau menggubrisnya sama sekali, dan dengan tubuh yang tambun, dia mencoba merangsak naik keatas panggung.
Melihat Bu Lesti naik keatas, sontak hal itu membuat Yoga malu sekali, dan dia mencoba menjelaskan pada Bu Sinta, kalau yang dimaksud Yoga itu adalah Mutia bukan Bu Lesti.
“Gimana ini, Buk? Nanti Mutia bisa salah paham, melihat hal ini.”
“Saya udah memberi taukan hal itu padanya, tapi Bu Lesti sepertinya nggak memperdulikan ucapan ku.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*