
“Kenapa aku yang mesti kau salahkan?”
“Karena kau menolak cinta ku, Tia!”
“Nggak ada pemaksaan dalam bercinta, Re.”
“Ooo, Jadi kau telah mengutarakan niat hati mu pada Mutia ya?” potong Yoga.
“Iya, tapi karena Bapak, Mutia akhirnya menolak cinta ku.”
“Lalu, menurut mu siapa yang mesti disalahkan saat ini?”
“Kalian berdua, karena kalian udah membuat aku semakin sakit hati tau!”
“Jadi sekarang mau mu apa?”
“Ayo teman-teman kita hajar dia, biar mereka tau siapa yang berhak mendapatkan Mutia saat ini.”
Lalu, secara bersamaan Rehan bersama keempat orang temannya langsung mengepung dan menghajar Yoga, yang saat itu berada ditengah tengah mereka berlima.
“Ayo maju!” tawar Yoga pada kawanan Rehan yang saat itu sudah siap dengan pukulannya.
“Maju!” perintah Rehan pada keempat temannya.
“Hiaaat!”
“Haaiiia!”
Maka pukulan demi pukulan yang diarahkan kepada Yoga dengan mudah Yoga dapat membalas dan mengelakkan nya. Hal itu membuat Rehan semakin marah, dengan berbagai macam cara dia mengarahkan pukulannya kearah Yoga.
Pertarungan berjalan begitu sengit, antara Rehan dengan Yoga saling adu kekuatan, mesti telah terjatuh berulang kali, namun Rehan dengan gigih terus saja melawan Yoga.
Sementara itu, Mutia yang menyaksikan pertengkaran itu, gemetar ketakutan dibalik pohon. Sampai-sampai dia sendiri tak lagi bisa duduk dan bicara. wajahnya terlihat begitu pucat sekali.
Melihat keadaan Mutia tampak memburuk Yoga segera mengakhiri pertengkaran itu, secepatnya dia menjatuhkan Rehan dan teman-temannya.
Hingga akhirnya kelima orang itu pun dapat dikalahkan dengan mudah oleh Yoga. Rehan dan keempat temannya hanya mengalami luka memar saja, karena Yoga sengaja hanya sekedar memberinya pelajaran.
Karena kalah, Rehan mengajak keempat temannya kabur dari hadapan Yoga. Setelah Rehan lari, Yoga langsung menemui Mutia yang saat itu gemetaran dibalik pohon.
Yoga yang begitu hafal dengan karakter kekasihnya, segera memeluk tubuh Mutia dan menenangkan pikirannya.
“Tenang sayang, tenang. Rehan dan beberapa orang temannya itu udah pergi kok.”
“Ak…aa…aku, takut, Bang!”
“Nggak usah takut sayang, ada Abang disini bersama Tia.”
“Kik…kk…kita pulang aja yuk Bang.”
“Iya sayang, kita pulang aja! tapi tunggu keadaan Tia sedikit membaik, baru kita pulang kerumah.”
__ADS_1
Dengan lembut dan penuh kasih sayang Yoga memeluk kekasihnya itu, dia pun bersenandung senandung kecil di telinga Mutia. Namun telah begitu lama Yoga menunggu kondisi Mutia agar membaik, namun sejauh itu, Yoga belum melihatnya.
Mutia malah terlihat begitu pucat dan ketakutan, tubuhnya dingin dan gemetaran.
“Kenapa kamu takut dengan kekerasan sayang?” tanya Yoga ingin tau dengan apa yang selama ini menimpa kekasihnya itu.
Mutia tak menjawab, hanya pelukannya ditubuh Yoga yang semakin erat, membuktikan pada Yoga kalau dirinya benar-benar sedang ketakutan sekali.
Lalu Yoga mencoba melarikan Mutia ke puskesmas terdekat, dia menggendong Mutia seraya berlari begitu cepat. Semua orang tampak melihat Yoga terheran-heran.
“Maaf, dimana ada puskesmas disekitar sini, Pak?” tanya Yoga pada seorang penjual nasi dipinggir pantai itu.
“Disana!” jawab pria itu seraya menunjuk kan tangannya kearah puskesmas berada.
“Terimakasih.”
Pria itu tak menjawab sama sekali, akan tetapi dia menganggukkan kepalanya tanda dia memahami perkataan yang diajukan Yoga kepada dirinya.
Lalu dengan cepat, Yoga membawa Mutia ketempat itu. Tampa harus berbasa-basi Yoga langsung membaringkan tubuh Mutia dihadapan dokter yang sedang duduk.
“Ada apa?” tanya dokter itu pada yoga.
“Aku nggak tau dok, tapi dia gemetaran saat melihat saya bertengkar tadi dengan para berandalan itu.”
“Sepertinya adikmu ini, mengalami trauma tentang kekerasan.”
“Lalu gimana ini Sus?”
“Baik Sus,” jawab Yoga sembari, memeluk tubuh Mutia dan bersenandung kecil.
Setengah jam telah berlalu, Yoga masih melihat tangan Mutia bergetar, akan tetapi getarannya sudah sedikit berkurang. Hati Yoga pun mulai berangsur tenang.
Setelah Mutia dinyatakan tenang, barulah Yoga membawanya pulang kerumahnya.
Diperjalanan Mutia tampak diam saja, hanya kepalanya saja yang disandarkan ke punggung kiri Yoga.
Sementara itu Yoga terus memegangi lingkaran tangan Mutia yang melilit dipinggangnya, karena Yoga takut kalau Mutia mendadak jatuh.
Yoga pun mengemudi dengan menggunakan sebelah tangan akan tetapi Yoga masih tetap tenang dan fokus pada perjalanannya.
Beberapa saat kemudian, tibalah mereka didepan rumah Mutia, dengan tenang Mutia pun turun dan masuk kedalam.
“Maafin Abang sayang, ulah kejadian tadi kamu jadi begini.”
Mutia tak menjawab, dia hanya berlalu saja meninggalkan Yoga yang tampak terpana sendiri. Walau demikian Yoga tak marah sedikit pun, karena Yoga tau kalau Mutia sangat takut dengan kekerasan.
Setelah yakin Mutia masuk, barulah Yoga pergi membesuk Nayla kerumah sakit. Setibanya disana, Yoga melihat banyak orang diluar ruangan rawat Nayla.
Awalnya Yoga merasa terkejut sekali, akan tetapi Yoga melihat ada Yuda yang duduk disamping Nayla, barulah hatinya sedikit tenang.
“Hei Yog !” sapa Yuda saat melihat Yoga muncul dihadapannya.
__ADS_1
“Siapa ini Yud?” tanya Yoga sedikit heran.
“Mereka semua adalah karyawan Nayla di butik.”
“Ooo!” jawab Yoga senang.
Lalu mereka semua tertawa dan tersenyum bersama diruang rawat Nayla, tampak Nayla sangat bahagia sekali, menikmati kebersamaannya.
Akan tetapi setelah mereka semua pergi, Nayla tampak murung kembali. Yuda yang selalu memberikan semangat lebih pada istrinya, tampak jenuh sekali. Karena Nayla sengaja tak mau makan dan bicara sedikit pun dengan dirinya.
“Kenapa Yud?” tanya Yoga heran saat melihat Yuda tampak menarik nafas Panjang dihadapan Yoga.
Mendengan Yoga bicara, Yuda langsung berdiri, sembari menarik tangan Yoga keluar dan menjauh dari Nayla.
“Ada apa Yud?” tanya Yoga semakin heran.
“Nayla, Yog. Nayla, dia tak mau makan dan bicara dari tadi pagi.”
“Kenapa?”
“Aku nggak tau, dia minta pulang kerumah, sementara luka bekas jahitannya masih belum kering betul.”
“Apa alasannya minta pulang, Yud?”
“Kemaren malam dia didatangi oleh Asih lagi, dan Asih bilang kalau rambut Nayla akan rontok dalam beberapa hari lagi, itulah sebabnya dia ingin pulang secepatnya.”
“Boleh aku menemuinya, Yud?” tanya Yoga pada Yuda.
“Kenapa kau minta izin dulu kalau ingin menemuinya, Yog? bukankah selama ini aku telah mempercayainya pada mu?”
“Kau benar Yud, selama ini kau memang telah mempercayainya pada ku, tapi itu jika kau sedang pergi, jika kau disini bersamanya, aku harus minta izin dulu pada mu.
“Aaah, kau ini, terlalu formal tau nggak!” kata Yuda seraya menepuk pundak saudara kembarnya itu.
Selama ini Yuda memang telah memberi peluang pada Yoga untuk lebih dekat dengan keluarganya, hanya saja Yoga melanggar semua amanah yang diberikan Yuda kepada dirinya.
Setelah Yoga mendapat izin dari Yuda untuk masuk, maka Yoga pun masuk kedalam dan menghampiri Nayla yang sedang duduk diatas ranjang rumah sakit. Seraya menggulung rambutnya yang Panjang, hingga terlihat sangat sembrautan sekali.
Tampa bicara sepatah kata pun, Yoga langsung mengambil sisir, dan menyisir rambut Nayla dari belakang dengan lembut dan pelan.
Nayla diam saja, saat rambutnya disisir oleh seseorang, sementara itu, Yuda melihatnya dari balik jendela seraya menarik nafas Panjang.
Sedikit pun tak ada rasa kecurigaan dihatinya untuk Yoga apa lagi menyimpan rasa cemburu.
Setelah melihat, Nayla tenang bersama Yoga, Yuda pun pergi meninggalkan mereka berdua.
“Kenapa sayang?” tanya Yoga dengan suara pelan.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1