Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 90 Keanehan yang terjadi


__ADS_3

“Kau benar, Yog. Pasti ada orang yang tak suka, pada Nayla, sehingga dia balas dendam padanya."


Karena semua orang sedang sibuk membahas masalah penculikan Nayla, hati Rangga menjadi tak tenang, lalu dengan berat hati dia langsung pergi.


“Kamu mau kemana Rangga?” tanya Siska ingin tau.


“Ke toilet sebentar.”


“Ooo!”


Setelah Rangga pergi meninggalkan mereka semua, lalu dengan berhati-hati sekali Siska langsung membongkar rahasia yang selama ini disimpannya.


“Heh, dengar ya, Siska selama ini sedang mencurigai Rangga dan keluarganya sebagai otak dari semua rencana busuk ini.”


“Maksud mu, apa Sis?”


“Sewaktu perempuan tua itu menculik Siska di bilang begini, “ kan sudah saya katakana pada mu jangan mendekati Rangga lagi!” atau jangan-jangan Bu Salamah itu adalah Ibunya Rangga,” ujar Siska seraya berbisik pelan.


Disaat mereka sedang bercerita, Siska pun melihat Rangga keluar dari balik dinding toilet. Lalu mereka semua berhenti membicarakan hal yang berhubungan dengan Rangga.


“Ya udah Yud, kalau begitu Siska pamit dulu, nanti kalau ada waktu, Siska akan mampir disini lagi.”


“Ya, terimakasih. Rangga, Siska! hati-hati dijalan.”


“Ya.”


Seraya menatap tajam kearah keduanya, hati Yuda dan Yoga sedikit heran, mereka saling bertatapan akan tetapi mereka berdua tak tau apa maksud dari tatapan mereka itu.


Seraya menarik nafas panjang, Yuda terhenyak duduk di kursi tunggu, dia merasakan kesulitan di tahun terakhir, selalu mendampingi keluarganya.


Terasa tak kuat untuk menjalani semua ujian itu, namun takdir telah menetapkan apa yang telah ditentukan. Yoga melihat Yuda menangis dibalik senyumnya yang lembut.


Disaat kesedihan menyelubungi keluarga Yuda, kesedihan serupa juga dirasakan oleh keluarga Bu Salamah. Tanpa mengabari Rangga sama sekali, Bu Salamah langsung membawa jenazah Santi kerumah mewahnya.


Disaat Rangga datang, betapa terkejutnya dia, ketika melihat bendera kuning telah berdiri didepan rumahnya. Seraya keburu-buru, Rangga langsung saja masuk kedalam.


“Apa-apaan ini?” tanya Rangga heran.


“Adik mu Rangga, Santi!” jawab Bu Salamah, ketika melihat Rangga hadir ditengah-tengah mereka semua.


"Santi, ada apa dengan Santi?”


“Dia ditabrak mobil, Nak.”


“Santi ditabrak mobil, lalu Mama diam saja?”


“Mama belum sempat memberimu kabar nak!”


“Belum sempat! masalah sebesar ini Mama belum sempat mengabari aku! emangnya aku ini siapa, Ma!” teriak Rangga dengan suara keras.

__ADS_1


Kekesalan hati Rangga tak dapat di lerai oleh siapa pun juga, dia menangis histeris didepan jasad Santi, yang meninggal karena ditabrak mobil.


"Mama kejam! Mama anggap aku ini siapa, sehingga Mama tak memberi taukan aku secepatnya."


“Maafkan Mama, nak. Maafkan Mama.”


“kenapa Santi ditabrak mobil, padahal kalian hanya berdiam diri dirumah?” tanya Rangga, sekedar hanya memastikan kemana saja seharian itu mereka pergi.


“Tadi Mama mengajak adik mu makan diluar.”


“Dimana?”


“Kami tadi ke super maket, Bang,” kata Widia memotong pembicaraan Mamanya.


“Ssst! jangan memotong pembicaraan Mama widia.


“Dia nggak memotong pembicaraan mama kok, dia hanya menjelaskan di mana mama mengajaknya tadi siang makan.


Bu Salamah diam saja, ketika Rangga membela Widia. Karena saat itu Bu Salamah memang sengaja hendak membohongi Rangga.


“Lalu dimana Santi ketabrak mobilnya, Ma?”


“Di depan mall Citra."


“Berarti, setelah Mama dari Super market, Mama muter dulu dan langsung menuju Mall Citra, begitu?”


“Ik…iii..ik..iya, sayang.”


“Dia mau beli jajan Widia, yang dibuang dijalan.”


“Begitu, Wid?” tanya Rangga memastikan ucapan Mamanya.


“Betul kak,”


“Kenapa kak Santi membuang jajan mu sayang?”


“itu karena Mama memarahi kak Santi, dan menyuruh Kak Santi membelikan jajan ku, sementara mobil Mama berada ditengah jalan, saat lampu hijau baru menyala.”


“Benar begitu, Ma?” tanya Rangga tak percaya.


“Maafkan Mama Nak, Mama begitu kesal sekali melihat mereka berdua bertengkar.”


“Tapi, hampir setiap saat mereka bertengkar dirumah ini, tapi Mama kelihatan aman-aman saja, kenapa kali ini Mama bilang kesal pada mereka berdua?”


“Apa menurut mu, Mama ini malaikat, yang nggak boleh marah sedikit pun!”


“Marah itu wajar Ma, tapi kalau udah mencelakai anak sendiri, lalu Mama dikatakan apa saat ini?”


“Kau jangan menghukum Mama seperti itu, Rangga.”

__ADS_1


“Menghukum maksud, Mama! Apa aku nggak salah dengar?”


“Lalu apa kalau bukan menghukum Mama, kau mencoba menyelidiki setiap langkah Mama, apa itu bukan menghukum Mama Namanya!”


“Mama, Santi itu meninggal karena kelalaian Mama sendiri, jadi apa Mama sudah dikatakan baik dalam mengurus anak-anak Mama!”


“Diam kau Rangga! Mama yakin kau pasti udah dibutakan oleh perempuan ular itu!”


“Perempuan ular, perempuan ular siapa maksud Mama?”


“Siapa lagi kalau bukan Nayla!”


“O, jadi Mama yang mencelakai Nayla.”


“Kalau iya, kenapa? biar tau rasa dia, dikira begitu mudah mengendalikan putra Mama yang baik ini.”


Saat itu juga, hati Rangga terasa begitu tercabik-cabik, pasalnya, Mamanya mengatakan hal itu tampa merasa bersalah sama sekali, dia bahkan bicara santai dihadapan orang banyak.


Rangga tersandar kedinding, dan diapun terhenyak duduk diatas lantai rumah mewah itu. Tiada disangka Rangga sama sekali kalau Mamanya tega berbuat sekeji itu.


Begitu pilu penderitaan yang sedang dihadapi Rangga saat itu, dihadapan semua orang Rangga menangis sedih. Tapi entah siapa yang dia tangisi saat itu, entah jasad adik tersayang Santi, atau perilaku Mamanya yang telah merusak suasana hatinya.


“Kenapa kau menangis Rangga, ayo, bantu Mama dan Pak Ustad untuk mengurus jenazah adik mu.”


Rangga tak menjawab saat itu, akan tetapi dia tak ingin rasa sedihnya dapat menelantarkan pemakaman adiknya. Dengan langkah gontai, Rangga langsung bangkit dan menghampiri Pak Ustad yang hendak mengkafani jenazah Santi.


Sekilas Rangga melihat wajah Santi yang hancur berlumuran darah, mulai dikafani oleh Pak Ustad.


“Haruskah sekarang, adik ku dikebumikan Pak Ustad?” tanya Rangga ingin tau.


“Benar nak Rangga, kalau menunggu besok, tentu nggak baik untuk jasad adikmu yang sudah rusak begini.”


“Tapi adikku, ada yang memandikannya tadi kan, Pak Ustad?”


“Ada, nak Rangga, adik mu dimandikan oleh kaum ibu-ibu tadi, tapi karena sebagian wajahnya hancur, jadi darahnya nggak dapat kami hentikan.”


“Ya, aku mengerti,” jawab Rangga paham dengan apa yang dimaksudkan Pak Ustad padanya.


Lalu dengan bantuan beberapa orang warga, jenazah Santi disholatkan di Mesjid terdekat, dan langsung dikebumikan malam itu juga.


Disaat jasad itu hendak dikeluarkan dari rumah, tiba-tiba tandu yang membawa tubuh Santi tak mau diangkat, semua orang menjadi heran bercampur rasa takut.


Akan tetapi, Pak Ustad Munar langsung memberi tau semua warga untuk berusaha tetap tenang.


“Tenang, tenang semuanya, nggak ada yang aneh disini, cobalah sekali lagi kalian angkat jenazahnya itu.


Perintah Pak Ustad didengarkan oleh seluruh warga, dengan mengucapkan Bismillah, tandunya bisa dengan mudah diangkat. Mesti menjelang perkuburan semua orang jadi merinding ketakutan. Tapi karena ada Pak Ustad Munar bersama mereka, itu sebabnya mereka sedikit memberanikan diri.


Dihadapan semua warga yang hadir, jasad Santi resmi dikebumikan dengan layak, semua pihak tak ada yang dapat disalahkan dalam kejadian ini. Semua sudah menjadi catatan hidup Santi kembali kepada sang pencipta dalam keadaan begitu.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2