
Hingga suatu hari, saat Yoga hendak mengunjungi Mama tercintanya dikampung, diapun menyempatkan diri mampir ke rumah Yuda, sekaligus memantau kondisi Nayla yang sudah lama tak pernah muncul menemuinya.
Di dalam rumah Yuda, Yoga menemui Nayla sedang terbaring di atas ranjang, tubuhnya sangat kurus dan wajahnya terlihat begitu pucat. Dengan perlahan Yoga menghampirinya.
“Mana suamimu Nay?” tanya Yoga seraya menyentuh tangan Nayla.
“Dia sedang tugas di puskesmas,” jawab Nayla pelan.
Seperti tak punya semangat hidup, jangankan untuk menoleh kearah Yoga, berbicara saja pun Nayla udah merasa enggan.
“Ada apa denganmu Nay, kenapa kau terlihat kurus dan pucat?”
“Barang kali Nay kecapekan Bang,” jawab Nayla datar. ”semenjak Nay menemui mu, Nay sering pulang larut malam, kata Bang Yuda Nay butuh istirahat.”
“Lain kali, kalau Nay ingin menemui Abang, telponlah dulu, kalau Abang punya kesempatan biar Abang yang jemput Nay ke butik, lagian semakin hari Abang semakin takut dengan pertemuan kita ini.”
“Kenapa?” tanya Nayla ketus.
“Abang takut, suatu hari nanti Yuda mengetahui hubungan kita ini. Abang pasti hancur Nay, begitu juga dengan pernikahan kalian.
Bagi Nayla walaupun mereka tidak melakukan apa-apa, dapat melihat wajah Yoga saja, maka akan terobati rasa rindu yang terlarang itu, di hati nya.
“Lalu apa yang harus kita lakukan Bang?”
“Lupakanlah Abang Nay, lupakan untuk selamanya, anggap saja kita hanya sekedar teman biasa. Bukankah Nay punya suami dan anak yang harus dijaga dan dirawat dengan penuh kasih sayang.”
“Apakah Abang ingin menjauh dari Nay, Bang?”
Bukan itu maksud Abang Nay, lagian bukan Nay sendiri yang merasakan kesedihan ini, Abang pasti juga merasakannya Nay. Tapi ini semua kita lakukan demi keharmonisan rumah tanggamu juga.”
Mendengar kata Yoga, Nayla hanya bisa diam, perlahan air matanya mulai mengalir membasahi kedua pipinya.
“Kau tak perlu memutuskannya sekarang Nay, kau masih bisa berfikir dulu.”
Jika direnungkan,apa yang dikatakan Yoga itu, ada juga benarnya, namun dibalik semua itu Nayla berfikir kalau Yoga sudah tak mencintainya lagi. Dan membuat alasan untuk menjauhinya.
“Nay yakin, di sana ! sudah ada wanita lain, yang cantik dan lebih pantas untuk mendampingi dirimu. Mudahnya kau mencampakkan Nay begitu saja Bang.”
“Tidak Nay, kau salah!”
“Apa maksudmu? Jadi Abang menuduh Nay salah selama ini.”
“Dari awal kita melakukan semua ini, itu udah salah Nay? Nay tau kenapa Abang nggak pernah menjawab setiap pertanyaan yang Nay ajukan?"
__ADS_1
" Nggak," jawab Nayla ketus.
"Karena Abang merasa, kalau Abang sudah terlalu jauh melangkah, Abang rusak kepercayaan yang diberikan Yuda kepada Abang. Abang tega bermain api dengan istrinya, Abang benar-benar udah keterlaluan Nay. Tapi Nafsu birahi ini, selalu saja datang dengan tiba-tiba, membuat Abang nggak kuasa untuk menahannya.”
“Jadi kau melakukannya selama ini, bukan karena cinta Bang?”
“Entahlah Nay, jangan kau tanya terus masalah cinta pada Abang.”
“Sekarang kau pergilah, Nay udah tau jawabannya.”
“Jawaban apa Nay?”
“Pergilah sekarang, Nay nggak mau melanjutkan pembicaraan kita ini lagi!” ucap Nayla kesal.
“Kau marah pada Abang Nay?”
“Pergilah! Nay nggak mau melihat Abang lagi !” teriak Nayla dengan suara keras. Sembari membalikan tubuhnya. Dan menutup mukanya dengan bantal.
Mendengar Nayla berteriak, Yoga tau kalau Nayla pasti sedang marah, karena selama ini, Nayla tak pernah bersuara keras apalagi membentak.
Yoga tak dapat berbuat apa-apa, dengan langkah pelan diapun pergi meninggalkan Nayla dengan sejuta kekesalan. Sesaat kemudian setelah Yoga pergi, Yuda pun datang menghampiri istrinya.
“Gimana keadaanmu Nay? masih terasa demam?” tanya Yuda pada Nayla.
Tampa menoleh sedikitpun, Nayla langsung saja membentak orang yang menyapanya dan melempar bantal yang ada ditangannya kearah Yuda.
“Nay! ini Abang, suamimu!”
“Hah! pergi, pergi !”
“Nayla sayang! ini Abang Nay, ini Abang.”
“Oh,Bang Yuda,” kata Nayla seraya memeluk suaminya dengan erat sekali.
“Kenapa Nay? ada apa dengan mu, kenapa kau begitu marah sekali ?”
“Entahlah Bang, Nay nggak tau. Nay takut sekali Bang.”
“Beristirahatlah Nay, barang kali Nay terlalu capek. Biar abang ambilkan Nay teh hangat dulu,” kata Yuda seraya berlalu meninggalkan Nayla sendirian di kamarnya.
Tapi Nayla keburu mencegahnya dan merangkul tubuh Yuda.
“Nggak usah Bang, kau jangan pergi lagi, Nay nggak mau ditinggalkan Bang.”
__ADS_1
“Ada apa denganmu Nay?” tanya Yuda heran.
“Sini, duduklah di samping Nay, Bang.” ajak Nayla.
Atas permintaan istri tercintanya, Yuda pun duduk disisi Nayla dan memeluk tubuh Nayla dengan lembutnya.
Seperti telah berpisah begitu lama Nayla tak ingin lepas dari dekapan suaminya. Ingin sekali ditimpakannya beban yang berada dipundaknya itu pada sang suami, agar beratnya terasa sedikit berkurang.
Tapi Nayla tak kuasa, karena beban itu sarat dengan dosa maksiat yang dia lakukan dengan saudara kembar suaminya.
“Ya Allah ! Begitu hina nya diri ku ini, sehingga aku tak lagi bisa menghargai cinta kasih yang tulus dari suamiku.” Ratap Nayla didalam hati.
Dosa inilah yang selalu membebani jiwa Nayla setiap hari, disaat sepi Nayla selalu saja menangis tiada henti. Berat sekali dosa yang harus dia pertanggung jawabkan nantinya diakhirat dihadapan Allah SWT.
Mulai saat itu pula, kondisi fisik Nayla langsung turun drastis, Nayla sering mengalami sakit, terlebih-lebih di bagian perut, jika rasa sakitnya datang menyerang, tubuh Nayla terasa hancur berkeping-keping.
Tapi rasa sakit itu dipendam sendiri, tak seorangpun yang tau selain dirinya. Nayla juga sering pingsan di atas mobil, ketika hendak ke butik, tapi Darman mengira kalau Nayla sedang tidur.
Suatu hari Nayla dan suaminya berkunjung ke rumah Mamanya, tak lupa juga dengan Andika putra tunggalnya. Mereka bertiga disambut baik di sana.
“Gimana kabarmu Nay? apa kalian semua sehat?”
“Iya Ma, kami sekeluarga sehat kok. Udah lama sekali kami nggak mengunjungi Mama, kami jadi rindu, sekarang Dika sudah berusia tiga tahun, dia ingin sekali melihat wajah Neneknya.”
“Iya Dika? sini biar Nenek pegang cucu kesayangan nenek dulu, ” kata Kartini seraya memeluk tubuh cucunya dengan lembut. "Oh cucu Nenek, sekarang udah besar ternyata, Nenek sangat senang sekali. Tengok wajahnya sangat mirip sekali denganmu Nay.”
“Benarkah Ma?”
“Iya! Wah Mama sangat senang sekali Nay, rasanya kebahagiaan ini sudah lengkap.”
Melihat kebahagian di hati ibu mertuanya, Nayla tampak tersenyum manis. Menyaksikan kekompakan Ibu dan istrinya, Yuda sangat senang sekali.
Pada saat itu, Yoga pun datang, karena seluruh anak sekolah sedang libur.
Di rumah yang sederhana itu, mereka semua berkumpul dan bercengkrama bersama.
Tapi Nayla tampak agak sedikit murung, dia tak seceria waktu dulu. tubuhnya mengalami penurunan drastis, raut wajahnya terlihat pucat.
Nayla juga jarang bicara jika tak ada yang bertanya padanya.
Yoga memperhatikan hal itu, begitu juga dengan Kartini.
Malam itu saat keluarga berkumpul, Nayla tak ada menemani suaminya, sedangkan Dika ada dipangkuan Yoga.
__ADS_1
Bersambung...
\*Selamat membaca\*