
“Mama sayang! Nay sama Bang Yuda baik-baik aja kok, Mama nggak usah khawatir berlebihan gitu!”
“Mana Yuda?” tanya Kartini pada Nayla.
“Bang Yuda sedang mandi, Ma.”
“Mama nggak yakin sama keputusanmu ini, filing Mama, pasti ada yang nggak beres dengan kalian berdua.”
“Nggak beres apanya, Ma? apa yang dikatakan Nayla itu benar, pagi ini kami memang ingin pulang,” jawab Yuda sembari melipat lengan bajunya yang Panjang.
“Tapi, kenapa mendadak gitu sayang? semalam sewaktu kita berkumpul, kau nggak ada membahas masaalah pulang, lalu kenapa pagi ini begitu mendadak. Mama jadi heran loh,” kata Kartini kebingungan.
Melihat Mamanya seperti itu, Yuda merasa kasihan sekali, hatinya begitu hancur, saat Mamanya tak percaya dengan keputusannya pagi itu.
Lalu dengan lembut, Yuda membawa Mamanya ketempat yang agak jauh dari Nayla berdiri.
“Ma, semalam kita sama-sama membahas penyakit yang diderita Nayla, sejak aku masuk kekamar, aku selalu kepikiran dengan kata-kata Yoga, untuk segera memeriksakan Nayla ke dokter,” jelas Yuda pada Mamanya.
“Lalu, untuk itu kalian pergi secepat ini?”
“Untuk itulah, aku harus pergi sekarang, Ma. Aku harus memeriksakan Nayla ke dokter secepatnya. Bukankah semakin cepat itu semakin baik?”
“Apa Nayla sudah tau hal itu?”
“Belum Ma, nanti dijalan biar aku bicara dengannya."
“Benar hanya itu alasan kepulangan mu pagi ini?” tanya Kartini tak begitu yakin dengan penjelasan Yuda padanya.
“Iya Ma,” jawab Yuda berbohong.
”Maafkan aku Ma, aku terpaksa membohongi mu,” kata Yuda dalam hatinya.
“Baiklah, kalau itu alasan kepergian mu, Mama izinkan kalian pulang kerumah.”
“Makasih, Ma,” jawab Yuda seraya mencium tangan perempuan paruh baya itu dan memeluknya dengan lembut.
Sementara itu, setelah suaminya berpamitan dengan Mamanya, Nayla pun menyusul dari belakang, tapi Kartini merasakan pelukan Nayla begitu dingin sekali.
Naluri keibuannya berkata saat itu, kalau Nayla sedang menyembunyikan sesuatu padanya.
Akan tetapi dia tak mau ikut campur terlalu banyak urusan rumah tangga anaknya.
Karena Yuda sudah cukup memberi alasan padanya, makanya Kartini tak mau membahas masaalah itu lagi.
Seraya melambaikan tangannya, perempuan tua itupun meneteskan air mata.
“Dada Nenek, dada ! kata Andika seraya melambaikan tangannya kearah Kartini.
“Dada sayang ! semoga kalian baik-baik saja anakku, hiks.” Kartini pun menangis tersedu-sedu.
Setelah beberapa jam kemudian, Kartini pun menghampiri Yoga yang saat itu masih tertidur pulas di kamarnya. Disentuhnya pundak putranya dengan lembut.
“Yoga, bangun sayang!” kata Kartini dengan suara pelan.
__ADS_1
Saat suara itu mengalun ditelinga Yoga, diapun langsung bangun dari tidurnya, samar-samar Yoga melihat Mamanya menangis disamping ranjangnya.
Yoga heran sekali, kenapa di pagi itu, Mamanya menangis sedih, padahal hal itu tak pernah terjadi sebelumnya.
“Mama, ada apa?” tanya Yoga seraya menghapus air mata yang menetes dikedua belah pipi yang mulai keriput itu.
“Yuda, Yog,” jawabnya dengan suara lirih.
“Ada apa dengan Yuda, Ma?” tanya Yoga mulai sedikit heran.
“Yuda udah pergi bersama istrinya Nayla!”
“Apa! mereka udah pergi?"
" Iya nak."
" Kapan?"
“Barusan,” jawab Kartini pelan.”
“Kenapa mereka keburu-buru pulang, Ma?” tanya Yoga heran.
“Mama juga nggak tau Yog, tapi filing Mama, ada yang nggak beres diantara mereka berdua.”
“Masaalah apa?” tanya Yoga ingin tau.”
“Entahlah Nak.”
Disaat Mamanya berkata tidak mengetahuinya, Yoga langsung saja ingat dengan kejadian malam itu, disaat dia mencoba membenahi pakaian Dinda, sewaktu kesulitan memasang resleting pakaian belakangnya.
Sontak hal itu membuat Mamanya kaget, dan melotot tajam kearah Yoga yang membaca istighfar itu.
“Ada apa? kenapa mengucap?”
“Oh..eh!" jawab Yoga gelagapan.
“Kamu lagi ngomongin apa, sayang?” tanya Mamanya penasaran.
“Nggak Ma, sekarang aku baru ingat, kalau pakaianku di jemuran belum ku angkat,” jawab Yoga berkilah.
“Pakaian dimana?” tanya Kartini ingin tau.
“Dirumah dinas ku,” jawab Yoga berbohong.
“Ooo, pasti udah diangkat tetanggamu!”
“Tapi tetanggaku masih bayi kok, Ma!”
“Ah, kamu! ledekin Mama ya!” kata Kartini seraya mencubit pinggang Yoga, hingga keduanya tertawa terbahak-bahak.
Disaat itu hilang rasa sedih dihati Kartini, bayangan Yuda dan Nayla tak lagi teringat olehnya. Walau tampa disengaja, namun Yoga merasa senang kalau Mamanya bisa tertawa dengan lepas.
“Ya udah, Ma! biarkan aja mereka pergi, siapa tau mereka ada urusan yang sangat penting, yang harus diselesaikan.”
__ADS_1
“Iya, Yog. Tadi Yuda juga bilang ke Mama, kalau dia ingin membawa istrinya kerumah sakit. Karena semalaman Yuda nggak bisa tidur.”
“Itu benar Ma, semakin cepat Yuda membawa istrinya kerumah sakit itu lebih baik, agar kita bisa mengetahui sakit apa yang diderita istrinya selama ini.”
“Iya, sayang ! semoga apa yang kita harapkan dapat terlaksana dengan baik, dan Yuda segera mengetahui penyakit istrinya itu.
Selama Yoga dan Mamanya asik berbincang-bincang, Yuda dan Nayla malah tampak saling diam saat itu, selama diperjalanan, tak sepatah katapun yang terucap dibibir mereka berdua.
Sedangkan Andika dia sedang tertidur dengan pulas di bangku belakang sendirian. Sesekali Yuda menoleh kekiri, dan Nayla pun memandangi suaminya dengan raut wajah dingin.
“Kita berhenti dulu sayang, sepertinya perut Abang terasa lapar,” kata Yuda untuk memecah kebuntuan suasana di mobil.
“Abang makan aja duluan, Nay belum lapar,” jawab Nayla bermalas-malasan.
“Nggak bisa gitu dong sayang! nanti kalau Nay sakit perut, siapa yang susah nanti!”
“Tapi, Nay belum lapar Bang!”
“Sedikit aja, biar perut Nay berisi, ingat sayang perjalanan kita masih jauh.”
“Baiklah, Nay akan makan,” jawab Nayla seraya meringis menahan rasa sakit.
“Kenapa sayang! ada apa, kamu sakit?”
“Nggak Bang, Nay nggak apa-apa kok,” jawab Nayla sedikit berbohong pada suaminya.
“Benar nggak apa-apa, tapi tadi Abang lihat Nay, meringis kesakitan.”
“Tapi Nay baik-baik aja kok Bang.”
“Ya udah, ayo kita makan dulu,” ajak Yuda pada istri tercintanya.
“Gimana dengan Andika Bang?”
“Biar aja dia tidur, nanti nasinya kita bungkusin aja. Kapan dia bangun baru Nay suapi nanti.”
“Baiklah,” jawab Nayla seraya mengikuti langkah Yuda dari belakang.
Saat makanan telah terhidang didepan mereka, Yuda mulai menyantapnya dengan begitu lahap, tapi tidak dengan Nayla, dia hanya menyentuh butiran-butiran nasi itu dengan jemari tangannya.
Melihat istrinya berlaku seperti itu, Yuda hanya diam saja, dia hanya memandang Nayla dengan sudut mata yang penuh tanda tanya.
Setelah diperhatikannya sekian lama, Yuda mulai merasa kesal dengan tingkah Nayla, yang membuatnya bingung.
“Ada apa Nay! kenapa nggak dimakan nasinya?” tanya Yuda seraya menyentuh tangan istrinya.
Nayla diam saja, lalu Yuda berpindah tempat duduk, hingga posisinya merapat ke sisi Nayla. Nasi yang berada didepan Nayla diambilnya, lalu Yuda menuangkan sambal dan sayur . Dan menyuapkannya ke mulut Nayla.
“Ayo sayang, dimakan, mumpung masih panas,” kata Yuda seraya tangannya terus menyuapi Nayla.
Tampa ada penolakan sedikitpun, Nayla pun menelan nasi itu kedalam perutnya, meski demikian, Nayla tetap saja diam.
Bersambung..
__ADS_1
*Selamat membaca*