
Yoga tau kalau hal itu pasti akan terjadi, perlahan Yoga pun menghampiri Dinda beserta Ibunya. Dengan kehadiran Yoga bersama mereka, amarah Dinda sedikit mereda.
“Hai!” sapa Yoga sedikit kaku.
“Hai juga,” jawab Dinda dengan ketus.
“Udah makan?”
“Belum.”
“Mau ku ambilkan?”
“Nggak perlu.”
“Kamu lagi marah ya Din?”
“Buat apa marah.”
“Kalau bukan marah, lalu apa Namanya?”
“Kenapa sih kau menyakiti aku Yog, kau kira aku ini sampah!” kata Dinda sembari menarik tangan Ibunya untuk pergi dari hadapan Yoga.
“Din.. Dinda! tunggu dulu Din, semuanya bisa ku jelaskan.”
“Nggak perlu! antara keluarga mu dan keluarga ku, udah nggak ada apa-apanya lagi!” teriak Dinda dengan suara lantang.
Karena teriakan Dinda yang begitu keras, semua mata yang hadir pada saat itu, langsung tertuju pada dirinya, begitu juga dengan Nayla.
Yoga menjadi malu, karena Dinda membentaknya di depan semua orang, tapi Yoga tau betul gimana cara jatuh yang baik, agar semua orang tak lagi memandangnya dengan sorotan mengejek.
Akan tetapi disaat Yoga hendak memulai rencananya, tiba-tiba saja Kartini datang menghampiri dirinya.
“Saidah dan Dinda sangat marah sekali pada mu Yog, mereka yang selama ini begitu dekat dengan Mama, sepertinya telah menjadi musuh.”
“Yang sabar Ma, suatu saat nanti mereka pasti menyadari semua kebodohan yang mereka lakukan pada kita,” ujar Yoga menenangkan hati Mamanya yang sedih.
“Kenapa nggak kau nikahi aja Dinda, Yog!
bukankah dia wanita yang sangat sayang sama Mama kita,” ujar Yuda.
“Tapi aku udah punya pilihan sendiri, Yud!”
“Ooo, gitu ya.”
“Untuk menjawab semua pertanyaan mu itu, saat ini udah terlambat Yud.”
“Kenapa terlambat, kalian kan masih sama-sama belum punya pilihan hidup?”
Yoga tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan Yuda pada dirinya, dia justru memandangi Nayla yang saat itu berdiri menatap tajam kearahnya.
Nayla pun menundukkan kepala, ketika sorotan mata tajam itu menghujam ke dasar sanubarinya. Hati Nayla begitu sakit ketika suaminya menyuruh Yoga menikahi Dinda.
Setelah Yoga terdiam, Nayla langsung pergi, tidak sepatah kata pun terucap dari bibir mungilnya. Yoga pun hanya bisa menatap pilu.
__ADS_1
Keesokan harinya, disaat Yuda sedang pergi ke apotek untuk mencari obat, kesempatan itu dimanfaatkan Yoga untuk menyelinap kekamar Nayla.
“Bang Yoga, kenapa kesini? nanti kalau Mama lihat gimana?”
“Mama lagi di kebun bunga bersama Ningsih dan Andika.”
“Benarkah,” jawab Nayla seraya berlari memeluk tubuh Yoga.
“Oh sayang,” kata Yoga sembari mencium kening Nayla dengan lembut.
“Nay sangat merindukan mu Bang.”
Kemesraan sepertinya tak dapat dielakkan lagi, di waktu yang begitu sempit, mereka berdua bercumbu mesra didalam kamar Nayla. Tangan Nayla yang nakal dengan lincah bermain-main di daerah terlarang milik Yoga.
Yoga pun tak kuasa Manahan hasratnya, karena tangan Nayla terus saja berkeliaran secara liar.
“Hentikan nay, hentikan!” lirih Yoga dengan suara bergumam.
“Sentuh Nay, Bang!”
“Nggak Nay, sebentar lagi yuda akan kembali, aku harus segera keluar dari kamar mu ini.”
“Ya baiklah, cepat pergilah Bang.”
Tampa menunggu lagi, Yoga langsung menyelinap keluar dari pintu belakang. Tepat sekali ketika Yoga sudah pergi, Yuda pun datang.
“Tok, tok,tok!” Nayla mendengar suara pintu diketuk dari luar.
“Cekrek!” dan pintu dibuka dengan perlahan.
“Oh sayang, kau membuat nafsu ku memuncak.”
“Bagus deh, kalau begitu Nay kan nggak perlu harus melakukan pemanasan lagi.”
Nayla yang telah terangsang oleh Yoga, dia semakin bertambah liar, dan mendesak Yuda untuk meneruskan apa yang begitu di diharapkannya.
Sedangkan Yoga yang berada tidak jauh dari kamar Nayla, jantungnya terasa berhenti berdetak, disaat dia mendengar erangan dari Nayla.
“Oh, Nay! lagi-lagi kau membuatku semakin tak kuat,” lirih Yoga pelan.
Setelah selesai mendengarkan adegan percintaan Nayla dengan Yuda, Yoga pun langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Di dalam kamar, Yoga berusaha untuk memejamkan matanya, namun bayangan Nayla selalu saja mengganggu pikirannya, Yoga berkhayal jika saja dia yang melakukan percintaan itu, pasti kepuasannya tiada terbatas.
“Oh!” rintih Yoga karena hasratnya tak tersalurkan.
Walau demikian Yoga terus berusaha untuk tetap tenang, agar Yuda tak menaruh curiga padanya nanti.
Tiga hari telah berlalu, Yoga yang berniat akan mendaftarkan Ningsih untuk melanjutkan pendidikannya, pagi itu pergi bersama adik angkatnya itu.
Sementara itu, Nayla yang melihat Ningsih memeluk Yoga dari belakang, hatinya terasa begitu sakit. Namun dia tak memperlihatkannya pada semua orang dirumah itu.
Bersamaan dengan itu, Siska yang tampak tenang dan tegar, ternyata hatinya begitu rapuh, karena Yoga yang berjanji akan menikahinya, hingga saat itu tak pernah lagi datang mengunjungi dirinya.
__ADS_1
Di dalam kamar, Siska menangis karena menahan rindu, bayangan Yoga selalu saja hadir di setiap geraknya.
Pagi itu dengan memberanikan diri Siska menghubungi Yoga lewat ponselnya, karena Siska ingin memberitahukan isi hatinya pada Yoga.
Nayla yang mendengar pembicaraan mereka berdua, jantungnya terasa hendak meledak.
“Siapa itu Bang?” tanya Nayla ketus.
“Siska.”
“Apakah dia masih menanyakan tentang pernikahan kalian?”
“Iya, tapi bukan itu saja, Siska ingin pernikahan kami dipercepat.”
“Nay nggak ikhlas, kalau Abang menikah dengan Siska!”
“Kenapa? apa menurut mu, abang harus menahan hasrat Abang ketika mendengar kalian bercinta?”
“Itu bukan salah Nay, Bang!”
“Lalu salah siapa?”
“Salah Abang sendiri, bukankah Nay udah sering meminta agar Abang melakukan itu pada Nay!”
“Tapi Abang nggak mau Nay, abang takut.”
“Takut sama siapa?”
“Abang belum pernah melakukannya Nay!”
“Biar Nay yang bantu,” jawab Nayla polos.
Walau Nayla mencoba untuk menaklukkan hati Yoga, namun Yoga tetap saja bertahan pada pendiriannya.
Malam itu, di saat Yuda sedang melakukan tugas luar selama dua hari, kesempatan itu dimanfaatkan Nayla untuk merayu Yoga.
Yoga yang udah tak konsen lagi di saat melihat Nayla duduk dengan menggunakan pakaian lingerie yang tembus pandang, Yoga mencoba meneguk air liurnya secara berulang-ulang kali.
“Kenapa? udah nggak tahan ya?”
Yoga tidak menjawab pertanyaan itu, namun dia langsung berdiri dan menggendong tubuh Nayla ke kamarnya. Dengan lembut Yoga mencumbu tubuh Nayla yang tampak polos dan bersih.
Nayla pun merintih menahan gejolak asmaranya. Namun Yoga berhenti disaat Nayla berharap sesuatu pada dirinya, tangannya yang nakal berusaha untuk terus merangsang tubuh Yoga yang tak berdaya.
“Lakukanlah, bukankah ini kesempatan kita berdua untuk bercinta?”
“Tapi Abang takut Nay.”
“Nggak usah takut, jika Nanti Nay hamil anak mu, Nay akan katakan pada Bang Yuda kalau ini bayinya, dan Abang nggak usah bertanggung jawab.”
Yoga diam saja, dia hanya menatap dua tumpukan putih di dada Nayla, jantung nya yang berdetak tak stabil itu, mencoba mengecup dengan lembut tumpukan putih itu.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*