
“Nggak juga sih, itu kalau kita pandai mengendalikannya, sayangnya kalau aku terlalu sulit untuk menjaganya makanya semuanya jadi kacau begini.
“Silahkan masuk,” kata Kepsek dari dalam ruangannya.
“Ntar ya, aku nemuin kepsek dulu.”
“Ya Yog,” jawab Andi sembari menyelesaikan pekerjaannya.
“Assalmu’alaikum!” sapa Yoga pada Kepsek.
“Nak Yoga, silahkan duduk.”
“Baik, Pak,” jawab Yoga sembari menarik kursi yang ada dihadapan Kepsek.
“Sebenarnya Bapak malu membahas masaalah ini pada mu, tapi ini semua demi nama baik sekolah kita, jadi mau tak mau Bapak harus menyelesaikan persoalan ini dengan mu.”
“Iya, pak! sebenarnya Aku juga malu mendengarnya, sehingga setelah Bapak memberi kabar itu padaku, Aku langsung kembali, tapi naas diperjalanan menuju sekolah ini, tampa sengaja aku menyerempet seorang lansia hingga tewas.
“Ya Allah, benarkah itu, nak?”
“Benar Pak, dan perempuan tua itu memiliki seorang anak perempuan yang berusia sembilan belas tahun, karena Ibunya sudah nggak ada, secara tak langsung aku harus bertanggung jawab atas hidupnya, itu sebabnya aku sedikit terlambat datang”
“Mana anak itu sekarang?”
“Dia ada dirumah dinas ku saat ini.”
“Kau mau bawa kemana dia?”
“Kerumah Mama dikampung, untung saja dia mau ikut bersama ku, kalau nggak, urusannya pasti jadi Panjang.
“Ya, syukurlah,” jawab Kepsek manggut-manggut.
“Jadi persoalan apa sih, yang telah terjadi itu, pak?”
“Bu lesti bertengkar dengan Mutia, dan dia menampar Mutia hingga jatuh pingsan. Rehan yang melihat kejadian itu, langsung menghajar Bu Lesti, hingga Bu Lesti mengalami memar diwajahnya. Tapi bukan itu saja, saat Mira hendak menyelamatkan Mutia, Rehan marah besar hingga akhirnya, Mira menghantam wajah Rehan dengan pukulannya.”
“Ooo, begitu masalahnya?”
“Jadi Bapak ingin masalah ini segera kamu selesaikan, sebelum semuanya saling dendam dan akhirnya mereka saling main hakim sendiri.”
“Baiklah, Pak! Kalau begitu saya permisi dulu.”
“Ya, silahkan.”
Lalu Yoga pun pergi meninggalkan Kepsek yang begitu mempercayai dirinya selama ini. Dimeja tempat duduknya, tampak Yoga termenung sendiri, dia bingung harus memulainya dari mana.
Disaat kebingungan itu melanda pikirannya, tiba-tiba saja Andi dan Dion datang memberi arahan.
“Gimana, sulit menyelesaikan masaalahnya kan?”
“Iya, Ndi! Aku heran dengan Bu Lesti ini, sebenarnya, kok dia punya pemikiran seperti itu ya. Padahal jauh-jauh hari dia udah tau kalau aku punya hubungan dengan Mutia, dan bukan hanya dia saja yang tau hal itu, bahkan semua orang di sekolah juga mengetahuinya.”
“Itulah Cinta Yog! Sulit untuk ditebak.”
“Sepertinya, Bu Lesti sengaja melakukan itu semua, agar hubunganku dengan Mutia hancur.”
“Bisa jadi.”
__ADS_1
“Begini aja, Yog! kamu terus terang aja bicaranya pada Bu Lesti, kalau selama ini kau sudah memiliki Mutia yang sangat kau cintai.”
Mendengar pendapat dari Pak Andi, Yoga hanya diam saja, seraya menarik nafas Panjang, Yoga berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu.
“Gimana Yog, terima kagak idenya?”
“Kupikirkan dulu, Andi!”
“Kenapa harus dipikirkan dulu!” seru Pak Andi dengan suara lantang.
“Benar itu langsung aja kerjakan, biar hasilnya tepat sasaran.”
“Sabar Dion!”
“Ah! Kau ini, Yog. Terlalu banyak mikir, tau nggak.”
Tampa menghiraukan Dion dan Andi, Yoga langsung meninggalkan mereka. Dia berjalan menuju kelas Mutia, baru saja tiba didepan ruangan kelas Mutia, tiba-tiba saja, Bu Lesti nongol dari balik dinding sekolah.
Melihat Bu Lesti muncul, cepat-cepat Yoga masuk kedalam kelas Mutia dan mengajak Mutia keluar dari kelas itu.
“Mau kemana, Bang?” tanya Mutia heran.
Disaat Mutia bertanya pada Yoga tiba-tiba saja Mutia melihat Bu Lesti disamping kelasnya. Dengan pelan dia pun mengikuti Yoga dari belakang, tanpa banyak komentar.
Melihat Mutia mengiringi Yoga dari belakang, hati Lesti sangat sakit, dari kejauhan Lesti tetap memantau keberadaan Mutia bersama Yoga.
“Huuuh! Kau mau cari gara-gara dengan gurumu, Mutia. Boleh! akan ku layani,” ancam Lesti pada dirinya sendiri.
Disaat Lesti sedang mengintip mereka berdua, Yoga dan Mutia sedang duduk santai di taman belakang sekolah, Yoga menatap wajah Mutia dengan penuh rasa sedih.
“Maafkan Abang sayang, gara-gara Abang kau jadi sasaran kemarahan Bu Lesti.”
“Terus!”
“Terus, aku mengatakan pada Bu Lesti kalau sebenarnya kita udah lama menjalin hubungan, mendengar pengakuan ku itu, Bu Lesti bertambah marah deh, dan dia langsung menamparku hingga aku terjatuh.
“Sebagai seorang guru, seharusnya Bu Lesti tak seharusnya berbuat seperti itu.”
" Tapi semua nya sudah terjadi, Bang."
“Lalu, apa tanggapan Papa dan Mama dirumah, tentang pipimu yang memar?”
“Aku nggak bilang kalau aku ditampar orang, aku hanya bilang kalau aku terjeduk pintu kelas.”
“Lalu mereka percaya sayang,” tanya Yoga seraya menggenggam tangan Mutia.
Nggak Bang, dan mereka meminta Abang datang menemuinya, besok malam.”
“Besok malam?”
“Ya, besok malam.”
“Kalau besok malam Abang nggak bisa sayang, Abang ngambil cuti satu minggu kan, Abang mau tengok Mama dikampung.
“Jadi kapan bisanya?”
“Insya Allah, kalau pulang dari kampung nanti, Abang akan datang kerumah mu.”
__ADS_1
“Baiklah, nanti akan ku sampaikan pada Papa dirumah.”
“Ya, sampaikan pula salam Abang untuk keluarga mu.”
“Baik, nanti akan ku sampaikan pada mereka.”
“Pesan Abang, jika nanti Abang udah pergi, jangan pernah kau dekati Bu Lesti, berusahalah untuk menghindar darinya.
“Baik, Bang.”
“Kalau begitu, Abang pergi dulu, jaga dirimu baik-baik.”
“Ya, hati-hatilah dijalan.”
“terimakasih sayang.”
Setelah berpamitan dengan Mutia, Yoga langsung pergi meninggalkan kekasihnya itu, bersama Ningsih dia pun menuju kampung halamannya.
Sudah lama rasanya Yoga tak menemui Yuda, siang itu disempatkannya untuk mampir, bersama dengan Ningsih, dia pun berhenti didepan rumah Yuda. Tiba-tiba saja dari dalam muncul Nayla bersama Andika.
“Paman!” teriak Andika seraya berlari mengejar Yoga yang sedang berjalan bersama Ningsih.
“Oh! Andika, kamu udah besar sekarang ya?”
“Paman kenapa lama sekali datangnya, aku udah rindu sama paman lho.”
“Ini, paman udah datang menemui Andika, gimana kabarnya, Andika sehat sayang.”
“Iya, paman, aku sehat kok.”
“Syukurlah, kamu gimana Nay, sehatkan!”
“Alhamdulillah, Nay sehat Bang.”
“O ya, Nay kenalkan dia Ningsih,” kata Yoga seraya memperkenalkan Ningsih pada Nayla.
Ketika mereka saling bersalaman, Nayla tak ada merasa cemburu pada gadis cantik itu, justru Nayla mengajaknya masuk kedalam dan mereka saling bercerita berdua.
“Ooo, jadi Ningsih mau tinggal bersama Mama, Bang.”
“Benar Nay! Tapi dimana Nay tau kalau Ningsih mau tinggal bersama Mama dikampung.”
“Ningsih sendiri yang cerita sama Nay tadi.”
“Jadi kalian udah saling bertukar pikiran ya?”
“Nggak juga sih, tapi Nay suka dengannya, Bang.”
“Tapi Ningsih, nggak bisa tinggal disini bersama Nay.”
“Kenapa?”
“Dia tanggung jawab Abang saat ini, dan Ningsih bukan seorang pembantu, Nay.”
“Apa ada yang sepesial darinya, Bang.”
“Ibunya meninggal dunia kemaren, karena tampa sengaja terserempet sepeda motor Abang Nay, Abang harus menjaga dan merawatnya seperti saudara sendiri.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*