Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 105 Menuju Desa Ciledug


__ADS_3

Tak seorang tetangga pun yang datang menolong saat itu. Saat mereka mendengar tangisan Andika, para tetangga mengira kalau Andika menangis karena dimarahi Mamanya.


Lama terdengar Andika menangis, itulah yang membuat tetangga curiga.


“Tin! apa kau dengar suara Andika menangis? tanya Ida pada putrinya Tina.


“Iya! Tina dengar Bu.”


“Ada apa Ya Tin?”


“Entahlah Bu!”


“Nggak biasanya anak itu menangis terlalu lama, atau jangan-jangan terjadi sesuatu pada Mamanya.”


“Kalau begitu biar Tina lihat dulu ya, Bu?”


“Ya pergilah Nak!” perintah Bu Ida.


Saat Tina hendak melangkah keluar rumah, tiba-tiba beberapa orang ibu-ibu muncul, guna mempertanyakan hal yang sama.


“Ada apa Ya?” tanya seorang Ibu tak sabaran.


“Entahlah, aku sendiri juga nggak tau.”


“Iya, dari tadi kudengar suara Andika terus saja menangis.”


“Kalau begitu mari sama-sama kita lihat!” Ajak tina seraya bergegas menuju rumah Nayla.


“Astagfirullah! Seru Ibu-Ibu serentak.”


“Ayo kita bantuin cepat!" perintah Bu Dini.


Dengan kesepakatan, para Ibu-ibu pun bekerja sama membantu Nayla yang sedang tergeletak pingsan. Saat Nayla diurus oleh para ibu-ibu, tina pun menggendong Andika dan menenangkannya.


“Tenang ya dek! Mama nggak apa-apa kok, dia hanya pingsan dan sebentar lagi juga sadar.”


“Tapi kak, Mama dari tadi nggak bergerak?"


“Iya sayang, Itu biasa terjadi pada Ibu-ibu yang mengandung dedek bayi, katanya Andika pengen punya dedek bayi kan? nah Andika harus berdo’a, agar Mama nggak kenapa-napa. Dan segera sadar.”


“Iya kak, aku berdoa untuk Mama dulu ya kak !” jawab Andika seraya menengadahkan tangannya.


“Anak pintar!” kata Tina seraya tersenyum manis.


“Tapi kalau aku berdo’a, Mama pasti hidup lagi kan, kak?”


“Ooo, itu pasti sayang! Mama bangun dan memeluk putra kesayangannya.

__ADS_1


“Tina!” panggil seorang ibu dari dalam.


Mendengar Namanya dipanggil, Tina pun segera datang.


“Sebentar ya sayang! kak Tina kedalam dulu, soalnya ada yang manggil! Andika duduk dulu disini, nanti kak Tina kembali lagi.”


“Baik kak,” jawab Andika seraya menuruti permintaan Tina.


“Anak pintar!” kata Tina seraya berlalu meninggalkan Andika.


“Apa Tina udah datang?” tanya Bu Rosna dari dapur.


“Tuh dia datang!” jawab Wely saat melihat Tina nongol dari balik pintu.


“Ada apa Bu?” tanya Tina ingin tau.


“Tin apa kau tau nomor henfon dr. Yuda?”


“Nggak!” jawab Tina menggelengkan kepalanya. “Tunggu, biar Tina tanya dulu sama Andika, siapa tau dia bisa menghubungi Papanya."


“Ya cepatlah!” kata Rosna.


Mendengar perintah dari Bu Rosna, Tina pun bergegas keluar guna menemui Andika. Berulang-ulang kali nomor Yuda dihubungi namun tetap saja nggak aktif.


"Mungkin Bapak lagi banyak urusan,” kata Tina pada para Ibu-ibu.


Walau demikian Tina tak putus asa, dihubungi semua nama yang ada didaftar hemfon Nayla, termasuk nomor Yoga.


Bukan hanya itu saja, asap putih mengepul disepanjang jalan yang dilalui. Ada yang diam saat menyaksikannya, ada yang geleng-geleng kepala, dan ada pula yang berucap sumpah serapah.


Namun Yoga tidak memperdulikannya, dia tampak begitu santai dan tenang, karena pada saat itu Yoga sedang fokus pada apa yang sedang ditujunya.


Tak berapa lama kemudian, Yoga pun tiba dirumah Yuda. Tampa berfikir Panjang dia langsung menemui Andika yang saat itu berlari mengejarnya.


Dengan bantuan para ibu-ibu, Nayla pun digendong Yoga menuju mobil yang terparkir di garasi rumahnya.


Saat itu juga Nayla dilarikan kerumah sakit Yos Sudarso, tempat Yuda bertugas. Di sana Nayla dirawat diruang UGD. Yoga dan Andika pun menunggu diluar.


Kini malam semakin larut, angin rumah sakit tak cocok untuk kesehatan Andika, Yuda yang dihubungi tak mengangkat telfonnya.


“Ayolah! Angkat Yud, Angkat!” kata Yoga gelisah. "Gimana kau ini Yud, istri sedang kritis tapi kau nggak dirumah, ayo angkat Yud!”


Disaat Nayla kritis dr. Yuda memang sedang bertugas diluar, disebuah desa yang baru saja dilanda musibah berjangkitnya penyakit demam berdarah.


Desa itu terletak jauh dari keramaian, dr. Yuda sudah menolak untuk pergi kesana, mengingat Nayla sedang hamil.


Akan tetapi dokter kepala tetap saja memaksa. Dan kepergian Yuda juga telah mendapat izin dari Nayla, karena dengan kepergian Yuda, tentu dia bisa bertemu dengan Yoga sesering mungkin.

__ADS_1


Di desa itu tak ada sinyal dan tak ada alat komunikasi yang bisa digunakan. Dengan jiwa penolongnya dr. Yuda bekerja keras menyelamatkan para penduduk yang sedang diserang penyakit demam berdarah.


Banyak anak-anak dan orang tua meninggal disana, sungguh sangat memprihatinkan sekali desa itu. Disitulah dr.Yuda tampa mengenal lelah, bekerja tiada henti mengurus para pasiennya.


Dia berusaha menyelamatkan puluhan nyawa dalam beberapa hari. Walau terkadang hatinya terbagi dua, dengan istrinya yang sedang hamil, namun Yuda tetap berusaha fokus dalam tugasnya.


Dirumah sakit sudah hampir seminggu Nayla dirawat. Tubuhnya sangat lemah, ditengah malam Nayla sering mengigau menyebut nama Yuda suaminya. Tetapi setiap kali Yuda dihubungi jawabannya pasti sama .


Yoga semakin resah, diapun tak sabar menanti yang tak jelas. Dengan nekad ditinggalnya sendirian Nayla yang sedang koma, Yoga pun berangkat mencari keberadaan Yuda ditempat tugasnya.


Akan tetapi disaat dia hendak berangkat, Yoga minta petunjuk terlebih dahulu pada dr. kepala.


“Kenapa kau mencari Yuda kesana?”


“Bapak tau sendirikan, kalau istrinya sedang sakit keras?”


“Iya, saya tau, tapi Yuda itu sedang menjalankan tugas kemanusiaan.”


“Bapak nggak usah bicara banyak, sekarang beri taukan tempatnya, biar saya sendiri yang akan pergi kesana.”


“Tempatnya sangat jauh nak Yoga, di desa yang berada di pedalaman.”


“Kenapa Bapak perintahkan dia kesana sendirian?”


“Hanya Yuda yang sanggup menanggulangi masalah seberat itu.”


“Emangnya apa masalah yang sedang dihadapi oleh Desa itu?”


“Penyakit demam berdarah, udah puluhan yang meninggal di Desa itu.”


Mendengar penjelasan dari dokter kepala, Yoga tak dapat membantahnya, karena itu memang merupakan tugas seorang dokter, siap ditempatkan dimana saja dia dibutuhkan.


“Baiklah, sekarang Bapak hanya memberitahu saya tempat tugasnya, selebihnya biar saya yang akan meneruskan.”


“Dr. Yuda saat ini sedang bertugas di Desa Ciledug.”


“Desa Ciledug, bukankah untuk ke Desa itu, kita hanya bisa berjalan kaki?”


“Ya, untuk masuk ke Desa itu, kita butuh berjalan kaki selama dua jam.”


“Kalau begitu baiklah, saya akan kesana menemui Yuda.”


“Silahkan!” kata dokter kepala seraya tersenyum.


Benar saja, ternyata Yoga tidak main-main dengan ucapannya, hari itu juga dia langsung berangkat menemui Yuda, sepeda motor miliknya melaju dengan kecepatan tinggi.


Tiga jam perjalanan telah ditempuh dengan selamat dan tibalah Yoga diperbatasan Desa Ciledug

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2