
“Yud, kau nggak istirahat!” sapa Saiful seraya meraih pundak Yuda.
“Iya, sedikit lagi Pul.”
“Tapi kan bisa dilanjutkan nanti, Yud.”
“Nanti mungkin aku nggak masuk Pul,”
“Kenapa?"
“Aku ingin ke pangkalan kapal!”
“Ada urusan apa kau ke sana Yud?” tanya Saiful ingin tau.
“Aku ingin menghubungi Mama dan istriku, rasanya udah lebih dari sebulan aku nggak pernah kontak dengan mereka.”
“Aku juga Yud, aku begitu rindu dengan istri dan kedua anakku, entah sedang apa mereka disana, aku nggak tau.”
“Lagian menunggu disini juga nggak ada gunanya kan? lebih baik kita ke pangkalan aja, disana kita bisa dapatkan informasi walau nggak sepenuhnya.”
“Kau benar Yud, kalau begitu kita barengan aja ke sananya!”
“Kalau kita barengan kesana, lalu bagai mana dengan pasiennya Pul?”
“Iya juga ya.”
“Begini aja, biar hari ini aku yang berangkat, dan untuk besok kau pula yang berangkat. Gimana kau setuju?”
“Ok lah kalau begitu, aku setuju!” kata Saiful pada dr. Yuda.
“Tapi, besok mana ada perahu yang berangkat ke pangkalan Pul? hari ini rencananya aku numpang perahu yang angkut obat-obatan.”
“Ya udah, kalau gitu lain kali aja Yud.”
“Jadi, aku duluan yang berangkat kan, Pul?”
“Iya silahkan Yud, titip salam ama Mama mu.”
“Iya nanti kusampaikan.”
Yuda yang melihat semangat Saiful sedikit ciut, hatinya pun merasa tak tenang untuk pergi, akhirnya dibatalkan keinginannya untuk menelfon keluarganya.
Tampa sengaja siang itu Saiful melintas didepan tenda dr. Yuda, dia begitu heran saat dilihatnya ada Yuda sedang mengobati pasiennya.
“Lho, lho! kamu nggak jadi pergi Yud?” tanya Saiful heran.
__ADS_1
“Nggak Pul.”
“Kenapa?”
“Aku malas aja.”
“Kau bohong kan Yud, aku sangat mengerti sekali sifat mu, pasti kau merasa nggak enak pergi karena aku kan, Yud?”
“Nggak, bukan karena kamu Pul tapi karena aku nggak senang meninggalkan pasienku terlantar jika aku harus pergi nanti.”
“Kau bohong lagi kan, padahal ada aku disini. Selama inipun jika kau pergi, pasti kau titipkan pesan padaku, untuk mengurus pasien mu.”
“Aaah kau terlalu berlebihan kawan, jangan seperti itulah!”
“Maafkan aku ya Yud, karena sikapku tadi akhirnya kau pun nggak jadi menghubungi keluargamu.”
“Aduuuh! Santai bro, santai! kalau nanti pasien yang berobat sedikit, baru kita pergi bersama ke pangkalan kapal, gimana kau setuju kan?” bujuk dr. Yuda pada sahabatnya itu.
“Benar nih? jangan bohong ya?”
“Iya! Sejak kapan pula aku pernah bohong ama sahabat setia ku ini, haah! senyum doong, senyum!” rayu dr. Yuda seraya memegang pundak Saiful.
“Ok, kalau begitu aku setuju!”
“Nah gitu doong!”
Yuda ramah dan mudah senyum. Banyak para korban yang sembuh setelah ditanganinya, cara meramu obat pun Yuda sangat pandai sekali.
Tak pernah ada pasien yang mengeluh dan kecewa dengan pekerjaannya. Semuanya dikerjakan dengan begitu teliti dan hati-hati.
Disaat keseriusan menentukan tugas yang diemban Yuda. Dirumah Nayla begitu berharap akan kepulangan suaminya dari tugas. Namun hingga hari itu masih belum didapatnya kabar tentang keberadaan suaminya. Nayla udah berkali-kali mencoba menghubunginya namun tak juga dapat tersambung.
Seperti biasa, setiap pagi setelah selesai bangun tidur, Nayla langsung pergi kekamar mandi. Biasanya Yoga telah menyediakan air hangat untuk dirinya, tapi pagi itu belum ada.
“Bang belum ada air hangat untuk Nay?” tanya Nayla pada Yoga.
“O iya, ntar dulu Nay! ini baru Abang rebus kan, kau duduklah disana dulu, Abang akan menyiapkannya.
Mendengar perintah dari yoga, Nayla pun duduk menanti didekat meja makan. Lalu yoga datang dan memeluk tubuh Nayla dari belakang, hal itu membuat Nayla gelagapan.
“Ada apa ini Bang? kenapa kau memeluk Nay?” tanya Nayla heran.
Namun Yoga diam saja, tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya saat itu. Selain dari pandangan matanya yang begitu redup, tatapan mata yang berharap sesuatu permohonan. Hal itulah yang membuat Nayla tan berdaya.
Sentuhan demi sentuhan yang dilakukan Yoga padanya, tak kuasa untuk ditolak, berulang kali Yoga ******* bibir mungil perempuan cantik itu, berulang kali pula dia membalas.
__ADS_1
Pelukan Yoga yang sangat mesra dan lembut, membuat Nayla hanyut dibawanya. Bukan hanya selesai sampai disitu, Yoga bahkan membawa Nayla yang sudah pasrah itu menuju ranjang.
Diatas ranjang Nayla dibaringkan, sehelai demi sehelai pakaiannya terlepas. Tampak polos di bagian atas tubuh Nayla, tumpukan putih bersih yang berada di dada Nayla membuat Yoga tidak berdaya.
Namun sedikitpun Nayla tak ada melakukan penolakan, bahkan birahinya pun telah membuat nafasnya terasa sesak dan tersengal. Kemudian Yoga menyadarinya, dan hal itu tak jadi dilakukannya.
Yoga berusaha menutupi tubuh Nayla dengan kain seprai. Dan pergi meninggalkan Nayla yang terkapar tak berdaya.
Tapi bagi Nayla tak semudah itu untuk Yoga pergi meninggalkannya, ditariknya tangan Yoga kedalam dekapannya yang begitu hangat.
Bagai hendak menerkam, Nayla berusaha membuat Yoga melakukan apa yang semestinya tak dilakukan.
“Hentikan Nay! tak baik untuk diteruskan!” kata Yoga padanya.
Tapi Nayla tak menggubrisnya sama sekali, dia benar-benar telah jatuh tak berdaya, dengan semampunya Nayla terus merangsang tubuh Yoga, yang saat itu juga tak terkendali.
“Nggak Nay! hentikan itu, cukup, cukup! jangan kita lanjutkan sayang!”
“Kenapa Bang, bukankah ini yang kita inginkan selama ini? kenapa harus di hentikan?” tanya Nayla seraya meraih tangan Yoga.
Yoga diam saja, dia hanya menepis tangan Nayla dan pergi meninggalkan ruang kamar itu. Nayla yang tak tahan melihat Yoga pergi, dia pun menangis histeris, diluapkannya semua perasaannya itu diatas selimut.
Yoga yang menyaksikannya jadi serba salah, tapi dia tak melayani kehendak Nayla dan berlalu begitu saja.
“Bang, kumohon tolonglah,” pinta Nayla dari dalam kamar.
Namun Yoga terus saja pergi dan menutup pintu kamar, bukan hanya Nayla yang menahankan rasa sakit itu, Yoga bahkan harus menggigit bibirnya sendiri untuk menahan perasaan itu.
Sambil menyulut sebatang rokok, Yoga pun menyalakan televisi. Entah apa yang ada dibenaknya saat itu, tapi tampaknya Yoga sangat menderita.
Tak berapa lama kemudian Nayla pun muncul dan mematikan televisi tersebut.
“Ada apa Nay? kenapa kau kelihatan marah sekali.”
Mendengar kata-kata Yoga itu Nayla semakin marah, dia lalu mengambil bantal dan memukulkannya ke Yoga yang saat itu sedang merokok. Rokok pun terjatuh kelantai namun sedikitpun dia tak bergeming.
“Begini kah caramu memperlakukan Nay Bang?” tanya Nayla pada Yoga yang saat itu sedang diam.
“Abang rasa air mandi mu udah dingin Nay, mandilah! habis itu sarapan, nanti anakmu bangun,” jawab Yoga mengalihkan pertanyaan dari Nayla.
.
“Kenapa kau mengalihkan pembicaraan kita Bang?”
“Tak ada yang perlu kita lanjutkan Nay, pergilah!”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*