
Sementara itu, dr. Rangga yang masih berada di Ukraina, dia masih terjebak didalam banker yang dibuat oleh para penduduk yang berada disekitar tempat itu.
Sungguh nasib tragis yang dialami para relawan dan pasien Rangga. Mereka semua begitu sulit mendapatkan pasokan makanan dan obat-obatan.
karena dipermukaan tentara militer Rusia masih berjaga-jaga ditempat itu. Sudah seminggu lebih mereka kekurangan makan dan minum, bahkan ada yang lemas karena tak mendapat pasokan makanan.
Dr. Rangga dan para pasien lainnya, mencoba menggali tanah untuk membuat terowongan, agar mereka semua bisa keluar dari tempat itu.
Sudah empat hari lebih mereka menggali tempat itu, mereka bekerja siang dan malam tanpa henti, mereka bekerja bahu membahu, saling mendukung dan bekerja sama satu dengan yang lainnya.
Demi untuk mengisi kekosongan perut, mereka semua hanya meminum air bersih yang keluar dari sisi tanah liat. Malam itu tampak dr. Rangga menangis di kegelapan.
Seorang pasiennya memergoki dr.Rangga sedang menangis, dan dia bicara dengan Bahasa daerahnya.
Karena tak mengerti, dr. Rangga hanya menganggukkan kepala, tapi Pak tua yang berada bersamanya, mencoba untuk menjelaskan.
“Dia, bertanya kenapa dr. Rangga menangis?”
“Aku menangis, karena ulah diriku, kalian semua menderita begini.”
“Nak Rangga, tak bersalah sama sekali, tapi karena ingin menyelamatkan kami semua. Nak Rangga lah yang menderita.”
“Saya, nggak menderita Pak. Justru saya merasa senang bisa menyelamatkan kalian semua, hanya saja, kita tak punya apa-apa lagi untuk dimakan.”
“Nak Rangga, terowongan yang kita gali selama beberapa hari ini, jika tembus, kita sudah jauh dari tentara militer rusia itu.”
“Kok Bapak tau?”
“Ini wilayah Bapak, Nak Rangga! Bapak kenal betul tempat ini.”
“Iya, saya jadi lupa. Lalu kalau kita tembus dari tempat ini, kita berada dimana Pak?”
“Bapak sengaja mengarahkan terowongan ini, kesebuah super market yang ada di kota ini, jadi kita bisa memasok kebutuhan kita selama didalam.”
“Waaah! Ide Bapak ternyata hebat juga ya?”
“Untuk itu, nak Rangga nggak usah kuatir, dalam beberapa jam lagi terowongan ini, akan sampai ke super market itu.”
Mendengar penjelasan dari pak tua itu, dr. Rangga semakin bersemangat dan malam itu juga, dia kembali bekerja agar terowongan itu cepat siapnya.
Melihat semangat dr. Rangga menggebu-gebu, pak Tua itupun ikut membantu menggali terowongan itu.
Lalu satu persatu diantara mereka ikut membantu, dr. Rangga sengaja melakukan itu semua, agar mereka semua tak ada yang mati kelaparan.
__ADS_1
Karena bekerja berhari-hari tampa makan, tubuh dr. Rangga terasa begitu lemah, namun karena ingin menyelamatkan orang banyak, dia tak lagi menghiraukan kesehatannya.
“Istirahatlah dulu Nak?” kata Pak tua yang sedari tadi memperhatikan Rangga yang mulai melemah.”
“Tanggung, masih tinggal sedikit lagi.”
“Tapi, tubuhmu udah mulai melemah.”
“Aku masih kuat kok, biarlah aku tetap menggali, agar mereka semua dapat makan dan tidak kelaparan.”
“Nanti kalau Nak Rangga sakit, lalu siapa yang akan merawat kami semua.”
“Bapak, nggak usah cemas, kalau nanti aku sakit, maka Allah lah tempat kita berlindung.”
“Nak Rangga benar, tiada tempat yang lain untuk berlindung selain hanya kepadanya. Namun mesti demikian,Nak Rangga harus tetap sehat, karena kami semua butuh dokter yang berhati emas seperti mu.”
Mendengar kata-kata Pak tua itu, Rangga pun meneteskan air matanya, apa benar dia seorang dokter yang berhati emas. Dalam lamunannya itu, diapun teringat dengan orang tuanya. Yang selalu menantikan kabar tentang dirinya.
Lalu Pak tua itupun menepuk pundak Rangga. Seraya tersenyum lembut.
“Ayo kita lanjutkan lagi, Nak ! jika kamu merasa masih sanggup.”
“Baik, Pak,” jawab Rangga sembari terus menggali.
Lalu salah seorang diantara mereka berteriak dengan sangat kuat sekali.
“Hei, lihat! dibawah sana ada sungai yang mengalir!”
Mendengar teriakan anak itu, semuanya menoleh kebawah, benar saja. Dibawah terowongan yang sedang mereka gali, ada sungai yang mengalir sangat indah dan jernih.
“Ayo kita kesana!” ajak Rangga pada semua orang yang menggali terowongan itu.
Mendengar perintah dari dr. Rangga, lalu semuanya turun kebawah dengan cara melompat. Ternyata dibawah suasananya sangat sejuk dan luas, dari tempat itu pula, Pak tua itu bisa melihat areal tempat super market itu berdiri.
“Nak Rangga, ayo ikuti Bapak,” kata pak Tua itu bersemangat.
Dr. Rangga pun kemudian mengikutinya dari belakang, dan dengan mudah sekali Pak Tua itu masuk ke areal parkiran yang terletak dibawah tanah.
“Nah ini, area parkiran super marketnya Nak, karena lampunya mati, otomatis lift nya nggak berfungsi, kita akan naik lewat jalan manual aja.”
“Baik, Pak! ayo semua, kita akan ambil makanan apa saja yang bisa dimanfaatkan.”
Kemudian mereka semuanya berlarian menaiki anak tangga itu satu persatu. Setelah tiba dilantai pertama, mereka langsung mengambil makanan yang ada didalamnya.
__ADS_1
Beberapa karung telah mereka selamatkan dan diantar kedalam Banker, tempat mereka bersembunyi.
Super market yang besar dan mewah itu, kini hanya jadi puing-puing yang berserakan, karena dihantam oleh rudal pertempuran.
“Dr. Rangga, sampai kapan kita akan berada disini nak?” tanya Pak Tua itu ingin tau
“Sampai keadaan benar-benar aman untuk kita semua, baru kita keluar !”
“Kalau perang masih saja berkecamuk, kapan negara ini akan aman nak.”
“Entahlah Pak,” jawab dr. Rangga singkat.
"Tapi yang jelas, penderitaan kita selama berada didalam tempat ini telah terbalas, biarlah kita disini dulu, sampai suasana benar-benar sedikit aman.”
“Baiklah, Nak.”
Sore itu, disaat semuanya sedang beristirahat, dr. Rangga mengajak Pak tua ke super market berduaan.
“Ngapain kita kesana, nak?” tanya pak Tua ingin tau.
“Ada yang perlu aku cari, Pak!"
“Mau cari apa?”
“Bapak ikut saja, nanti Bapak pasti tau apa yang sedang aku cari itu.”
“Baiklah,” tampa banyak bertanya, Pak Tua itupun mengikuti dr. Rangga dari belakang.
Setelah memasuki area super market, dr. Rangga ternyata mencari jaringan. Dia ingin melaporkan keberadaannya pada kedutaan Indonesia yang bertugas di Ukraina.
Benar saja laporan dr. Rangga langsung ditanggapi kedutaan Indonesia, dan mereka berjanji akan segera menjemput Rangga dan beberapa orang pasiennya.
Hati Rangga menjadi senang, malam itu Dia bisa tidur dengan nyenyak dan tenang.
Benar saja sehari setelah laporan itu sampai ke kedutaan Indonesia, keesokan harinya, tim bantuan langsung datang, mereka datang secara damai dengan tujuan ingin melepaskan para relawan dan rakyat sipil yang terjebak.
Bersama kedutaan Indonesia, hadir juga disana beberapa orang petinggi Ukraina dan Rusia.
Dengan bekerja sama dua puluh tiga orang yang terjebak pun dapat diselamatkan.
Kini dr. Rangga dapat menarik nafas lega, semangatnya yang hampir hilang karena terjebak dalam area musuh, kini telah muncul kembali.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*