
“Emangnya Pak Yoga punya urusan penting apa Tia?” tanya Yola penasaran
“Kamu ini Yol, kepo aja dengan urusan orang,” ujar Mutia.
“Kan kamu tau sendiri Tia, kalau itu udah menjadi prinsip Yola seumur hidupnya.”
“Widhi udah kompak kalian ya, mau nyudutin gue.”
“Hee! perasaan.”
“Maaf, aku nggak bisa menjelaskannya pada kalian saat ini, tapi suatu saat nanti kalian pasti tau sendiri kebenaranya.”
“Kalau begitu hubungi aja lewat telfon!”
“Nggak Mir, Pak Yoga nggak mau dihubungi lewat telfon.”
“Aneh dong, kalau begitu Pak Yoga, pasti berselingkuh dengan wanita lain.”
“Entahlah Mir, aku sendiri nggak tau.”
“Pasti ada apa-apanya itu Tia.”
“Ah udahlah Mir, aku lagi nggak kepingin berurusan dengannya.”
“Ini masaalah serius Tia, kita hanya sekedar memastikannya saja, apa benar Pak Yoga itu nggak berselingkuh dengan wanita lain.”
“Kalau soal perselingkuhan, itu urusan dia Mir, aku nggak mau ikut campur.”
“Aduh Tia, masa kekasih selingkuh kau bilang itu urusannya, ya nggak bisa gitu dong! itu namanya penghianatan Tia. Dan laki-laki peselingkuh itu nggak bisa dijadikan imam yang baik untuk keluarga.”
“Aah, udahlah! aku nggak mau berdebat lagi, capek tauu!"
“Hei Tia, kamu tau nggak selingkuh itu apa?”
“Tau, tau!”
“Hei Tia! Selingkuh itu, berarti Pak Yoga mencumbu wanita lain, tapi bukan dirimu, aduh kasihan banget.”
“Aaah! Mulai deeeh.”
“Nggak, nggak, bercanda kaliiii!” ledek Mira.
“Huuuuh! dasar lemah!” gerutu Yola.
Mendengar dari tanggapan Yola dan Mira, Mutia pun merenung didalam kelas, hatinya mengakui kebenaran dari ucapan kedua sahabatnya itu.
“Kalau nggak boleh dihubungi lewat telfon, pasti ada sesuatu yang dirahasiakan Pak Yoga dariku,” katanya pada diri sendiri.
Merasa penasaran, lalu Mutia memberanikan diri menghubungi Yoga lewat telfon genggamnya. Satu persatu nomor yang akan ditujunya di ketik dengan pelan, kemudian terhubung. "Masuk” kata Mutia pelan, saat nomor yang ditujunya langsung nyambung.
“Hallo, assalamu’alaikum! dengan siapa ini?” tanya wanita yang mengangkat ponsel Yoga.
Mendengar suara wanita itu, Mutia yakin kalau itu suara Nayla, lalu Mutia tak kehilangan akal, diambilnya sapu tangan dan ditutupnya gagang telfon itu, sehingga suara Mutia terdengar besar.
“Hallo, dengan siapa ini?”
“Saya Nayla! Ada keperluan apa ya, menelfon?"
“Bukankah ini nomor Yoga?”
“Benar, ada keperluan apa dengan Yoga?”
“Apa saya bisa bicara dengan Yoga?"
"Tunggu sebentar, akan saya panggilkan." jawab Nayla seraya mencoba untuk menghampiri Yoga.
“Bang ada telfon untukmu!” kata Nayla.
“Dari siapa sayang?”
__ADS_1
“Nggak tau tuh, katanya dia pingin bicara dengan Yoga.”
“Ooo terima kasih,” jawab Yoga seraya mengambil hemfon itu dari genggaman tangan Nayla
“Hallo! Yoga disini! hallo, hallo! Nay, kok nggak ada orangnya?”
“Tadi ada kok, diputus barang kali!” jawab Nayla dari kejauhan.
“Yang nelpon laki-laki atau perempuan?”
“Laki-laki kayaknya,” jawab Nayla menyakini Yoga.
Mendengar percakapan mereka berdua, Mutia jadi gemetar ketakutan, ditaruhnya telfon itu didalam tasnya. Dan diapun berlari keluar, tapi hatinya tak tenang, dengan apa yang baru dia lakukan pada yoga dan Nayla. lalu Mutia pergi menemui Mira dan meminjam hemfonnya.
“Untuk apa Tia?”
“Ada perlu!”
Setelah ponsel itu, diberikan Mira padanya, lalu Mutia pun menghubungi yoga, dan masih hal yang sama, yang mengangkat ponsel itu tetap saja Nayla.
“Hallo, dengan siapa ini?” tanya Nayla.
“Assalamualaikum, ini Mutia, Kak!”
“Ooo, Mutia! kamu ingin bicara dengan Yoga?”
“Iya, apa Bang Yoga nya ada, Kak?”
“Bang Yoga, kata Mu?”
“Iya, Bang Yoga.”
“Baiklah akan kakak panggilkan sebentar.”
“Terimakasih.”
“Iya Kak, kami udah lama pacaran.”
“udah berapa lama?”
“Udah lebih satu tahun ini, ya semenjak Bang Yoga mengajar di SMA pembina bangsa,” jawab Mutia dengan akrabnya.
Mendengar penjelasan dari Mutia, jantung Nayla terasa berhenti berdetak, tubuhnya lemah seketika. Nayla langsung berlari menuju kamarnya. Ponsel yang berada di genggamannya dibiarkan terjatuh dilantai.
Sementara itu, Mutia yang tak lagi mendengar suara Nayla terus saja memanggil-manggil. Saat itu, tiba-tiba saja Yoga muncul dan mengangkat telfon itu.
“Hallo! dengan siapa ini?”
“Bang Yoga, ini aku Mutia.”
Mendengar Mutia menyebut Namanya, Yoga langsung panik, dan berusaha membawa ponsel itu keluar dari rumah.
“Mutia? ada apa, kenapa menelfon Abang?"
“Kenapa Abang nggak datang? acara perpisahannya dilaksanakan besok loh!”
“Abang tau Tia, tapi urusan disini belum selesai.”
“Urusan apa, urusan dengan Nayla yang belum selesai.”
“Apa maksudmu Tia?”
“Tadi kak Nayla yang ngangkat telfonnya.”
“Lalu dia bilang apa?”
“Kak Nayla Cuma nanya, apa benar aku ini kekasihnya Yoga, jadi kubilang aja iya!”
“Apa!”
__ADS_1
“Kenapa kaget? apa ada masaalah dengan ucapan ku tadi?”
“Nggak-nggak! ya udah, Abang besok akan kesana.”
“Abang janjikan?”
“Iya, Abang janji.”
Yoga pun segera mengakhiri percakapannya dengan Mutia, setelah ponsel itu dimatikan, Yoga langsung berlari menuju kamar Nayla. Tapi alangkah terkejutnya Yoga saat dilihatnya Andika menangis disamping Nayla.
Yoga langsung saja masuk tampa harus mengetuk pintu dulu. Dilihatnya wajah Nayla sangat pucat sekali, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Padahal waktu itu tubuhnya terasa begitu panas tapi dia menggigil kedinginan.
Sepertinya Nayla setengah sadar, Yoga pun berusaha menenangkan Andika terlebih dahulu. Baru kemudian Yoga menghubungi Yuda.
“Hai yog, ada apa?”
“Lagi dimana kau sekarang Yud? istrimu sedang demam tinggi!”
“Mulai sejak kapan Yog?”
“Entahlah Yud, aku pun baru tau saat Andika menangis.”
“Andika di mana sekarang?”
“Dia udah ku tidurkan.”
“Aduh Yog, lagi-lagi aku butuh bantuan dari mu, tadinya aku mau menghubungimu tapi belum sempat, saat ini aku sedang berada di kota pariangan, ada seminar selama dua hari disini.”
“Aduh! kok perginya nggak ngomong, Yud?”
“Iya, aku minta maaf, rencananya aku akan menelfon kalian sebentar lagi.”
“Jadi gimana ini Yud, aku nggak tau harus gimana?”
“Coba kau berikan obat penurun panas dan kompres keningnya.”
“Aduh Yud, masa aku lagi yang melakukannya?”
“Tolong dong! untuk kali ini aja, besok pagi akan ku usahakan pulang.”
“Apa, besok pagi kau bilang? kenapa nggak malam ini aja Yud? kau kan tau, kalau istrimu itu baru sembuh dari sakitnya. Nanti kalau aku salah ngasih obat gimana, fatalkan akibatnya?”
“Udahlah Yog, jangan kayak anak-anak gitulah!”
“Iya, iya!” jawab Yoga sedikit kesal.
Sambil menarik nafas Panjang, Yoga pun memperhatikan Nayla dalam-dalam. Hatinya begitu sedih saat melihat Nayla menggigil kedinginan. Berbagai macam cara dilakukan Yoga agar panas ditubuh Nayla turun.
Setelah beberapa jam dilakukannya, namun panas tubuh Nayla tak juga turun. Yoga akhirnya mengambil kesimpulan dan membawa Nayla kerumah sakit.
Walau mendapatkan perawatan yang intensif, namun hingga pagi demam yang menyerang tubuh Nayla tak juga kunjung reda.
Sekitar jam delapan pagi, Yuda datang menemui Yoga dirumah sakit untuk memastikan keadaan Nayla. Yuda tampak berjalan begitu terburu-buru.
“Gimana keadaan Nayla Yog?”
“Belum sadar Yud.”
“Apa kata dokter Yog?
“Dokter nggak bicara apa-apa, sebaiknya kau temui aja sendiri, siapa tau ada informasi yang akan dibahasnya denganmu.”
“Baiklah Yog, kalau begitu aku menemui dokternya dulu.”
“Ya,” jawab Yoga singkat.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1