Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 16 Kembali ketengah keluarga


__ADS_3

Di rumah itu semua sudah lengkap dengan fasilitasnya, Yoga hanya tinggal menepatinya saja. Di atas ranjang yang terbuat dari besi, Yoga mencoba membaringkan tubuhnya sejenak, menghilangkan rasa penat sehabis perjalanan jauh, serta memulihkan kondisi fisiknya.


Keesokan harinya barulah Yoga memulai membuka lembaran baru dalam hidupnya. Pagi itu, Yoga hendak memulai belajar tatap muka dengan siswa siswi pembina bangsa, dengan langkah tenang Yoga memasuki gerbang sekolah.


Seluruh mata menatap tajam kearahnya, banyak para murid yang bertanya-tanya, tentang sosok pria tampan yang melangkah tegap didepan mereka semua.


Ada yang berbisik, ada yang tersenyum ada pula yang memuji ketampanan rupa Yoga bahkan ada yang salah tingkah saat melihat Yoga menghampirinya.


“Pagi Pak ganteng!” sapa Nuri sembari berpura- pura pusing agar mendapat perhatian khusus dari Yoga.


“Pagi!” jawab Yoga seraya mengangkat tangan kanannya.


Menyaksikan hal itu, seluruh siswa tertawa terpingkal-pingkal, mereka merasa aneh melihat Yoga mengangkat tangannya saat disapa Nuri, mendengar suara gaduh diluar Bu Fatimah pun keluar.


“Ada apa? kenapa pada ribut?”


“Itu Buk ada guru baru dia sangat lucu!”


“Lucu apanya, ayo bubar!” perintah Bu Fatimah. ”Maafkan para anak-anak itu pak, mereka nggak tau apa-apa.”


“Nggak apa Bu, mungkin mereka belum terbiasa dengan kehadiran saya disini.”


“Bapak pengganti Pak Handoko, bukan?”


“Iya benar Bu. Kenalkan saya Yoga,” kata Yoga seraya mengulurkan tangannya.


Uluran tangan Yoga disambut oleh Bu Fatimah dengan ikut memperkenalkan dirinya kepada Yoga.


“Kalau begitu mari masuk!”


“Baik Bu,” jawab Yoga sembari mengiringi Bu Fatimah dari belakang.


“Silahkan duduk, tunggu disini sebentar, saya akan panggilkan kepala sekolah dulu.”


“Baik Bu terimakasih,” jawab Yoga sembari duduk di kursi yang telah disediakan Bu Fatimah.


Sesaat kemudian datanglah seorang guru perempuan menegurnya.


“Pak Yoga ya?”


“Benar, saya Bu.”


“Mari saya tunjukan meja Bapak!”


“Ooo, baiklah.”


Yoga pun mengikuti perempuan itu dari belakang.


“Nah ini meja Bapak, tempat guru olah raga sebelumnya.”

__ADS_1


“Baik Bu, terimakasih."


Sambil menunggu kepala sekolah datang, Yoga pun mencari kesibukan dengan membolak balik buku penjas yang ada diatas mejanya.


Tak berapa lama kemudian kepsek pun datang menghampiri Yoga.


“Yoga, sekarang kau ikut Bapak!”


“Baik Pak.”


Lonceng pun kemudian dibunyikan, seluruh siswa berkumpul secara teratur, setelah merasa semuanya siap, kepsek pun mulai berbicara dengan suara lantang.


Dalam instruksi nya, kepsek memberi sedikit pencerahan dan beberapa kata nasehat, serta di penghujung pidatonya kepsek memperkenalkan Yoga kepada seluruh siswa siswi pembina bangsa.


“Yang berdiri di samping Bapak ini adalah, guru olah raga kalian yang baru, Bapak ini adalah pengganti dari pada Pak Handoko yang sudah pindah tugas. Bapak ini bernama Yoga atau Ir. Prayoga. Kalau kalian semua ada urusan tentang olah raga maka berurusan lah dengan Pak Yoga. Apa kalian mengerti?”


“Mengerti!” jawab seluruh siswa serentak.


“Nah Yoga, sekarang kamu udah bisa mengajar, jadwal kelas yang akan kau ajar ada di dinding ruangan mu.”


“Baik Pak, terimakasih,” jawab Yoga tersenyum.


Dan mulai hari itu, Yoga resmi mengajar di sekolah pembina bangsa.


Sementara dirumah, Nayla selalu menunggu akan kepulangan Yoga, yang berjanji hanya pergi satu hari saja, namun telah lebih satu minggu belum juga kembali.


Hati Nayla begitu resah dan gelisah, ingin rasanya dia pergi menyusul ketempat Yoga bertugas, tapi dia merasa takut, kalau-kalau Yuda akan pulang.


Namun tiba-tiba saja siang itu Yuda datang, Nayla sangat berharap sekali yang datang itu Yoga, tapi ternyata yang datang itu justru Yuda suaminya.


“Bang Yuda!”


“Iya Nay, Abang udah pulang.”


“Oh, kenapa lama sekali pulang, Nay begitu rindu sekali,” kata Nayla seraya memeluk suaminya.


“Abang juga Nay," jawab Yuda seraya mengecup kening Nayla.


Mendapat Kan perhatian khusus dari suaminya, Nayla pun mulai bermanja.


" Mana Yoga? kenapa dia nggak keliatan.”


“Bang Yoga udah pergi seminggu yang lalu.”


“Pulang kerumah Mama, maksud mu?”


“Bukan Bang, katanya lamaran kerjanya diterima, makanya dia pergi untuk memastikan apa benar adanya.”


“Oh syukurlah, mudah-mudahan Yoga memang sudah dapat pekerjaan, kasihan dia sudah lama menganggur. Gimana kabar mu dan anak kita Nay?”

__ADS_1


“Kami baik-baik aja Bang, sikecil ada di kamarnya sedang tidur.”


“O ya!” ujar Yuda seraya bergegas menuju kamarnya.


Tampa ragu-ragu lagi langsung saja Yuda menggendong bayi itu dan menciumnya.


”Oh sayang, Papa begitu merindukanmu nak, Papa kangen sekali padamu,” lanjut Yuda dengan linangan air mata.


Sementara Nayla yang menyaksikan suaminya meneteskan air mata kerinduan, dia pun ikut meneteskan air mata, rasa haru itu tak dapat dibendung begitu lama.


Dipandanginya wajah istri dan anaknya berulang-ulang kali, tak ingin lagi rasanya berpisah selama-lamanya. Mereka bertiga pun akhirnya hanyut dalam kerinduan mereka masing-masing.


Saat malam tiba, mereka berdua pun duduk didepan televisi, tampak sikecil sedang asik menikmati kebahagian kedua orang tuanya.


Sesekali tampak kelucuan menghiasi raut wajahnya yang polos dan lucu itu. Yuda dan Nayla ikut tersenyum menyaksikannya.


Malam itu suasana sangat begitu indah, didalam pelukan Yuda, Nayla tampak bermanja-manja, jiwanya yang sudah lama merasa kesepian, kini tampak terisi kembali setelah kepulangan suami tercintanya.


Dengan ramah dan lembut, Nayla melayani suaminya dengan baik, hatinya yang telah tersiksa selama ini oleh karena perbuatan Yoga, malam itu terasa sedikit terobati.


“Gimana pekerjaanmu selama jadi relawan Bang?”


“Semua baik-baik saja kok Nay. Tak ada yang perlu dikuatirkan.”


“Apa kau rindu pada kami?”


“Kenapa kau bertanya seperti itu Nay?" tanya Yuda heran.


“Siapa tau, karena sibuk mengurus pasien sehingga kau lupa pada kami disini.”


“Nay, Nay! pertanyaan mu itu, tak pantas untuk istri seorang dokter.”


“Kenapa emangnya, apa ada yang salah?” tanya Nayla seraya mengernyitkan dahinya.


“Nggak, sebenarnya Abang pulang, semua itu karena permohonan Abang pada pimpinan. Sedangkan teman-teman yang lain masih berada disana.”


“Ooo, begitu ya!”


“Tentu sayang. Karena semenjak Nay melahirkan sampai saat sekarang ini, Abang belum sempat menemani kalian, jadi Abang mengajukan permohonan agar diizinkan pulang cepat, alhamdulillah, permohonan Abang ternyata dikabulkan. Nay tau kenapa?”


“Nggak!” jawab Nayla tak mengerti.


“Itu semua, karena Abang rindu pada Nay dan sikecil putra kita.”


Nayla yang merasa mendapat perhatian dari suaminya, wajahnya tampak memerah, gurauan-gurauan mesra terlihat terukir indah di senyumannya yang manis. Seperti biasa Nayla begitu manja sekali dihadapan Yuda.


Sementara itu ditempat yoga berada, hatinya begitu terisi oleh banyaknya siswa siswi yang selalu mengelilinginya. Mutia khususnya, gadis cantik yang masih duduk dikelas satu itu, telah membuat hati Yoga tak berdaya, Mutia selalu membuat perhatian Yoga tertuju padanya.


Tak khayal semenjak kehadiran Mutia disisinya, Yoga tak lagi pernah mengingat Nayla yang selalu merindukannya.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2