
“Terimakasih nak Yoga, kamu telah membantu kami dalam merawat Mutia selama ini.”
“Sama-sama Pa, ini juga merupakan kebanggaan untuk ku, karena telah diizinkan merawat Mutia selama ini. sebab aku juga andil dalam menyebabkan Mutia celaka.”
“Kamu memang pandai bicara nak, sekali lagi kami sekeluarga mengucapkan terimakasih banyak pada mu.”
Merasa tersanjung dengan ucapan terimakasih dari kedua orang tua Mutia, hati Yoga merasa senang, karena selama ini dia telah dipercaya menjadi orang nomor satu di keluarga terpandang itu. Sembari melirik kearah Mutia Yoga pun tersenyum dengan manis.
Merasa telah ada orang yang dapat menjaga Mutia, siang itu Yoga mohon diri untuk kembali kesekolah .
“Kapan cuti mu habis nak?” tanya Pak Ramon pada Yoga.
“Dua hari lagi Pa.”
“Nanti setelah Mutia pulang kerumah, Papa dan Mama mau mengundangmu makan malam dirumah.”
“O terimakasih, Insya Allah aku akan datang.”
“Baiklah, silahkan kamu pergi, hati-hati dijalan,” kata Pak Ramon.”
“Baik, Pa.”
“Jangan ngebut,” kata Mutia menyempatkan diri bicara disaat itu.
“Iya, sayang,” jawab Yoga seraya mengambil tas yang ada di atas meja.
Melihat Yoga keluar dari ruang rumah sakit membawa tas, Fatimah langsung mengejarnya.
“Bang Yoga mau kemana?”
“Abang mau kerja sayang.”
“Lalu gimana dengan kak Mutia?”
“Kak Mutia kan udah sembuh, sebentar lagi dia udah diizinkan pulang oleh dokter.”
“Benar Bang?” tanya Rika tak percaya.
“Iya, Rika! sebentar lagi kakak kalian akan segera pulang kerumah.Kalian bisa berkumpul kembali bersamanya. Tapi ingat, kalian jaga kakak baik-baik biar dia nggak sakit lagi.”
“Ok, Bang!” jawab Rika.
“Nah sekarang Abang pergi dulu, ada urusan lain yang mau Abang kerjakan.”
“Ya, baiklah.”
“Jaga diri kalian baik-baik ya!”
“Iya, Bang,” jawab anak-anak itu serentak.
Merasa tenang, Yoga pun kembali kerumah dinasnya, karena rasa letih sedang mendera tubuhnya, Yoga langsung saja tertidur diatas ranjang. Hingga malam tiba Yoga belum juga terbangun.
Dion yang melihat rumah Yoga terbuka lebar diapun merasa curiga, lalu Dion menghubungi sekuriti perumahan itu, dan mengabari perihal rumah Yoga padanya.
“Benar, kamu melihat rumah Yoga, terbuka pintunya?”
__ADS_1
“Benar Dung, masa aku bohong, kalau kamu nggak percaya, ayo kita lihat sekarang juga.”
“Benar ya, kalau nggak awas kamu nanti.”
“Aaah, masa Sekuriti ngomongnya nakuti gitu!”
“Habis ! kamu gangguin aku tidur.”
“Lho, loh! kok aku yang disalahin sih, kan emang itu tugasnya sekuriti, menangkap maling yang berkeliaran dirumah warga.”
“Udah-udah, kalau kamu ngomel terus, ntar malingnya malah kabur lagi,” jawab Dudung, sembari mengambil senter dan pentungannya.
“Bilang! kalau udah bosan jadi sekuriti, biar aku yang gantiin nanti.”
“Ndas mu iku, kalau kamu yang gantikan saya, lalu gimana dengan tugasmu sebagai guru?”
kata Dudung dengan logat jawanya yang begitu kental.
“Kan kita rocker, kamu yang jadi guru, aku yang jadi Sekuriti.”
“Ooo alah, Dion, Dion. Kamu kira enak jadi sekuriti itu, tugas sekuriti itu sangat berat
Bung, bekerja dibawah penderitaan rakyat.”
“Maksudnya apa sih, Bekerja dibawah penderitaan rakyat.”
“Ya jelaslah, aku bekerja dibawah penderitaan rakyat.”
“Iya aku tau, tapi yang bekerja dibawah penderitaan rakyat itu aku kagak ngerti.”
“Ooo gitu ya, ya gitulah!” kata Dion seraya memukul kepala Dudung.
“Adaww! sakit tau, kata Dudung sembari mengusap-usap kepalanya, yang terasa sakit itu.
“Ssssst, jangan ribut, kita udah nyampe dirumahnya Yoga.”
“Yang ribut itu kamu, Dion. Karena kamu udah memukul kepalaku.”
“Sssst, udah-udah! kamu ini mau nangkap maling atau ribut sih.”
“Kamu kok semangat gitu sih, Dion? yang jadi sekuriti itu kan aku, kok malah kamu yang jadi meradang.”
“Sssst, kamu ini kok ribut aja sih, ntar kalau kamu masih ngomong, ku pukuli pakai pentung ini baru tau rasa,” kata Dion seraya merebut pentungan dari tangannya Dudung dan mengayunkannya ke kepalanya.
Melihat tingkah laku Dion yang sedikit kocak itu, Dudung hanya bisa geleng-geleng kepala. Dan dengan langkah hati-hati dan penuh waspada, Dudung bersama Dion bejalan pelan menuju rumah dinas Yoga.
Setelah mendekati pintu rumah Yoga, Dion langsung mengetuknya sembari memberi salam.
Melihat Dion mengetuk pintu dan memberi salam, Dudung langsung tertawa terpingkal-pingkal, karena tak tahan melihat Dudung tertawa, Dion pun ikut tertawa hingga tubuhnya tersandar kedinding rumah Yoga.
“Heh Dion, kamu itu mau nangkap maling atau mau bertamu sih?”
Mendengar pertanyaan Dudung itu, Dion pun langsung tertawa. Karena tak tahan dengan hal kocak itu, mereka berdua akhirnya menjauhi rumah Yoga dan keduanya tertawa sepuas-puasnya.
“Ada yang lucu rupanya?” tanya Dion tak mengerti.
__ADS_1
“Hah, kacau, kacau! kalau orang seperti mu yang jadi sekuriti, maka maling pun jadi tertawa geli melihat mu.”
“Apanya yang lucu sih, Dung.”
“Heh Dion! kamu itu mau nangkap maling atau mau bertamu sih?”
“Ya nangkap malinglah!”
“Kalau mau menangkap maling? ya nggak usah ngucapin salam Bro!”
“kalau nanti kau mengucapkan salam, lalu malingnya menjawab, Wa’alaikum salam. Silahkan masuk pak! lalu siapa yang akan kau tangkap nantinya.”
“Ya baguslah, kan kita tinggal nangkapnya, dan nggak usah mengejarnya kemana-mana lagi, tinggal ciduk, ”Prak” langsung pasang borgol, selesaikan.”
“Iya, juga sih! ide yang sangat jitu.”
“Gimana, sesuaikan dengan ide ku?” tanya Dion yang berlagak puas dengan ide konyol nya itu.
“kalau gitu, ayo kita gebrak rumah Yoga.”
“Ayo!”
Lalu mereka berdua langsung, berlari menuju rumah Yoga, setibanya didepan pintu rumah Yoga, Dudung langsung mengucapkan salam, tampa dia sangka sama sekali Yoga pun menjawab salam mereka berdua dengan suara serak.
Hal itu membuat Dion dan Dudung tak mengenali suara itu sama sekali. Dan dengan siaga mereka berduapun berjalan mengendap-endap dibalik dinding.
“Siapa diluar?” tanya Yoga yang berusaha bangkit dengan bermalas-malasan.
“Siapa didalam?” ujar Dudung balik bertanya.
Mendengar seseorang mempertanyakan dirinya, Yoga langsung keluar dari kamarnya, saat itu juga pentungan yang ada ditangan Dion langsung dipukulkan ke kepala Yoga.
“Aduuh!”
“Haaaa! ayo, kena juga akhirnya,” teriak Dudung seraya menutupkan kain sarung itu ketubuh Yoga.
"Hei, hei! apa-apaan ini, ini aku Yoga!”
Mendengar orang yang disekap menyebutkan Namanya, mereka berduapun saling bertatap pandang, seakan-akan mereka salah dalam menangkap orang.
Kemudian Dudung dan Dion langsung membuka kain sarung yang menutupi wajah Yoga, benar saja kalau mereka berdua telah salah menangkap orang.
“Maaf Yog, ternyata kamu, tadi kami mengira, kalau yang ada didalam rumahmu itu adalah maling. Makanya aku memanggil orang paling terbodoh di komplek ini, untuk memeriksa.”
“Apa? kamu ngatain aku orang paling terbodoh! huuuh dasar kepalamu peang!”
“Udah, udah! kalian ini, Sukanya cari ribut melulu. Nih lihat ulah kalian berdua, kepalaku jadi berdarah, sana! cepat carikan obat,” bentak Yoga, seraya menutupi kepalanya yang berdarah dengan tangan.
“Maafkan kami ya Yog, kami nggak sengaja, telah membuat kepalamu robek.”
“Iya, iya! aku udah maafin kalian kok. Sini mana obatnya,” tanya Yoga pada Dion.
“Ini obatnya Yog,” jawab Dion seraya menyerahkan obat itu ke tangan Yoga.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*