Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 33 Tamasya Yang gagal


__ADS_3

Lalu cincin berlian itu dipasangkan dijari Mutia, sehingga gadis cantik itu tampak semakin mengeluarkan aura kelembutannya.


“Sungguh sangat cantik sekali!” puji Yoga pada Mutia.


Mendengar pujian dari Yoga, Mutia tampak tersenyum malu,lesung di kedua pipinya terlihat semakin mencekam.


Tak henti-hentinya kata pujian dilontarkan Yoga padanya, untuk melengkapi ungkapan hatinya yang paling dalam. Hingga petang menjelang, mereka berdua masih menikmati suasana alam yang begitu indah.


Disaat itu Yoga teringat dengan saudara kembarnya, sejak berpisah diwaktu itu, dia belum pernah memberikan kabar pada Yoga dan Mamanya.


Belum sempat telfon itu disentuhnya, seseorang telah menelponnya terlebih dahulu, lalu Yoga merogoh kantong celananya, dan mengambil handphone yang sedang berdering.


Saat dilihatnya, ada nama Yuda, didaftar panggilan dan Yoga langsung mengangkatnya.


“Hai! pucuk dicinta ulam pun tiba,” kata Yoga menyambutnya dengan pepatah minang.


“Assalamu’alaikum,” sapa Yuda dari tempat yang sangat jauh.


“Wa’alaikum salam,” jawab Yoga, seraya tersenyum manis.


“Heh! lagi dimana kamu Yog?” tanya Yuda ingin tau.


“Ada, lagi bersama Mutia,” jawab Yoga tampa berbasa-basi.


“Wah, asik dong!”


“Emangnya kamu lagi dimana sekarang Yud?”


“Kami lagi liburan.”


“Apa! liburan. Dimana?” tanya Yoga ingin tau.


“Kami pergi ke Pasaman, ada teman Nayla disini. Ini kami baru nyampe dirumahnya.”


“Ooo, enak dong! kok perginya nggak ngajak-ngajak.”


“Gimana mau ngajak Yog, lagian kamu kan udah kerja sekarang.”


“Iya juga sih! tapi aku kan bisa cuti."


“Baiklah, kalau begitu lain kali aja, kami akan ajak kamu bertamasya bersama.”


“Pasti menyenangkan,” jawab Yoga dengan senyumannya yang manis.


Saat sedang bercerita dengan Yoga, Nayla kemudian datang. Dan dia duduk disamping Yuda.


“Bicara dengan siapa, Bang?” tanya Nayla ingin tau.


“Dengan Yoga!” jawab Yuda datar.


Nayla yang saat itu sedang makan roti, langsung saja tersedak, disaat nama Yoga disebut. Dan Nayla pun terbatuk-batuk.


“Hati-hati sayang!” kata Yuda seraya menepuk pundak Nayla.


“Siapa Yud?” tanya Yoga ingin tau.


“Nayla!” jawab Yuda dengan pelan.

__ADS_1


Mendengar nama Nayla disebut, Mutia yang sedang asik menikmati nuansa senja, samar-samar mendengar nama itu.


“Ngomong sama siapa, Bang?” tanya Mutia ingin tau.


“Dengan Yuda.”


“Ooo! tapi tadi aku dengar, ada yang menyebut nama Nayla.”


“Iya, dia terbatuk-batuk disana.”


“Ya jelaslah! Orang nama kekasihnya disebutin!”


“Ssssst! Kamu ini bicara apa, sih?”


“Thu, buktinya,” jawab Mutia sedikit kesal.


“Jangan asal bicara napa sih?” bentak Yoga.


“Mendengar Yoga marah, Mutia langsung merebut telpon genggam itu dari tangan Yoga.


“Om, om! kak Nayla nya ada?”


“Ada, nih, lagi duduk disamping, Om!” jawab Yuda.


” Kenap? kamu udah kangen dengar suaranya ya?”


“Iya sih! Boleh nggak kami ngobrol Om.”


“Ooo, Boleh, ini kak Nayla nya.”


“Makasih Om,”


“Siapa sih Bang yang ingin ngomong?” tanya Nayla ingin tau.


“Tu, Mutia kekasihnya Yoga,” jawab Yuda dengan suara datar.


Mendengar nama Mutia disebut, hati Nayla semakin sakit rasanya, apa lagi saat Yuda mengatakan kalau Mutia itu kekasihnya Yoga, hati Nayla bertambah hancur rasanya.


Akan tetapi, walau hati Nayla terasa begitu sakit, tentu dia tak memperlihatkannya pada Yuda, dengan perlahan diambilnya telpon genggam itu dari tangan suaminya.


“Hallo!”


“Hai kak Nayla, lagi ngapain, kakak baik-baik aja kan?” tanya Mutia dengan wajah ceria.


“Kakak, baik-baik aja kok,” jawab Nayla dengan perasaan sakit.


“O iya, Kak! saat ini kami lagi refreshing bersama Yoga, kami makan berduaan disini,” kata Mutia, sengaja untuk memanas-manasi Nayla.


“O ya! bagus itu,” jawab Nayla dengan suara ketus.


“Yoga, juga memberi Aku cincin berlian yang sangat indah sekali dan langsung dipasangkan ketangan ku.”


Mendengar Mutia membeberkan semua pertemuan dan hubungan mereka berdua, Yoga berusaha untuk merebut telfon genggam itu dari tangan Mutia, akan tetapi dengan sigap Mutia mengelak.


Yoga begitu kesal sekali dengan sikap Mutia yang tak bisa menahan diri. Lalu dengan marah, Yoga langsung pergi seraya menggaruk-garuk kepalanya.


Mutia yang melihat Yoga kesal, dia hanya diam saja, niatnya untuk memanas-manasi Nayla terus saja dilakukannya. Sampai Nayla tak lagi merespon ucapannya, Mutia baru berhenti bicara.

__ADS_1


Karena tak mendapat jawaban lagi dari Nayla, Mutia pun mematikan telfon genggamnya itu. dan diapun kemudian mencari keberadaan Yoga, namun pria lembut itu tak ada disekitar restauran.


Hati Mutia merasa sedih, nyalinya pun menjadi ciut, ketika Yoga tak ditemukannya. Dengan perasaannya yang begitu kesal, Mutia mencoba berjalan tak terarah, dia mencari keberadaan Yoga kemana saja yang dia rasa ada.


Disepanjang jalan, banyak mata yang tertuju pada dirinya, ada yang menggoda, ada yang meledeknya dan ada pula tersenyum padanya, Mutia semakin takut, karena matahari sudah hampir tenggelam.


Dengan perasaan sedih dan deraian air mata, Mutia mencari masjid tempat dia berlindung, karena Papa tercintanya pernah berpesan padanya, bahwa sebaik-baik tempat perlindungan adalah Mesjid. Karena Mesjid tempat berlindung dari segala hal-hal yang buruk.


Sementara itu, ditempat Nayla, saat Nayla tak lagi merespon ucapan Mutia, dia benar-benar merasa kesal. Karena begitu kesalnya, sampai kepalanya pun terasa pusing.


“Ada apa sayang? kamu sakit?” tanya Yuda cemas.


“Nggak Bang, kepala Nay rasanya sedikit pusing,” jawab Nayla datar.


“Kalau Nay pusing, istirahatlah dulu!” kata Tika sembari menghampiri sahabatnya itu.


“Iya, kak. Terimakasih,” jawab Nayla seraya berjalan menuju kamarnya.


Belum sampai di pintu kamar, perut Nayla sudah keburu sakit, sakitnya datang secara tiba-tiba, dan mendenyut sampai ke ubun-ubun.


Nayla mencoba meraih sesuatu untuk bergantung, tapi tak lagi sempat, hingga akhirnya, tubuh itupun ambruk kelantai.


“Nayla!” teriak Yuda dan Tika serentak.


“Oh, nay! bangun sayang, Nayla!” teriak Yuda


Namun Nayla tak lagi dapat merespon panggilan suaminya. Matanya terpejam dan Nayla sudah tak sadarkan diri.


Andika yang melihat Mamanya tak sadarkan diri, diapun menangis histeris seraya mengguncang tubuh Mamanya.


“Nayla, bangun sayang. Bangun www! buka matamu!” kata Yuda seraya menepuk pipi istrinya.


“Gimana kalau Nayla kita bawa saja kerumah sakit, Yud.”


“Baik Kak. Apa rumah sakitnya ada disekitar sini?”


“Ya nggak begitu jauh kok,” jawab Tika seraya membantu Yuda mengangkat tubuh Nayla kemobil.


Dengan kecepatan sedang, Yuda membawa Nayla kerumah sakit, di bangku belakang ada Andika dan Tika yang sedang duduk dengan perasaan cemas. Tak sepatah katapun yang terucap dari mereka bertiga.


Setibanya dirumah sakit Ibnu Sina, Nayla langsung mendapatkan pertolongan disana. Sementara itu, mereka bertiga menanti diruang tunggu.


“Apa Nayla sering seperti ini, Yud?” tanya Tika pada Yuda.


“Iya, kak.”


“Apa kamu udah periksakan dia kerumah sakit?”


“Udah kak.”


“Lalu, apa kamu udah tau penyakit Nayla itu apa?”


“Udah.”


“Udah? berarti kamu udah tau dong, kalau selama ini, Nayla itu sakit apa?”


Bersambung...

__ADS_1


* Selamat membaca*


__ADS_2