Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 86 Berada dalam bahaya


__ADS_3

“O baiklah, Abang akan kesana sekarang juga, Nay ada bersama siapa saat ini?”


“Nay bersama Pak Darman, Bang.”


“Pak Darman?”


“Iya, bersama Pak Darman."


“Emangnya Yuda dimana?”


“Dia tugas diluar, hari ini Bang.”


“Oh, baiklah, coba Nay hubungi Yuda dan beritahukan hal ini padanya.”


“Baik, Bang,” jawab Nayla seraya menghubungi suami tercinta nya.


“O iya, nay bilang pada pak Darman, coba kalian pergi ketempat yang ramai pengendaranya, jangan ditempat yang sepi.”


“Baik, Bang,” jawab Nayla.


“Apa kata Pak Yoga, Bu?” tanya Pak Darman ingin tau.


“Bang Yoga menyuruh kita untuk mencari tempat yang ramai pengendaranya, Pak.”


“Baiklah,” jawab Pak Darman seraya memutar stir mobilnya kearah jalan yang ramai pengendaranya.


Disaat Mobil Nayla berputar arah mencari tempat ramai, Bu Salamah ternyata mengetahuinya, lalu dia pun menelfon orang suruhannya untuk menghalangi mobil Nayla dari arah yang berlawanan.


" Cepat kalian halangi mobil nya dari depan."


" Baik, Bu," jawab orang suruhan Bu Salamah.


Karena tak ada lagi, mobil yang mengikutinya, hati Pak Darman merasa senang, mesti demikian dia tetap terus memantau daerah sekitarnya dengan berhati-hati.


“Sepertinya, mobil yang mengikuti kita udah nggak ada Bu,” kata Pak Darman seraya menghentikan mobilnya disebuah perkebunan karet.


“Benarkah, Pak?” tanya Nayla ingin tau.


“Benar, Bu! sedari tadi Bapak perhatikan, mobil yang berwarna silver itu nggak ada lagi dibelakang kita.”


“Oh syukurlah, kalau begitu mari kita pulang kerumah pak.”


“Baik, Bu,” jawab Pak Darman sembari memutar stir mobilnya.


Akan tetapi, disaat stir mobil itu baru hendak diputarnya, tiba-tiba saja, didepannya telah menanti sebuah mobil kijang. Mobil itu berhenti tepat didepan mobil yang hendak diputar Pak Darman.


Dari dalam mobil itu, keluar lima orang pria yang bertubuh kekar, dengan sangarnya merekapun menghampiri mobil Nayla.


Disaat itu hati Nayla menjadi ciut, dia terus memegangi perutnya yang mulai terasa sakit karena menahan rasa takut.


“Hei! Turun kalian!” bentak salah seorang dari pria itu.

__ADS_1


Mendengar pria bertubuh sangar itu menyuruh Pak Darman dan Nayla keluar dari mobil, jantung Nayla langsung bergetar begitu kuat sekali, wajahnya terlihat pucat.


“Aduh, gimana nih pak?” tanya Nayla gemetaran.


“Tenang Bu, tenang!”


“Gimana mau tenang, Pak. Nay takut sekali?”


“Ibu kunci semua pintu, jangan sampai keluar, walaupun apa yang terjadi.”


“Tapi, Pak!”


“Nggak usah takut, Ibu hubungi terus Pak Yoga dan Pak Yuda, kabari posisi kita dimana saat ini.”


“B…bab…ba..baik, Pak,” jawab Nayla gemetaran.”


Karena takutnya, Nayla sampai tak bisa memegang ponselnya, ponsel yang ada di genggamannya berkali-kali terjatuh kebawah.


“Aduh! gimana ini? jangankan untuk menelfon menekan nomornya saja Nay sampai tak bisa."


Lalu Nayla tak lagi memegang ponselnya, ponsel itu hanya di biarkan tergeletak diatas tempat duduk. Perlahan Nayla menekan nomor Yoga.


“Hallo, Bang! cepatlah datangnya, mereka udah menghentikan mobil Nay.”


“Nayla, sayang! kamu nggak apa-apakan?”


“Nay takut sekali, Bang! Nay takut sekali," jawab Nayla dengan suara bergetar.


Belum hilang rasa takut dihati Nayla, tiba-tiba saja kaca mobil milik Nayla dihantam dengan balok dari luar, sehingga kaca itu hancur berderai.


“Keluar nggak! atau mobil ini akan saya hancurkan!” ujar seorang pria dengan wajah yang sangat sangar.


“Aduh, Bang! Nay takut sekali!”


“Sabar sayang, sebentar lagi Abang sampai.”


“Abang dengar sendirikan, mereka telah memecahkan kaca mobil Nay.”


“Berusahalah untuk tetap berada diatas mobil, jangan keluar!”


“B..ba…bba…baik, Bang,” jawab Nayla ketakutan.


“Oh kekasih ku, dia dalam bahaya! coba saja dia menyentuh Nayla, aku akan membalasnya!” gerutu Yoga seraya terus melajukan sepeda motor miliknya, tampa memperdulikan orang yang ada disekitarnya.


Karena disuruh keluar dari mobil, Pak Darman udah keluar terlebih dahulu, tapi Nayla tetap saja bertahan didalam, karena dia begitu ketakutan sekali.


Setelah ditunggu beberapa saat, dan Nayla tak juga keluar, lalu salah seorang dari mereka mencoba merangsak masuk, sembari membobol pintu mobil itu secara paksa.


“Wow! ternyata cantik sekali perempuan yang akan kita culik itu.”


“Kalian ini, siapa?” tanya Nayla semakin takut.

__ADS_1


“Aku malaikat maut yang akan mencabut nyawamu, sayang,” kata pria itu sembari menyentuh wajah Nayla dan memeluk paksa tubuh Nayla yang menggigil ketakutan.


“Kurang ajar, pergi sana ! menjauh, jangan kalian sentuh Nay!” teriak Nayla.


“Tenang sayang, kita hanya bermain-main saja sedikit,” kata pria itu seraya terus menyentuh tubuh Nayla dengan tangannya yang begitu kasar.


“Pak Darman, tolong Nay, pak!” jerit Nayla seraya terus meronta-ronta dari pelukan pria bejat itu.


Bagai mana Pak Darman bisa menolong Nayla sementara Pak Darman saja telah mereka pijak dengan kakinya yang begitu kuat, sehingga pria tua itu terkulai tak berdaya.


“Oh! Bang Yoga, cepatlah, mereka memeluk Nay dengan kuatnya, cepat Bang! oh, Nay nggak kuat!” jerit Nayla dalam pelukan pria itu.


Karena ponsel Nayla tidak dimatikan, otomatis apa pun yang terjadi bersama Nayla, Yoga mendengarkan semuanya.


“Oh, nggak!” jerit Yoga yang tak sempat datang tepat waktu.


“karena Nayla merasa dirinya dalam bahaya, dia pun mencoba membuka pintu samping, setelah pintu itu terbuka, dia langsung menendang ******** pria itu.


“Nay harus cepat lari, kalau tidak, Nay pasti dalam bahaya besar,” kata Nayla sembari berlari menjauhi kelima orang pria itu.


Melihat Nayla lari, pria yang kesakitan didalam mobil itu, langsung berteriak untuk mengejar keberadaan Nayla.


“Cepat kejar perempuan itu ! Kalau nggak kita akan dimarahi Bu Salamah nantinya.”


Pak Darman tampa sengaja mendengar jelas kalau pria yang kesakitan itu menyebut orang yang menyuruh mereka.


“Bu Salamah. Siapakah dia?” tanya Pak Darman pada dirinya sendiri.


Sementara itu, Nayla yang dikejar, terus saja berlari sejauh- jauhnya, rasa takut telah membuatnya lebih kuat untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


Nayla terus saja berlari tampa memperhatikan arah sama sekali, sehingga tibalah dia dipinggir hutan yang sangat lebat.


“Oh, ya Allah! dimanakah Nay saat ini? aduh perut Nay terasa begitu sakit sekali,” ujar Nayla sembari senderan dibawah sebatang pohon.


Dari kejauhan Nayla melihat keempat pria yang mengejarnya mulai mendekat, hatinya semakin bergetar ketakutan. Diapun mencoba untuk bangkit, lalu Nayla melihat ada sedikit bercak darah di betisnya yang putih.


“Oh! ada apa dengan kandunganku ya Allah?” gumam Nayla seraya terus bangkit dari tempat duduknya.


Walau terasa begitu sakit, Nayla terus saja mencoba untuk bangkit dan berjalan hingga lebih jauh lagi menuju hutan belantara yang sangat lebat.


Tampa di sadari Nayla sama sekali kakinya langsung terperosok ketebing yang sangat dalam. Nayla mencoba meraih apa saja akar-akaran yang disentuh oleh tangannya, agar saat jatuh kandungannya masih bisa diselamatkan.


Namun walau berusaha mati-matian Nayla tetap terjatuh ke jurang yang sangat dalam.


“Oh, Tidak!” jerit Nayla seraya terjun bebas menghantam tanah.


Saat itu, Nayla tak lagi mengetahui di sekeliling nya, semuanya terasa begitu gelap, mesti demikian Nayla masih sadar dan dia mencoba menggapai apa saja yang ada disekitarnya.


“Oh! kenapa semuanya begitu gelap?” rintih Nayla dengan rasa sakit yang teramat sangat.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2