Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 110 Ungkapan perasaan


__ADS_3

“Nggak, Aku mana berani, Bang.”


“Kalau seandainya Abang yang minta, apa kira-kira Papa dan Mama menyetujui itu sayang?”


Mutia tak menjawab dia hanya bisa menggelengkan kepala, karena selama ini, Mutia memang tak pernah membahas masalah itu dengan keluarganya.


Dalam hati Yoga yang paling dalam ingin sekali di cepat-cepat mempersunting Mutia, agar hubungannya dengan Nayla segera berakhir.


Malam itu dengan perasaan yang sedikit takut, Yoga menghampiri, Pak Ramon dan Sukesih yang sedang duduk diruang tunggu.


“Kalau Papa dan Mama mau pulang, pulanglah dulu, istirahat dirumah. Biar aku yang merawat dan menjaga Mutia disini.”


“Apa kamu nggak mengajar Nak?” tanya Pak Ramon ingin tau.


“Mengajar Pa, kalau siang kan ada perawat yang akan menjaga Mutia disini.”


“Benar, kamu yang akan merawat Mutia?”


“Benar Ma, tapi selama ini kan aku juga yang merawat Mutia.”


“Baiklah, kalau begitu kami biar pulang saja malam ini,” kata Sukesih dengan suara lembut.


“Pa, Ma! sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan.”


“Masalah apa itu?” tanya Pak Ramon serius.


“Boleh nggak Aku menikahi Mutia?”


Mendengar ke terus terangan Yoga, Pak Ramon dan Sukesih saling bertatap pandang. Mereka berdua benar-benar kaget, karena Yoga dengan kepolosannya bicara tentang pernikahan, yang selama ini belum terpikirkan oleh mereka.


Pak Ramon pun duduk disamping Yoga, walau dia tak menyangka kalau hal itu langsung di ucapkan Yoga padanya. Namun karena Pak Ramon termasuk orang yang bijak dalam menanggapi sesuatu, maka diapun berlagak santai dan biasa-biasa saja.


“Kenapa terburu-buru nak?”


“Aku tak ingin Mutia menikah dengan orang lain Pa.”


“Tenanglah, Mutia itu hanya milik mu seorang, dan dia bukan gadis yang suka gonta ganti kekasih, dia itu gadis yang paling setia, Nak.”


“Aku tau itu, Pa!”


“Lalu kenapa kamu ketakutan?”


“Aku hanya ingin menikahi Mutia, setelah dia tamat sekolah nanti,” jawab Yoga bersikeras.


“Papa dan Mama, nggak akan menolak mu, karena selama ini, kami berdua telah menyerahkan dia pada mu, tapi apa kau udah menanyakan hal ini pada Mutia?”


“Udah, Pa!”


“Udah? lalu apa jawabannya?”


“Dia setuju kalau aku menikahinya setelah tamat nanti.”


“Kalau Mutia menyetujuinya, kami pun nggak bisa berbuat apa-apa,” jawab Pak Ramon seraya mengernyitkan dahinya.


“Benar, Pa? Papa dan Mama setuju?”


“Iya, Nak. Kami setuju!”


“Alhamdulillah ya Allah!” ucap Yoga dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Karena bahagianya, Yoga langsung melaksanakan sujud syukur dihadapan kedua orang tua Mutia. Seraya mencium tangan Pak Ramon dan Sukesih, Yoga langsung berlari kekamar untuk mengabarkan hal itu pada Mutia.


“Papa dan Mama mu setuju sayang, mereka menyetujui pernikahan kita berdua.”


“Benar mereka menyetujuinya, Bang?”


“Iya, sayang.”


“Tapi apa menurut Abang, Papa benar-benar menyetujui permintaan kita?”


“Apa maksud mu?”


“Biasanya Papa nggak semudah itu menuruti permintaan anaknya, jika pun dia menuruti pasti ada tujuan yang tersembunyi dibalik semua itu.”


“Nggak apa, jika Papa mu bisa bermain dengan ucapannya, Abang tentu lebih bisa dari mereka. Jadi, kita lihat saja nanti permainan siapa yang akan berhasil."


“Jadi Abang mau melawan Papa?”


“Untuk apa melawan orang tua sayang, kita hanya bermain-main saja kok.”


“Terserah Abang aja,” jawab Mutia seraya menyerahkan semua urusan pernikahannya pada Yoga.


Malam itu, cuaca sangat dingin sekali, Mutia yang sudah mulai sembuh, minta pada Dokter yang merawatnya untuk di izinkan pulang.


“Kenapa harus sekarang, pulangnya?”


“Aku ingin pulang sekarang dok.”


“Baiklah, kalau kamu tetap memaksa, saya akan telfon keluargamu dulu.”


“Ooo, jangan!” cegah Mutia.


“Aku ingin membuat kejutan pada keluarga ku.”


Merasa tak yakin dengan permintaan Mutia, diam-diam dokter yang menangani penyakit Mutia, menelfon Pak Ramon.”


“Kenapa putri saya minta pulang, dok?”


“Saya nggak tau pak, tapi dia begitu ngotot ingin pulang malam ini juga."


“Aneh?” ucap Pak Ramon heran. “Begini saja dok, gimana kalau dokter tahan dulu dia, biar saya sendiri yang akan menjemputnya kesana.”


“Baik, kami akan mencoba untuk menahannya disini.”


“Ya, terima kasih, dok”


Setelah telfon di tutup, Pak Ramon hanya bisa geleng-geleng kepala. Sementara itu, Sukesih yang mendengar percakapan mereka secara samar, langsung ingin mengetahui apa yang sedang dibahas suaminya.


“Ada apa sih, Pa?” tanya Sukesih ingin tau.


“Mutia ingin pulang sekarang juga.”


“Kenapa dia ingin pulang?”


“Entahlah, mari kita kesana untuk memastikannya.”


“Baiklah, kalau begitu Aku bersiap dulu,”


jawab Sukesih seraya bergegas menuju kamarnya.

__ADS_1


Di saat kedua orang tua Mutia bersiap-siap untuk berangkat, di rumah sakit Mutia menunggu dengan rasa tak sabar, dia berdiri dan berjalan hilir mudik, menunggu kedatangan orang tuanya.


Lalu dari balik gerbang rumah sakit Yoga pun datang, Mutia yang melihat kedatangan Yoga, langsung saja kembali masuk kedalam kamar dan berpesan pada perawat, agar menelfon orang tuanya.


“Kabari aja mereka, kalau malam ini Mutia nggak jadi pulang.”


“Tapi, saya nggak tau nomor telfonnya?”


“Tanya sama dokter yang tadi menelfon orang tua saya.”


“Baiklah,” jawab Suster itu seraya bergegas menemui dokter yang dimaksud Mutia.


Sedangkan Yoga sudah hampir mendekat, sementara Suster itu belum mendapatkan Nomor telfon keluarganya dari Mutia.


Di saat Yoga melintas didepan para perawat, tanpa dia sengaja Yoga mendengar mereka menyebut nama Mutia yang ingin pulang tapi dia mengurungkan niatnya.


“Benar kamu ingin pulang sayang?”


“Benar Bang, habis aku takut di sini sendirian?”


“Abang kan udah bilang, untuk menjemput baju, lalu kenapa Mutia takut?”


“Lalu sekarang gimana? sebentar lagi Papa dan Mama pasti datang.”


“Biar saja, paling-paling Tia dimarahi.”


“Widih, teganya.”


Benar saja, hanya beberapa menit, Papa dan Mama Mutia datang menemui putri sulungnya.


“Kenapa mau pulang Tia?”


“Habis Tia takut sendiri, Pa?”


“Lho, kan ada Yoga yang nemani Tia disini?”


“Tadi Bang Yoga nya pergi, aku kira dia nggak kembali.”


“Benar, Pa! tadi aku pulang untuk ngambil pakaian.”


“Aduh, Tia ! kamu itu udah bikin Papa dan Mama susah deh,” ujar Sukesih kesal.


“Kalau Papa dan Mama marah, lebih baik aku pulang aja,” jawab Mutia ketus.


“Eee! nggak bisa gitu dong sayang, kamu sembuh dulu baru boleh pulang.”


“Tapi aku ini udah sembuh dong, Ma!”


“Kalau udah sembuh pasti Dokter bilang sama Mama, tapi dokter nggak bilang apa-apa kok.”


“Sekarang begini aja, Mutia disini dulu malam ini, biar Papa sama Nak Yoga yang jaga dan kalau Mama, sebaiknya malam ini pulang aja.”


“Baik, Pa,” jawab Sukesih seraya menuruti kehendak suaminya.


Mutia yang merasa kehendaknya tidak dituruti oleh kedua orang tuanya, dia sedikit kesal, hatinya terasa begitu sakit sekali. Sementara itu Sukesih telah kembali pulang kerumah bersama sopir pribadinya.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2