Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 71 Rahasia yang terbongkar


__ADS_3

Nayla pun menganggukkan kepalanya, hati yoga benar-benar sakit sekali melihat hal itu. Dipeluknya tubuh Nayla, dia mencoba untuk menenangkan hati Nayla yang sedang ketakutan saat itu.


“Tenanglah, Nay! kalau kamu rutin berobat dan rajin menjalani terapi, maka penyakit mu itu akan segera sembuh.”


“Abang bohong, semua itu sengaja Abang katakan, karena Abang udah nggak perduli lagi pada Nay, Nay tau kok. Saat ini Abang lebih mementingkan Mutia ketimbang Nay. Hati Nay sakit tau nggak!”


Nggak ada yang dapat dijawab oleh Yoga saat itu, semua yang diucapkan Nayla itu benar. Memang, jika dibelakang Nayla yoga bersama dengan Mutia. Semua itu sengaja dia lakukan, karena menurutnya tak mungkin mengharapkan Nayla yang sudah menjadi istri saudaranya sendiri.


Lalu tanpa diketahui Nayla, Yoga me SMS Yuda, dan menginformasikan keberadaannya pada Yuda. Tak berapa lama kemudian Yuda langsung datang menghampiri mereka berdua.


“Hei, disini kalian rupanya?” tanya Yuda seraya tersenyum.


“Dari mana Abang tau?” tanya Nayla heran.


“Dari!” saat menjawab pertanyaan dari Nayla, mata Yuda mengarah kearah Yoga, dan Yoga langsung memberinya isyarat mengedipkan matanya. Syarat itu langsung ditangkap oleh Yuda, dan dia merubah arah pembicaraannya seketika.


“kami berdua mencari mu sedari tadi, kemana saja, sayang. Kenapa pergi dari rumah sakit?”


“Nay mau pulang, hantarkan Nay pulang sekarang juga, Bang,” ajak Nayla pada Yuda.


“Nayla, jika kamu pulang, maka pengobatannya akan berakhir sampai disini. Abang udah capek Nay, kamu bukannya semangat untuk sembuh, tapi sepertinya, kamu sengaja untuk tetap sakit.”


“Tapi Nay mau pulang, Nay nggak mau dirumah sakit itu lagi. Ada hantu Asih disana bang! huuuk…huhu..huk.. ..huk..!”


“Baiklah, kalau memang Nay nggak mau kerumah sakit itu, gimana kalau kita kerumah sakit Yos Sudarso aja, mungkin disana Nay akan merasa aman.”


“Bang Yuda itu benar Nay, kalau Nay pulang, nanti siapa yang mengurus Nay dirumah, kan lebih baik dirumah sakit, disana banyak perawat yang akan mengurus Nay,” timpal Yoga saat itu.


Nayla hanya diam saja, tapi dia tampak mulai melemah dan tak bersikeras lagi minta pulang. Melihat istrinya sudah bisa di ajak kembali, Yuda langsung membawa Nayla kembali kerumah sakit, untuk mengambil semua pakaiannya.


Saat melihat Nayla turun dari mobil, Rangga langsung menyongsongnya dari depan.


“Kau udah menemukannya Yud?” tanya Rangga senang.


“Udah, Yoga yang menemuinya tadi, tapi untuk kali ini aku minta maaf lagi padamu. Sepertinya Nayla nggak mau dirawat disini, alasannya tetap sama seperti waktu itu.”


‘Ooo, nggak apa-apa Yud, aku sangat mengerti kok, nanti aku akan datang kerumah sakit mu untuk memeriksa kondisi Nayla disana.”


“Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu.”

__ADS_1


“Ya hati-hati, Yud,” kata Rangga seraya melepas kepergian Yuda bersama Nayla.


Setelah Yuda dan istrinya pergi, Rangga langsung kembali ke ruangannya, hatinya begitu sedih sekali. Karena wanita yang sangat dicintainya, telah menjadi milik sahabatnya sendiri.


Dalam kesendiriannya, Rangga membuka dompet miliknya, dibelakang foto yang tertera di dompetnya ternyata ada gambarnya bersama Nayla. Kenangan manis itu, bagai buih dilautan, tak akan pernah hilang dan selalu hidup didalam sanubarinya.


“Maafkan aku sayang, oleh karena orang tua ku, akhirnya hubungan kita kandas diperjalanan,” kata Rangga pada gambar yang ada dihadapannya.


Merasa tak puas dengan pengakuan Nayla waktu itu, Rangga pun langsung bergegas untuk pulang kerumahnya. Karena waktu itu Mama nya sedang keluar kota, dan hari itu adalah hari yang paling tepat untuk mengungkit semua kejadian di masa lalu.


Melihat putranya kembali di pagi itu, hati Bu Salamah merasa kurang senang, dengan bergegas dia langsung menyambut kedatangan Rangga.


“Ada apa Nak? kenapa kamu kembali?”


Rangga tak menjawab pertanyaan dari Ibunya, dia terus saja berlalu meninggalkannya. Hati Bu Salamah menjadi sedih, karena tak biasanya, Rangga bersikap seperti itu padanya.


“Bicaralah Nak, ada apa?” ulang Bu Salamah sekali lagi.


“Masalah Nayla, Ibu masih ingatkan? Nayla wanita yang sangat aku cintai, kenapa tiba-tiba saja dia menghilang tak tau rimbanya.”


“Apa maksud mu dengan Nayla, sayang?”


“Hari ini aku teringat dengan Nayla, kemana dia, Bu? tolong beri tau aku apa yang terjadi dengannya, sehingga tiba-tiba saja dia menghilang.”


“Mustahil Ibu nggak mengetahuinya, karena aku tau sekali, Ibu paling menentang hubungan kami berdua.”


“Ibu memang nggak merestui hubungan kalian, tapi Ibu nggak ada membenci dirinya.”


“Bohong! Selama ini kalian sengaja membencinya. Kalian menghina dan menyudutkan dirinya, kalian juga telah mengusirnya kan!”


“Kami nggak melakukan itu padanya, Nak.”


“Nayla sendiri yang mengatakannya pada ku, kalian semua jahat!”


“Rangga! iya, semua itu sengaja Ibu lakukan demi masa depanmu, Nak!”


“Masa depan, Masa depan apa, Bu? saat ini Ibu lihat sendirikan, nggak ada wanita yang mau aku nikahi, semuanya karena kalian semua.”


“Kata siapa nggak ada wanita yang mau menikah dengan mu, Nak. Kata siapa? banyak wanita yang suka padamu saat ini Rangga, semuanya keturunan orang terpandang. Bukan seperti Nayla itu, gadis yatim yang tak punya apa-apa.”

__ADS_1


“Ternyata Nayla benar, Ibu telah menghina dan mengusirnya. Aku nggak menyangka sama sekali, ternyata Ibu kejam,” kata Rangga seraya masuk kedalam kamarnya dan membanting pintu dengan kuat.


“Rangga! tunggu nak! tunggu!” seru Bu Salamah seraya mengejar putranya itu.


Namun Rangga telah masuk kedalam kamarnya, hatinya begitu sedih saat itu, kini apa yang selama ini diimpikannya sirna begitu saja.


Merasa kesal dengan kelakuan Rangga, Bu Salamah mencari biang penyebabnya, Radit yang selama ini bekerja padanya hari itu mendapat tugas untuk menyelidiki keberadaan Nayla.


“Tapi ingat, den Rangga jangan sampai tau.”


“Baik Nyah,” jawab Radit seraya bergegas pergi meninggalkan majikannya.


Setelah kepergian Radit, Bu Salamah merasa begitu kesal sekali. Karena orang yang selama ini dia benci ternyata membawa petaka dalam hubungannya dengan Rangga anaknya.


“Awas kau Nayla, akan ku buat hidupmu lebih menderita lagi dari yang sebelumnya,” gerutu Bu Salamah pada dirinya sendiri.


Gara-gara kejadian hari itu, Rangga tak mau berangkat kerja, dia juga nggak mau keluar dari kamarnya. Hati Bu Salamah menjadi bertambah panas sekali, dalam keadaan amarah yang meluap-luap, Radit pun datang menghampirinya.


“Gimana ada informasi tentang keberadaan perempuan itu?”


“Belum nyah, tapi aku masih terus menyelidikinya, kok.”


“Kenapa lama sekali! dasar kamu itu ya, selalu saja nggak becus kalau diberi tugas.”


“Ini kota besar nyah, nggak mungkin semudah itu mencari orang yang bernama Nayla,” jawab Radit dengan nada sedikit keras.


“Sssst! apa mau, saya pecat!” bentak Bu Salamah.


“Nggak nyah,” jawab Radit seraya menundukkan kepalanya.


“Itu makanya, kalau nggak mau dipecat, tolong jaga mulut kalau bicara.”


“Baik nyah.”


“Huuuh! Bikin kesal aja,” gerutu Bu Salamah seraya menampar meja.


Melihat majikannya marah, Radit langsung undur diri, dia tak ingin dimarahi lagi karena gagal mengemban tugas yang sudah diberikan kepadanya.


Siang itu, tampak Rangga keluar dari kamarnya, dan dia langsung pergi meninggalkan rumah mewah itu. Bu Salamah yang melihat Rangga pergi, langsung menyuruh Radit untuk mengikutinya.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2