Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 67 Mencari masalah


__ADS_3

Takut Mutia salah paham, dan takut pula kalau Bu Lesti tersinggung, lalu Yoga meminta dion untuk naik keatas panggung.


“Ada apa, Yog?” tanya Dion ingin tau.


“Tolong kamu lanjutin dulu, nyanyi ku ini,” kata Yoga sembari menyerahkan maik nya pada Dion.”


“Hei kamu mau kemana Yog?”


“Lagi kebelet, lanjutkan aja dulu, nanti biar aku menyusul lagunya.”


“Kamu Yog ! bikin jantung ku copot aja,” jawab Dion seraya melanjutkan lagu yang sedang dinyanyikan Yoga sebelumnya.


Walau Dion telah melanjutkan nyanyi itu hingga selesai, namun Yoga belum juga kembali. Sementara itu Lesti merasa sedih , karena Yoga tiba-tiba saja pergi meninggalkan dirinya.


“Mana sih, Pak Yoga nya, Dion?” tanya Lesti jengkel.


“Katanya kebelet, tuh!”


“itu mah cuma akal akalan Pak Yoga aja, karena dia nggak mau nyanyi bersama Lesti di panggung.”


Lalu dengan hati yang sangat jengkel, Bu Lesti pun turun dari atas panggung. Karena tubuhnya yang begitu tambun, tak sengaja dia memijak gaunnya sendiri, hingga Bu Lesti jatuh terjerembab kehadapan Kepala sekolah.


Untung saja hanya jatuh mencium tanah, tapi rasa malunya nggak setara dengan sakit yang dia hadapi saat itu.


Ada yang tertawa, ada yang berteriak dan ada pula yang terkejut melihat Lesti terjun bebas kebawah. Hati Lesti bertambah sedih sekali saat itu, ingin sekali dia menangis dihadapan semua siswa, tapi dia malu.


Dengan bantuan beberapa orang guru, Lesti pun mencoba bangkit dan menghindari tempat itu. Sementara Kepala sekolah hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Di saat Lesti dalam keadaan sial, Yoga dan Mutia bersembunyi dibalik panggung pentas saat itu. Yoga benar-benar kasihan sekali melihat Lesti terjun bebas dari atas panggung kebawah.


Yoga melihat Lesti berjalan menuju kantor dengan kaki yang pincang. Sementara itu Bu Sinta dan Dion terus memapah tangannya.


“Kau lihat sendirikan Bang, ulah mu Bu Lesti jatuh dari panggung.”


“itu salah dia sendiri sayang, tadi Bu Sinta udah memperingatkannya, tapi dia tetap nekad untuk naik keatas panggung.”


“tapi kenapa Abang tinggalkan dia diatas sendirian?”


“Kalau Abang layani dia diatas panggung, lalu gimana dengan perasaan mu?”


“Yaaa! aku nggak apa-apa, kok.”


“Benar, kamu ikhlas melihat Abang nyanyi dengan perempuan lain.”


“Ik, iya! aku ikhlas kok.”


“Kalau begitu baiklah, Abang akan bernyanyi dengan artis itu , tapi kamu jangan cemburu ya?”


Melihat gelagat Yoga yang begitu nekad, wajah Mutia langsung berubah. Raut wajahnya mencerminkan ketidak sukanya pada keinginan Yoga. Tapi Yoga tetap ingin menguji jiwa Mutia.

__ADS_1


Disaat dia handak melangkah, tiba-tiba saja Mutia menarik pergelangan tangannya. Langkah Yoga langsung terhenti, dia pun memandangi tangan yang telah menggenggam pergelangan tangannya.


Mutia tak bicara, tapi dia hanya memberikan isyaratnya pada Yoga, dengan tersenyum manis Yoga langsung memeluk tubuh yang berada dihadapannya itu.


“Tak akan pernah Abang gantikan tubuh ini dengan tubuh yang lain,” bisik Yoga ke telinga Mutia.


Desiran nafas Yoga telah membuat jantung Mutia berdetak tak beraturan, nafasnya terasa tersengal saat itu, pipinya pun tampak begitu memerah.


“Kita pergi yuk!” ajak Yoga pada Mutia.


“Kemana Bang?”


“Kemana saja cinta membawa kita terbang,” jawab Yoga seraya menarik tangan Mutia.


Lalu secara bersamaan, Yoga dan Mutia keluar dari ruangan pentas itu lewat jalan belakang. Sepeda motornya yang super ribut, di dorong dengan pelan keluar gerbang sekolah, Bu Sinta memandanginya seraya geleng-geleng kepala.


“Apa Kepsek nggak marah nanti, Bang,” tanya Mutia takut.


“Nggak sayang, nanti kalau dia marah, biar abang belikan dia sebungkus rokok.”


“Iiih! Abang!” kata Mutia seraya bermanja.


“Ayolah sayang, nanti keburu siang,” Kata Yoga seraya menyuruh Mutia menaiki sepeda sepeda motornya.


Dengan senang hati, Mutia mengikuti permintaan dari kekasihnya itu, akan tetapi setelah sepeda motor itu melaju dengan kecepatan penuh, ternyata Rehan mengikutinya dari belakang bersama beberapa orang teman temannya.


“Mana, sayang. Kok Abang nggak melihatnya?”


“Tuh, lihat yang mengenakan helm berwarna hijau pupus.


“Apa maksudnya, dia mengikuti kita?”


“Nggak tau tuh,” jawab Mutia seraya mengernyitkan kedua alisnya.


“Apa kamu punya hubungan dengannya?”


“Nggak!”


“Tapi, kalau Abang lihat dari sorot matanya, dia menaruh cinta yang sangat besar sekali pada mu.”


“Dari mana Abang tau?”


“Tadi saat Abang memarahinya.”


“Lalu, gimana ini, Bang?”


“Sepertinya dia punya rencana jahat untuk kita sayang!”


“Aduh, Bang. Aku jadi takut.”

__ADS_1


“Untuk apa takut, Rehan itu masih bocah ingusan, anak kemaren sore, jika berdiri dihadapan Abang.”


“Tapi aku masih saja takut, kalau nanti dia melakukan sesuatu pada kita gimana?”


“Kalau begitu, kamu peluk abang lebih kuat lagi.”


“Dengan senang hati,” jawab Mutia seraya melingkarkan tangannya ke pinggang Yoga lebih kuat lagi.


Rehan yang melihatnya, jantungnya terasa mendidih, emosinya langsung meluap, tapi Yoga bukan tandingannya, dengan cepat dan tangkas sepeda motornya dipacu dengan kecepatan tinggi.


Yoga yang sudah biasa mengendarai sepeda motornya di jalanan, tak merasa gentar sedikit pun. Dia meliuk-liuk seperti seekor ular di jalur yang sangat Panjang. Sementara itu tampak Mutia begitu menikmatinya, dia merebahkan kepalanya dipundak kiri Yoga.


Karena emosi Rehan sudah memuncak, dia mencoba untuk menyalip sepeda motor milik Yoga. Akan tetapi, Yoga bukan tandingan untuk diajak berseteru. Walau terlihat santai dan tenang. Tapi Yoga punya amarah yang dapat membuat lawan gemetaran.


Di pantai yang berpasir putih, Yoga mengajak Mutia kesana, sejauh-jauhnya mata memandang, Mutia hanya melihat laut lepas yang begitu indah.


“Bang kok, kita nggak melihat Rehan? kemana dia?”


“Jangan pedulikan dia sayang, saat ini hari kita untuk memadu cinta.”


Lalu Yoga menggandeng tangan Mutia dengan lembutnya, dia berjalan menyusuri pasir putih yang terhampar begitu luas sekali.


“Sungguh pemandangan yang begitu indah, Bang!” kata Mutia.


“Seindah bola matamu yang bening sayang.”


" Aaaah, Abang!" jawab Mutia manja.


Dibawah sebatang pohon pinus, mereka pun duduk berduaan seraya menikmati indahnya suasana pantai. Dengan lembut dibelainya rambut Mutia yang terurai begitu Panjang dan indah.


Dengan manja, Mutia pun merebahkan kepalanya di bahu kanan Yoga. Hatinya begitu bahagia sekali saat itu, karena sesekali Yoga mencoba mengecup bibirnya yang merona.


Yoga memeluk tubuh Mutia dengan penuh kasih sayang, dia tak ingin Mutia jauh darinya walau hanya satu senti pun. Keindahan suasana pantai waktu itu, membuat jiwa romantis mereka berdua menyatu.


Sedang asik menikmati suasana alam yang indah dan damai, tiba-tiba saja Rehan datang mengusik ketenangan mereka berdua.


Rehan sungguh tak tau kalau Yoga punya ilmu bela diri yang belum pernah ada yang mampu mengalahkan dirinya.


Dengan sombongnya, Rehan menginjak tangan Yoga dengan sepatu kulit yang dibelikan Papanya.


“Disini, nggak akan ada lagi guru!” bentak Rehan seraya menodongkan kayu yang digenggaman tangannya, ke kepala Yoga.


“Rehan, apa-apaan ini!” teriak Mutia sembari menepis kayu yang diarahkan ke kepala Yoga.


“Ini semua karena, kau Mutia!”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2