
“Kalau begitu kami nggak akan melihat dokter lagi kan?”
“Kalau nanti terjadi sesuatu di Desa ini, yang butuh bantuan seorang dokter, kalian datanglah kerumah sakit tempat saya bertugas,” kata dr.Yuda seraya menyodorkan kartu Namanya.
“Baik dok, insya Allah, kami akan kesana jika ada saudara atau keluarga kami yang sakit nantinya.”
“Kenapa saya menyuruh kalian semua berobat dirumah sakit itu? karena rumah sakit tempat saya bertugas, dan memiliki peralatan medis yang lengkap. Nah kalau begitu, saya mohon pamit, Assalamu’alaikum,” kata dr.Yuda seraya menyalami para penduduk.
“Wa’alaikum salam,” jawab semua warga serentak.
Perpisahan itu membuat suasana menjadi haru, air mata pun menghiasi perpisahan mereka semua. Satu persatu Yuda menyalami para pasiennya yang telah sembuh.
Setelah beberapa jam bertolak dari desa itu, tibalah Yuda dirumah sakit tempat dia bertugas.
“Selamat pagi Yud ! waaah kau udah kembali rupanya,” ujar Toni.
“Selamat pagi! gimana kabarnya istri ku, Ton?”
“Dia masih koma Yud,” jawab Toni dengan suara lembut.
“Kalau gitu, biar aku menemuinya dulu.”
“Ya silahkan Yud.”
Dengan bergegas, Yuda berlalu meninggalkan Toni yang saat itu bertugas menangani Nayla istrinya.
Perasaan Yuda tak menentu saat itu, rasa takutnya muncul seketika, hingga langkah kakinya menjadi gontai.
Dengan pelan dihampiri jendela kamar rawat Nayla. Didalam tampak Nayla terbaring dengan selang oksigen dan selang infus ditangannya. Hati Yuda terasa begitu sakit ketika melihat penderitaan yang sedang dialami istrinya.
“Oh tuhan! begitu tersiksanya istri ku saat ini.” Kata Yuda dengan mata yang berkaca-kaca.
Sungguh dia tak berdaya, dengan pelan dihampirinya istrinya yang terbaring.
“Gimana keadaanmu Nay, kau pasti kesakitan bukan? Abang sungguh tak berdaya untuk menolong mu Nay, huhuhuk! apa kau dengar suara Abang?”
Di saat Yuda bicara dengan Nayla, dari belakang Toni datang dan memegang pundak Yuda.
“Terjadi infeksi pada Rahim istrimu Yud.” ucap Toni pelan.
Yuda diam saja saat Toni memberi tahukan penyakit Nayla pada dirinya dan Dia terus saja bicara pada Nayla.
“Abang udah datang Nay, tolong buka matamu sayang, bicaralah pada Abang, agar Abang bisa berbuat sesuatu untukmu,” kata Yuda seraya memijit-mijit tangan Nayla dengan lembut.
Namun Nayla tetap saja diam membisu, seperti mayat hidup dia tak bergerak sama sekali.
Sementara itu dari luar jendela, Yoga datang dan melihat ada Yuda bersama Nayla didalam dengan pelan Yoga pun menepuk pundak Yuda.
“Gimana kabarmu Yud? kapan kau sampainya?”
“Aku baik Yog dan baru saja datang, gimana perkembangan Nayla Yog?
__ADS_1
“Kemaren istrimu sempat sadar, dan dia menyebut-nyebut namamu. Sesudah itu dia mengalami kejang dan dan menjerit histeris, seperti merasakan sakit dan akhirnya dia kembali pingsan.”
“Lalu gimana dengan Andika saat ini? siapa yang menjaganya?”
“Andika ku antar kerumah Mama, disana dia aman, karena ada Ningsih yang menjaga.”
“Ooo gitu, lalu sekarang apa yang akan kita lakukan Yog?”
“Entahlah Yud, aku sendiri nggak tau, berhari-hari aku menjaganya tapi dia nggak tau kalau yang menjaganya adalah aku, bukan suaminya. Tapi kau lihat sendirikan istrimu tetap saja diam. Aku yakin kalau istrimu sangat menderita.
Mendengar kata-kata dari Yoga, tak terasa air mata Yuda mengalir begitu deras, perasaanya yang sedih semakin terasa menyayat.
Saat mereka berdua menatap pilu dari balik jendela, tiba-tiba saja Nayla sadar dari komanya.
“Bang Yuda, Bang Yuda!” lirih Nayla dari balik jendela, terdengar begitu pelan.
Mendengar panggilan dari istrinya, Yuda pun bergegas lari kedalam dan menggenggam tangan Nayla.
“Ada apa sayang, Abang disini!” jawab Yuda dengan suara serak.
Dengan pelan Nayla membuka matanya, dan melihat disekitarnya.
“Bang!”
“Iya sayang, Abang di sampingmu!”
“Maafkan Nay, ya Bang!” kata Nayla terbata-bata.
“Iya Nay, Abang udah memaafkan semua kelakuan Nay, baik yang Nay sengaja maupun yang tidak. Bersabarlah, Nay pasti akan segera sembuh, dan kita akan segera berkumpul kembali seperti dulu lagi.”
“Bang!”
“Kenapa lama sekali datangnya?”
“Ada tugas kemanusiaan yang harus Abang kerjakan dan nggak bisa ditinggalkan sayang.”
“Kandungan Nay terasa sangat menyakitkan sekali, Bang.”
“Iya, Abang tau itu Nay, bukankah hari itu dokter udah melarang Nay untuk hamil lagi, karena resikonya sangat berat.”
“Lalu Nay mesti gimana?”
“Kalau udah mencapai bulannya, kita akan lakukan operasi aja.”
“Baik Bang, Nay ikut Abang aja.
“Iya sayang, karena hanya itu jalan terbaik yang harus kita lakukan.”
“Udah berapa hari Nay nggak sadarkan diri Bang?”
“Lebih dua minggu,” jawab Yuda sembari, mencium tangan Nayla yang berada di genggamannya.
__ADS_1
Yoga yang memperhatikan mereka berdua, hanya bisa tersenyum. Di saat itu, Yoga teringat dengan Siska yang akan menjadi calon istrinya. Senyumannya yang manis beralih ke bayangan Siska yang cantik.
“Aku harus kerumah Siska sekarang!” kata Yoga pada dirinya sendiri.
Di pinggir pintu, Yoga memanggil Yuda yang sedang berbicara dengan Nayla, mendengar suara Yoga memanggil, Yuda langsung keluar untuk menemui saudaranya itu.
“Ada apa Yog?”
“Aku mau kerumah Siska sebentar, ada sedikit urusan yang harus di selesaikan.”
“Baiklah Yog!”
Setelah minta izin pada Yuda, lalu Yoga pun pergi meninggalkan rumah sakit, sepeda motor miliknya langsung dinyalakan, dan berlalu dengan kecepatan penuh.
Hanya hitungan menit, Yoga pun tiba dirumah Siska, kebetulan saat itu Siska berada dirumah bersama Rangga.
Dengan tenang Yoga langsung mengetuk pintu, walaupun saat itu dia tau kalau Siska sedang menerima tamu.
“ Assalamu’alaikum!"
“Wa’alaikum salam.”
Lalu seorang gadis keluar seraya menanyakan nomor pin pada Yoga.
“Abang nggak punya nomor pin nya sayang, tapi Abang hanya punya kak Siska.”
“Maksud Abang apa sih?”
“Maksud Abang, tolong kamu panggil kak Siska, bilang Bang Yoga mau bertamu!”
“Kak Siska nggak ada, bertamunya ditunda dulu!” ucap Rena dengan setengah berteriak.
“Kalau kamu nggak mau panggil kak Siska nya, maka Abang nggak akan pulang.”
“Kalau nggak pulang, lalu Abang mau tidur dimana?”
“Di sini aja, didepan pintu rumahmu, jadi kalau kak Siska nanti buka pintu, maka dia akan melihat wajah Abang.”
“Kenapa mesti tidur disitu sih ! sana pulang!” bentak Rena pada Yoga.
Mendengar suara Rena yang keras, Yoga tak langsung marah, dia hanya tersenyum seraya melirik kedalam. Sementara itu, Siska yang mendengar Rena berteriak langsung datang menghampiri adiknya.
“Ada apa sayang? kenapa berteriak?”
“Tuh, ada tamu! tapi dia nggak mau diusir.”
“Kenapa di usir sih! mana tamunya yang kamu usir itu?”
“Tuh! duduk didepan pintu rumah kita.”
Setelah mendengar penjelasan dari Rena, Siska langsung membuka pintu dan menemukan Yoga sedang asik duduk seraya menyulut sebatang rokok.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*