
Yuda yang mendengar Yoga marah, dia hanya diam saja, karena apa yang dikatakan Yoga itu benar, sudah semua orang yang mencari keberadaan dirinya, akan tetapi Rangga tak memberitahukan hal itu pada semua orang.
Dia mengantar Nayla ke kamar dan keluar dengan tenang, tanpa memikirkan kesedihan orang lain.
“Aku mulai curiga dengan dr. Rangga itu, Yud.”
“Maksud mu apa Yog?”
“Dia menatap wajah istrimu, dengan tatapan mata seorang pecinta,” ujar Yoga tanpa berbasa basi.
“Ah, kau ini, tapi aku nggak melihat itu, kok.”
"Tapi sebaiknya kau berhati-hatilah dengannya.”
“Iya, Yog,” jawab Yuda dengan suara lembut.
Lalu malam itu Yuda dan Yoga, tidur di ruang tunggu berdua, mereka saling menahankan dinginnya angin malam, sifat kasih sayang diantara mereka masih terjaga dengan baik.
Sedangkan Nayla, hingga pagi tak bisa memejamkan matanya, rasa sakit hati karena penolakan Yoga masih saja terngiang di telinganya, kata-kata Yoga yang sangat pedih, menusuk hingga kerelung hati yang paling dalam.
Namun hal itu tak dirasakan oleh Yoga sama sekali, dia bersama Yuda tidur dengan nyenyak hingga pagi hari.
Sementara itu, Mutia sudah diizinkan Dokter pulang kerumahnya. Hati pak Ramon dan Sukesih menjadi senang sekali, karena putri sulungnya, telah kembali bersamanya.
“Mutia, kini kamu udah kembali nak, maafkan Papa, karena kesalahan Papa waktu itu, Mutia jadi kecelakaan begini.
“Papa, semua ini terjadi, bukan karena kesalahan Papa semata, tapi karena salah Mutia juga karena kurang berhati-hati saat menuruni tangga.”
“Gimana Pa, jadi kita mengundang Bang Yoga untuk makan malam disini?”
“Ya tentu sayang, karena Yoga telah menjaga dan merawatmu dirumah sakit. Disaat Papa dan Mama nggak diizinkan untuk cuti.”
“Iya, Pa. Kata perawat yang mengurus ku, Bang Yoga sering membaca ayat suci Al Qur’an, saat aku sedang tak sadarkan diri.”
“O, ya? bagus itu, karena ayat suci Al Qur’an, dapat menerangi jalan yang suram di saat fikiran kita terganggu. Dan ayat suci Al Qur’an juga dapat menuntun orang yang sedang koma atau mati suri. Semakin rajin membacanya, maka semakin bersih hati kita dari hal-hal yang kotor.
“Selain itu, Bang Yoga juga melarang perawat mengurus ku, katanya biar aku saja yang merawatnya, karena aku tak ingin saat dia bangun nanti, dia melihat orang lain disisinya.”
“Ooo! begitu rupanya, kalau begitu, berarti Yoga itu seorang lelaki yang bertanggung jawab pada istrinya kelak,” jawab Pak Ramon sembari tersenyum kearah Mutia.
“Selain itu Bang Yoga itu orang yang sangat lembut, Pa.”
“Hm, Papa tau itu sayang,” jawab Pak Ramon seraya terus membaca koran yang ada ditangannya.
“Pa, apa boleh besok aku pergi kesekolah.”
“Sekolah? kenapa terlalu cepat, nanti kalau kepalamu pusing gimana?”
“Aku udah sehat kok, Pa.”
“Benar kamu udah sehat?”
“iya, Pa! aku takut ketinggalan mata pelajaran terlalu lama, nanti aku bisa nggak naik kelas.”
__ADS_1
“Baiklah, Papa akan izini kamu pergi kesekolah, tapi ingat, jaga kondisi tubuhmu, jagan terlalu capek.”
“Baik, Pa,” jawab Mutia mengikuti nasehat Papanya.
Lalu dengan senang hati, Mutia berlari menuju tangga, sepertinya dia sudah sangat rindu pada kamar yang sudah lama ditinggalkannya.
“Hati-hati sayang, jangan berlari lagi, nanti kamu bisa jatuh!”
“Baik, Pa,” jawab Mutia seraya menghentikan larinya.
Setelah kejadian yang tak diduga itu, Pak Ramon sangat jauh berubah, kasih sayangnya terhadap Mutia menjadi yang paling utama.
Hari-harinya, selalu dihabiskan bersama anak-anaknya setelah pulang dari bekerja. Pak Ramon yang merasa tersakiti, disaat Mutia mengalami kecelakaan pada waktu itu.
Hal itu pulalah yang membuat Mutia menjadi senang dan bahagia, menurutnya, petaka yang menimpa dirinya menjadi kan kedua orang tuanya sadar, akan kewajiban mereka sebagai panutan bagi anak-anaknya.
Siang itu Sukesih dan bi Khodijah, begitu sibuk memasak di dapur, beraneka ragam masakan telah siap untuk di hidangkan malam nanti.
“Siapa yang mau makan, makanan sebanyak ini, Ma?” tanya Rika heran.
“Bang Yoga, nanti malam Bang Yoga mu, mau datang makan malam kerumah kita.”
“Benarkah itu, Ma!”
“Iya, masa Mama bohong!”
“Cihuy! Bang Yoga mau makan malam disini!”
“Benarkah itu kak?”
“Apa kak Mutia udah dikasih tau Mama, kak?”
Rika tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yuni kepadanya, hanya kedua bahunya yang dinaikan keatas, sebagai isyarat kalau dia sendiri tidak mengetahuinya.
“Kalau begitu, kita beri tau kak Mutia yuk kak!”
“Ayo!” ajak Rika dan Yuni yang telah sepakat melaporkan hal itu kepada Mutia.
Dengan begitu gembira, keduanya langsung berlari menaiki anak tangga, untuk menemui Mutia di kamarnya.
Sementara itu, didalam Mutia sedang asik memandangi foto Yoga, yang menurutnya telah menjadi dewa penolong untuk hatinya yang masih rapuh.
Lalu dengan tiba-tiba, Rika bersama Yuni datang untuk mengagetkan Mutia yang tampak tersenyum senyum sendiri.
“Aaaah, adek! ngagetin tau!” jawab Mutia sembari mengejar keduanya di lantai atas.
“Hee! anak-anak, jangan berlarian disana! nanti kalian jatuh!” seru Pak Ramon.
“Iya, pa! kami nggak lari lagi kok,” jawab Rika mewakili keduanya.
“Kak! kakak tau nggak kalau nanti malam, Papa dan Mama ngundang Bang Yoga makan malam dirumah kita.”
“Kakak, udah tau.”
__ADS_1
“Ooo, tapi kenapa kakak nggak ngomong sama kami berdua!”
“Apa kakak, mesti minta izin dulu dari kalian?”
“Nggak sih, tapi kan nggak enak kalau informasi ditelan sendiri.”
“Hm! gaya nya, kayak udah dewasa aja.”
“Apa menurut kakak, aku ini belum dewasa?” tanya Rika ingin tau,
“Belum! kamu belum dewasa Rika, tapi kamu baru meningkat remaja.”
“kalau begitu, aku masih lama lagi dong?”
“Maksudnya apa ini?” tanya Mutia tak mengerti.
“Yeah! kalau remajanya saja belum, apa lagi dewasa, pasti masih lama dong!”
“Emangnya Rika, ngapain, keburu-buru dewasa?”
“Aku mau kayak kakak, punya kekasih yang tampan dan sangat menyayangi diriku.”
“Ya ampun! adek kakak, yang manis ini ternyata udah kepingin menjadi seorang kekasih dari pria yang tampan,” puji, Mutia seraya memegang dagu Rika yang sedikit lancip.
“Tapi, masih lama lagi kan?”
“Rika, dengarkan kakak ya. Untuk menjadi seorang kekasih itu, kamu butuh belajar yang banyak, agar kau bisa mengendalikan dirimu, dari setiap lelaki yang akan menjalin hubungan dengan mu.”
“Apa seperti kakak?”
“Iya, sayang. Seperti kakak.”
“Baiklah, aku akan belajar lebih banyak lagi dari Kakak.”
“Lho, lho! kok belajarnya dari kakak sih!”
“Karena kakak yang punya kekasih tampan dan sangat menyayangi kakak. Dan aku nggak melihat hal itu dari temanku Sinta.”
“Kenapa, dengan Sinta?”
“Sinta itu selalu saja bertengkar dengan kekasihnya, hampir setiap kali mereka bertemu.”
“O, jadi Sinta udah punya kekasih.”
“Benar, kak! Sinta juga mengenali kekasihnya itu pada Rika dan teman-teman.”
“Ya ampun, kecil-kecil udah punya kekasih, gimana dewasanya nanti?"
“Tapi itu bukan urusan kita kan kak.”
“Iya, sih. Tapi untuk anak seperti kalian sangat tidak cocok untuk hal itu.”
Mendengar kakaknya bicara, Rika menjadi tidak senang, dia pun berlari menuju kamarnya. Mutia hanya memandanginya sembari geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*