
Betapa terkejutnya Rangga, saat dia masuk kedalam ruang rawat Nayla, dia tak menemukan istri Yuda itu diatas ranjang rumah sakit, akan tetapi dia sedang bersembunyi disudut ruangan, dibalik gorden kamar tu.
“Nayla sayang, kenapa bersembunyi?” tanya Rangga seraya memegang tangan Nayla untuk keluar dari persembunyiannya.
Ssst! jangan bersuara, nanti Asih datang.”
Melihat kondisi Nayla seperti itu, Rangga begitu terkejut sekali, karena Nayla terlihat sangat sembrautan. Dia pun berlari keluar ruangan itu, seraya memanggil Yuda.
“Benar, begitu Rangga?”
“Iya, Yud. Aku nggak bohong!”
“Ayolah kita kesana sekarang,” ajak Yuda pada Rangga.
Lalu dengan bergegas, mereka berdua pun berangkat menuju ruang rawat Nayla, benar saja apa yang dikatakan Rangga, kalau Nayla tak lagi tidur di ranjang rumah sakit.
“Ya Allah, Nay! kenapa kamu disini sayang?” tanya Yuda seraya menarik tangan Nayla dengan lembut.
“Bang Yuda! Nay ingin pulang, tadi Asih datang lagi!”
“Asih udah nggak ada Nay, dia sudah meninggal.”
“Dia ada Bang! Asih masih ada, dia baru saja datang menemui Nay. Nay takut Bang, Nay takut sekali,” jawab Nayla seraya menggenggam tangan Yuda dengan begitu erat.
Yuda merasakan betul betapa menderitanya istri tercintanya saat itu, seraya menarik nafas Panjang, Yuda hanya bisa menatap Rangga dengan sejuta pertanyaan.
Disaat itu muncul ide di kepala Yuda untuk menghubungi Yoga, dengan cepat dirogohnya kantong celananya untuk mengambil ponsel. Setelah membuka daftar panggilan, Yuda langsung menghubungi Yoga, yang saat itu masih berada di kantor.
“Hallo! asyalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam, apa kabar mu Yud?”
“Bisa nggak Yog, kamu datang kerumah sakit sekarang juga.”
“Ada apa, Yud?”
“Nayla Yog, Nayla!”
Mendengar nama Nayla disebut, hati Yoga langsung bergetar, telfon pun langsung dimatikan, dan Yoga mengemasi seluruh buku yang berserakan diatas meja tugasnya.
Yoga yakin kalau Yuda menelfon dengan suara lirih, pasti Nayla berada dalam keadaan yang mengkhawatirkan.
“Pak Yoga, mau kemana?” tanya Bu Sinta, guru Bahasa inggris.
“Aku lagi ada urusan sebentar, nanti kalau di jam olah raga, aku belum datang, tolong kabari anak-anak untuk mencatat saja. Bab 5 halaman 112.”
“Baik, Pak! tapi kalau kepsek bertanya aku mesti jawab apa?”
“Bilang aku sedang sakit perut.”
“Ooo, tapi! jika sakit perutnya beneran gimana?”
“Iya juga ya! kalau begitu ibu bilang aja aku sakit kepala, kan sakitnya nggak seberapa.”
__ADS_1
“Benar, sakit kepala?”
“Iya, sakit kepala.”
“Nggak dirubah lagi?”
“Aduh, Bu Sinta! kalau Ibu bertanya terus kapan aku berangkatnya.”
“Nggak tau, saya kan cuma nanya, nggak dirubah lagi alasannya? soalnya kalau Pak Yoga benar-benar sakit kepala, lalu naik sepeda motor yang super ribut itu! ya udah, pasti gagal berangkat deh,” kata Bu Sinta seraya mengangkat kedua bahunya.
“Ya udah, terserah Bu Sinta deh yang ngasih alasannya apa.”
“Saya nggak punya alasan untuk itu, Pak Yoga!”
“Ya udah kalau begitu Ibu diam saja, tutup mulut dan jangan bicara. Kata Yoga sembari terus melangkah dengan keburu-buru.
"Ya, terserah!" jawab Bu Sinta, seraya membenahi tempat duduk nya.
Dengan cepat sigap dan tangkas, Yoga langsung mengambil ancang-ancang, untuk sepeda motornya itu, hatinya penuh dengan tanda tanya, ada apa dengan Nayla.
Tas yang berisi dengan beberapa lembar pakaian, selalu tersedia di dalam jok sepeda motornya. Jarak yang begitu jauh dan menempuh dua jam perjalanan tak dirasakannya sama sekali.
Semua itu dia lakukan demi saudara kembarnya yang sangat membutuhkan pertolongan dari dirinya.
Setelah tiba, Yoga langsung memarkir sepeda motornya diparkiran, lalu dia pun bergegas masuk kedalam. Belum beberapa langkah, tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya, Yoga pun menoleh kebelakang.
Seorang pria bertubuh kekar tampak sudah berdiri bersama dua orang kawanannya.
“Ada apa?” tanya Yoga seraya melepaskan tangan pria itu dari pundaknya.
“Maaf, mungkin kamu salah dalam menilai, saat ini aku nggak punya waktu untuk mengurusi diri mu, jadi tolong beri aku jalan.”
“Ooo! nggak semudah itu, Bro!” kata pria itu sembari menengadahkan tangan kanannya.”
“Apa ini?” tanya Yoga tak mengerti.
“Uang parkir!”
“Ini kan area rumah sakit, apa aku harus membayar uang parkir juga?”
“Ya jelas lah, karena ini kan bukan tanah nenek moyang lu!”
“Ooo, tapi maaf aku lagi nggak punya uang saat ini, aku belum gajian,” jawab Yoga seraya mencoba berlalu meninggalkan ketiga pria itu.
“Jadi, mau cari gara-gara ya!” kata salah seorang pria itu seraya menendang sepeda motor milik Yoga hingga terjatuh.
Melihat hal itu, darah Yoga langsung mendidih, tapi dia mencoba untuk meredamnya, dengan tenang yoga mencoba memperbaiki posisi sepeda motornya yang terjatuh.
Lalu seorang pria datang menghampiri Yoga dan beberapa orang lainnya juga datang menghampiri Yoga.
“Dia itu biang onar dirumah sakit ini nak, pria-pria ini, selalu saja menagih uang parkir pada kami setiap kami memarkirkan kendaraan kami disini.”
“O ya, jadi selama ini, mereka sudah memalak kalian semua? ”
__ADS_1
“Iya, nak.”
“Baiklah, kalau begitu, untuk membuat efek jera aku akan memberi pelajaran pada mereka semua.”
“Jangan sombong dulu!”kata pria itu.
“Sini, tunjukkin kebolehan kalian, kalau kalian benar-benar jago!”
Kemudian pertengkaran pun tak dapat dielakkan, pukulan demi pukulan pun bersarang di posisinya masing-masing. Yoga yang selalu aktif di ilmu bela diri, begitu senang melayani ketiga pria itu. Tidak perlu mengeluarkan jurus andalannya, ketiga pria itu langsung bertekuk lutut dihadapan Yoga.
“Maafkan kami Bang!” jawab salah seorang dari pria itu.
“Iya, Bang kami janji, kami nggak bakalan menagih uang parkir lagi disini.”
“Kalian tau nggak, dr. Rangga itu, adalah Abang kandung ku, kalau nanti ada keluarga kalian yang sakit maka dia yang akan menolong kalian.”
“Iya, Bang. Kami bertiga minta maaf.”
“Baiklah, mulai hari ini, kalian aku maafin tapi ingat mulai hari ini parkiran ini, adalah milik ku, dan tak seorang pun diantara kalian yang boleh menagih uang parkir disini.”
“Baik Bang,” jawab pria itu sembari pergi meninggalkan Yoga bersama yang lainnya diparkiran itu.
“ Nah sekarang posisi parkiran ini aman untuk kalian tempati, dan nggak akan ada lagi yang mengganggu.
“Terimakasih, nak! berarti kami udah aman menempatinya mulai dari sekarang?”
“Iya, kalian udah aman memarkirkan kendaraan kalian, kalau begitu saya permisi dulu,” ujar Yoga seraya meninggalkan mereka semua.
Dengan langkah tenang, Yoga pun langsung menuju keruangan rawat Nayla. Sesampainya didalam, betapa terkejutnya Yoga, saat melihat Nayla telah duduk diatas ranjang seraya *******-***** kain selimut karena ketakutan.
.
“Yog!” sapa Yuda yang saat itu posisinya sedang berada di hadapan Nayla.
“Ada apa, Yud! kenapa dengan istri mu?”
“Dia mimpi, Yog! hantu Asih telah membawanya pergi bersamanya.”
Lalu dengan suara lembut, Yoga mencoba menghampiri Nayla. Dengan pelan Yoga membacakan ayat suci Al qur’an di telinga Nayla.
Ayat-ayat itu berkumandang dengan merdu sekali, hingga hal itu membuat Nayla terlena dan tertidur.
“Cobalah membaca ayat suci Al Qur’an setiap dia mengalami ketakutan, Yud.”
“Baiklah, Yog.”
“Jadi gimana Rangga, kapan rencana operasi kedua itu akan dilaksanakan?”
“Tergantung kondisi Nayla, kalau fisiknya udah cukup kuat untuk menjalani operasi, maka operasi akan segera kita laksanakan.”
“O, baiklah.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*