
Yuda yang melihat istrinya tampak kurang sehat, dia pun melarang Nayla untuk datang ke pernikahan Yoga, namun Nayla enggan untuk menjawabnya.”
“Kenapa harus dipaksakan Nay, kalau lagi nggak enak badan sebaiknya Nay dirumah aja?”
Nayla tidak menjawab, dia terus saja berdandan dengan menor, Yuda yang tak biasa melihat istrinya berdandan seperti itu mencoba untuk menghapus dandanan istrinya, namun Nayla mengulanginya lagi.
Yuda merasa begitu heran saat itu, seraya duduk diatas sofa, Yuda mencoba mempelajari tingkah laku istrinya.
Dan pada saat itu, Yuda beranggapan kalau Nayla sedang cemburu pada Siska, itu sebabnya dia enggan untuk menghadiri pernikahan Yoga.
“Ada apa Nay? kenapa kau berdandan seperti itu?”
“Nay berdandan mengikuti trend anak zaman sekarang, Bang!” jawab Nayla datar.
“Tapi Abang nggak suka melihat Nay dandan berlebihan!”
“Kenapa Abang yang sewot, yang berdandan itu kan Nay?”
“Iya, tapi hal itu nggak biasa Nay lakukan bukan?”
Tampa memperdulikan ucapan Yuda, Nayla terus saja berdandan seperti yang dia inginkan. Sebenarnya dia melakukan hal itu dengan sengaja, karena rasa sakit hatinya pada Yoga yang menikahi wanita lain.
Setelah semuanya naik kedalam mobil, Yuda dan Nayla belum juga muncul, semua penumpang menjadi resah, Kartini menyuruh seseorang memanggil Yuda agar segera berangkat.
“Hei, nak!”
“Saya Bu?”
“Iya, kamu!”
“Ada apa, Bu?”
“Tolong kau panggilkan Yuda, agar segera keluar, bilang semua orang udah merasa gelisah di atas mobil.”
“Baik, Bu,” jawab pria itu seraya bergegas menemui Yuda yang saat itu masih menunggu Nayla berdandan.
“Tok, tok, tok!” pintu pun diketuk dari luar.
“Siapa diluar?”
__ADS_1
“Saya Pak Yuda!”
“Ada apa?”
“Katanya Pak Yuda dan Ibu disuruh cepat keluar, karena semua orang udah resah di dalam mobil!”
“O, baiklah!”
“Ayolah Nay, percepat dandannya, nanti kita bisa terlambat loh.”
“Kalau Abang nggak sabaran, Abang pergi aja duluan.”
“Ya Allah, Nay! sebenarnya kamu ini kesal sama siapa sih?”
“Nay nggak kesal kok, Abang aja yang nggak sabaran,” jawab Nayla seraya mengemasi perlengkapan make up miliknya.
Setelah merasa sempurna menurut keinginannya, Nayla langsung saja keluar, ingin sekali Yuda menegurnya, tapi Yuda takut kalau Nayla marah padanya.
Sementara itu, dari atas mobil yang melihat Nayla keluar saat itu, mereka hanya bisa saling beradu pandang satu sama yang lain. Perasaan heran sebenarnya sudah terasa di hati mereka, tapi karena Yuda diam saja, terpaksa yang lainnya juga ikut terdiam.
Akan tetapi hal itu tak sependapat dengan Ningsih, dia yang saat itu berada disamping Nayla, langsung mengarahkan wajah Nayla ke hadapannya.
“Ada apa Ningsih?”
Sebenarnya Ningsih tau, kalau make up Nayla sangat acak-acakan, dan bahkan hampir mirip dengan badut lepas control.
Begitu juga sebaliknya, sebenarnya Nayla begitu sadar dengan apa yang sedang dia lakukan. Tapi karena rasa sakit yang sangat perih di hatinya, Nayla dengan kesal melakukan hal itu.
“Huh, Ningsih, kenapa kau memperbaiki make up kakak sih?” gerutu Nayla didalam hati.
Sementara Ningsih, yang tau tentang perselingkuhan Yoga dengan Nayla, terpaksa harus melakukan hal itu, agar Nayla tidak malu di hadapan tamu yang banyak.
Benar saja, Ningsih memang sudah dua kali memergoki Nayla bercinta bersama Yoga. Pertama sewaktu dia mampir dirumah Nayla, dan yang kedua sewaktu Yuda pergi keluar, dari rumah Kartini pagi itu dan Ningsih melihat Yoga menyelinap masuk.
Ningsih melihat sendiri, kalau Nayla bersama Yoga bermesraan sampai melepaskan pakaian mereka berdua.
Sebenarnya ingin sekali Ningsih memberi tahukan hal itu pada Kartini, tapi Ningsih takut, karena ulahnya keluarga itu hancur.
Ningsih juga merasa segan dengan kebaikan keluarga itu, yang telah menerimanya sebagai bagian yang di sayangi. Bahkan karena kebaikan Yoga, Ningsih bisa melanjutkan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi.
__ADS_1
Sejak saat itu, Ningsih hanya menyerahkan semua kecurangan itu pada Allah yang maha kuasa. Seraya berdo’a.
Setelah beberapa waktu dia bermohon dan berharap, akhirnya do’a seorang mu’alaf, cepat di ijabah oleh Allah Swt. Hingga Ningsih bisa tersenyum bahagia tanpa harus menanggung beban yang berat lagi di pundaknya.
Beberapa saat kemudian sampailah mereka semua di kediaman Siska, mempelai wanita.
Dengan gagahnya, Yoga keluar dari dalam mobil yang di damping oleh Mama dan Yuda.
Di hadapan penghulu, Yoga duduk bersanding dengan Siska, keduanya sangat cocok dan serasi. Walau sudah sedikit berusia lanjut, namun karena mereka hidup dalam karir mereka masing-masing, sehingga wajah mereka masih terlihat muda.
Sedangkan di samping Yoga ada Kartini dan Yuda yang duduk saling berdampingan. Melihat Yoga duduk bersanding dengan Siska, hati Nayla terasa seperti sedang diiris-iris dengan pisau yang sangat tajam.
Berkali-kali Nayla memegang dadanya yang terasa begitu sakit. Namun Yoga saat itu sungguh tak berdaya, seraya melirik kearah Nayla dia mencoba bersikap tenang.
“Gimana sudah siap semua?” tanya penghulu, pada kedua pengantin dan saksi yang saat itu sedang duduk di sisi kanan dan kiri mempelai.
“Siap, Pak,” jawab mereka semua serentak.
Setelah mereka semua merasa siap, penghulu langsung mengucapkan Do’a yang langsung diikuti oleh Yoga mengucapkan ijab dan Qobul.
Pada bacaan pertama Yoga tak sanggup bicara sepatah kata pun, lalu penghulu, menyarankan Yoga untuk meminta maaf pada orang tua dan saudara yang lainnya.
Sesuai perintah Pak penghulu, Yoga pun meminta maaf pada Mama dan Yuda, orang yang selama ini dianggap paling berarti dalam hidupnya.
Setelah hal itu dia lakukan, Yoga masih saja tak sanggup berkata apa-apa. Lidahnya terasa begitu kelu saat hendak mengucapkan kata itu.
Lalu Ningsih angkat bicara, walau dihatinya merasa kasihan sekali pada Yoga, namun hal itu harus dia lakukan.
“Maaf, boleh aku bicara?” tanya Ningsih pada semua yang hadir di saat itu.
“Ya, silahkan sayang,” jawab Yuda lembut.
“Sebenarnya aku nggak mau ikut campur dalam urusan ini. Tapi karena Kak Yoga nggak sanggup mengucapkannya, gimana kalau Kak Yoga meminta maaf juga sama kak Nayla, bukankah selama ini, kita juga sama-sama satu keluarga?”
“Ya Ningsih benar, apa salahnya kalau semua itu kita coba, siapa tau dengan izin Nayla pernikahan ini dapat dilangsungkan dengan lancar," ucap Kartini.
Sebenarnya, Yoga sangat berat hati untuk melakukannya, mengingat Nayla yang dari awal juga tak pernah merestui pernikahannya itu.
“Lakukanlah nak,” kata Kartini dengan suara lembut.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*