Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 31 Perubahan sikap Nayla


__ADS_3

“Ya, kalaupun ada, pasti udah terlupakan. Karena sibuk mengurusi rumah tangga.”


“Ya, ya! kau memang benar, kalau kita sudah berumah tangga, kita pasti punya kesibukan masing-masing, sehingga banyak yang sudah terlupakan.”


“Ya, udah Sis! kalau begitu aku pulang dulu.”


“Oh baiklah, tapi gimana dengan operasi istrimu?”


“Nanti akan kucoba membahasnya dengan teman di kantorku, mana jalan yang terbaik.”


“Oh gitu, baiklah, semoga istrimu bisa segera sembuh nantinya.”


“Ya, terimakasih Sis,” kata Yuda seraya mengambil tas yang ada disamping kirinya.


“Sama-sama Yud,” jawab Siska seraya terpana menatap Yuda dari belakang.


Setelah Yuda keluar dari ruangan itu, dia langsung menuju rumah, seperti yang dikatakannya kepada Siska.


Didepan pintu, Nayla telah menunggu dengan perasaan cemas. Akan tetapi perasaan khawatir itu langsung hilang ketika Nayla melihat mobil Yuda memasuki gerbang rumahnya.


“Kenapa begitu lama sih, Bang?" tanya Nayla sewaktu suaminya baru saja membuka pintu mobil.


“Abang tadi mampir, kerumah sakit tempat Siska bertugas,” jawab Yuda dengan polos.


Akan tetapi, hal itu membuat Nayla terkejut seketika, jawaban suaminya yang polos itu telah membuat jantungnya berhenti berdetak.


Nayla pun gagal fokus, hingga gelas yang berada ditangannya terlepas tak terasa, air kopi yang baru dibuatnya untuk Yuda berserakan membasahi sebagian gaunnya yang berwarna ungu.


“Ada apa sayang? kamu sakit?” tanya Yuda ingin tau.


Namun tak ada jawaban dari Nayla, wajahnya langsung berubah seketika, senyumannya yang begitu manis berubah menjadi bengis.


“Ada apa sayang, Nay lagi marah sama Abang?” tanya Yuda tak mengerti.


“O jadi, Abang diam-diam bertemu dengan Siska?”


“Maksudmu apa Nay, Abang nggak mengerti?”


“Nggak mengerti apanya, Bang? jelas-jelas, Abang sendiri yang bilang, kalau Abang baru bertemu dengan Siska kan?”


“Hm, kayaknya ada yang lagi cemburu ya?”


“Cemburu apanya, Nay lagi marah tau!”


“Abang tau sayang, gimana kalau marahnya kita lanjutkan aja diatas ranjang! Nay setuju kan!” kata Yuda seraya menggendong tubuh istrinya kekamar.


Disaat rasa kesal masih menyelimuti hatinya, Nayla mencoba untuk meronta-ronta dari gendongan Yuda.


Tapi pria Tangguh itu, tak memperdulikannya, gairahnya malah semakin memuncak ketika melihat istrinya meronta-ronta di pangkuannya.


Karena tak mendapat tanggapan dari Yuda, Nayla pun akhirnya melunak dan mengikuti permainan yang dilakukan suaminya itu.


Mereka berduapun saling bercumbu mesra, membangkitkan kenangan indah yang tak akan pernah terlupakan, maka hilanglah rasa amarah dan dendam yang hampir merusak kebahagian rumah tangga.

__ADS_1


“Jadi gimana operasi Nay itu, Bang?” tanya Nayla ingin tau kepastiannya.”


“Dr.Rangga, yang dimaksudkan oleh Siska itu, saat ini dia masih berada di Negara Ukraina, dia menjadi relawan disana.”


“Jadi, dia nggak bisa datang ke Indonesia?”


“Iya, sayang. Urusan dengan dr. Rangga, terpaksa kita gagalkan.”


“Kenapa harus digagalkan?”


“Abang ingin operasi pengangkatan kangker itu harus segera dilaksanakan sayang.”


“Tapi, Kata Siska, kan dr. Rangga, itu seorang dokter terbaik.”


“Iya, dalam bidang pembedahan, memang dr. Rangga, yang terbaik, tapi kita nggak mungkin menunggunya datang ke Indonesia kan?”


“Kenapa emangnya?”


“Butuh waktu yang sangat lama sayang?”.


“Tapi Nay maunya, dia yang melakukan operasi itu, Bang.”


“Oh, Nayla, Nayla! dr. Rangga atau bukan, hasil operasinya itu pasti sama sayang?”


“Nggak Bang, operasi yang dilakukan dokter biasa, dengan operasi yang dilakukan oleh dokter professional, itu pasti jauh berbeda.”


“Ya udah, kali ini Abang ngalah aja ! mau Nay itu sebenarnya apa?”


Seraya menarik nafas Panjang, Yuda pun terhenyak di atas sofa. Semakin hari Yuda semakin bingung, melihat tingkah laku Nayla yang selalu berubah-ubah.


Nayla sering kali menaruh perasaan cemburu yang berlebihan, walaupun dia tak mengungkapkannya, tapi Yuda membaca gelagat itu dari istrinya.


Nayla juga sering diam, walau sudah beberapa kali dipanggil, namun dia tetap diam. Dia juga sering melamun, seperti sedang memikirkan sesuatu.


Kalau diajak bicara, Nayla sering emosian dan tak pernah mau mengalah. Dia merasa ucapannya selalu benar dan tak pernah salah.


Pagi itu, Yuda melihat langsung dengan mata kepalanya, kalau Nayla mendorong Andika hingga terjatuh, pada hal hanya masaalah sepele. saat Andika merengek minta dibuatkan susu.


Biasanya, sesibuk apapun, Nayla, tapi kalau Andika minta dibuatkan susu, dia pasti membuatkannya, tampa harus marah dan emosi.


“Sebenarnya, kamu itu, kenapa Nay?” tanya Yuda heran.


“Nay capek, Nay mau istirahat Bang,” jawab Nayla ketus.


“Mama kenapa Pa? kenapa dia marah sama aku.”


“Mama itu saat ini sedang sakit, sayang,” jelas Yuda pada putranya.


“Mama sakit apa, sih Pa?” tanya Andika ingin tau.


“Mama sakit perut, jadi Andika jangan banyak minta sama Mama ya?”


“Iya, Pa. Tapi tadi itu, aku kan hanya minta dibikinin susu, biasanya, Mama juga bikini kok, nggak pernah marah kayak tadi itu.” jawab Andika dengan raut wajah cemberut.

__ADS_1


“Iya, Andika memang benar, tapi untuk kali ini, Andika harus maafin Mama ya, nak.”


“Baiklah, Pa!” Andika akan minta maaf sama Mama.” Kata Andika seraya berlari menyusul Nayla ke kamarnya.


Setiba didepan kamar Nayla, Andika tidak langsung masuk kedalam, tapi dia hanya berdiri didepan kamar Nayla, seraya mengintip dari balik gorden.


Didalam kamar, Andika melihat Mamanya menangis tersedu-sedu, sembari berkata.


“Aduh.”


Andika diam saja, tapi dalam hati kecilnya, dia merasa sedih sekali.


Setelah beberapa saat kemudian, Nayla baru sadar kalau didepan pintu ada Andika disana, yang juga saat itu ikut menangis.


Nayla pun bangkit dari tidurnya dan datang menghampiri Andika, yang saat itu masih menangis.


“Andika sayang, kenapa kamu menangis?” tanya Nayla dengan suara lembut.


Mendengar suara Mamanya sudah berubah menjadi lembut, Andika langsung memeluk Mamanya itu.


“Sebenarnya, Mama sakit apa sih?”


“Mama nggak sakit apa-apa sayang,” jawab Nayla berbohong.


“Tapi tadi, aku melihat Mama menangis sambil bilang, aduh?”


“O ya! apa Andika dengar suara Mama tadi ?”


“Iya, Ma! kata Papa, Mama itu sedang sakit perut, makanya aku datang kesini, untuk minta maaf.”


“Mama udah maafin Andika, kok,” jawab Nayla seraya membelai rambut putranya.


“Aku janji sama Mama, kalau aku nggak bakalan minta apapun lagi sama Mama.”


“Mama minta maaf, ya sayang, tadi Mama nggak sengaja mendorong Andika, Mama khilaf.”


“Iya, Ma. Andika juga udah maafin Mama, kok !”


“Waah itu baru keluarga yang sakinah, saling berbagi dan saling memaafkan satu sama lainnya.”


Melihat suaminya datang, Nayla langsung tersenyum manis, dan diapun memeluk tubuh Yuda dengan lembut.


Dalam hati Yuda berfikir. Apa karena kesibukannya selama ini, sehingga dia kurang memperhatikan istri dan anaknya, atau mungkin karena kelalaiannya, sehingga istrinya bisa jatuh sakit.


“O aku ada ide, gimana kalau ku ajak mereka refreshing, siapa tau dengan cara bertamasya, hati mereka menjadi senang dan bahagia,” gumam Yuda pada dirinya sendiri.


“Kenapa sih, Bang? kok mandang nya serius kali?” tanya Nayla ingin tau apa yang dirasakan suaminya.


" Mumpung cuti Abang masih banyak, gimana kalau kita pergi tamasya bersama !” kata Yuda pada istrinya.


Bersambung...


"selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2