Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 57 Kesal


__ADS_3

“Nay, jika saja kau orang lain dan bukan istri saudara kembar ku, pasti dari dulu kau udah Abang nikahi. Tapi Abang nggak ingin merusak kepercayaan yang telah diberikannya!”


“Kau sangat pandai bermulut manis Bang.”


“ Percayalah Nay, bukankah cinta itu tak harus memiliki. Kita masih bisa bertemu kapan saja. Tapi jangan paksa aku mengkhianati Yuda.”


“Bohong! Nay nggak percaya dengan alasan apapun yang Abang berikan, karena Nay udah tau jawabannya, semua itu pasti karena cintamu pada gadis itu.”


“Udahlah Nay, capek kalau kita membahas hal itu terus!”


“Kenapa? apa Abang udah bosan?”


“Nay, percayalah pada Abang, berhentilah untuk terus bertanya, karena semakin banyak Nay bertanya, maka semakin sakit yang Nay rasakan,” kata yoga.


Mendengar hal itu Nayla semakin sedih, hatinya telah terluka oleh perbuatan Yoga. Rasa sakit karena bekas operasi tak lagi dirasakannya, tapi yang tinggal hanya rasa sakit yang teramat perih oleh ulah orang yang dicintainya.


Dihadapan Yoga, Nayla menangis tersedu-sedu, air matanya tak kuasa untuk dibendungnya lagi. Yoga pun berusaha untuk menenangkannya, namun Nayla terus saja menangis.


Yoga berulangkali memeluk dan menciumi Nayla, tapi Nayla terlanjur tersakiti.


Disaat bersamaan, Mutia pun datang dan dia menyaksikan sendiri apa yang dilakukan Yoga pada Nayla. Mutia melihat Yoga memeluk dan menciumi Nayla berulang-ulang kali serta menggenggam tangan Nayla dengan mesranya, Hati Mutia terasa begitu sakit.


“Ternyata benar kecurigaan ku selama ini, ternyata Bang Yoga punya hubungan sepesial dengan Kak Nayla. Kalau nggak punya hubungan, nggak mungkin Bang Yoga ngambil cuti segala, untuk mengurus Nayla, huuuh,


dasar!” gerutu Mutia seraya melangkah lebih dekat lagi.


“Ini benar-benar udah keterlaluan, bukankah Nayla itu sudah punya suami yang bisa merawatnya,” kata Mutia sembari menyelonong masuk dan menghampiri mereka berdua.


“Ooo, begini ternyata kelakuan kalian berdua dibelakang ku dan Bang Yuda!”


Melihat kehadiran Mutia yang tiba-tiba, Yoga pun terkejut alang kepalang dan dengan cepat pula dilepaskannya tangan Nayla dari genggamannya.


“Mutia!” teriak Yoga kaget.


“Nggak usah malu-malu, aku udah melihat semuanya kok, dan bahkan sedari tadi aku melihatnya. Kau benar-benar kejam Bang, aku nggak nyangka sama sekali, kalau begini kelakuanmu dibelakang ku,” kata Mutia seraya menangis dan memukul-mukul Yoga.


Yoga yang merasa kesalahannya terbongkar, dia langsung marah dan membentak Mutia.


“Itu semua salah mu, kenapa masuk nggak mengetuk pintu dulu!”


“Untuk apa! mungkin kau udah lupa, kalau sekarang ini kau berada dirumah sakit, dan ini bukan tempat bermesraan, jadi aku nggak perlu mengetuk pintu dulu kalau ingin masuk!” ucap Mutia dengan nada tinggi.


“Mutia! jaga ucapan mu!” bentak Yoga seraya mengangkat tangannya.


“Apa! mau mukul aku! Pukul aku, pukul!” teriak Mutia sambil berlari keluar.

__ADS_1


Karena merasa bersalah, Yoga pun berlari menyusul kekasihnya itu, tapi Nayla telah lebih dahulu memegang tangannya.


“Nggak perlu dikejar, kalau kau nggak punya hubungan apa-apa dengannya,” kata Nayla datar.


Yoga yang selama ini menutupi, identitas Mutia pada Nayla, tak dapat berbuat banyak. Dibiarkannya Mutia pergi membawa seribu duka.


Karena Nayla mencegahnya untuk mengejar Mutia, hati Yoga terasa begitu sakit sekali. Diapun pergi kekamar mandi dan menangis di derasnya air kran yang sedang mengalir.


“Maafkan Abang, Mutia ! tak seharusnya Abang membentak mu didepan Nayla, pasti kau merasa begitu tersakiti oleh Abang tadi sayang!” kata Yoga dengan perasaan yang hancur.


Sementara itu, Mutia yang disebut-sebut Namanya, dia telah berlari keluar dari rumah sakit. Benar sekali dengan apa yang dirasakan Yoga, kalau pada saat itu hati Mutia benar- benar telah tersakiti.


Air matanya tak henti-hentinya mengalir, di teras rumah sakit, Mutia mencurahkan semua kesedihan dan rasa sakit hatinya.


Yoga yang saat itu merasa bersalah dan telah berbuat kasar padanya, mencoba keluar tampa harus mengindahkan perintah Nayla.


Dari kejauhan Yoga melihat Mutia menangis tersedu-sedu, dibalik tiang rumah sakit.


“Oh syukurlah, ternyata dia belum pergi,” kata Yoga seraya berlari menghampiri Mutia.


“Maafkan Abang Mutia?” kata Yoga seraya meraih pundak Mutia.


“Tentang ap?” tanya Mutia seolah-olah tak terjadi apa-apa.


“Tentang masaalah yang tadi.”


“Jangan gitu dong sayang! Abang kan udah minta maaf, Abang ngaku, Abang khilaf dan terbawa emosi.”


Mutia diam saja, hanya air matanya yang terus saja mengalir, meskipun dia telah berusaha untuk menutupinya.


“Terus terang, Abang nggak punya hubungan apa-apa dengan Nayla. Kamu tau sendirikan, kalau Nayla itu adalah istri dari saudara kembar Abang. Ya nggak mungkinlah! untuk Abang khianati. Tadi itu Mutia mungkin salah paham, abang sebenarnya tadi hanya ingin menenangkannya saja, tak lebih kok.”


Walau Panjang lebar Yoga menerangkannya pada Mutia, namun Mutia tak menggubrisnya sedikitpun, hatinya begitu sakit sekali karena Yoga telah mengkhianatinya.


“Mutia, apa kau mendengarkan Abang?”


Mutia tetap saja diam, tak sepatah katapun yang bisa diucapkannya, tapi air matanya telah membuktikan betapa sakitnya hati Mutia disebabkan penghianatan itu.


Yoga pun mendekati Mutia dan menggenggam kedua tangannya, namun Mutia menarik tangan itu dari genggaman Yoga dan berlalu meninggalkan Yoga sendirian.


Diparkiran rumah sakit Mutia menghampiri mobilnya. Diapun membuka pintu mobil itu dengan amarah yang meluap-luap.


“Kita pulang Neng?” tanya Brata sopir pribadi papanya.


“Kita keliling dulu Bang!”

__ADS_1


“Tapi mobil mau dipakai tuan Neng!”


“Ya udah, kita pulang aja.”


“Baik Neng,” jawab Brata sambil memutar stir mobilnya kearah menuju rumah Mutia.


Disepanjang jalan, tak sepatah katapun yang terucap dari bibir Mutia, padahal Brata adalah teman bicaranya semenjak kecil, bersama Brata lah, Mutia tumbuh dan berbagi cerita.


Karena merasa hal yang tak wajar, Brata pun memberanikan diri untuk bertanya pada Mutia tentang apa yang terjadi.


“Kenapa diam Neng apa ada masalah?”


“Nggak ada!" jawab Mutia ketus.


“Tapi Abang hafal banget, siapa diri Neng, kalau wajahnya udah mirip kayak comberan tuh, Haha! Pasti ada masaalah? tapi kayaknya masaalah kali ini sangat menyakitkan hati, makanya Abang nggak berani mendengarkannya.”


“Tuh! Bang Yoga, kayaknya benar-benar deh, bikin aku kesal! masa dia lebih mementingkan istri saudara iparnya ketimbang aku.”


“Ah nggak mungkinlah Neng?”


“Kenyataannya begitu, apanya yang nggak mungkin?”


“Kalau begitu kekasih Neng itu sedang selingkuh dengan istri saudaranya sendiri dong!”


“Ssst! jangan asal ngomong kenapa sih Bang, nanti kedengaran orangnya, loh?”


“Orangnya siapa?”


“Ya Bang Yoga, lah!”


“Tapi kita kan Cuma berdua Neng, dan yang ketiganya syetan.”


“Ah Bang Brata bisa aja,” kata Mutia seraya tersenyum malu.


Brata yang melihat tingkah laku majikannya, diapun tersenyum-senyum sendiri. Mutia yang tadinya berwajah cemberut, tampak sedikit berubah.


Dan tak terasa mobilpun tiba didepan rumah Mutia, Brata langsung memutar stir mobilnya kearah kanan. Karena didepan , Pak Ramon bersama istrinya telah menunggu dengan dandanan yang sangat rapi.


“Kenapa begitu lama Brata?” tanya Pak Ramon tak sabaran.


“Neng Mutia tadi menjenguk temannya tuan!”


“Iya! Saya udah tau itu, tapi kenapa begitu lama sekali baru kembalinya? saya kan bisa terlambat menghadiri rapatnya.”


“Maafkan saya tuan,” jawab Brata seraya membungkukkan badannya.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2