Dipinang CEO

Dipinang CEO
Awal yang baru


__ADS_3

Tuan Regan kemudian mengajak Mila kekamar tamu. Dan menyuruh Mila untuk membersihkan kamar itu sebelum dipakai. Nampak banyak sarang laba-laba dibeberapa sudut kamar. Mungkin kamar ini sudah lama tidak digunakan sehingga jarang dibersihkan.


"Mila ini adalah kamarmu selama kamu tinggal disini. Cuma kamar ini sudah lama tidak dipakai, jadi jarang dibersihkan mungkin sama mbak Mutia."


"Iya ngga papa Tuan, saya akan membersihkan lebih dulu."


"Ya sudah Mila, maaf aku tidak bisa membantumu karena aku akan menjemput Catherine."


"Baik Tuan."


Kemudian Mila mengambil sapu dan mulai membersihkan kamarnya dan mengelap lemari juga meja yang penuh dengan debu.


Tiba-tiba Edsel dan Eiden masuk dan menginjak sapu yang dipakai Mila. Mila terpaksa menghentikan pekerjaannya, dan tersenyum dengan kenakalan kedua adik dari Tuan Regan.


"Wah-wah kalian hebat ya, kalian bisa tepat menginjak sapunya. Apakah kalian lagi main game injak-injak sapu?" Kata Mila menegur kedua bocil itu dengan lembut tanpa amarah. Dia tahu bahwa kedua bocil itu sengaja mengganggunya mungkin karena ingin mencari perhatian.


Edsel dan Eiden kemudian saling berpandangan karena yang diganggunya tidak marah malah mengajaknya bercanda.


"Gimana?"Tanya Edsel pada Eiden.


Eiden kemudian mengangkat bahunya dan melepaskan pijakannya pada sapu yang sedang dipakai Mila.


"Na na na na na....."Edsel kemudian mengambil biskuit dan makan dikamar Mila sambil bersenandung, sementara Eiden mengikutinya dari belakang sambil memegang minuman.


Mila hanya geleng-geleng kepala melihat kedua bocil itu sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Wah....berantakan!" Teriak Edsel yang sengaja menumpahkan remah-remah roti dilantai yang sudah disapu Mila.


"Yaaahhh...aku juga. Gimana ini?" Mereka pura-pura bingung padahal mereka sengaja menganggu Mila. Entah apa tujuanya namun sepertinya mereka selalu mengganggu orang yang belum dikenalnya.


Pantesan aja baby sitter nya ngga ada yang betah. Ternyata begini kelakuan kedua bocil itu.


"Na na na na na...." Mila malah sengaja bernyanyi dan bersenandung, dia pura-pura tidak terpengaruh dengan kenakalan kedua bocil itu.


"Kenapa dia tidak marah?" Tanya Eiden adik dari Edsel.


"Entahlah!"


"Ya sudah hari ini kita main diluar aja. Besok kita baru datang kemari lagi." Kata Edsel pada Eiden.


Mereka berdua kemudian berlarian keluar kamar dan saat ini sudah berada diluar rumah didekat taman.

__ADS_1


Mila bisa melihat apa yang kedua bocil itu lakukan dari jendela kamarnya.


Kamar ini lumayan besar. Sayang sekali ada kamar kosong dan tidak ada yang menempatinya.


Jika sudah dibersihkan ternyata kamar ini begitu nyaman. Kasurnya juga empuk ada jendela yang besar sehingga udara bisa keluar masuk dengan leluasa. Tidak seperti kontrakannya, jendelanya tidak bisa dibuka. Jika dibuka maka engselnya akan terlepas dan jendela itu akan rusak akibat rumah itu sudah sangat tua dan tidak terawat. Tidak ada orang yang mau menyewa rumah itu meskipun harganya murah. Hanya keluargaku yang mau menempati rumah itu karena kondisi ekonomi kami yang sangat pas-pasan.


Sekarang aku tinggal di istana sultan yang semua serba putih bersih dan rapi. Meskipun aku bukan pemiliknya, aku hanyalah baby sitter namun aku tetap bersyukur bisa tinggal dirumah semewah ini.


Tiba-tiba terdengar tangisan yang sangat kencang!


Hua hua hua!


Aku segera berlari keluar dan kulihat salah satu dari sikembar itu jatuh dan lututnya berdarah.


Aku kemudian dengan cepat menggendongnya dan untunglah dia tidak menolak.


"Sudah jangan menangis. Mbak Mila akan mengobati lukanya."


Aku kemudian menidurkannya diranjangku yang sudah aku bersihkan dan mulai mengobati lukanya dan menempelkan plester pada lututnya.


Sampai tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara Oma dari pintu kamarku.


"Ada apa?! Kenapa dengan cucuku?! Kenapa bisa jatuh? Apakah kamu tidak menjaga mereka? Baru sehari bekerja salah satu dari cucuku sudah terluka. Kamu gimana sih? Bisa kerja apa ngga?" Oma yang tadi aku temui diruang tamu tiba-tiba memarahiku dengan suara yang keras dan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi.


"Namanya Edsel!" Kata Omanya ketus banget.


Jantungku sampai berhenti berdetak mungkin karena debarannya yang begitu kencang dan tidak karuan. Baru sehari bekerja dan aku sudah membuat kesalahan. Bagaimana jika aku dipecat saat ini juga?


"Edsel...apakah masih sakit?"


Tanyaku pada Edsel yang saat ini sudah selesai aku obati.


"Sudah ayo kalian ikut Oma!" Kemudian kedua bocil itu berjalan dibelakang Omanya.


Ya Tuhan...Baru sehari disini masalah sudah menghampiri. Kenapa aku tidak menjaga mereka dan malah menyibukan diri dikamar. Harusnya aku menjaga mereka dengan baik. Apakah Tuan Regan akan marah juga padaku? Dan besok akan mengantarku kembali kekampungku?


Berbagai pertanyaan dan kekalutan saat ini sedang membuatku merasa sangat tertekan. Sampai tiba-tiba seorang perempuan yang usianya lebih tua sedikit dariku mengagetkanku.


"Hai...." Dia menyapaku.


"Aku Mutia....aku sudah lama bekerja disini. Kamu baby sitter yang baru ya?" Tanyanya dengan ramah.

__ADS_1


"Iya...." Jawabku mengangguk pelan.


"Kenapa aku mendengar Oma marah-marah padamu?"


Kemudian aku menceritakan apa yang baru saja terjadi.


"Ohhh...begitu..sudah jangan dimasukan kedalam hati. Oma memang over protektif kalau menyangkut sikembar itu."


"Iya mbak...." Jawabku.


"Apakah mbak Mutia juga kerja disini?"


"Iya...aku mengurus semua keperluan rumah ini. Aku bekerja sambil kuliah." Kata Mbak Mutia.


"Memang bisa mbak?" Aku penasaran dan mulai tertarik dengan kata-kata Mbak Mutia itu.


"Iya bisa. Aku dengar kamu masih sekolah ya?"


"Iya mbak, sebentar lagi kelulusan."


"Ohhh...."


"Tapi....saya tidak tahu apakah saya besok masih disini apa ngga?"


"Memang kenapa?"


"Tadi aku membuat kesalahan, dan Oma sangat marah, aku jadi khawatir aku mungkin akan dipecat."


"Tidak....Mila...jangan pesimis seperti itu. Kamu baru satu hari disini. Dan anak-anak Bu Nadiya memang aktif, yang penting mulai sekarang kamu lebih hati-hati dalam mengasuh mereka. Tinggalkan pekerjaan yang bisa ditunda, dan menjaga anak-anak adalah prioritas." Kata Mutia agar aku betah bekerja disini.


Aku menatap Mbak Mutia dengan semangat yang seperti batere baru dicas.


"Baiklah Mbak....makasih sudah membuat saya menjadi lebih bersemangat lagi. Lagian jika saya tidak bekerja maka saya tidak punya tempat tinggal."


"Kalau gitu kamu harus betah bekerja disini. Mereka orang baik kok. Bu Nadiya dan Pak Prasetyo bahkan memberikan kebebasan kepada asisten rumah tangga seperti saya untuk bekerja sambil kuliah."


"Iya semoga saya bisa mengikuti jejak Mbak Mutia, bekerja sambil kuliah."


"Iya....saya yakin kamu pasti bisa. Yang penting kalau ada apa-apa jangan dimasukan kehati. Jika ada masalah jangan langsung mudah putus asa."


"Iya Mbak...."

__ADS_1


"Ya sudah Mila...aku mau bekerja lagi. Aku senang kalau kamu betah disini. Jadi aku punya teman ngobrol." Kata Mbak Mutia lalu turun kelantai bawah.


"Syukurlah aku punya teman yang baik dan mensupport seperti Mbak Mutia."


__ADS_2