Dipinang CEO

Dipinang CEO
Mempertahankan pernikahan demi ibunya


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Mila sudah bangun dan menyiapkan segalanya lebih pagi dari biasanya. Karena Irwan belum bangun, Mila lalu berangkat lebih dulu dan meninggalkan secarik kertas dimeja.


Dia memberikan pesan kalau dia berangkat lebih pagi dari biasanya. Dan meminta Irwan untuk tidak mengkhawatirkannya.


Regan sudah menunggunya didepan rumah sakit dan mengirimkan pesan pada Mila, jika dia sudah ada ditempat yang dijanjikan.


Regan tersenyum dari dalam mobil saat dia melihat Mila datang menghampiri mobilnya.


"Selamat pagi, Mila" sapa Regan.


"Pagi..." jawab Mila sambil memasang seatbelt karena mereka akan pergi keluar kota.


"Apakah suamimu tahu jika kau pergi denganku?" tanya Regan sambil mulai menyalakan mobilnya.


"Tidak. Dan sebaiknya kita tidak pergi terlalu lama. Irwan akan khawatir jika aku pergi denganmu." kata Mila.


"Haha, kau sangat polos Mila. Dan sampai sekarang kau tidak berubah dalam menilai seseorang." kata Regan yang tahu apa yang dilakukan Irwan tadi malam.


"Apa maksudmu?" tanya Mila tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan Regan.


"Apakah kau hanya tinggal berdua dirumahmu? Kau bilang, sepupunya tinggal dirumahmu. Siapa namanya?" tanya Regan memancing Mila.


"Namanya Weni. Dia sepupu Irwan."


"Haha, kau harus waspada dengannya. Aku sudah pernah mengatakan padamu, kau harus menyelidikinya."


"Sudahlah. Jangan berbicara buruk tentang suamiku. Dia pria yang baik. Yang jelas dia tidak akan melakukan kesalahan seperti yang kamu lakukan." kata Mila sambil menatap kosong jauh kedepan.


Dia pernah menyelidiki seperti apa yang dikatakan Regan, hasilnya dia hanya lelah karena mencurigai suaminya yang tidak-tidak. Dan sekarang dia tidak akan percaya begitu saja pada Regan yang mengatakan hal yang buruk tentang suaminya dan Weni.


"Apakah masih lama?" tanya Mila tidak sabar.


"Sebentar lagi sampai," kata Regan.


"Kenapa kita kesini?" tanya Mila saat Regan memarkir mobilnya di lapas.


"Apakah kau benar-benar tidak tahu?" tanya balik Regan.


"Apa maksudmu?" tanya Mila bingung.


"Ibumu, dia ada didalam." kata Regan.

__ADS_1


"Didalam? maksudmu? Ibuku ada dalam penjara?" tanya Mila kaget. Karena setahunya ibunya sudah keluar dan bebas sejak lama. Dan kenapa sekarang bisa ditahan lagi.


"Ya. Ceritanya panjang, dan yang aku tahu, ibumu membunuh ayahmu saat pesta pernikahanmu. Hanya itu yang aku tahu, dan sebabnya apa, sebaiknya kau tanyakan sendiri." kata Regan.


"Apa!?" Mila kaget dan mengelus perutnya berusaha tetap tenang. "Maksudmu, ayahku sudah meninggal?" tanya Mila.


"Ya. Dan aku heran kenapa kau tidak tahu tentang hal ini?"


"Ohh...aku sangat menyesal karena tidak tahu semuanya sejak awal. Dan aku tidak tahu karena...." Mila tidak bisa mengatakan apapun. Pernikahannya tidak berjalan dengan baik dari malam pertama hingga saat ini.


Dan hanya dia yang tahu, kenapa dia begitu bodoh karena bahkan saking fokusnya pada pernikahanya, membuatnya tidak sempatembaca berita atau melihat berita di televisi.


Terlalu banyak yang terjadi dari sejak pernikahanya hingga kehamilanya. Dan semuanya tidak ada yang seperti harapannya. Pikiranya terbelah kesana kemari dan terus memikirkan masalah dalam pernikahanya hingga dia tidak sempat memikirkan masalah yang lainnya.


Mila lalu mengusap airmatanya.


"Aku sangat menyesal, aku tidak tahu apa yang terjadi."


"Kalau begitu, masuklah, aku akan menunggumu disini. Ibumu pasti senang bisa bertemu denganmu." kata Regan dan dia memilih menunggu diluar, agar ibu dan anak bisa leluasa berbicara dari hati-kehati.


Kehadirannya akan membuat keduanya canggung. Karena dia bukan suaminya Mila, bukan juga saudaranya.


Mila lalu keluar dari mobil dan masuk kedalam, pertama dia menemui sipir dan mencari dimana blok ibunya ditahan.


Mila sampai ditempat yang dituju, Mila lalu mendekat dan dia lihat ibunya seperti sedang menunggu kehadiran seseorang.


Dan ternyata yang ditunggu Bella adalah Mila. Bella sangat merindukan Mila, namun tidak ada satu orangpun yang bisa dia hubungi dan mengabarkan berita tentang putrinya itu.


Begitu melihat Mila, Bella langsung menahan tangisnya dan mereka berpegangan tangan. Tidak ada satu katapun yang mampu dikatakan.


Seorang sipir membukakan pintu dan mempersilahkan Mila dan Bella untuk bertemu diruangan lain.


"Ibu....." hanya itu kata yang mampu Mila ucapkan. Tak ada yang bisa dia katakan melihat ibunya ada didalam sel dan ternyata selama ini menunggunya. Tapi Mila tidak pernah datang karena tidak tahu jika ibunya ditahan.


"Akhirnya kau datang, bagaimana kabarmu...." kata Bella dan pandanganya jatuh pada perut Mila yang besar.


"Kau hamil? Kau akan menjadi seorang ibu? Ibu sangat senang dan bahagia melihatmu bahagia." kata Ibunya.


Mila hanya tersenyum. Jika ibunya tahu jika pernikahanya tidak membuatnya bahagia, pasti akan terpukul.


Apalagi demi menyelamatkan nama baiknya dan juga pernikahanya, dia telah berkorban sangat besar. Dia dipenjara demi melindungi Mila dari Johan dan ancamannya yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.

__ADS_1


"Kau bahagia bukan?" tanya Bella sambil mengusap pipi Mila.


Mila mengangguk tanpa mengatakan apapun.


"Suamimu mengantarmu?" tanya Bella.


Mila juga mengangguk.


Bella mengusap airmata Mila.


"Sudah jangan menangis. Ibu senang, kau bahagia dan suamimu sangat menyayangimu. Pengorbanan ibu tidak sia-sia. Sekarang, kembalilah, kau sedang hamil, jangan lama-lama disini. Yang penting, ibu sudah melihatmu dan mendengar jika kau bahagia. Sekarang pulanglah...." kata Bella yang tidak ingin terlalu lama Mila berada disana.


Mila sedang hamil, jadi Bella khawatir dengan kondisinya dan menyuruhnya segera pulang. Baginya mendengar jika putrinya bahagia dan suaminya menyayanginya itu sudah lebih dari cukup.


Mila lalu keluar dari lapas dengan airmata menggenang dimatanya.


Regan melihatnya dan langsung membukakan pintu untuknya tanpa bertanya.


Setelah di tengah perjalanan, Regan baru bertanya.


"Kita ke restoran dulu. Kau harus makan baru aku mengantarmu pulang," kata Regan yang melihat Mila mulai bisa menguasai emosinya.


Mila mengangguk.


Entah kenapa kali ini Regan yang kaget. Karena dia pikir Mila akan menolaknya.


"Apakah ibumu baik-baik saja?" tanya Regan.


"Iya. Ibu baik-baik saja. Dan...terimakasih...kau sudah membuatku bertemu dengan ibuku. Bertahun-tahun aku mencarinya dan tidak bisa menemukannya." kata Mila jujur pada Regan dan sejenak melupakan kebenciannya.


"Ya, aku tahu tentang ibumu dari Catrine." kata Regan.


"Catrine?" Regan mengangguk lalu menceritakan apa yang terjadi sebelumnya antara dirinya dan Catrine.


Tapi bagaimana pun Catrine sudah berjasa pada Mila. Dan bagi Mila, itu adalah hal yang luar biasa. Bahkan dia sendiri tidak tahu soal itu. Suaminya juga tidak tahu apa-apa.


"Apapun itu....aku sangat berterima kasih padamu. Kau sudah mengantarkan aku dan akhirnya aku bisa bertemu dengan ibuku."


Regan mengangguk dan menatap Mila lebih dalam.


"Apakah Irwan tahu?"

__ADS_1


Mila menggeleng.


Regan lalu mengangguk-angguk.


__ADS_2