
Pulang dari rumah sakit, Mila dijemput oleh Regan. Dari kejauhan Regan sudah tersenyum manis padanya, tidak lama kemudian Mila melihat bibi turun bersama Matthew.
Mila lalu berjalan lebih cepat, setengah berlari dan menghampiri mereka.
"Kita berangkat sekarang?" kata Mila sambil mengambil Matthew dari gendongan bibi.
Mereka masuk kedalam mobil dan akan makan malam bersama disebuah restoran. Regan sudah melakukan reservasi lebih dulu. Dan sesampainya disana mereka langsung duduk ditempat kosong yang sudah disediakan.
Regan menarik kursi dan mempersilahkan Mila untuk duduk. Mereka lalu memesan makanan dan kebahagiaan terlihat jelas di wajah mereka.
"Seandainya kita adalah keluarga, kita akan memesan hotel diatas dan menginap disini." kata Regan berbisik ditelinga Mila.
Sementara bibi sudah selesai makan dan jalan-jalan bersama Matthew diarena bermain yang luas.
"Hemmm," Mila hanya menatap Regan tanpa ekspresi.
"Aku sering membayangkan kita menjadi sebuah keluarga yang utuh dan Matthew pasti akan bahagia."
Regan menatap Mila dan berusaha mengetuk hatinya.
"Maafkan aku Regan, aku masih belum yakin untuk menikah lagi."
"Aku akan menunggumu sampai kau yakin jika aku serius dan tidak akan mempermainkan pernikahan kita."
"Hemm, bagaimana jika keluargamu tidak menyukaiku?" tanya Mila tiba-tiba.
"Aku akan berjuang meyakinkan mereka dan aku akan tetap memilihmu."
"Menikah tanpa restu orang tua tidaklah mudah."
"Aku tahu, tapi kau akan menikah denganku, bukan dengan mereka bukan?"
"Meskipun begitu, restu mereka sangatlah penting. Dan aku tidak yakin mereka akan mengabulkan permintaanmu."
Mila menatap Regan dan Regan menggenggam tangan Mila.
"Apakah kau mau memberiku kesempatan untuk membuktikannya?" tanya Regan menatap lurus wajah Mila.
Mila teringat pada Matthew dan akhirnya mengangguk.
"Ayo kita kesana....!" ajak Regan dan menggandeng tangan Mila.
Disaat yang sama Nadiya melihat Regan berjalan bergandengan tangan dengan Mila. Dan dia berdiri mematung melihat apa yang Regan lakukan dengan dokter Mila.
"Sudah kuduga jika mereka punya hubungan." kata Nadiya lalu bergabung bersama keluarganya yang sudah duduk duluan.
Nadiya baru saja datang dan tanpa sengaja melihat Regan meninggalkan restoran bergandengan tangan dengan dokter Mila.
***
Malam berikutnya, CEO Handoko mengajak Mila makan malam sepulang dari rumah sakit. Dia juga punya niat untuk melamar Mila setelah tahu jika Mila sudah sembuh.
__ADS_1
Regan terus mendekati Mila dan CEO juga tidak mau kalah. Dia juga akan bertanya sekali lagi pada Mila. Dan jika kali ini gagal maka, dia akan menyerah.
Mila duduk dengan berdebar karena suasana yang begitu romantis.
"Mila, kau terlihat cantik hari ini." kata CEO Handoko.
"Hem," Mila diam saja dan hanya menatap atasanya dengan berdebar-debar.
"Terimakasih...." kata Mila sambil mengalihkan pandanganya.
"Aku mengajakmu kemari, karena aku tidak sabar menunggu lebih lama lagi. Mila, maukah kau menjadi istriku?" tanya CEO langsung tanpa basa-basi.
Mila mendongak kaget dan terpana.
"Apa?"
"......"
Mila menutup bibirnya dengan salah satu tanganya.
Mila diam saja dan tidak mampu mengatakan apapun. Dia tidak menyangka CEO juga akan mengatakan hal yang sama sekali lagi.
Mila menarik nafas panjang dan akhirnya mengatakan jika dia tidak bisa menerima pinangannya.
"Maafkan saya pak, tapi Matthew adalah anak dari Regan, dan ...."
"Aku tahu itu. Tapi jika kau tidak bersamanya, maka aku akan menganggap Matthew seperti putraku dan menyayanginya." kata CEO Handoko.
"Kau....." CEO menatap Mila dan matanya menjadi sendu.
"Regan sebenarnya adalah cinta pertama saya. Dan alasan saya tidak bisa bersamanya adalah keluarganya."
"Kau mencintai dia?"
"Maafkan saya pak. Tapi saya tidak ingin terus membuat kesalahan dalam pernikahan."
"Kenapa kau......sikapmu....."
"Maafkan sikap saya yang membuat bapak bingung. Bapak begitu tampan, baik dan mapan, bapak akan mendapatkan gadis yang lebih baik dari saya."
"Begitulah caramu menolakku?" kata CEO menatap tajam dan lurus tepat di wajah Mila.
"Saya....sangat menyesal...tidak menyadari sejak awal dan membuat salah sangka diantara kalian." kata Mila dan menatap CEO Handoko.
"Apakah Regan tahu perasaanmu?" tanya CEO Handoko.
Mila menggelengkan kepalanya dan tidak akan mengatakan perasaannya sampai Regan bisa meyakinkan keluarganya.
"Kau....."
CEO lalu mengajak Mila bangun dan akan mengantarkannya pulang.
__ADS_1
"Saya akan pulang sendiri." kata Mila yang sudah bersikap serba salah karena kekakuan yang baru saja terjadi.
"Sebaiknya aku mengantarmu. Mila....apapun yang sudah aku katakan padamu masih berlaku sampai kau menikah denganya. Jika sebelum itu kau datang, maka hatiku tetap terbuka untukmu." kata CEO dengan sangat manis meyakinkan Mila jika dia sungguh-sungguh dan tidak main-main.
"....."
Mila tersenyum dan mengangguk pelan.
CEO lalu membetulkan rambut Mila yang sedikit berantakan karena angin.
"Kau masih memakai wig?" tanya CEO.
"Iya, rambut saya masih belum tumbuh, dan wig ini sangat membantu."
"Kau tetap cantik dengan atau tanpa wig." kata CEO Handoko.
***
Nadiya mengetuk kamar Regan, dan dia tahu jika Regan saat ini belum tidur.
"Regan, buka pintunya, mami mau bicara." kata Nadiya dan tidak lama kemudian Regan membuka pintunya.
"Iya mi."
"Kemarin mami lihat kau makan bersama seseorang. Mami kebetulan juga makan disana. Siapa dia?" tanya Nadiya pura-pura tidak tahu jika itu adalah Dokter Mila.
"...."
Regan menatap maminya dan Regan berfikir ini adalah kesempatanya untuk berbicara dengan maminya soal keinginanya melamar Mila.
"Itu dokter Mila. Kami mulai dekat dan kami berpacaran." kata Regan pelan.
"Apa?! Apakah yang baru saja kau katakan? Apa mami tidak salah dengar?" kata Nadiya.
"Tidak mi, Mila adalah pilihan Regan dan kami merasa cocok dan akan menikah."
"Tidak Regan. Kau tidak boleh menikah denganya." kata Nadiya berdiri dan menatap putranya.
"Kenapa mi? Apa alasannya?"
"Pokoknya kau tidak boleh menikah denganya. Kau tau jika dia adalah janda dokter Irwan. Apakah kau hilang akal? Kau adalah CEO dan kau bisa cari gadis yang masih lajang. Apakah dunia ini begitu sempit bagimu hingga kau tidak bisa menemukan satu gadispun?"
Nadiya pergi dari kamar Regan dan menoleh sekali lagi denganya.
"Mami tidak setuju kau dekat dengannya dan menjalin hubungan dengan janda itu." kata Nadiya dan Regan hanya diam saja melihat ekspresi maminya.
Regan diam dan terduduk kembali dengan lemas.
Jika dia tidak bisa meyakinkan keluarganya maka, Mila tidak akan mau menikah denganya dan mereka tidak bisa hidup bersama.
Regan berbaring dan menatap langit-langit kamarnya. Dia sedih dan kecewa dengan sikap maminya yang tidak bisa mengerti perasaannya.
__ADS_1