Dipinang CEO

Dipinang CEO
Kisah Kasih disekolah


__ADS_3

Aku langsung masuk ke kelas dan duduk sambil membuka beberapa PR yang belum sempat dikerjakan. Lumayan banyak, pikirku. Tapi ya sudahlah, harus tetap semangat!


Jihan duduk di sampingku dan menatapku dengan tatapan bingung.


"Tumben sang juara lupa ngga bikin PR." Gurau Jihan.


Memang iya sih. Aku adalah murid paling rajin dan paling pintar dari sejak kelas satu hingga saat ini. Aku juga selalu mengerjakan tugas tepat pada waktunya. Karena biasanya aku punya banyak waktu luang saat malam hari. Namun setelah tinggal dirumah Tuan Regan, saat malam hari pun rasanya aku merasa tidak tenang dan aku terus memikirkan kedua bocil dan Oma yang terus saja memarahiku. Jadi aku lupa mengerjakan tugas sekolah.


"Eh, oh...iya.... Aku sangat sibuk bekerja jadi lupa ngga ngerjain PR." Aku berkata sambil mengerjakan tugas secara maraton.


"Kerja? jualan koran maksudmu?" Tanya Jihan sambil membantu membalikan halaman buku yang sudah selesai aku kerjakan.


"Tidak! Aku sudah ngga jualan koran lagi."


"Kamu kerja dimana sekarang? Kok bisa sambil sekolah."


"Iya majikan ku sangat baik. Sehingga mengizinkan aku bekerja sambil sekolah."


"Waahhh, jarang loh bisa begitu. Aku malah baru denger. Kerja apaan sih?" Tanya Sandra penasaran.


"Baby sitter."


"Ahk busssyet dah! Baby sitter?" Tiba-tiba Edo nyeletuk dari belakang sambil duduk diatas meja dibelakangku.


"Ohh apaan sih? Nguping aja...." Kata Sandra sambil mendorong Edo agar menjauh dari kami.


"Sudah kalian kesana aja, nanti aku ngga kelar-kelar nih!" Kataku sambil tetap fokus ngebut ngerjain tugas yang tinggal sedikit lagi.


"Sini deh gue bantuin!" Kata Edo sambil mendekatkan wajahnya ke buku diatas meja.


"Ngga usah ya! Aku bisa sendiri!" Aku kemudian menggeser tempat dudukku.


"Hai Jihan, tadi kata Mila apaan? Dia kerja sambil sekolah, apaan sih maksudnya?" Tanya Edo penasaran.


"Ini rahasia. Kepo amat. Sudah sana, balik kemeja kamu. Sebentar lagi bel berbunyi." Kata Jihan dan aku menutup buku PR sambil menarik nafas panjang, dan kusandarkan punggungku dikursi dan kuhempaskan nafas berulang kali.


"Akhirnya kelar juga."


"Tuh kan ada gue jadi kelar deh kerjaan Mila." Kata Edo sambil pindah duduk di sebelahku.


Huh dia memang selalu dekat-dekat denganku setiap kali ada kesempatan. Sudah kutolak berulang kali tapi tetap saja dia tidak peduli dan terus saja mendekatiku. Kadangkala aku kasihan juga dengannya, tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak mau pacaran sebelum cita-cita ku tercapai. Itu adalah janjiku pada diriku sendiri.


"Jangan dekat-dekat, bukan muhrim!" Aku bilang padanya dan mendorongnya hingga dia hampir terjatuh.


"Aduh! Aduh! Lu cewek tenaganya gede juga ya...." Kata Edo sambil menopang tubuhnya yang hampir terjatuh. Dan berusaha menjaga keseimbangan badanya.


Teeettt Teeettt


"Bel sudah berbunyi sana kembali ketempat dudukmu!" Kata Jihan sambil menarik tangan Edo dan duduk di sebelahku.

__ADS_1


Edo bangkit dari kursi dan duduk ditempat duduknya seperti biasanya.


"Besok aku duduknya pindah dibelakangmu ya Mila?" Kata Edo sebelum pergi.


"Terserah!" Jihan menjawabnya sambil duduk dengan manis.


"Yaaahhh dipending lagi deh ceritanya." Kata Jihan sambil menoleh ke arahku.


"Cerita apaan?"


"Cerita tentang pekerjaan dan pangeran tampan." Ucap Jihan sahabatku.


"Ohhh itu, ntar siang aja ya...pas istirahat...ceritanya panjang banget!"


"Ya kasih bocoran kek dikit-dikit."


"Ahk ngga seru!" Aku kemudian memberikan isyarat jika wali kelas kami, Bu Ana sudah masuk.


"Berdoa dimulai...." Bu Ana memimpin doa sebelum kami melakukan kegiatan belajar.


"Sekarang kalian kumpulkan tugas yang kemarin!" Kata Bua Ana sambil menulis di blackboard.


"Anak-anak kalian bisa salin dan kerjakan tugas diblackboard. Sementara ibu memeriksa tugas kalian." Kata Bu Ana.


"Baik Buu.." Jawab kami serentak.


"Mila ayo lanjutin dong cerita tentang pangeran tampan itu. Dan kenapa sih dia sering banget antar kamu kesekolah?"


"Aku sekarang bekerja dirumah Tuan Regan dan kami jadi setiap hari bertemu."


"Aapaaa?" Jihan melotot dan mulutnya melongo.


"Biasa aja kali Jihan!" Kata Edo yang tiba-tiba mendekat. "Kalian lagi ngomongin siapa sih? Pangeran-pangeran! Emang negeri dongeng?!"


"Aaiish! Kamu mah sudah tereliminasi! Sekarang Mila sudah menemukan pangerannya!"


"Jiaahh Pangeran! Pangeran berkuda putih? Aku juga bisa kalau cuma naik kuda, dan jadi pangeran buat Mila."


"Ini mah lain! Pangeran yang ini tidak naik kuda putih tapi naik kuda merah!" Kata Jihan.


"Hahahaha, kuda merah?" Aku dan Edo tertawa bersamaan.


"Yaaa, maksudku Ferrari merah." Kata Jihan.


"Emang benar Mila?" Tanya Edo dengan raut wajah cemberut.


Mereka ini memang paling seru dan selalu saja membuatku tertawa dengan kekonyolan mereka.


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Ooohhh hancur deh harapan gue." Kata Edo yang mendadak lemas.


"Aku bekerja sama Tuan Regan. Aku menjadi baby sitter untuk kedua adiknya."


"Naaahhh itu baru benar! Bukan Pangeran tapi majikan. Benar kan Mila?" Tanya Edo.


Aku kemudian mengangguk pelan.


"Emang kenapa harus bekerja sama dia?" Tanya Edo.


"Ya untuk cari uang lah Edo!"


"Emang ada masalah apa dengan Mila? Kalian kok ngga pernah cerita. Kalau kalian cerita siapa tahu aku bisa bantu." Kata Edo lebih serius.


Edo memang lumayan tajir dan bahkan sering diantar kesekolah oleh sopir pribadinya. Namun yang kaya kan orang tuanya, sedangkan dia juga masih sekolah. Apa yang bisa dia lakukan saat ini? Dia bahkan masih meminta uang jajan dari orang tuanya.


"Kenapa sih dengan Mila? Ayo dong cerita." Kata Edo setengah memaksa.


"Apapun yang terjadi sama aku, namun saat ini aku sudah menemukan jalan keluarnya. Dan Tuan Regan lah yang sudah banyak membantuku selama ini." Aku berkata sambil mengingat beberapa momen yang menyenangkan saat bersama Tuan Regan.


"Awas loh Mila. Jangan sampai kamu hanya dimanfaatkan oleh mereka." Kata Edo.


"Ya ngga lah!" Jawab Jihan. "Aku sudah pernah melihat senyumnya, dan tidak ada tanda-tanda kejahatan dari auranya."


"Ahk kayak gitu mana bisa diprediksi dari senyuman. Yang penting kamu harus tetap hati-hati Mila. Atau jika kamu mau bekerja bagaimana kalau aku bilang sama ibuku agar kau bekerja pada butik ibuku." Kata Edo.


"Tidak usah Edo. Dan terimakasih..." Aku menjawab sambil beranjak dari tempat dudukku.


"Yuk! Kita keluar, aku pengen makan soto ayam di kantin pojok." Aku mengajak Mila.


"Yuukkk Aku traktir kalian!" Jawab Edo.


Aku dan Mila saling berpandangan. Kemudian kami tersenyum dan mengangguk bersama lagi.


Akhirnya kami bertiga berjalan kewarung pojok dan memesan soto ayam ekstra pedas.


"Kamu duduk disana." Kata Edo pada Jihan dan akhirnya Edo duduk di sebelahku sedangkan Jihan didepanku.


"Oya Mila, setiap hari kamu bakal dianterin sama Pangeran dong." Jihan terlihat sangat senang.


"Ngga lah! Itu kan hanya kebetulan saja. Lagian aku masih belum terbiasa naik angkot dari rumah Tuan Regan. Lain kali mungkin aku akan berangkat ke sekolah sendirian."


"Lebih baik begitu Mila. Jangan berhutang budi pada orang kaya. Nanti mereka ada pamrih Lo." Kata Edo yang sepertinya tidak suka dengan Majikanku yang muda dan keren.


"Bilang aja Lo cemburu!" Sahut Jihan.


"Ngga lah! Aku tahu kalau aku ditakdirkan hanya untuk bersama Mila. Hanya waktunya saja belum tepat. Iya kan Mila?" Kata Edo yang membuatku terkejut.


"Eh, Aku ngga tahu...masa depan adalah ruang hampa yang kita tidak bisa menebaknya. Jadi aku tidak ingin memberikan harapan palsu." Aku menjawab asal saja. Edo memang kebangetan ngeyelnya. Sudah dibilang menjauh tapi dia tetap mendekat. Sudah ditolak tapi tetap saja berharap. Aku sudah tidak tahu lagi harus bilang apa padanya. Aku hanya tidak ingin membuat siapapun terluka, termasuk Edo.

__ADS_1


__ADS_2