
Didalam tahanan Weni sedang merenung sendirian. Dia menyerah karena beberapa kali sidang dan semua bukti memberatkannya. Bahkan pengacaranya tidak bisa membuatnya terbebas dari hukuman.
Dan hanya bisa meringankan sedikit hukumannya. Tapi dia tetap dihukum karena terbukti bersalah dan meninggalkan korban dengan sengaja dalam kondisi yang membahayakan nyawa korban.
Polisi berbicara pada Weni yang sedang berdiri sambil memegang jeruji besi dengan kedua tangannya. Seakan dia menunggu kunjungan seseorang.
"Ada yang akan bertemu denganmu, ikutlah denganku." kata polisi penjaga tahanan tersebut.
Weni mengangguk dan mengikuti polisi itu kesebuah ruangan. Di sana Irwan dan Wandah sedang menunggunya.
"Irwan? Mama?" Weni menatap mereka berdua dan menyesali perbuatannya.
"Maafkan Weni ma, semua ini karena aku sedang marah dan putus asa." kata Weni dan menatap Wandah.
"Jika saja kau tidak sedang hamil, aku tidak akan Sudi datang kemari." kata Wandah kesal.
"Karena mama akan mengambil putraku dan meminta Irwan menceraikan aku, aku jadi khilaf." kata Weni dan Irwan menoleh pada mamanya.
Mamanya segera tertunduk dan dia takut Irwan akan marah padanya.
"Mama mengatakan itu pada Weni?" tanya Irwan menatap ibunya.
"Karena dia berasal dari tepat yang kotor." kata Wandah.
"ck, kenapa mama bilang seperti itu padanya, mama tahukan dia sedang mengandung?"
"Mama tahu. Karena itu mama mengatakan padanya agar dia memberikan bayinya dan pergi."
Weni menangis sesenggukan. Irwan menggelengkan kepalanya.
"Dia sedang hamil, masalah itu seharusnya dibicarakan nanti saja. Biarkan dia melahirkan dengan tenang."
"Semua sudah terlambat....aku ditahan dan akan melahirkan didalam penjara...huhu...hiks..."
Wandah dan Irwan terdiam. Irwan lalu memegang tangan Weni dan berusaha menenangkannya.
"Tenanglah Weni. Kau sedang hamil. Jika kau terua menangis dan tertekan, akan berdampak buruk bagi kehamilan mu." kata Irwan berusaha menenangkan Weni.
Weni akhirnya berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Waktu berkunjung hampir habis. Aku dan mama pulang dulu. Kau jaga kesehatanmu disini."
Weni mengangguk.
__ADS_1
"Apakah tidak ada pengacara uang lebih baik, yang bisa mengeluarkan aku dari sini."
Irwan menatap Weni.
"Semua bukti menunjukan jika kau bersalah. Bahkan pengacara terbaik pun tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi nanti aku tetap akan berusaha untuk meringankan hukuman untukmu." kata Irwan agar Weni merasa tenang.
"Iya." Weni mengangguk dan mereka berpisah. Weni kembali ke tahanan dan Irwan serta Wandah pulang.
Didalam mobil, Irwan bertengkar dengan Wandah karena perkataan ibunya yang memicu tekanan pada Weni hingga nekat menabrak Mila.
"Lain kali mama tidak boleh berkata seperti itu. Mama lihat kan akibatnya?"
Kata Irwan pada Wandah. Tapi ibunya tetap tidak mau disalahkan. Karena Irwan juga bersalah karena tidak berterus terang tentang masa lalu Weni.
"Ini juga karena salahmu. Kenapa kau mendekati wanita seperti itu? Kau seorang dokter, apakah kau tidak bisa berpikir akibatnya?"
Irwan diam saja karena tidak mau berdebat dengan mamanya.
"Sudahlah! Semua sudah terlanjur. Sebaiknya sekarang, mama tidak usah ikut campur lagi urusan Irwan." kata anaknya dan membuat Wandah tersinggung.
"Kau sekarang merasa hebat? Hingga mama tidak boleh ikut campur?"
"Bukan begitu ma....." Irwan jadi serba salah berbicara dengan ibunya.
"Irwan akan selesaikan masalah Irwan. Dan mama sebaiknya tidak memikirkannya."
Wandah menatap Irwan dengan kesal.
"Kakakmu menikah dengan Edo, yang membuat hidupnya susah dan harus bekerja keras. Dan kau menikah dengan wanita seperti itu dan sekarang ada didalam penjara. Mama tidak mengerti bagaimana cara berpikir kalian?! Sudahlah! Mama mau turun disini! Mama pusing memikirkan kalian!"
Kata Wandah dan turun di tempat sauna untuk menenangkan diri.
***
Mila sedang duduk bersama Regan dirumahnya. Regan membawa wig untuk Mila. Mila akan berangkat kekantor besok. Sekarang dia sudah bisa berjalan dan tidak membutuhkan kursi roda lagi.
Suster sudah mengambil semua peralatan dan tidak tinggal bersama Mila.
"Kau akan bekerja besok? Aku membawakan ini untukmu." kata Regan memberikan wig untuk Mila. Rambut Mila belum tumbuh akibat operasi.
Cederanya sudah pulih tapi butuh proses agar rambutnya panjang seperti dulu.
"Terimakasih..." kata Mila lalu mengambil wig dari tangan Regan.
__ADS_1
"Kau yakin akan bekerja besok. Apa tidak sebaiknya tunggu sampai satu Minggu lagi?" tanya Regan.
"Tidak. Aku dirumah hampir dua bulan dan, aku tidak tahan lagi berdiam diri seperti ini." kata Mila sambil melihat dan mengamati wig yang akan dia pakai saat keluar dari rumah.
"Kau mau jus? Aku akan membuatkan jus untukmu?" tanya Mila.
"Baiklah." Regan lalu menghampiri Matthew dan menyapanya.
"Mau ikut?" tanya Regan dan langsung disambut oleh Matthew dengan kedua tangannya yang terulur minta di gendong.
Mila keluar dengan jus untuk mereka berdua.
"Bisa foto kami?" tanya Regan pada Mila.
Mila mengangguk dan mengambil kameranya.
"Baiklah, aku akan memotretnya." Mila lalu memotret Regan dan Matthew dengan berbagai pose.
Terlihat wajah Regan dan Matthew yang saling melucu dan membuat Mila tersenyum sendiri saat melihatnya.
"Coba ku lihat." kata Regan dan dia juga tertawa saat melihat pose dirinya dan Matthew yang aneh dan lucu.
"Kirim padaku ya." kata Regan pada Mila.
Mila lalu mengirim ke handphone Regan dan mengambil Matthew dari gendongan Regan.
"Minumlah dulu jusnya. Oh ya, aku dengar, Weni ditahan dan dia sedang hamil bukan?" tanya Mila pada Regan.
"Dia pantas dihukum. Aku tidak habis pikir dia nekat menabrak mu." kata Regan kesal jika teringat bagaimana keadaan Mila saat itu.
"Dia sedang hamil, dan kemungkinan akan melahirkan didalam penjara." kata Mila.
"Kau tidak perlu iba padanya. Dia sudah sangat jahat padamu." kata Regan melihat mimik muka Mila yang iba pada Weni.
"Aku tahu....hamil dan melahirkan didalam penjara...pasti sulit." Mila membayangkan bagaimana dia hamil dan dia melahirkan dirumah Irwan. Sementara Irwan asyik bermesraan dengan Weni tanpa sepengetahuan dirinya.
"Tidak perlu mengasihaninya." kata Regan.
Mila mengangguk dan menatap Regan lalu tersenyum manis padanya.
Mila kadang teringat juga bagaimana dia dulu sangat bucin dengan Regan saat masih remaja. Dan sekarang setelah Regan mengejarnya, namun malah dia tidak bisa menerimanya Karena takut akan gagal dan belum lagi penolakan dari keluarga Regan.
Cinta yang dialami saat remaja memang lebih mudah dan lebih indah. Cinta setelah dewasa, begitu rumit dan banyak tekanan.
__ADS_1