
Dokter Irwan datang ke ruangan praktek dokter Mila. Saat itu dokter Mila sedang melamun dan memikirkan perkataan Catrine yang membuatnya ingat semua kisah pahit dimasa lalunya.
Bahkan saat dokter Irwan berdiri didepannya dia tidak menyadarinya. Dokter Mila sedang menopangkan dagunya pada salah satu tanganya.
Dokter Irwan terus memandanginya sambil tersenyum kecil.
Dan akhirnya Dokter Mila menyadari kedatanganya.
Itu membuatnya sangat malu. Pasti dia melamun begitu lama hingga dagunya sedikit memerah.
"Apakah masih ada pasien yang kau tunggu?" Tanya dokter Irwan karena Dokter Mila tidak berkemas pulang.
"Ehm, tidak. mari kita pulang." Kata Dokter Mila dan mengambil tas yang dia gantung dibelakangnya.
Setelah keluar dari ruangannya, dokter Mila berpapasan dengan salah satu sahabatnya dimasa SMA.
Namun begitu dia ingin memanggilnya, suami dari sahabatnya itu sudah menariknya dengan kasar kearah yang lainnya. Sepertinya mereka baru saja periksa dan sekarang pulang.
Dokter Mila mematung dan sedih melihat sahabatnya diperlakukan kasar seperti itu oleh suaminya.
Lalu tiba-tiba dokter Mila berlari dan mengejar Jihan, sahabatnya.
"Ahk, siapa tahu aku bisa membantunya." Kata Dokter Mila.
Akhirnya terkejar juga dan tinggalah Dokter Irwan bengong saat melihat dokter Mila tiba-tiba tergesa-gesa berjalan kearah yang lainnya.
Dokter Irwan mengikuti dokter Mila dari belakangnya dan berjalan dengan pelan.
Dokter Irwan mengamati dari kejauhan apa yang dilakukan dokter Mila.
"Jihan!?" Panggil Dokter Mila.
__ADS_1
Terlihat mata Jihan sedikit biru, dan diujung bibitnya juga membiru.
Semua itu tidak luput dari tatapan dokter Mila yang saat ini berada didekatnya.
Jihan kaget saat Mila sahabat SMA nya sudah menjadi seorang dokter.
"Hai, apa kabar?" Tanya Jihan takut dan gemetar.
"Iya, aku bekerja dirumah sakit ini. Apakah kau baru saja periksa?" Tanya Mila, ingin bertanya lebih detail namun dia sungkan pada suaminya.
Jihan melihat kearah suaminya dan memberikan kode untuk segera pergi.
"Iya, aku sedang buru-buru, ini nomor telepon ku." Kata Jihan memberikan nomor telepon pada Mila lalu bergegas pergi.
Melihat Dokter Mila sudah sendirian, bengong dan mematung seperti sedang mencoba ilmu kebatinan, ahk, seandainya mata batinnya tajam, dan dia bisa tahu apa yang terjadi pada sahabatnya.
"Siapa dia?" Tanya Dokter Irwan.
"Sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja."
"Kau benar dokter, dia sedang menyembunyikan sesuatu, dan aku bisa merasakannya."
"Mari kita pulang." Kata dokter Irwan dan menggandeng dokter Mila untuk meninggalkan rumah sakit itu.
Didalam mobil dokter Mila masih melamun dan memikirkan pertemuannya dengan sahabatnya.
"Sepertinya pertemuan tadi masih sangat mengganggumu." Kata Dokter Irwan.
"Ehm, maaf, saya jadi melamun dan pasti dokter kesal karena saya."
"Tidak. Hanya saja kau jadi tidak bicara dan diam saja."
__ADS_1
"Ohh, saya terbawa perasaan melihat wajahnya dan pria yang bersamanya."
"Siapa pria itu?"
"Entahlah, mungkin kakak, oh, dia tidak punya kakak, mungkinkah itu suaminya?"
"Ya, bisa saja."
"Seandainya tadi saya bisa berbicara sebentar saja, pasti sekarang saya tidak akan kepikiran dan penasaran seperti ini." Kata Dokter Mila.
"Apakah kita perlu turun dan membeli ice cream? atau kita akan langsung ke restoran saja untuk makan malam?" Tanya dokter Irwan.
"Kita langsung makan malam saja." Kata Dokter Mila yang tidak ingin mengecewakan dokter Irwan karena pasti dia sudah lapar.
Mereka lalu makan dan dokter Irwan mengantarkan dokter Mila hingga didepan rumahnya.
"Jangan pikirkan masalah tadi, itu hanya akan membuatmu begadang dan tidak bisa tidur."
"Haruskah saya menelponnya?" Tanya dokter Mila.
"Sebaiknya jangan, dia sedang bersama suaminya, teleponlah besok saja dijam kerja. Kalian bisa berbicara sepuasnya."
"Hheeemm, saran dokter memang lebih masuk akal, baiklah, saya akan menelponnya besok saja."
"Good night!" Kata Dokter Irwan tersenyum manis pada dokter Mila
Dokter Mila mengangguk dan membalas senyuman dokter Irwan.
"Masuklah, setelah kau masuk, baru aku akan pergi." Kata Dokter Irwan.
"Baiklah...." Dokter Mila lalu masuk duluan dan tidak lama kemudian terdengar deru mesin dari mobil dokter Irwan yang meninggalkan rumahnya.
__ADS_1