Dipinang CEO

Dipinang CEO
Pengakuan CEO Handoko


__ADS_3

Pulang dari kantor dokter Irwan sengaja melewati depan rumah Mila. Lama dia menghentikan mobilnya disana dan dia melihat rumah itu sepi.


Mila dan bibi sedang pergi mengajak Matthew untuk berjalan-jalan ditaman. Regan menjemput mereka dan tadinya Mila tidak mau, tapi Regan memaksanya.


Sampai ditaman beberapa pasang mata melihat Mila dan Regan turun dari mobilnya.


Mereka terlihat berbicara tentang Mila, tapi Mila tidak tahu apa yang mereka bicarakan.


Setelah melihat dengan tatapan aneh mereka pergi meninggalkan taman. Regan melihat kekhawatiran Mila pada reaksi beberapa orang.


"Kau tidak papa? Biarkan saja mereka berbicara. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya." Kata Regan pada Mila.


Mila mengangguk dan tersenyum.


Mereka lalu menikmati udara sore ditaman sambil duduk disebuah cafe kecil.


Tiba-tiba Catrine tanpa sengaja melihat mereka berdua dan berjalan mendekati Mila dan juga Regan.


"Kau dokter penuh kontroversi! Dan kau tidak malu....Mereka masih bergosip tentang dirimu dan sekarang kau sudah menggaet pria yang baru." Kata Catrine dengan menatap Mila tajam.


Regan langsung menariknya dengan sedikit kasar dan memegang lengannya sangat kuat.


"Jaga bicaramu Catrine!"


"Hhh, untuk apa kau kaget. Semua orang sedang berbicara tentang dirinya. Aku hanya mengatakan apa yang sudah menjadi rahasia umum," kata Catrine.


Regan lalu mendorongnya menjauh dari Mila dan saat Regan menoleh, Mila sudah pergi dari sana. Dia mengajak bibinya naik taksi yang kebetulan lewat.


"Mila! Ahhh!"


Mila dengan wajah memerah dan menahan air matanya pergi dari taman itu.


Ini pertama kalinya dia berada ditempat umum sejak gosip itu tersebar luas.


Regan lalu masuk kemobilnya dan mengikuti mobil Mila.


Mila melihat dari kaca spion jika Regan mengikutinya. Regan tahu apa yang dirasakan Mila. Dan bagi Mila, ini mengingatkanya pada masa lalunya.


Tatapan mereka yang mempertanyakan integritas nya bukanlah hal yang mudah untuk dilupakan begitu saja.


Mila menyeka air matanya dan melihat Matthew. Tapi dia tidak akan menyalahkan Matthew untuk hal buruk yang menimpanya.


Begitu menyakitkan saat Mila mengalami menjadi anak yang tidak diharapkan dimasa kecilnya. Tatapan dari para tetangganya yang merendahkanya belum lagi sikap ayahnya yang tidak mengakuinya, dan dia ingat bagaimana dulu ibunya juga membencinya karena dianggap pembawa sial.


Tapi Mila berjanji dalam hati, tidak akan menyalahkan Matthew atas semua hal buruk yang menimpanya.

__ADS_1


Suaminya yang mengabaikanya, pernikahanya yang gagal, dikhianati, dan dipermalukan dengan gosip yang semua menyalahkan dirinya. Baginya Matthew adalah sebuah anugerah dari Tuhan.


Dia tidak akan membiarkan siapapun mencoba menyakitinya.


"Berhenti pak. Saya turun disini." Kata Mila lalu turun bersama bibinya.


Regan juga berhenti tepat dibelakang taksi itu.


Regan lalu masuk kedalam dan menyentuh bahu Mila. Mila menoleh dan menyuruh bibinya untuk masuk kedalam dan bermain dengan Matthew.


"Kau baik-baik saja?"


Mila mengangguk.


"Sikap Catrine memang sudah keterlaluan. Kau tidak perlu memasukkanya kedalam hati," kata Regan dan berdiri tepat berhadapan dengan Mila.


Mila tertunduk dan berbagai perasaan dengan mengacau didalam hatinya.


"Mila, apa tidak sebaiknya kau mengklarifikasi berita yang tidak benar itu? Jelas-jelas ini sangat merugikanmu. Kau menjadi tidak bebas pergi kemana-mana."


"Aku tahu, tapi klarifikasi apa yang kau maksudkan? Matthew memang bukan anak dari Irwan. Dan haruskah aku jelaskan pada semua orang bagaimana semua itu bisa terjadi?" kata Mila sambil menahan malu dan berusaha tetap tenang meskipun dia menyesali kelalaianya.


"Duduklah." Regan lalu mengajak Mila duduk dan mengusap bahunya.


***


Dan tiba-tiba demi menyelamatkan nama baik Mila, CEO Handoko yang memang sudah naksir dengan Mila membuat pernyataan jika dia adalah ayah dari bayi yang dikandung dokter Mila. Berita itu langsung tersebar dan terpampang di berita surat kabar paling depan.


Orang pertama yang melihat berita itu adalah Dokter Irwan.


"Apa? Ini tidak mungkin? Apa yang CEO lakukan? Sudah jelas ini anak dari Regan. Bukan anaknya? Kenapa dia merusak rencanaku?!" Dokter Irwan sangat marah dan kesal.


Dia juga kecewa dengan berita yang tersebar dan pengakuan dari CEO Handoko yang tidak pernah dia duga.


CEO Handoko tidak tahan dengan tekanan yang terus publik lakukan terhadap dokter Mila. Diapun memutuskan untuk melindungi Dokter Mila dengan pengakuanya yang tidak terduga.


Dokter Irwan mendapat telepon dari ibunya tentang berita yang tersebar dan pengakuan CEO Handoko.


Wandah sangat terkejut karena dia juga tahu siapa CEO Handoko. Dia adalah pemilik rumah sakit dimana putranya bekerja.


Dan semua orang juga tahu betapa tajirnya CEO Handoko.


Orang kedua yang mendengar berita itu adalah Regan.


Dia sedang sarapan dan Nadiya yang paling pagi bangun dan langsung mencari surat kabar, mengatakan jika ternyata anak Mila memang bukan anaknya Dokter Irwan. Dan dia ternyata anak dari pemilik rumah sakit itu. CEO Handoko, orang tajir dan kaya raya.

__ADS_1


"Apa!?" Semua orang terkejut termasuk Prasetyo dan juga Regan.


Prasetyo tidak menyangka jika CEO Handoko berani membuat pernyataan publik tentang affair itu.


Sedangkan Regan tahu jika dia bukanlah ayah dari bayi Mila. Regan lah ayahnya. Karena memang Regan yang melakukan hubungan satu malam dengan Mila akibat jebakan Weni.


"Ini tidak mungkin!" kata Regan dan sontak saja, Prasetyo, Oma dan juga Nadiya menatap Regan dengan tajam.


"Apa maksudmu tidak mungkin?" Nadiya bertanya balik pada putranya.


"Sudah jelas jika CEO Handoko membuat pengakuan jika dia adalah ayahnya." kata Nadiya dan Prasetyo yang juga kaget karena Regan mengatakan tidak mungkin.


Sedangkan Oma langsung nyeletuk dan menyentil Regan.


"Apakah kau masih naksir sama Dokter Mila? Kau kelihatan tidak rela begitu." Kata Oma dan sontak Nadiya langsung mukanya memerah.


"Regan, jangan membuat keributan lagi. Jangan ikut campur urusan Dokter Mila. Mami tidak mau kau menjadi bagian dari gosip itu dan nama baik keluarga kita tercemar."


Nadiya menatap Regan lebih dalam seakan ingin menyelami isi hati putranya dan mencoba membaca apa yang sedang dipikirkan putranya.


"Tapi yang jelas, CEO Handoko bukanlah ayahnya. Dia sudah membuat kebohongan publik."


"Regan! Biarkan saja. Kau jangan ikut campur apa yang mereka lakukan. Jika itu benar dan salah, itu bukan urusan kita," kata Nadiya dan menatap Regan tanpa berkedip.


"Mami...kenapa menatap Regan seperti itu? Mami seperti menatap penjahat saja."


"Mami khawatir dengan apa yang ada dalam pikiranmu." Kata Nadiya lalu beralih menatap Prasetyo.


"Mamimu suka berlebihan....haha." Prasetyo tertawa melihat sikap Nadiya yang suka berlebihan dalam memperlakukan Regan.


"Kau tahu kan Pras? Apa yang Regan lakukan? Enam tahun dia menipu kita dengan pernikahanya itu?"


"Mami....kenapa mami mengungkit hal itu. Itu sudah berakhir."


"Tapi tetap saja mami khawatir. Kau bisa membohongi kami meskipun kau tinggal satu rumah."


"Mami...jangan membuat Regan malu...."


Regan lalu meninggalkan meja makan dan naik kekamarnya.


"Nadiya, apa yang kau lakukan?" Kata Prasetyo.


Sedangkan Nadiya hanya menatap Regan yang pergi meninggalkan meja makan itu.


"Dia seharian bekerja dan jarang berada dirumah. Bagaimana aku bisa berbicara dengannya? Dan hanya saat makan saja aku bisa menasehatinya." Kata Nadiya membela diri.

__ADS_1


Oma hanya geleng-geleng kepala melihat mereka berdua.


"Ayo, sudah-sudah makan dan jangan mengatakan gosip apapun lagi." kata Oma.


__ADS_2