
Bella kemudian masuk kekamar mandi yang sangat sempit dikontrakannya. Dan saat itu dia lihat air didalam kamar mandi itu habis, sehingga Bella harus keluar dan mengambil air melalui saluran air yang bocor dan dari pipa yang bocor itulah selama ini Bella mandi dan juga masak untuk keperluan sehari-hari.
Bella keluar masuk rumah dan mengisi air untuk mandi sambil sempoyongan. Setelah bak mandi itu terisi penuh akhirnya Bella pun membersihkan diri dari noda lelaki yang telah menidurinya semalaman hingga dia pingsan.
Suaminya hanya melihat tanpa tergerak hatinya untuk membantunya. Seakan tanpa penyesalan dia melihat istrinya yang telah dia jual kepada Tuan Bonar. Matanya hanya menatap tanpa ekspresi dan sesekali mengikuti langkah Bella hingga Bella menghilang.
"Mandilah yang bersih!" Kata Johan. "Kau sangat berharga untukku."
"Kau memang manusia yang tidak punya hati nurani Mas. Kau bahkan tidak risih saat istrimu dinodai oleh orang lain."
"Sama saja. Bagiku tidak ada bedanya. Malah aku sangat senang karena aku saat ini punya barang berharga yang bisa dijadikan uang dan mendatangkan uang untuku."
"Kau memang sangat kejam. Bahkan lebih kejam dari iblis."
"Hahahaha....kau tau jika aku lebih kejam dari iblis. Dan semua ini karena dirimu! Nasibku menjadi sial. Bahkan kau adalah penyebab malapetaka dalam hidupku. Karena kau sangat bodoh!" Kata Johan sambil menenggak minuman.
"Aku menyesal menjadi istrimu. Kau lebih buruk daripada binatang!" Kemudia Johan bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Bella.
"Katakan sekali lagi atau aku tampar mulutmu yang lancang itu."
"Tampar saja! Kau mang sudah sering melakukanya!"
"Hahahaha...aku tidak akan menamparmu dan membuat wajah cantikmu menjadi buruk. Kecantikan yang kau miliki adalah aset bagiku." Kata Johan sambil berjalan masuk kekamarnya dan merebahkan dirinya diatas kasur tipis yang keras.
Kemudian Bella masuk kedalam kamar mandi dan menutup nasibnya yang sangat buruk. Dia merasa sudah tidak ada gunanya hidup jika harus mengalami nasib buruk seperti ini. Tapi saat dia akan melukai dirinya sendiri, dia teringat pada putrinya Sharmila yang masih kecil.
Begitu teringat putrinya tidak ada didalam rumah Bella langsung mengguyur tubuhnya dengan cepat. Dan mengganti bajunya lalu keluar dari rumah untuk mencari Sharmila. Dan saat akan melangkah kejalan tiba-tiba Bella melihat jika putrinya sedang digendong oleh salah seorang tetangganya.
"Neng, kemana aja? Kenapa anaknya ditinggal sendirian? Kasihan dia menangis hingga berjam-jam. Suamimu juga tidak ada dirumah." Kata tetangga itu.
"Saya....saya...." Bella tidak sanggup mengatakan apapun dan tidak mungkin dia katakan apa yang sudah dia alami.
__ADS_1
"Nih, lain kali jangan tinggalkan anak sekecil ini sendirian dirumah. Kasihan." Kata tetangga itu buru-buru pergi karena ada urusan penting yang tertunda akibat menggendong Mila.
Bella menggendong putrinya pulang kerumah. Dan sejak saat itu semuanya berubah. Bella menjadi sering menelantarkan Mila karena kelelahan setiap kali suaminya menjual dirinya pada beberapa temanya. Karena Tuan Bonar sudah punya mainan yang baru sehingga sudah tidak membutuhkan Bella lagi.
Dan Mila pun tumbuh dewasa dengan bantuan dari beberapa tetangganya yang iba padanya. Bella menjadi benci setiap kali melihat putrinya yang terus merengek minta ditemenin sedangkan dia sudah sangat kelelahan dan mengantuk setelah semalaman begadang.
Seperti itulah masa lalu Bella, ibunya Sharmila. Yang saat ini sudah bertobat dan tenang didalam penjara. Dan tidak merasa ketakutan lagi akibat ancaman dari suaminya dan juga beberapa preman teman suaminya. Kecantikan yang dia miliki menjadi buah simalakama baginya. Dan saat ini Bella lebih memilih untuk menjemur wajahnya setiap hari agar terlihat buruk dan tidak cantik lagi.
Kecantikanya selalu membuatnya was-was dan khawatir. Bahkan beberapa sipir didalam penjara pun sering melirik dan tersenyum padanya bahkan ada yang berterus terang merayunya.
Wajahnya benar-benar menjadi kutukan baginya. Kemanapun dia pergi wajahnya selalu menarik perhatian lelaki nakal dan gatal. Hingga saat ini Bella tidak pernah membasuh mukanya dan bahkan dia sering menghias pipinya dengan arang yang dia dapatkan dari pembakaran ranting kering dibelakang gedung penjara.
Hal itu membuatnya merasa aman dan tenang. Sehingga tidak ada lagi mata genit dan rayuan nakal yang dilayangkan padanya. Mereka saat ini bahkan enggan untuk mendekati Bella karena Bella sering melumuri sebagian tubuhnya dengan arang yang dia simpan.
Hari ini Mila ingin menjenguk ibunya karena sudah beberapa hari dia sangat sibuk dan tidak ada waktu untuk pergi menemui Ibunya.
Namun langit tiba-tiba mendung dan angin bertiup sangat kencang didepan sekolahnya. Tuan Regan yang biasanya menjemputnya juga tidak datang hari ini. Dari belakang seseorang mengagetkanya. Dia adalah Edo, emang siapa lagi yang akan menguntitnya selain Edo.
Sebenarnya Mila tidak mau namun karena dia sudah sangat merindukan ibunya maka akhirnya diapun mau diantarkan oleh Edo dengan motornya.
"Ayo naiklah!" Kata Edo.
Mila menoleh kearah jalanan dan masih berharap orang yang ditunggunya segera datang. Namun karena Tuan Regan tidak datang-datang juga maka Mila memutuskan untuk naik motor Kawasaki ninja milik Edo.
Mila berpegangan pada bahu Edo dan akan melangkahkan kakinya, namun tiba-tiba terdengar klakson dari belakang motor itu.
"Wah sialan, dia lagi. Dia lagi..." Gumam Edo.
"Edo...sepertinya aku tidak jadi ikut denganmu. Maaf ya...aku tidak enak dengan majikanku karena sudah menjemputku kesini."
"Bilang pada majikanku, sekali-kali biarkan aku mengantarmu." Kata Edo.
__ADS_1
"Aku tidak enak hati Edo. Aku turun ya." Kata Sharmila.
"Tidak! Kau tidak boleh turun." Kata Edi sambil melajukan motornya dengan cepat dan Tuan Regan yang menyadari itu langsung mengejar Motor Edo.
"Kok kamu malah jalan sih? Kan sudah aku bilang aku mau turun Edo. Kamu ini keras kepala banget ya?" Sharmila kemudian menoleh kebelakang dan dia lihat mobil Tuan Regan mengejar motor Edo.
"Katakan kau mau kemana? Aku akan mengantarmu ketujuanmu." Kata Edo.
"Turunkan aku disini. Jangan ngebut! Ini sangat berbahaya. Aku masih mau hidup. Ayolah turunkan aku...." Kata Sharmila.
"Cepat katakan atau kita akan pergi kearah lain!" Ancam Edo.
"Kepenjara!" Sahut Sharmila spontan tanpa berpikir panjang.
"Penjara? Untuk apa? Kau akan mengadu pada polisi dan membuat aku dipenjara?" Tanya Edo.
"Bukan kamu. Ikuti saja perintahku."
"Tidak! Kau pasti akan membuat laporan pada polisi dan menuduhku telah menculik dirimu." Kata Edo.
"Edo aku tidak bercanda. Cepat belok kanan! Aku mau kepenjara. Ibuku ada disana! Ops!"
"Ibu? Ibumu? Dalam penjara? Benarkah?"
"Sudah! Jangan banyak tanya! Cepetan belok kanan!" Aku terus berkata dengan kencang karena suara mesin motor yang bising.
Dan Ternyata Tuan Regan sudah sampai lebih dulu dan akupun tertunduk diatas motor Edo.
Bagaimana bisa dia sampai lebih dulu? Aku tidak menyadari jika mobil itu melaju dengan kecepatan sangat tinggi dan menyalip kami diperempatan jalan tadi.
Omg. Aku harus bagaimana? Apa yang harus kukatakan. Matanya menatap tajam ke arahku tanpa ekspresi....
__ADS_1