Dipinang CEO

Dipinang CEO
Bibit, bebet, bobot


__ADS_3

Dokter Mila tidak pernah memikirkan sebelumnya jika seseorang mungkin suatu saat akan melamarnya dan menemui kedua orang tuannya.


Dokter Mila lalu menggelengkan kepalanya karena dia bingung.


"Saya tinggal sendirian." Kata dokter Mila pada akhirnya.


"Maafkan Tante,"


"Tidak papa Tante." Kata Mila karena melihat wajah bersalah mamanya dokter Irwan.


Dokter Irwan segera mengalihkan pembicaraan.


"Oh ya, Irwan hampir lupa, jika sekarang ada janji dengan pasien. Sebaiknya kita segera kembali dokter Mila." Kata Irwan yang melihat suasana menjadi agak canggung.


Dokter Mila mengangguk tanda setuju untuk kembali kerumah sakit.


Pikiranya tiba-tiba menjadi kacau begitu teringat pada kedua orang tuanya yang entah tinggal dimana.


"Mama, papa, kami pamit dulu." Kata dokter Irwan.


Mama dan papanya mengangguk, dan tersenyum pada mereka berdua.


"Dokter Mila, lain kali datanglah kemari lagi." Kata Mamanya.


"Iya Tante, kami permisi dulu." Kata dokter Mila berpamitan.


Setelah mereka pergi mamanya dokter Irwan duduk disamping suaminya dan berbisik padanya.


"Aku telah membuat acara makan siangnya berantakan." Keluh istrinya dengan wajah gelisah.


"Tidak. Mereka memang seorang dokter. Mereka harus mementingkan pasiennya."


"Bukan begitu pa, apakah papa tadi tidak melihat perubahan muka dokter Mila?"


"Perubahan bagaimana maksud mama?"


"Dokter Mila seperti kaget dan tertekan saat mama bertanya tentang orang tuannya."


"Itu karena tadi dia mengatakan dia tinggal sendirian. Jadi mungkin dia bingung karena kita tidak bisa bertemu dengan mereka." Kata papanya berusaha berpikir secara positif dan obyektif.


"Apakah mereka sudah tiada?"

__ADS_1


"Tidak. Tadi dokter Mila tidak mengatakan jika mereka sudah tiada. Hanya saja mungkin ada masalah lain, sehingga dia tidak ingin dan berat untuk mengungkapkan pada kita." Kata Papanya.


"Jika begitu, apakah sebaiknya kita menyuruh Irwan untuk bertanya langsung padanya?"


Suaminya nampak terkejut menatap istrinya.


***


Didalam mobil Dokter Irwan menatap Dokter Mila yang menjadi diam dan canggung setelah berbicara tentang orang tuannya.


"Bolehkan aku tanya sesuatu?" Tanya dokter Irwan pelan.


"Silahkan."


"Apakah kau sendirian dirumahmu? Aku memang tidak melihat orang lain tinggal bersamamu." Tanya dokter Irwan sambil tangannya tetap fokus menyetir.


"Iya, maafkan aku, aku tidak pernah bercerita padamu." Kata dokter Mila.


"Tidak papa. Aku tidak memaksamu untuk mengatakan yang tidak ingin kau katakan."


"Tapi seharusnya aku berbicara padamu. Kita sudah berteman dekat, dan bahkan aku menerima kau sebagai tunanganku."


"Tapi aku tidak akan memaksamu, jika kau tidak ingin mengatakannya. Aku mencintaimu apa adanya, aku tidak ingin kau terbebani dengan stigma."


Ya, stigma masa lalu telah mengusik ketenangan ku saat ini.


"Suatu saat aku akan mengatakanya padamu."


"Baiklah, kau boleh mengatakanya dan kau boleh tetap menyimpan rahasia tentang dirimu. Itu adalah hak privasi. Aku menghargai itu." Kata dokter Irwan sambil tersenyum pada dokter Mila.


"Terimakasih." Kata Dokter Mila.


Mereka sampai dirumah sakit. Dan mereka kembali keruangan masing-masing untuk bekerja.


***


Malam harinya, setelah mengantar dokter Mila, Dokter Irwan langsung pulang.


Dia masuk kedalam kamarnya.


Setelah selesai mandi, mamanya mengetuk dari luar.

__ADS_1


"Irwan!" Panggil mamanya.


"Ya ma, masuk saja."


Mamanya lalu duduk disamping putranya.


"Mama belum tidur?" Tanya dokter Irwan.


"Belum, mama masih kepikiran soal tadi siang."


"Soal apa ma?" Tanya dokter Irwan dengan lembut saat berbicara pada mamanya.


Mamanya memang berhasil mendidiknya menjadi anak yang sopan dan hormat pada orang tua.


Mamanya sudah membiasakanya sejak Irwan masih remaja, untuk selalu mengedepankan adab lalu ilmu yang dia miliki.


"Soal Dokter Mila. Apakah orang tuanya masih hidup?" Tanya mamanya.


"Irwan juga tidak tahu ma. Tapi Mila berjanji akan mengatakanya saat nanti dia sudah siap."


"Mama jadi khawatir." Kata mamanya.


"Jangan khawatir ma, mama tenang aja. Percaya pada Irwan, semua akan baik-baik saja."


Mamanya lalu mengangguk dan berusaha bersikap tenang.


"Dalam pepatah orang menikah, bibit bebet bobot itu penting. Karena lingkungan dan keluarga yang baik, akan berpengaruh pada karakter dan cara berfikir anak-anak sebagai keturunannya."


"Irwan mengerti itu Ma. Dan Irwan percaya, jika dokter Mila terlahir dari keluarga yang baik." Kata Irwan.


"Ya, mama juga melihat jika dia gadis yang baik." Kata mamanya.


"Ya sudah, jika kau mau istirahat, mama keluar." Kata mamanya.


***


Sementara sampainya dirumah, Dokter Mila termenung dan tidak segera mandi.


Dia masih saja kepikiran dengan pertanyaan dari orang tua dokter Irwan.


"Bisakah mereka menerima kenyataan ini?"

__ADS_1


"Jika suatu saat mereka tahu tentang ayahku dan ibuku, masihkah mereka akan menghormatiku?"


Gumam dokter Mila berbicara pada dirinya sendiri sambil melihat diluar jendela kamarnya.


__ADS_2